ART & CULTURE EVENT INTERNATIONAL

Menbud Diskusi Bersama Sapta Nirwandar, Dorong Kemajuan Kebudayaan Melalui Parekraf dan Olahraga.

Menteri Kebudayaan menerima kunjungan Sapta Niwandar ( kanan)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Kebudayaan terus melakukan sinergi dengan berbagai pihak dalam pemajuan kebudayaan, terutama dari hulu hilir.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan pentingnya komunikasi bersama dengan berbagai pihak karena adanya kegiatan yang saling beririsan antara kebudayan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Berbicara saat menerima kunjungan Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014, Menbud berdiskusi berbagai upaya pengembangan pariwisata, ekonomi kreatif, dan olahraga yang berbasis kebudayaan.

Berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, pada kesempatan tersebut Sapta Nirwandar mempresentasikan secara langsung berbagai kegiatan berbasis budaya yang pernah diusung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dalam diskusi yang berlangsung, disepakati bahwa pengembangan sektor budaya tidak hanya berfokus pada seni dan pariwisata, tetapi juga dapat diperluas ke konsep sport tourism hingga kolaborasi internasional.

Pengembangan pariwisata budaya merupakan salah satu fokus utama yang terus diperkuat, termasuk pengelolaan kawasan bersejarah seperti keraton dan istana yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

“Kita bekerja di hulu, tengah, sampai hilir. Seharusnya pariwisata yang melewati kita. Karena itu, kita ingin membenahi berbagai potensi budaya, termasuk keraton dan istana di seluruh Indonesia,” jelas Menbud Fazli Zon.

Menbud Fadli kembali mengingatkan akan pentingnya Intellectual Property (IP). Menurutnya pemanfaatan IP dalam pengelolaan dan komersialisasi warisan budaya juga merupakan langkah strategis yang dapat diterapkan di Indonesia, namun dengan tetap menjaga nilai autentisitas dan etika pelestarian.

Kekayaan budaya Indonesia membuka peluang besar dalam pengembangan produk turunan seperti cenderamata berkualitas tinggi dan memiliki nilai artistik dan ekonomi yang kuat.

“Kalau kita bisa mengembangkan produk-produk turunan budaya dengan kualitas tinggi, ini bukan sekadar souvenir biasa, tetapi direproduksi secara profesional dengan melibatkan perajin lokal, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas akses publik terhadap warisan budaya,” lanjut Menbud.

Sapta Nirwandar menyampaikan gagasan berkolaborasi dengan berbagai negara untuk menyelenggarakan kegiatan kebudayaan internasional, yang mengedepankan kesamaan budaya, seperti kerajinan berbasis bambu.

“Selain sebagai bagian dari pelestarian (preservasi) alam dan budaya, bambu juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kreatif. Berbagai produk inovatif telah dihasilkan di berbagai negara, mulai dari alat musik, furnitur, hingga produk fungsional seperti sepeda dan instrumen lainnya berbasis bambu,” ungkapnya.

Pada pertemuan tersebut turut dibahas pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis agama dan budaya, seperti pemanfaatan Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Selain itu diskusi juga membahas pemanfaatan ruang budaya sebagai pariwisata berbasis olahraga, misalnya Tour de Singkarak dan Borobudur Marathon.

Turut hadir dalam diskusi tersebut yakni Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; dan Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, I Made Dharma Suteja.

Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan untuk melanjutkan diskusi dan koordinasi secara intensif, guna mendapatkan formula yang tepat dalam pngembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Diharapkan kedepannya pengembangan industri tersebut dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi RI ( Dok. Kemenbud/ Vidhy Fellizano Sfinoza).

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)