LAPORAN PERJALANAN LIFESTYLE SOSOK

Berwisata Melawan Arus Utama

JAKARTA, bisniswisata.co.id : Berwisata mungkin masih terkesan eksklusif bagi sebagian orang. Apalagi setelah pandemi COVID-19 melanda dunia, semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan harus merelakan impian traveling. Tetapi bepergian tidak harus mewah atau mahal. Bagi sebagian orang, memiliki kesempatan untuk bisa melakukan hal baru dan berinteraksi dengan orang lain juga merupakan pengalaman berwisata yang tak terlupakan.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Julia Bakso, traveler asal Spanyol yang sangat menyukai hal-hal yang anti mainstream. Bagaimana tidak? Ketika pertama kali datang ke Indonesia, ia memilih untuk mengunjungi Mumere, Flores, Nusa Tenggara Timur dan melintasi seluruh pulau dengan sepeda motor. Pilihan yang agak tidak biasa dibandingkan dengan wisatawan lain yang menjadikan Bali sebagai tujuan utama mereka di Indonesia.

Julia bersama keluarga Gilles Raymond

Eksplorasi Julia pun membuahkan hasil. Karena selama tinggal di Flores, dia bertemu dengan sebuah keluarga yang menceritakan dirinya tentang kisah Gilles Raymond. Seorang bule asal Kanada yang telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari belasan tahun menyediakan saluran air, membangun sekolah, dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di Flores.

Membantu warga berkebun, Flores

Julia memutuskan untuk bergabung dengan keluarga Gilles dan menghabiskan waktu di desa untuk membantu. Idenya adalah untuk membuat strategi yang memudahkan para pelancong menuju desa yang sayangnya sampai saat itu sepi pengunjung. Dia juga membantu penduduk setempat di ladang dan membantu membuat kebun buah.

Namun, Julia menjelaskan bahwa perjalanannya adalah tentang bercengkrama dengan penduduk setempat sambil mendengarkan berbagai legenda, cerita hantu, serta tentu saja menikmati keindahan alam setempat. Julia juga menjelaskan bahwa dia tidak pernah merencanakan perjalanannya.

Bersama warga desa, Lumajang

Dia pergi ke tempat-tempat yang dia rasa memiliki keindahan alam atau legenda lokal yang menarik dan bertemu berbagai warga lokal yang mengundangnya untuk mengunjungi desa mereka, menghadiri acara pernikahan, atau acara lainnya.

Tujuan utamanya adalah untuk bersenang-senang serta menciptakan sesuatu yang keren dan positif, mulai dari mengajar bahasa Inggris hingga membuat orang tertawa di sebuah acara dengan gerakan menari hip hopnya.

 

“Saya suka orang, hobi saya adalah berbicara, mendengarkan cerita hidup orang dan membuat mereka tertawa serta berdansa” kata Julia.

 

Suatu waktu, dia menggagas “BaksoWeek” dengan tujuan untuk mencari Bakso terbaik di Bali. Dia berhenti di antah berantah untuk bertanya dimana penjual bakso terbaik di kawasan itu kepada orang-orang yang dia temui dan seringkali mereka menemani Julia untuk makan bakso bersama. Dalam BaksoWeek ini, Julia mengunjungi desa-desa yang belum banyak dijamah oleh turis mancanegara seperti Bebetin, Bengkala, Bubelen, Catur, dan lain sebagainya.

 

Penggalangan dana untuk penderita Cerebral Palsy, Bali

Dia juga menghabiskan 6 bulan di Bali untuk mempelajari pertukangan bambu, membangun struktur, bahkan membangun rumah. Pada awalnya, para pengrajin di tempat tersebut yang notabene didominasi oleh pria merasa terkejut terhadap minat Julia untuk mempelajari bidang ini. Mereka bahkan tidak yakin jika Julia memiliki fisik yang cukup kuat.

Ditambah lagi, Julia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dan mereka tidak berbicara bahasa Inggris dengan baik. Namun pada akhirnya, Julia dapat memenangkan hati mereka karena ia dapat menyalin dan memahami pekerjaan yang mereka lakukan dengan cepat dan akurat.

 

Julia membantu petani di Lumajang

Tak berhenti di Bali dan Flores, Julia melanjutkan perjalanannya ke pulau Jawa bersama Ana, seorang teman pelancong ke Lumajang, Jawa Barat dimana mereka bertemu dengan semua orang desa. Menurut mereka, orang Indonesia sangat manis dan ramah.

Sebagai buktinya, suatu hari mereka diundang delapan kali oleh warga setempat untuk makan di kediaman mereka masing-masing. Julia dan Ana tidak berani untuk menolak karena takut dianggap tidak sopan, maka pada hari itu mereka pun makan delapan kali.

Bersama Kades Penanggal, Pak Cik Ono

Bagi mereka, perjalanan ini sangat luar biasa. Mereka dapat berinteraksi sambil membantu warga setempat seperti bekerja di sawah, membantu membersihkan sepeda motor di sebuah bengkel, bahkan bertemu dengan Pak Cik Ono, Kepala Desa (Kades) Penanggal, Kecamatan Candipuro, Lumajang untuk belajar dan lebih memahami politik Indonesia, dengan cara apa mereka ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. 

 

Mengajar Bahasa Inggris, Sekumpul

Kisah menyenangkan berlanjut di Klaten, Jawa Tengah dimana Julia menjadi sukarelawan guru bahasa Inggris di sebuah sekolah. Disana dia bertemu dengan beberapa remaja yang sangat menyukai drama Korea. Tanpa pikir panjang, dia pun mengajak mereka untuk menulis naskah, pergi ke warung bakso milik teman Julia dan membuat film pendek berjudul “Bakso Cinta” yang ditayangkan secara online.

 

“Orang Indonesia cinta dengan bakso karena bakso mewakili kampung halaman dan tradisi, bakso membuat anda merasa hangat dan nyaman saat turun hujan, itu adalah metafora untuk cinta. Itu sebabnya saya memanggil diri saya Julia Bakso.”  kata Julia.

 

Julia juga melanjutkan perjalanan lebih jauh, tepatnya ke pulau Kalimantan selama satu bulan untuk belajar tentang budaya Dayak. Menurut Julia, Suku Dayak adalah pencerita hantu dan legenda nomor satu. Selain mempelajari budaya Dayak, Julia juga datang untuk juga mencari orangutan. Dia memutuskan untuk pergi ke Kalimantan Timur Laut karena itu adalah bagian pulau yang tidak banyak dikunjungi oleh turis dan memiliki lebih banyak alam hutan. 

 

Bersama warga desa, Lumajang

Metode yang digunakan untuk mengeksplorasi tentu saja sangat berbeda dengan turis lainnya. Daripada menyewa jasa pemandu, Julia hanya membuka peta dan mencari desa-desa apa saja yang bisa dia temukan di pinggiran hutan dan mengunjunginya dengan menggunakan sepeda motor.

Menghadiri sebuah pernikahan di Bali

Ditengah perjalanan nekat ini, Julia menemukan sebuah warung di salah satu desa dan bertemu dengan Novita dan Yulius, warga asli Dayak dari desa terdekat yang bersedia menemani Julia untuk menghabiskan waktu bersama di hutan mencari orangutan. Selain itu, Julia juga diundang untuk menghabiskan waktu di desa, dimana dia bertemu dengan salah satu kepala desa Dayak. 

 

“Kami bersenang-senang bahkan jika kita tidak pernah melihat orangutan, saya pikir mereka sedang tidur. Kami akhirnya pergi piknik dan mengadakan pesta jalanan dengan sebotol gin yang saya bawa di dalam tas.” Cerita Julia.

 

TigerBear, anjing kesayangan Julia

Masih banyak lagi keseruan dari cerita-cerita perjalanan Julia yang tentunya tidak berakhir sampai disini. Pada tahun 2022 mendatang, dia berencana untuk kembali berwisata mengelilingi Indonesia ditemani oleh TigerBear, anjing kesayangannya yang diadopsi beberapa bulan lalu. Julia juga membagikan kisah perjalanannya kepada para pengikutnya di Instagram (@juliabakso) dan mengajak mereka untuk mengundangnya ke desa mereka untuk belajar lebih banyak tentang orang-orang dan bersenang-senang serta berdansa dengan kalian semua.

Justin Sabrinsky

Co-Founder & Creative Director of EXPLORE! e-Magazine by bisniswisata.co.id