Dua Gunung Tak Bersahabat, Wisatawan Dilarang Mendekat

0
121
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi (Foto: Youtube)

SERANG BANTEN, bisniswisata.co.id: Dua gunung hingga kini masih belum bersahabat. Sehingga wisatawan yang hobi pendakian dilarang mendekat. Kedua gunung itu krakatau di perairan Selat Sunda Banten dan Gunung Merapi di Sleman Yogyakarta. Aktivitas Krakatau terus meningkat dan batas Aman Laut Radius 5 Km. Sementara Gunung Merapi terus meluncurkan Lava Pijar ke Kali Gendol.

Petugas Pusat Vulkanonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan peringatan kepada nelayan untuk tetap waspada dan tidak mendekat ke kawasan Gunung Anak Krakatau karena aktivitas kegempaan di gunung itu kembali cukup aktif sejak akhir Februari 2019.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang semula sempat mengalami penurunan kini kembali terlihat mengalami aktivitas kegempaan, bahkan dalam beberapa hari terahir pada akhir bulan lalu.

“Karena Gunung Anak Krakatau masih aktif mengalami kegempaan disertai letusan, kami minta supaya warga termasuk wisatawan yang beraktivitas di laut tetap waspada, untuk memperhatikan jarak aman, tetap menjauh di radius lima kilometer dari pusat kawah, ini demi keselamatan,” kata Petugas PVMBG pada Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Deni Mardiono, di Pasauran Cinangka, Serang, Banten, seperti dikutip Antara, Senin (04/03/2019).

Diketahui, dalam beberapa hari terakhir aktivitas kegempaan Gunung anak Krakatau sempat terekam mengalami peningkatan. Pada 23 Februari Gunung Anak Krakatau teramati mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai sekitar 500 meter dari permukaan laut.

Kemudian, Februari Gunung Anak Krakatau teramati mengalami dua kali hembusan asap putih, gempa vulkanis dalam sebanyak enam kali, gempa tektonik lokal sebanyak satu kali.

Lalu, pada 28 Februari Gunung Anak Krakatau teramati mengalami 18 kali kegempaan vulkanis dalam, 9 kali gempa tektonik lokal dan dua kali gempa tektonik jauh.

Aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau telah memakan banyak korban jiwa pada Desember tahun lalu. Pada 22 Desember 2018, besarnya volume longsoran Gunung Anak Krakatau akibat aktivitas vulkanis, yang mencapai sekitar 80 juta meter kubik, telah mengakibatkan tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Ratusan orang tewas akibat tsunami itu di Lampung dan Banten.

Selain itu, akibat kejadian longsor itu morfologi Gunung Anak Krakatau pun banyak berubah sehingga ketinggian gunung yang tadinya 388 meter di atas permukaan laut, sekarang tinggal 110 meter saja.

Pada 21 Januari lalu, Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 terbukti sangat menghancurkan. Ada 80 juta meter kubik atau 80 juta ton material jatuh ke laut. Volume itu berarti setara dengan 288 ribu unit pesawat Airbus A380-800. Diketahui berat Airbus A380-800 kosong atau tanpa penumpang sekitar 28 ton.


Gunung Merapi

Sementara Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat, Gunung Merapi satu kali meluncurkan guguran lava pijar ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak luncur 350 meter pada Senin (4/3). Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau waspada.

Melalui akun Twitter resminya, BPPTKG juga menyatakan bahwa selama pukul 00.00-06.00 WIB berdasarkan data seismik terekam enam kali gempa guguran dengan amplitudo 3-10 mm dan durasi 15,6-38 detik. Selain gempa guguran, terekam pula satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 8 mm selama 29 detik, satu kali gempa hybrid dengan amplitudo 7 mm selama 10,5 detik, dan satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 2 mm selama 55,8 detik.

Berdasarkan analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang terakhir dirilis BPPTKG, volume kubah lava gunung api itu mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari. Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.

Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada, dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana. BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan dengan kejadian guguran awan panas guguran dengan jarak luncurnya semakin jauh, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan. Warga di kawasan itu juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here