Sebuah pasar Halal bagi produk pertanian Vietnam
HANOI, bisniswisata.co.id: Di era di mana preferensi konsumen global semakin dibentuk oleh standar etika, agama, dan kualitas, industri Halal menonjol sebagai kekuatan ekonomi yang sedang berkembang pesat.
Dilansir dari halaltimes.com, dengan nilai lebih dari US$2 triliun saat ini dan diproyeksikan melonjak menjadi US$5 triliun pada tahun 2030, pasar Halal tidak hanya mencakup makanan tetapi juga farmasi, kosmetik, fesyen, dan pariwisata.
Bagi Vietnam, negara yang terkenal dengan keunggulan pertanian dan ekonomi berorientasi ekspornya, hal ini merupakan gerbang emas untuk mendiversifikasi pasar dan meningkatkan pendapatan. Karena perdagangan bilateral dengan negara-negara mayoritas Muslim mencapai US$24,7 miliar pada tahun 2025, termasuk US$10,9 miliar dalam bentuk ekspor, seruan untuk bertindak semakin gencar.
Namun, para ahli dan pemimpin industri menekankan bahwa tanpa strategi jangka panjang yang kuat, Vietnam berisiko kehilangan peluang menguntungkan ini.
Mengapa Vietnam tak noleh tertinggal ?
Ekonomi halal bukanlah pasar khusus melainkan kekuatan arus utama yang melayani lebih dari 2,2 miliar konsumen Muslim di seluruh dunia, dengan permintaan yang meluas ke populasi non-Muslim yang mengaitkan sertifikasi halal dengan kualitas, keamanan, dan produksi yang unggul dan etis.
Menurut Laporan Keadaan Ekonomi Islam Global, pengeluaran untuk produk dan layanan halal diperkirakan mencapai US$1,67 triliun pada akhir tahun 2025, dengan pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 7,5%.
Ekspansi ini didorong oleh meningkatnya populasi Muslim di kawasan seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika Utara, ditambah dengan meningkatnya kemakmuran dan urbanisasi.
Bagi Vietnam, daya tariknya jelas. Negara ini telah menjadi eksportir utama produk pertanian seperti makanan laut, kopi, beras, dan buah-buahan—banyak di antaranya yang sepenuhnya memenuhi standar halal.
Pada tahun 2025, ekspor Vietnam ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang memiliki PDB gabungan sebesar US$8,5 triliun, telah menunjukkan potensi yang kuat, dengan perkiraan menunjukkan bahwa negara tersebut dapat memproduksi barang-barang halal senilai hingga US$34 miliar untuk pasar-pasar tersebut.
Data terbaru menyoroti hubungan bilateral: perdagangan dengan Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, sedang berkembang pesat, sementara kemitraan dengan Arab Saudi bertujuan untuk meningkatkan omzet hingga US$10 miliar pada tahun 2030.
Namun, pangsa pasar halal global Vietnam saat ini masih rendah. Meskipun berada di peringkat 20 besar eksportir makanan dunia, negara ini tidak masuk dalam 30 besar pemasok makanan halal. Kesenjangan ini menggarisbawahi perlunya pergeseran dari inisiatif bisnis ad-hoc ke pendekatan nasional yang terkoordinasi.
Kekuatan dan Peluang yang Muncul di Sektor Halal Vietnam
Keunggulan kompetitif Vietnam terletak pada sumber daya alamnya yang melimpah, biaya produksi yang rendah, dan lokasi strategisnya sebagai jembatan antara Asia dan Timur Tengah.
Sektor pertanian, yang berkontribusi sekitar 15% terhadap PDB, siap untuk integrasi halal. Produk-produk seperti kopi dari Trung Nguyen Group, makanan laut dari Vinh Hoan Corporation, dan sayuran olahan dari Cau Tre Export Goods Processing telah mendapatkan sertifikasi dan menembus pasar di Malaysia, Indonesia, dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Peluang berlimpah di berbagai sektor:
Makanan dan Minuman: Pasar makanan halal Timur Tengah-Afrika Utara (MENA), yang bernilai US$192,6 miliar pada tahun 2022, diperkirakan akan mencapai US$228 miliar pada tahun 2024.
Makanan laut dan buah-buahan tropis Vietnam dapat mengisi kesenjangan di wilayah-wilayah dengan produksi domestik yang terbatas, seperti GCC, di mana 90% makanannya diimpor.
Farmasi dan Kosmetik: Dengan bahan-bahan alami seperti herbal dan minyak esensial, Vietnam dapat memenuhi permintaan produk kesehatan dan kecantikan bersertifikat halal yang terus meningkat, yang diproyeksikan mencapai $380 miliar di MENA pada tahun 2030.
Pariwisata: Pariwisata halal dapat menarik jutaan wisatawan dari negara-negara mayoritas Muslim, dengan proyeksi global mencapai $300 miliar pada tahun 2026. Pantai, situs budaya, dan kuliner Vietnam dapat diadaptasi dengan layanan ramah halal.
Perkembangan terkini, seperti pembentukan Otoritas Sertifikasi Halal Vietnam (HALCERT) pada April 2024, telah menyederhanakan proses, memungkinkan sekitar 50 perusahaan setiap tahunnya untuk mensertifikasi produk makanan laut, minuman, dan kembang gula.
Kemitraan dengan Malaysia dan Indonesia untuk saling pengakuan sertifikasi semakin memudahkan akses pasar.
Analisis SWOT dari studi terbaru menyoroti kerangka kerja kelembagaan dan kebijakan Vietnam yang kuat sebagai kekuatan utama, sementara peluangnya mencakup pertumbuhan ekonomi melalui diversifikasi perdagangan di tengah tantangan seperti tarif AS.
Tantangan Utama yang Menghambat Kemajuan Halal Vietnam
Terlepas dari berbagai keunggulan ini, hambatan tetap ada. Isu utamanya adalah tidak adanya strategi nasional yang komprehensif, yang menyebabkan upaya-upaya terfragmentasi dan bergantung pada masing-masing bisnis.
Sertifikasi tetap menjadi kendala: meskipun standar seperti VietGap dan GlobalGap selaras dengan persyaratan Halal, mendapatkan pengakuan internasional mahal dan rumit bagi usaha kecil dan menengah (UKM).
Persaingan sangat ketat. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Indonesia mendominasi lanskap Halal ASEAN, dengan ekosistem dan branding yang mapan.
Ekspor Halal Vietnam, meskipun terus berkembang, menghadapi pengawasan ketat terkait kepatuhan, dan infrastruktur domestik untuk zona pemrosesan Halal masih kurang berkembang.
Selain itu, wawasan budaya dan konsumen diperlukan untuk menyesuaikan produk—preferensi Muslim bervariasi, sehingga membutuhkan adaptasi spesifik pasar.
Faktor geopolitik, seperti ketegangan perdagangan, menambah urgensi. Karena pasar tradisional memberlakukan tarif, beralih ke Halal menawarkan ketahanan, tetapi tanpa tindakan cepat, Vietnam bisa kehilangan posisi.
Respons Pemerintah dan Industri: Membangun Strategi yang Tangguh
Pemerintah Vietnam semakin gencar. Perdana Menteri Pham Minh Chinh telah mengidentifikasi Halal sebagai “pilar baru” bagi kerja sama ekonomi, terutama dengan negara-negara Muslim.
Rencana induk 2023, “Memperkuat Kerja Sama Internasional untuk Pengembangan Ekosistem Halal pada 2030,” berfokus pada sertifikasi, infrastruktur, dan branding. Inisiatif-inisiatif tersebut mencakup kawasan industri Halal, pelatihan tenaga kerja, dan integrasi AI untuk optimalisasi produksi.
Kolaborasi internasional merupakan kunci. Kerja sama dengan Pusat Halal Arab Saudi bertujuan untuk sertifikasi yang diakui, sementara perjanjian dengan Pakistan dan Malaysia meningkatkan ekspor pertanian.
Seminar di Kota Ho Chi Minh, yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, telah mendorong para pelaku bisnis untuk bermitra dengan perusahaan Halal asing untuk integrasi rantai pasok.
Para pakar seperti Cuong dari ITPC merekomendasikan untuk berfokus pada kekuatan niche, kepatuhan yang ketat, dan riset pasar guna membangun kepercayaan. Dr. Yousif S. AlHarbi memuji sertifikasi terpadu Vietnam sebagai pendorong daya saing.
Studi Kasus: Kisah Sukses Vietnam di Pasar Halal
Contoh nyata menggambarkan potensinya. Lini produk makanan laut bersertifikat Halal milik Vinh Hoan Corporation telah meraih premi di Timur Tengah.
Ekspor kopi Trung Nguyen Group ke Indonesia dan Malaysia menunjukkan bahwa adaptasi membuahkan hasil. Di Provinsi Tay Ninh, perusahaan lokal memanfaatkan Halal untuk ekspor pertanian, menciptakan lapangan kerja dan pendapatan.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa dengan investasi dalam sertifikasi dan kemitraan, UKM dapat berkembang pesat.
Strategi Esensial untuk Memaksimalkan Peluang Halal
Agar berhasil, Vietnam harus mengadopsi pendekatan multifaset:
Pengembangan Strategi Nasional: Menyusun rencana jangka panjang yang mencakup sertifikasi, akses pasar, dan pengembangan kapasitas.
Infrastruktur dan Pelatihan: Berinvestasi di zona Halal, proses berbasis AI, dan tenaga kerja terampil.
Kemitraan Internasional: Mempererat hubungan dengan negara-negara OKI untuk saling pengakuan dan usaha patungan.
Diversifikasi Pasar: Menargetkan wilayah dengan pertumbuhan tinggi seperti GCC dan Indonesia, dengan memanfaatkan FTA sebagai daya ungkit.
Dukungan UKM: Menyediakan bantuan keuangan, konsultan, dan riset untuk mengatasi hambatan.
Dengan menerapkan hal-hal ini, Vietnam dapat meningkatkan ekspor halalnya secara signifikan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Vietnam sebagai Pusat Halal
Ke depannya, sektor halal Vietnam dapat menjadi peluang senilai $10 triliun pada tahun 2028, mendorong pembangunan berkelanjutan dan integrasi global. Dengan strategi proaktif, negara ini dapat muncul sebagai pusat halal ASEAN, meningkatkan hubungan dengan mitra, dan mengamankan peran dalam ketahanan pangan.










