Diberi Libur Panjang, Para Karyawan Jepang Serbu Eropa

0
260
Tokyo Jepang Jadi Destinasi Wisata Terfavorit Turis Asia (Foto: Repro Google)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Para pekerja di Jepang kebingungan, bimbang menghabiskan libur 10 hari. Mereka akan mendapat libur panjang untuk menandai turunnya kaisar akhir bulan ini dan Pekan Emas yang merupakan liburan tradisional di Negera yang berbendera Matahari Terbit

Jepang akan memulai liburan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Liburan dimulai pada 27 April, beberapa hari sebelum Kaisar Akihito turun tahta, dan berakhir pada 6 Mei 2019.

Desember 2018, parlemen mengeluarkan undang-undang yang menyetujui hari libur untuk merayakan perubahan tahta. Rupanya ini bertepatan dengan libur Pekan Emas, yang selalu diperingati pada awal Mei.

Industri perjalanan dan pariwisata mendapat rejeki tambahan karena libur panjang ini. Sejak jauh-jauh hari, perjalanan ke luar negeri, khususnya Eropa, sudah habis dipesan. Sayangnya, tidak semua warga Jepang senang menyambut libur panjang ini. Para karyawan kontrak yang dibayar per jam atau per hari khawatir kehilangan pendapatan.

Para orang tua juga khawatir menjaga anak-anak mereka tetap sibuk selama libur panjang. “Bagi orangtua yang bekerja di sektor jasa, liburan 10 hari membuat sakit kepala. Kita masih harus mengurus perawatan usai sekolah karena tempat penjagaan anak tutup,” curhat orang tua di Twitter, dilansir dari laman The Guardian, Rabu 3 April 2019.

Seorang karyawan industri keuangan, Seishu Sato menuturkan dirinya bingung menghabiskan liburan yang seharusnya untuk berwisata. “Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana menghabiskan waktu ketika kita tiba-tiba diberi 10 hari libur. Jika Anda ingin bepergian, akan penuh sesak di mana-mana. Bahkan biaya tur telah melonjak,” ceritanya.

Liburan memaksa sebagian besar karyawan menjauh dari pekerjaan. Ini membuat para karyawan di Negeri Sakura merasa bersalah pada pekerjaan mereka. Biasanya para pekerja Jepang mengambil liburan tahunan lebih sedikit dibanding pekerja di negara lain. Hampir 60 persen mengatakan mereka merasa bersalah menggunakan hak cutinya. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.