NASIONAL

GWK Semakin Diserbu Wisatawan

BADUNG, bisniswisata.co.id: Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang berdiri kukuh di kawasan objek wisata di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali mulai ramai diserbu wisatawan mancanegara (Wisman) dan wisatawan domestik (Widom) yang berlibur ke Bali. Memang sejak diresmikan Presiden Joko Widodo langsung mendapat perhatian wisatawan dunia.

“Begitu mendarat di Bali, saya sudah melihat gagahnya patung tertinggi ketiga di dunia itu dari udara saat masih berada di pesawat, karena itu saya memilih ke objek itu sebelum menikmati panorama lain di Pulau Dewata,” kata Siem, wisatawan asal Selandia Baru di Badung, Ahad (28/10/2018).

Ia mengaku saat melihat patung yang tinggi dan gagah itu, ia merasa penasaran hingga akhirnya memustukan berkunjung ke objek wisata GWK itu terlebih dulu. “Saya benar-benar kagum dengan karya seniman asal Indonesia itu,” katanya sambil mengajak temannya untuk swafoto berlatar patung setinggi 121 meter atau 271 meter dari permukaan laut (dpl) yang berdiri di atas lahan seluas 60 hektare itu.

Di kawasan GWK melaporkan wisatawan yang diantar dengan bus sesampainya di lokasi tanpa henti mengabadikan momen liburan dengan swafoto berlatar belakang patung itu. Selain swafoto atau foto bersama, mereka juga ada yang melakukan siaran langsung menggunakan medsos masing-masing yang mengungkapkan rasa bahagianya dapat melihat dari dekat patung tertinggi ketiga di dunia tersebut.

Lain halnya dengan wisatawan domestik bernama Mirna asal Sumatra. Ia mengaku sudah tiga kali mengunjungi objek wisata GWK. Namun, untuk kunjungan kali ini lebih merasa puas karena bisa melihat secara utuh wujud patung GWK yang sudah jadi tersebut.

“Karya seniman Indonesia memang paten, bagus, dan keren, bahkan negara tetangga mengakui sebagai nomor tiga tertinggi di dunia, karena itu kita harus bangga akan karya anak bangsa dan semoga ini bisa membawa nama harum Indonesia di mata dunia,” kata Mirna seperti dilansir laman Antara.

Patung GWK diresmikan Presiden Joko Widodo pada Sabtu (22/10) malam dan dihadiri Ibu Negara Irina Joko Widodo, Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Gubernur Bali I Wayan Koster.

Mahakarya itu merupakan patung tertinggi ketiga di dunia setelah The Spring Temple Buddha di Cina dan The Laykyun Sekkya Buddha di Myanmar. Patung GWK merupakan wujud dari Dewa Wisnu sedang mengendarai seekor garuda.

Dalam agama Hindu, Dewa Wisnu merupakan Dewa Pemelihara (Sthiti). Pembuatan patung ini menjalani proses panjang selama 28 tahun oleh seniman sekaligus desainer Nyoman Nuarta. Patung setinggi 121 meter atau 271 meter dari permukaan laut (dpl) yang dibangun di atas lahan seluas 60 hektare. Pembuatan patung ini menjalani proses panjang yaitu selama 28 tahun oleh seniman sekaligus desainer Nyoman Nuarta. Proses pembuatan patung tembaga itu menggunakan teknik cor las untuk 754 modul.

Satu modulnya berukuran 4√ó3 meter dengan berat kurang lebih 1 ton. Pembuatan patung tersebut pernah melibatkan 1.000 pekerja yang terbagi menjadi dua, yakni 400 pekerja di Bandung dan 600 pekerja di Bali.

GWK Cultural Park dirancang secara komprehensif dan direncanakan akan dilengkapi berbagai fasilitas pariwisata, pusat budaya, taman, balai pertemuan, restoran, hotel dan area parkir yang dapat diakses banyak orang pada setiap waktu. Patung ini, memiliki bentang sayap mencapai lebar 64 meter, ikon landmark termegah di Bali ini berdiri gagah di puncak bukit Ungasan, di dalam kawasan GWK Cultural Park.

Strukturnya dibuat tahan gempa, fisiknya mampu menahan hembusan angin kuat, dan GWK sebagai bangunan tinggi menangkal petir dengan sekaligus berfungsi sebagai sangkar Faraday, dimana semua listrik akan diserap oleh kulit patung yang terbuat dari tembaga dan kuningan.

Berbagai uji teknis dilakukan agar patung GWK dapat berdiri kokoh mulai dari pemeriksaan struktur dan jenis tanah pada lokasi patung dibangun, yang kemudian ditemukan adanya rongga-rongga dalam tanah. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan penyuntikan semen ke rongga-rongga tanah tersebut hingga mencapai kedalaman 10 meter.

Pondasi beton pun dibuat dengan ketebalan hingga 2,2 meter untuk dapat menahan beban sebesar 3.000 ton. Mengingat pondasi yang cukup tebal serta suhu di lokasi pengecoran yang terus meningkat yang dapat menyebabkan timbulnya retakan (crack), maka ditambahkan 43.024 balok es untuk menetralkan suhu beton pada saat pengecoran.

Beban patung tidak dibiarkan berada pada platform dari bangunan penyangga. Seluruh beratnya disalurkan melalui konstruksi core atau inti pada beton bertulang di pedestal yang berukuran 30 x 30 meter dengan ketebalan dinding inti atau shear wall mencapai 50 sentimeter.

Inti ini mencapai ketinggian tertentu untuk dipadukan dengan konstruksi baja. Dengan baja yang bersifat lebih lentur maka keseluruhan konstruksi tidak akan bergoyang bila mendapat dorongan angin atau gempa. Kombinasi ini membuat patung menjadi cukup rigid atau kaku, namun dengan sedikit sekali kemungkinan terjadinya fatique logam atau kelelahan akibat struktur yang terlalu sering bergerak.

Rincian detil ikonografi Bali dan bentuknya yang rumit menjadikan GWK sebagai salah satu patung paling kompleks di dunia, terlebih dengan prinsipnya yang terbuka dan dapat diakses khalayak ramai.

Patung GWK tidak hanya menjadi patung yang dikunjungi orang karena nilai simbolnya, melainkan juga dirancang dalam satu kompleks dan ditopang dengan berbagai fasilitas pariwisata-pusat budaya, taman, restoran, serta area parkir luas yang dapat diakses banyak orang pada setiap waktu.

Jumlah modul patung 754 modul, struktur baja 2.000 ton dengan berat kulit patung 900 ton. Jumlah batang baja yang terpakai 21.000 batang yang menghabiskan 170.000 buah baut. Patung dirancang untuk masa bangunan selama 100 tahun dengan kapasitas ketahanan angin 2,5 kPa. Uji teknis wind tunnel dilakukan di Australia dan Kanada. (EP)

Endy Poerwanto