RIYADH, bisniswisata.co.id: Seiring berlanjutnya kerawanan pangan global, negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) meningkatkan investasi ambisius bernilai miliaran dolar untuk memperkuat ketahanan pangan di 57 negara anggotanya.
Pada tahun 2025, negara-negara ini, yang berpenduduk lebih dari 1,9 miliar jiwa, menyalurkan sumber daya yang belum pernah ada sebelumnya ke dalam pertanian berkelanjutan, teknologi inovatif, dan kerja sama regional untuk memerangi kelaparan dan memastikan sistem pangan yang tangguh.
Artikel yang dilansir dari halaltimes.com oleh Laiba Adnan ini mengkaji perkembangan terbaru, inisiatif utama, dan strategi transformatif yang mendorong agenda ketahanan pangan OKI, menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi para pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan konsumen yang ingin memahami gerakan penting ini.
Urgensi Ketahanan Pangan di Negara-Negara OKI
Ketahanan pangan masih menjadi tantangan mendesak bagi banyak negara OKI, dengan 26 negara anggota diklasifikasikan sebagai Negara Defisit Pangan Berpenghasilan Rendah (LIFDC) dan 22 negara membutuhkan bantuan pangan eksternal, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).
Pada tahun 2024, sekitar 203 juta orang di negara-negara OKI mengalami kekurangan gizi, diperburuk oleh konflik, perubahan iklim, dan gangguan ekonomi seperti dampak pandemi COVID-19 yang berkepanjangan dan perang Rusia-Ukraina.
Laporan State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025 memperkirakan bahwa antara 638 dan 720 juta orang di seluruh dunia menghadapi kelaparan pada tahun 2024, dengan kawasan OKI seperti Afrika Sub-Sahara dan Asia Barat mengalami peningkatan kerawanan pangan.
Terlepas dari tantangan-tantangan ini, negara-negara OKI memanfaatkan potensi pertanian kolektif mereka, yang menyumbang 10,4% dari PDB mereka—jauh di atas rata-rata global sebesar 4,3%.
Dengan ekspor pertanian yang meningkat dari USD 141,7 miliar pada tahun 2011 menjadi USD 188,1 miliar pada tahun 2021, dan perdagangan intra-ICO yang tumbuh sebesar 85% selama periode yang sama, kawasan ini siap untuk transformasi.
Upaya bersama OKI, yang didukung oleh investasi miliaran dolar, bertujuan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 2: Bebas Kelaparan pada tahun 2030.
Investasi Strategis Mendorong Perubahan
Negara-negara OKI mengerahkan sumber daya keuangan yang substansial untuk mengatasi ketahanan pangan melalui gabungan kemitraan publik, swasta, dan internasional.
Berikut adalah beberapa inisiatif paling signifikan yang mendorong momentum ini:
1. Dorongan Pertanian Arab Saudi
Arab Saudi, dalam kerangka Visi 2030, berinvestasi besar-besaran dalam produksi pangan lokal untuk mengurangi ketergantu-ngannya pada impor, yang mencapai US$ 292,9 miliar pada tahun 2021 di seluruh negara OKI.
Pada Juni 2023, Dana Pengembangan Pertanian Kerajaan menyetujui US$ 400 juta untuk mendukung petani skala kecil yang memproduksi sayuran, ikan, dan unggas.
Selain itu, Perusahaan Pengembangan Produk Halal, anak perusahaan Dana Investasi Publik (PIF), bermitra dengan perusahaan pengolah makanan Brasil BRF untuk meningkatkan industri daging halal.
Sementara Perusahaan Investasi Pertanian dan Peternakan Saudi mengakuisisi 10,7% saham di BRF. Investasi ini telah menghasilkan swasembada kurma, susu, dan telur, dengan surplus produksi kini menargetkan pasar ekspor.
2. Pendekatan Berbasis Inovasi UEA
UEA memelopori ketahanan pangan melalui teknologi canggih seperti hidroponik dan pertanian vertikal. Strategi Ketahanan Pangan Nasional 2018–2023 mencapai swasembada hampir 100% untuk pasokan pangan utama, seperti unggas dan kurma, pada tahun 2023.
Pada tahun 2024, UEA meluncurkan strategi baru yang berfokus pada keberlanjutan dan inovasi teknologi, dengan rencana untuk berkontribusi sebesar US$ 10 miliar bagi sektor pangan dan pertaniannya pada tahun 2028, yang akan menciptakan 20.000 lapangan kerja.
Program pinjaman Agtech dari Emirates Development Bank mendukung perusahaan rintisan dan UKM, yang mendorong ekosistem inovasi teknologi pangan yang dinamis.
3. Tonggak-Tonggak Swasembada Qatar
Strategi Ketahanan Pangan Nasional Qatar 2018–2023 membuahkan hasil yang luar biasa, mencapai swasembada sayuran sebesar 46%, unggas sebesar 100%, kurma sebesar 70%, dan ikan sebesar 75% pada tahun 2023.
Strategi 2024 dibangun berdasarkan keberhasilan ini, dengan menekankan layanan konsultasi digital, tanaman yang tahan iklim, dan diversifikasi rute perdagangan.
Investasi Qatar dalam pertanian rumah kaca dan akuakultur menjadi model bagi negara-negara kecil untuk mencapai ketahanan pangan meskipun lahan pertanian terbatas.
4. Kepemimpinan Kazakhstan
dalam Gandum Kazakhstan, eksportir gandum utama, memasok sekitar sembilan juta ton per tahun, menjadikannya pemain penting dalam ketahanan pangan OKI.
Perannya dalam pembentukan Organisasi Islam untuk Ketahanan Pangan (IOFS) menggarisbawahi komitmennya terhadap kerja sama regional. Investasi dalam teknologi irigasi dan benih modern meningkatkan hasil panen, memposisikan Kazakhstan sebagai pemasok yang andal bagi pasar OKI.
5. Kebijakan Agropangan Berkelanjutan Malaysia
Kebijakan Agropangan Nasional Malaysia 2.0 (2021–2030) mengalokasikan US$ 650 juta untuk mengembangkan sektor agropangan berkelanjutan dan berteknologi tinggi. Dengan mempromosikan agroekologi dan pertanian organik, Malaysia meningkatkan produksi pangan sekaligus memastikan keamanan dan kualitas.
Peringkat ke-41 Malaysia dalam Indeks Ketahanan Pangan Global (GFSI) 2022 mencerminkan kemajuan yang stabil, dengan rencana untuk lebih mengintegrasikan teknologi dan meningkatkan ekspor.
Tren Utama yang Membentuk Ketahanan Pangan OKI
1. Pertanian Tangguh Iklim
Perubahan iklim menimbulkan ancaman signifikan bagi pertanian OKI, dengan wilayah kering seperti Asia Barat dan Afrika Timur Laut menghadapi kelangkaan air dan cuaca ekstrem.
Partisipasi IOFS dalam sesi Badan Pendukung UNFCC 2025 (SB 62) di Bonn, Jerman, menyoroti perlunya sistem pangan yang tangguh iklim.
Inisiatif seperti Inisiatif Unggulan Global untuk Ketahanan Pangan, yang diluncurkan pada UNCCD COP 16, berfokus pada solusi yang terukur dan inklusif untuk wilayah lahan kering, dengan negara-negara OKI memimpin.
2. Inovasi Teknologi
Investasi agri-tech berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dengan negara-negara OKI mengadopsi drone, traktor otomatis, dan pertanian presisi untuk mengoptimalkan hasil panen.
Teknologi blockchain dan IoT memastikan transparansi rantai pasok, terutama untuk ekspor makanan halal. Misalnya, proyek desalinasi dan inovasi pertanian rumah kaca di Arab Saudi mengatasi kelangkaan air, sementara pertanian vertikal di UEA mengurangi penggunaan lahan.
3. Kerja Sama Intra-ICO
OKI mendorong perdagangan dan kerja sama intra-regional untuk mengurangi ketergantungan impor. Koridor transportasi Dakar-Port Sudan yang diusulkan bertujuan untuk memperlancar distribusi pangan di seluruh negara OKI di Afrika, sehingga meningkatkan akses pasar.
Konferensi Tingkat Menteri Kesembilan tentang Ketahanan Pangan dan Pembangunan Pertanian, yang diselenggarakan di Doha pada Oktober 2023, mengadopsi rencana strategis untuk memobilisasi sumber daya dan menyelaraskan strategi nasional, dengan Qatar, Palestina, Iran, dan Senegal memimpin upaya tersebut.
4. Keterlibatan Sektor Swasta
Keterlibatan sektor swasta sangat penting, dengan perusahaan seperti Al-Mukarramah bermitra dengan IOFS untuk mendorong inovasi. Perusahaan multinasional, seperti Nestlé dan JBS, sedang membangun pusat regional untuk memasuki pasar makanan halal yang sedang berkembang, sementara perusahaan rintisan mengamankan pendanaan untuk meningkatkan solusi berkelanjutan.
Tantangan yang Harus Diatasi
Terlepas dari kemajuan-kemajuan ini, negara-negara OKI menghadapi tantangan yang signifikan:
Konflik dan Ketidakstabilan: Negara-negara seperti Suriah, Yaman, dan Sudan berada di peringkat rendah dalam GFSI karena konflik yang berkelanjutan, yang mengganggu produksi dan distribusi pertanian.
Memburuknya ketahanan pangan Sudan, yang disoroti oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada tahun 2025, menggarisbawahi perlunya bantuan kemanusiaan dan resolusi konflik.
Sertifikasi dan Standardisasi: Kurangnya standar sertifikasi halal yang terpadu mempersulit perdagangan. Upaya seperti pakta Indonesia-UEA – Turki-Malaysia bertujuan untuk menyelaraskan proses, tetapi adopsi yang lebih luas diperlukan.
Kesenjangan Infrastruktur: Sistem transportasi dan penyimpanan yang tidak efisien menyebabkan kehilangan pangan yang signifikan, dengan lebih dari sepertiga barang yang mudah rusak terbuang sia-sia di negara-negara OKI Afrika. Investasi dalam rantai dingin dan logistik sangat penting untuk mengatasi hal ini.
Kerentanan Iklim: Kekeringan dan cuaca ekstrem mengancam hasil panen, terutama di Afrika Sub-Sahara dan wilayah kering. Meningkatkan skala pertanian cerdas iklim sangat penting untuk membangun ketahanan.
Peluang bagi Para Pemangku Kepentingan
Investasi ketahanan pangan OKI menawarkan peluang yang sangat besar:
Bagi Bisnis: Pasar makanan halal yang terus berkembang, diproyeksikan mencapai USD 5,96 triliun secara global pada tahun 2033, menghadirkan peluang bagi produsen dan eksportir. Platform e-commerce dan aplikasi seluler memperluas jangkauan pasar, sementara praktik berkelanjutan menarik konsumen yang peduli lingkungan.
Bagi Investor: Dana kekayaan negara dan investor swasta dapat memanfaatkan fokus kawasan ini pada teknologi pangan dan pertanian berkelanjutan. Perusahaan rintisan di bidang pertanian vertikal, pertanian presisi, dan logistik halal mendapatkan pendanaan yang signifikan, menawarkan imbal hasil yang tinggi.
Bagi Konsumen: Peningkatan produksi lokal berarti lebih banyak pilihan pangan yang terjangkau dan berkualitas tinggi. Fokus pada pertanian cerdas nutrisi, seperti yang terlihat dalam proyek-proyek Honduras yang didanai Bank Dunia, meningkatkan keragaman pangan, terutama bagi populasi rentan.
Bagi Pembuat Kebijakan: Menyelaraskan strategi nasional dengan tujuan OKI dapat meningkatkan kerja sama regional dan menarik pendanaan internasional.
Program Ketahanan Sistem Pangan Afrika Barat Bank Dunia senilai US$ 766 juta, dengan tambahan US$ 345 juta untuk Senegal, Sierra Leone, dan Togo, merupakan contoh potensi dukungan multilateral.
Investasi multi-triliun dolar OKI dalam ketahanan pangan menandakan pergeseran transformatif menuju kemandirian dan keberlanjutan.
Dengan memanfaatkan teknologi, mendorong perdagangan intra-regional, dan mengatasi tantangan iklim, negara-negara ini membangun sistem pangan yang tangguh.
Namun, pencapaian SDG 2 membutuhkan penanggulangan konflik, standardisasi sertifikasi, dan peningkatan skala investasi infrastruktur.
Mandat strategis IOFS, yang disahkan pada Dewan Menteri Luar Negeri OKI ke-51 pada tahun 2025, menekankan kebijakan berbasis sains dan kerja sama regional, yang menetapkan arah yang jelas ke depan.
Bagi para pemangku kepentingan, agenda ketahanan pangan OKI menawarkan peluang untuk terlibat dalam sektor yang dinamis dan bertumbuh pesat.
Bisnis dapat berinovasi, investor dapat mendanai solusi yang terukur, dan konsumen dapat memperoleh manfaat dari beragam pilihan pangan berkelanjutan.
Saat OKI mengumpulkan miliaran untuk memerangi kelaparan, masyarakat global menyaksikan kawasan yang siap memimpin dalam hal ketahanan pangan dan inovasi pertanian










