Bumblebee, Film Laga Fantasi Tampil Di Luar Ekspektasi

0
214
Bumblebee, Film Laga Fantasi

HOLLYWOOD, bisniswisata.co.id: Lima film Transformers telah berlalu dan hingga tetap dikenang sebagai film spektakuler. Kini hadir Bumblebee yang merupakan prekuel waralaba. Ini membuktikan film laga fantasi tak hanya jago menyajikan adegan tarung spektakuler, juga bisa punya cerita yang hangat, dan pertunjukan akting brilian.

Dunia akan mengenang lima film Transformers buatan Michael Bay sebagai film laga fantasi yang memukau secara visual, tapi jeblok untuk urusan cerita. Sebuah “kutukan” yang jamak terjadi pada genre laga di seluruh dunia.

Duet sutradara-penulis yang “minim pengalaman” tapi penuh ide segar, seperti Travis Knight dan Christina Hodson, membuat Bumblebee tampil di luar ekspektasi. Bumblebee adalah debut Travis sebagai sutradara film live-action .

Sebelumnya, dia lebih banyak berperan sebagai animator untuk film animasi seperti Coraline dan Para Norman. Sementara, Christina tercatat sebagai penulis yang memiliki tiga skenario dalam Black List, yaitu daftar skenario yang dianggap menarik di Hollywood tapi belum dibuatkan filmnya.

Perempuan berdarah campuran Taiwan ini kini juga tengah sibuk menggarap dua skenario untuk proyek film DC Extended Universe (DCEU), yaitu Birds of Prey dan Batgirl. Di tangan Christina, Bumblebee menjadi cerita laga fantasi yang dekat dengan kisah para remaja dan keluarga di seluruh dunia.

Semua karena karakter remaja perempuan Charlie Watson (Hailee Steinfeld) yang diciptakannya. Semenjak ayahnya meninggal, Charlie yang tomboi berubah menjadi pribadi yang sinis. Dia benci pada ayah tirinya yang pengangguran, Ron (Stephen Schneider).

Dia juga tak terlalu peduli dengan perkataan ibunya, Sally (Pamela Adlon). Adik satusatunya, Otis (Jason Drucker), juga tak dianggapnya ada. Hal ini makin diperparah karena Charlie juga tak punya teman.

Malahan, dia jadi objek perundungan teman sebayanya karena bekerja di booth junk food. Singkat kata, Charlie jauh dari mana-mana. Dia merasa tak ada yang bisa mengerti dirinya. Satusatunya hiburan baginya adalah mengutak-atik mobil rongsokan peninggalan ayahnya, juga lagu-lagu rock tahun 1970-1980-an.

Seolah ingin kabur dari dunia di sekelilingnya, saat bangun tidur Charlie langsung menyumpal telinganya dengan headphone, mendengarkan The Smiths dengan volume tinggi. Sementara itu di Cybertron, Optimus Prime (disuarakan Peter Cullen) dan pasukan Autobots-nya tengah dibasmi oleh Decep ticons.

Terdesak, Optimus Prime lalu memerintahkan B-127 alias Bumblebee (disuarakan Dylan O’Brien) untuk kabur ke Bumi dan menyusun kekuatan di sana. “Lindungi planet itu. Nanti aku akan datang,” pesannya.

Sampai di sini bisa ditebak, Bumblebee yang menyamar menjadi VW kuning ditemukan Charlie. Mereka lalu bersahabat erat, dan saling bantu mengatasi masalah masing-masing. Travis dan Christina sangat rapi menyusun cerita dan menyampaikan cerita tersebut.

Karena film ini masih masuk dalam semesta Transformers yang notabene bergenre laga fantasi, maka mereka memutuskan untuk memulai cerita dengan adegan kelahi para robot raksasa di Cybertron, sebuah scene yang spektakuler jika ditonton di studio IMAX 3D.

Adegan laga ini berlangsung cukup lama, sepertinya untuk memuaskan para penggemar berat seri Transformers yang sudah berpuasa lebih dari setahun. Sepanjang film, Bumblebee juga tetap menjaga adegan aksi ini hadir dalam proporsi yang tepat, hingga gongnya diumbar jelang akhir kisah dengan adegan masif perkelahian seru antarrobot.

Meski tak terjadi perkelahian massal layaknya di film-film sebelumnya, adegan tarung di Bumblebee masih berada dalam tahap memuaskan dan memanjakan mata. Tak hanya puas di sisi adegan laganya, kisah Charlie bersama Bumblebee, dan hubungan Charlie dengan keluarganya, akan membuat penonton diaduk-aduk emosinya.

Kadang membuat tertawa, kadang dibuat terharu, bahkan mungkin menangis. Semua ini tak akan terjadi jika skenario buatan Christina tak memberi dasar yang kuat dan cukup untuk karakter Charlie dan Bumblebee agar penonton bisa bersimpati dan terhubung dengan kisah mereka.

Beruntung sekali, film ini mendapatkan Hailee Steinfeld. Aktris berusia 22 tahun ini sangat sukses menerjemahkan karakter Charlie yang tomboi, cerdas, keras kepala, mandiri, dan tahu pasti apa yang diinginkannya.

Siapa pun yang pernah melihat aktingnya di True Grit saat dia masih berusia 14 tahun, tentu tak akan menyangsikan kemampuan perempuan muda ini. Di tangan Hailee, Charlie menjadi poros cerita dan pusaran semua emosi dalam Bumblebee .

Nah yang bisa menyaingi pesonanya mungkin hanya karakter Otis yang lugu, dan tentu Pamela Adlon yang dikenal lewat serial televisi Modern Family. Saking menonjol dan hebatnya karakter remaja perempuan ini, penonton bisa mencium atmosfer feminisme yang kuat dalam film ini.

Jelas sudah, Bumblebee adalah film terbaik seri Transformers, sejauh ini. Adegan laga, cerita, serta lagu-lagu latarnya yang asyik akan membuat penonton bersemangat dan bernostalgia dengan sempurna.

Produser waralaba Transformers, Lorenzo menilai Film spin-off dari seri Transformers berujudul Bumblebee ini bangga filmnya mendapat reaksi positif. Sebuah rencana besar lainnya dari waralaba itu sudah mencuat ke permukaan. Ke depan Tokoh Optimus Prime sang pemimpin Autobot digadang-gadang akan diangkat juga menjadi film spin-off.

“Saya pasti ingin melakukan itu,” kata produser waralaba Transformers, Lorenzo di Bonaventura, berbicara tentang potensi spin-off Optimus Prime kepada Entertainment Weekly, Sabtu (21/12/2018)

Namun, ia menerapkan satu syarat penting agar itu bisa terwujud. Di Bonaventura mengatakan bahwa film solo Optimus Prime dapat dibuat hanya jika Bumblebee sukses dan masuk box office. “Ini akan menjadi jenis film yang sangat berbeda dari film Bumblebee, tetapi sama-sama menarik,” katanya.

Di Bonaventura menyebut film Optimus Prime, apabila benar akan dibuat, bakal berbeda karena menurut dia, Optimus Prime punya kepribadian yang lebih tabah. Berbanding terbalik dengan Bumblebee.

“Dia adalah seorang pemimpin yang tabah dan kau dapat mengandalkannya. Sementara Bumblebee lebih gampang emosi. Dia memiliki banyak suka dan duka. Jadi sepertinya dia adalah karakter terbaik diangkat kisahnya untuk kali pertama,” lontarnya.

Selain itu, ia juga menyebut tentang adanya rencana untuk membuat sekuel Bumblebee, namun kembali lagi bahwa semuanya tergantung pada sukses tidaknya film pertama. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.