SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Lanskap perjalanan global sedang mengalami transformasi besar yang dipimpin oleh salah satu segmennya yang paling berpengaruh.
Pada tahun 2025, diperkirakan 186 juta pengunjung Muslim internasional menyumbang $210 miliar bagi perekonomian global—angka yang diproyeksikan akan meningkat menjadi 245 juta pengunjung dan $235 miliar dalam lima tahun.
Dalam pertumbuhan ini, perempuan Muslim memainkan peran sentral, kini menyumbang 48% dari kedatangan pengunjung Muslim global.
Laporan Muslim Women in Travel 2026 diterbitkan untuk memberikan peta jalan yang dapat ditindaklanjuti bagi industri dengan mensintesis kecerdasan kolektif dari lebih dari 1.700 responden dan pemangku kepentingan industri.
Laporan ini bertujuan untuk memahami realitas perjalanan berbasis agama yang lebih kompleks, memastikan bahwa masa depan pariwisata lebih aman, lebih inklusif, dan sangat berempati terhadap kebutuhan perempuan Muslim.
Memahami Tantangan: Kerangka Kerja PAINS
Untuk benar-benar membuat perjalanan lebih aman dan mudah diakses, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi di mana letak hambatannya. Laporan ini menggunakan kerangka kerja PAINS untuk mengkategorikan lima tantangan spesifik yang dihadapi perempuan Muslim:
Privasi: Kekhawatiran utama terlepas dari pakaian; banyak pelancong menghadapi kesulitan dengan fasilitas yang kurang memiliki privasi yang memadai atau memiliki aturan berpakaian yang ketat.
Fasilitas: Kebutuhan berbasis agama, seperti ruang sholat yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin atau fasilitas wudu (bersuci), seringkali diabaikan atau gagal memenuhi kebutuhan khusus perempuan.
Identitas: Di luar gender, perempuan Muslim mungkin menghadapi prasangka atau stereotip berdasarkan ekspresi keyakinan, warna kulit, atau etnis mereka.
Jaringan: Meskipun para pelancong ingin terhubung dengan komunitas lokal dan kelompok yang memiliki minat yang sama, menemukan jaringan yang aman dan terverifikasi ini tetap menjadi tantangan.
Keamanan: Ini mencakup keamanan umum dan ketakutan khusus terkait meningkatnya Islamofobia, kejahatan kebencian, dan prasangka terhadap perempuan Muslim.
Merancang untuk Keberagaman: Persona Wisatawan
Wisatawan Muslimah bukanlah kelompok yang seragam. Untuk meningkatkan pengalaman mereka, industri pariwisata harus mengenali empat persona berbeda ini:
Perencana Perjalanan Keluarga yang Berpusat pada Keagamaan. Dalam perjalanan keluarga, perempuan seringkali menjadi penyelenggara dan pengatur anggaran utama. Hal ini bahkan lebih terlihat dalam perjalanan keagamaan.
Penting untuk dicatat bahwa wisatawan keluarga adalah salah satu pola perjalanan paling populer bagi perempuan.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan perjalanan mereka, destinasi harus memprioritaskan fasilitas ibadah yang bersih dan ramah perempuan serta akomodasi berorientasi keluarga dengan fasilitas ramah anak.
Penjelajah Solo Independen
Ini adalah segmen yang berkembang dari para pelancong wanita Muslim, yang sering mencari otonomi dan pengembangan diri. Ketika mereka bepergian sendirian, otonomi dan keselamatan adalah dua aspek yang diprioritas
Objek wisata dan akomodasi harus memper-hatikan hal ini dan menyediakan alat digital untuk perencanaan dan navigasi, serta keselamatan umum dan sinyal ramah Muslim yang jelas.
Pelancong Sosial Berkelompok Wanita
Berpergian dalam kelompok khusus wanita, para wanita di sini berfokus pada menciptakan perjalanan wisata yang berpusat pada kenyamanan bersama dan koneksi sosial.
Untuk memenuhi kebutuhan persona pelancong ini, bisnis dapat menawarkan ruang dan fasilitas khusus wanita seperti spa, pantai pribadi, dan tempat sholat. Selain itu, akomodasi yang ramah sosial dengan kegiatan untuk mempererat hubungan akan semakin melengkapi pengalaman perjalanan.
Pelancong Multimoda Hibrida
Ini adalah wanita yang menyesuaikan gaya perjalanan mereka tergantung pada konteks perjalanan. Sepanjang perjalanan solo, kelompok, dan keluarga, mereka terus-menerus menyesuaikan peran mereka mulai dari perencanaan, koordinasi, hingga pengambilan keputusan.
Bagi para pelancong wanita ini, standar ramah Muslim yang konsisten di semua titik kontak adalah hal utama. Untuk memudahkan perjalanan mereka, diperlukan juga pemesanan digital yang mudah diakses, pilihan dompet elektronik, dan mobilitas yang lancar.
Rekomendasi untuk Industri
Dapat dipahami bahwa perempuan memiliki peran utama dalam pengambilan keputusan perjalanan. Untuk memfasilitasi hal ini dan membuat pengalaman perjalanan lebih baik bagi perempuan, termasuk para ibu, para pemangku kepentingan pariwisata harus fokus pada transparansi dan inklusivitas. Rekomendasi utama meliputi:
*Menerapkan standar sertifikasi yang transparan untuk makanan Halal dan fasilitas ibadah.
*Memanfaatkan agen AI untuk memberikan penilaian keselamatan secara real-time dan peringatan lokal.
Mendorong inisiatif yang dipimpin perempuan, seperti pantai khusus perempuan (seperti yang terlihat di Pantai Pasir Emas di Turki) atau tur yang dipimpin perempuan, yang menarik bagi 90% wisatawan perempuan yang lebih menyukai lingkungan hotel yang dipimpin perempuan.
Ambil Peran Utama dalam Pariwisata Inklusif
Laporan Muslim Women in Travel 2026 adalah seruan untuk bertindak. Merayakan Hari Ibu, publikasi ini merupakan seruan universal untuk menjadikan pasar pariwisata lebih ramah dan memfasilitasi perempuan Muslim.
Dengan memahami wisatawan perempuan Muslim dan mengatasi tantangan perjalanan mereka saat ini, kita dapat membuka potensi di masa depan.
Unduh laporan lengkapnya di sini untuk mengetahui bagaimana destinasi Anda dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan perempuan Muslim.









