ENTREPRENEUR HALAL SOSOK

Fokuslah pada Keramahtamahan dan Keunikan 

Dua aset utama bangsa ini adalah keramahtamahan dan keunikan budaya. Bagaimana Jeffrey Budiman meramunya menjadi hasil akhir sebuah produk wisata ?

CANGGU, bisniswisata.co.id: Obrolan sore bersama Jeffry Budiman, bos Bali Mega Wisata      ( BMW) Tours & Travel sore itu membuat suasana hati menjadi riang karena pendiri dan pemilik travel agent terbesar di Bali ini pandai memaknai pandemi global COVID-19 yang membuat bisnis pariwisatanya terpuruk.

” Bisnis pariwisata itu ibaratnya seorang Raja, mau datang jauh-jauh hari sudah diumumkan dan setelah itu dilayani dengan baik agar memiliki pengalaman dan kenangan yang indah. Jadi mereka yang berkecimpung seperti saya ini sadar betul kita ini Raja tapi juga babu alias pelayan,” katanya mencoba memilih analogi yang tepat.

Sosok Raja sekaligus babu, kata Jeffry, sudah dirasakannya sendiri pada jaman keemasan BMW dimana inbound tour dari kawasan Singapura, Malaysia, Taiwan, Korea, Thailand termasuk domestik merajai paket wisatanya ke Bali yang mencapai 20.000 orang per bulan.

“Semua sektor terkait baik akomodasi hotel, penerbangan, bus wisata, destinasi hingga UMKM merasakan manisnya bisnis pariwisata yang bergantung pada kunjungan wisatawan mancanegara. PT BMW tours & travel jadi raja disegani mitra kerja tapi kita juga sekaligus harus bisa jadi babu yang mampu melayani, mengatur perjalanan turis dengan baik,” jelasnya.

Bisnis perjalanan tidak selamanya jadi Raja bahkan seketika siklusnya berhenti seiring penyebaran virus COVID-19 yang mengganas. Bulan Maret 2020, kantornya yang berada dikawasan prestise Jl By Pass Ngurah Rai, Bali, tidak lagi ramai melayani turis karena border di tutup, ekosistemnya langsung berhenti.

” Sempat jeda waktu menghadapi seluruh dunia yang menerapkan Work from Home. Model bisnisnya diubah jadi jasa kurir karena karyawan sudah banyak yang punya motor, kami beralih sementara jadi jasa ekspedisi dengan harga jasa hanya  Rp 10.000 dari dan ke Kuta, Nusa Dua dan Denpasar,” kata Jeffry Budiman.

Saat jeda waktu dia mendorong karyawan untuk ikut webinar-webinar, belajar bisnis online dan punya sikap untuk saling berbagi apapun yang bisa membuat roda bisnis berputar karena pandemi yang tidak jelas ujung akhirnya.

“Setiap orang dilahirkan sebagai pemimpin baik memimpin diri sendiri, keluarga maupun orang lain. Saya berterima kasih anak tertua mau menggantikan posisi saya di BMW Tours meskipun ibarat ngerujak, ulekannya beda,” katanya sambil terbahak 

Dia mengaku di saat terpuruk, baik anak maupun karyawan menyempatkan waktu untuk belajar, berbagi serta mereview dari semua yang telah mereka miliki sehingga menjadi momen introspeksi diri yang positif.

Pandemi global dimaknainya sebagai suatu masa dimana orang pariwisata sendiri harus paham bagaimana untuk tetap survive dan berkembang dalam kondisi apapun. 

” Kuncinya kan harus punya teamwork yang solid, networking, system, product development yang terus aktif dan konsisten berjalan. Kalau kita fokus dan siklus dijalani dengan baik kan hasilnya adalah produk yang bermutu,”

 

Saat industri pariwisata terhenti dan membuat perekonomian Bali menjadi minus karena ketergantungan yang besar pada sektor ini, seorang Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif tidak punya produk tapi miliki peran sebagai seorang fasilitator, kata Jeffry

Oleh karena itu, dia berharap Menparekraf Sandiaga Uno memainkan perannya sebagai fasilitator utama diantara para menteri terkait untuk menggerakkan wisata domestik ke Bali dengan mulus.

profil wajah
Jeffry Budiman, Pemilik PT BMW Tours & Travel

“Aset utama dan keunggulan pariwisata Indonesia adalah di sikap ramah tamah masyarakat dan  keunikan budayanya. Saat dunia sudah memulai bisnis pariwisata untuk bangkit kembali, fokus saja gali pelayanan yang penuh dengan keramahtamahan plus keunikan yang dimiliki bangsa ini,” ungkapnya.

Peranan para Menteri dan pemimpin lainnya untuk peduli pada tren pariwisata berkelanjutan seiring lahirnya New Normal akan menggiring para pelaku menghasilkan product development yang bersumber dari dua aset tadi yaitu keramahtamahan dan keunikan.

“Para pemimpin negri ini bantulah kami dengan kebijakan yang saling mendukung untuk menggerakan wisatawan domestik ke Bali,” ujarnya.

Nekad  jadi office boy

Pria kelahiran Jakarta ini menyelesaikan pendidikan sekolah menengah kejuruannya di kota Sukabumi, Jawa Barat dan langsung hijrah ke ibukota dengan tekad kerja di Biro Perjalanan Wisata yang mentereng.

” Jadi office boy tidak masalah, yang penting saya bisa kerja dulu di BPW yang saya mau Glodok, Plaza, Jakarta Pusat “.

Tipe anak gaul yang selalu learning by doing ini cukup dua bulan sebagai office boy karena langsung ditawari kerja sebagai messenger antar-antar tiket pesawat maupun surat-surat penting lainnya ke mitra-mitra kerja si bos dan setiap hari keliling Jakarta.

Mungkin ihwal pekerjaannya inilah yang dimasa pandemi bisa membuatnya langsung bertransformasi ke bisnis ekspedisi. Tapi yang jelas Jeffry mengaku usai tamat SMK itu tidak perlu lama-lama menjadi messenger cukup tiga bulan.

Kemampuannya untuk cepat belajar dari semua siklus kerja operasional sehari-hari membuatnya dapat kepercayaan menjadi guide Jakarta City Tour, Bandung City Tour lalu merambah ke Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Bali.

“Bos akhirnya mempercayakan saya jadi guide Jawa-Bali Overland Tour yang lamanya 24 hari sehingga saya benar-benar jadi Bang Thoyib, nggak pulang-pulang,” katanya merujuk ke lirik lagu dang dut.

Saat itu penghasilannya sudah Rp 2 juta per bulan, sementara teman-remannya yang bekerja di bagian reservation system baru Rp 125.000/ bulan. Meski jadi anak gaul, Jeffry haus pengetahuan tambahan dan ingin lebih tahu bisnis ini lebih mendalam.

Pergaulan malam di night club untuk melayani turis-turis rupanya tidak mempengaruhi minat belajarnya yang tinggi. Karena keinginan belajar semua bidang operasional dia melamar ke bos besar untuk dipindahkan ke system reservation dan meninggalkan tugasnya sebagai seorang guide profesional.

Keinginan Seorang Jeffry Budiman untuk melepaskan profesi dengan imbalan dua jutaan rupiah dan ikhlas menerima gaji yang hanya Rp 150 ribu di tahun 1980 an itu tentu saja membuat bos besar geleng-geleng kepala dan tidak mau menuruti permintaannya.

Gagal memenuhi keinginannya,  keputusaannya adalah meninggalkan ‘almamater’ tercinta dan berpindah ke BPW lain dengan gaji Rp 175.000/ bulan dan mulai serius belajar operating system dengan target penjualan Rp 150 juta.

Target dilampaui sehingga tahun kedua pihaknya menantang bos besar kali ini dengan target Rp 250 juta dengan komisi 15% dari total target di luar gaji. Kepiawaian dan kemampuannya menguasai bisnis BPW dari hulu ke hilir akhirnya target tercapai.

” Sayang komisi saya yang seharusnya 15% hanya diberikan 10% tidak sesuai janji. Pembagian Keuntungan 70:30 juga tidak  disepakati sehingga harus cabut dari perusahaan ke dua itu. Buat saya komitmen harus dipegang, bukan masalah duit yang ditahan tapi kalau janji tidak ditepati itu fatal,” ucapnya sambil menceritakan pengalamannya melenggang ikhlas dari pekerjaan tetapnya itu.

” Duit bisa dicari tapi kalau sudah melanggar etika bisnis bukan tipe saya itu,” tegasnya membuat lawan bicaranya melongo atas keteguhannya untuk berbisnis di jalan Tuhan, mengusung nilai-nilai ibadah yang tinggi.

buah-buahan
Kenangan Jeffry bersama Presiden Jokowi dan buah-buahan yang sehari hari dikomsumsi masyarakat Indonesia. ( Foto: dok. pribadi)

Banting setir jadi petani

Tahun 2016 ketika Presiden Jokowi mulai melirik lahan gambut di Kalimantan Tengah untuk menjadi lahan pertanian, Jeffry mulai mempelajari apa saja keunggulan lahan gambut dan tidak segan belajar dari profesor pertanian hingga akhirnya memiliki lahan sekitar 500 ha.

Proyek lahan gambut di era Presiden Soeharto dengan nama proyek “lahan gambut sejuta hektar” dimulai tahun 1995 dan diputuskan berakhir 2001 akibat ketidakpahaman akan ekosistem gambut. Akibatnya, pada masa akhir proyek, APBN senilai Rp 1,6 triliun disedot dan tidak punya dampak signifikan pada ketersediaan stok pangan.

Belajar dari kegagalan sebelumnya dan mengulik pertanyaan mengapa Jokowi kembali tertarik dengan proyek ini jauh sebelum kedatangan COVID-19 membuat dia tidak berhenti mencari tahu bagaimana ekosistem gambut. Mengapa tidak manfaatkan lahan yang sudah ada ?. Menjadi petani buah dan mengembangkan agrowisata menjadi target berikut dalam pikirannya.

” Ilmu pertanian itu langsung diajarkan Tuhan pada umatnya dan seorang profesor biasanya terus meneliti komoditas yang itu-itu saja tidak jadi ahli dari semua buah yang ada dimuka bumi ini. Mereka biasanya mempelajari beberapa jenis buah saja,” ungkap Jeffry  mengenai usaha banting setirnya ini.

Ketertarikannya menjadi petani buah terutama nanas dan alpukat mengantarnya menjadi petani buah. Di lahan gambut yang sudah diolah jadi lahan pertanian dia biasa menanam buah naga.

” Di Bali saya punya 5 ha tanah yang kini ditanami 10 jenis buah yang biasa dimakan baik di dalam rumah tangga maupun kebutuhan industri sehingga selain nanas dan alpukat, juga menanam pisang, pepaya pokoknya bukan buah musiman seperti mangga,” jelasnya.

Sebagai orang pariwisata yang top of mind adalah turis maka lahan 5 ha di Bali akan disempurnakannya sebagai tujuan wisata agro. Bukan seperti produk ke kebun durian Bangkok yang banyak dijual jadi paket wisata andalan di Thailand, tapi menjadi taman tematik.

” Contohnya begini deh, sayur asem kan banyak disukai orang Indonesia seperti Tom Yam di Thailand. Nah di agrowisata saya nanti ada kebun sayur asem artinya di tema ini ada pohon kacang panjangnya, labu siem, melinjo, asem dll,” kata Jeffrey terkekeh-kekeh.

Keunikan dari kebun organik yang dimilikinya selain organik, turis juga bisa melihat langsung buah-buahan asli Indonesia plus keramah-tamahan dan keunikan yang ditawarkannya pada turis nusantara maupun asing yang datang ke Bali.

Tentunya kebun ini menjadi kawasan agrowisata tempat orang menemukan sayuran dan buah-buahan organik, memanen sendiri dan tempat kuliner asyik buat makan sayur asem, gado-gado yang bahan bakunya juga dipetik sendiri. Bisa demo kuliner alias masak bersama dan akhirnya langsung disantap.

“Untuk lauk saya tampilkan ikan gabus karena selama ini manfaatnya kurang dipopulerkan padahal sebagai penghasil albumin yang dibutuhkan oleh ibu-ibu paska melahirkan, buat mereka yang paska operasi, penderita kanker hati dan banyak lagi,”

Albumin dari ikan gabus yang mengandung 17,02 % asam amino lysin mampu menurunkan kadar lemak dalam darah dan trigliserida, sehingga akan mengurangi resiko stroke, serangan jantung, penyempitan pembuluh darah; serta menurunkan kadar hemosistein dalam darah.

“Ada ikan gabus kok nggak dimanfaatkan.Kalau ini dipopulerkan pada wisatawan jadi daya tarik wisata,” kata pria yang saat ini sudah rutin jadi pemasok buah di swalayan besar di Bali seperti Grand Lucky Superstore.

Obrolan panjang ini berakhir dengan pesannya untuk terus menggali keramah tamahan dan keunikan yang dimiliki bangsa ini. Ditanya apa tidak takut konsep agrowisatanya ditiru pengusaha lain ?

” Silahkan tiru tidak apa-apa tapi yang jelas kalau sudah paham jadi Raja dan babu seperti saya ini pasti ‘ulekan’ beda disamping konsepnya adalah organik.Saya menyajikan makanan sehat sesuai tuntutan warga dunia dengan keunikan dan ramah tamah pasti bedalah,” katanya optimistis. Goodluck !

 

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)