JAKARTA bisniswisata.co.id: Hari Raya Qurban atau Iedul Adha bukan ritual individual umat Islam tetapi menjadi pesan perdamaian yang sangat kuat ditengah situasi geopolitik, suasana perang bahwa Idul Adha adalah suatu tatanan kehidupan dunia yang sangat ideal dari Islam.
“ Ini miniatur mini kehidupan dunia versi agama Islam yang tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi” kata khatib H. Fahmi Salim Lc M.A dihadapan jemaah sholat Iedul Adha di halaman Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta Timur.
Sholat yang digelar oleh Muhammadiyah Ranting Kayu Putih Pulomas ini mengajak jemaah menjadi agen perdamaian. ” Dalam Islam ada larangan kekerasan baik verbal maupun tindakan nyata, larangan adanya pelanggaran moral maupun konflik sosial dan pesannya adalah perdamaian harus di mulai dari dalam diri sendiri, tegas khatib
Lebaran Haji atau Hari Raya Iedul Adha memperingati ketaatan luar biasa Nabi Ibrahim SAW yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail.
Jadi Idul Adha sangat erat kaitannya dengan ibadah haji karena perayaannya bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, serta keduanya memiliki akar sejarah yang sama yaitu napak tilas perjuangan dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
“Saat itu kaum lelaki umat Islam semua memakai Ihram, kain putih melilit tubuh dimana tidak ada perbedaan ras, kasta, jabatan. Semua berkumpul di Padang Arafah dan standarnya adalah ketakwaan pada Allah,” jelas H. Fahmi Salim Lc M.A
Tidak ada superioritas dan menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme. Ibadah ini mempertemukan semua umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan Standar Operation Procedure ( SOP) ibadah yang sama dan hanya menyembah satu tuhan Alkah SWT sang Maha Pencipta. Pesannya meski berbeda-beda tetapi tetap satu.
“Ribuan tahun lalu Allah SWT sudah mempertemukan manusia dari berbagsi bangsa di Baitullah sehingga Mekkah menjadi Zona aman global, siapa yang masuk ke Baitullah. Tidak boleh membunuh termasuk pada hewan dan tanaman. Belajar standar ketakwaan pada Allah adalah dengan berkurban,” tegasnya.
Berkurban selain menunjukkan akhlak individu seorang Muslim juga simbol pengorbanan dalam hidup berdampingan di dunia ini dan sekaligus umat Islam dunia menunjukkan adanya suatu distribusi kesejahteraan secara massal di seluruh dunia karena perintah berkurban hewan kambing dan sapi adalah untuk memberikan daging qurban pada orang yang membutuhkan.
“ Jadi umat Islam sendiri adalah model dari perdamaian dunia yang memperlihatkan bagaimana keadilan sosial harus dijalankan, dunia harus berjalan dengan toleransi, kolaborasi karena dunia membutuhkan kedamaian bukan konflik,”
Idul Adha mengajarkan dunia bahwa
menyembelih hewan qurban sesuai perintah agama adalah bentuk kecintaan dan agar menyebarkan nilai – nilai Islam dalam kehidupan sehari- hari.
Sementara itu imam Wasdi Rahman yang memimpin sholat memilih Surah Al-A’la yang disunnahkan dibaca pada saat Sholat Jumat, Sholat Idul Fitri dan Idul Adha, serta Sholat Witir. Rasulullah SAW sangat menyukai surat ini karena berisi tasbih (penyucian Allah) dan penetapan kekuasaan-Nya.
Di rakaat kedua, imam membaca Surah Al-Ghasyiyah yang sering disebut sebagai Hari Pembalasan yang mengajak manusia untuk merenungkan kebesaran Allah melalui penciptaannya mulai dari hewanbunta, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan.










