NASIONAL NEWS SOSOK

Kisah Jurnalis  Ditembak, Diancam Dibunuh, Disekap

Oleh : Nur Hidayat

Saya menghabiskan waktu 5 tahun sebagai a lone journalist di Pulau Yap, negara kecil terpencil di Samudera Pasifik. Selama itu pula, saya dikecam, “diancam untuk dibunuh”, dipermalukan di depan umum. Dan diperingatkan bahwa saya akan diikuti oleh preman bayaran terus ke “mana pun saya pergi”. Di tengah malam, ban mobil saya disobek. Diam-diam, tulis wartawati Joice McClure.

Ada pula tekanan dari sejumlah politisi. Ketua Dewan Pilung (COP) meminta pimpinan DPR untuk “melempar saya” keluar dari Pulau Yap: sebagai warga negara yang “dipersona non grata kan”. Mereka menuduh gaya jurnalisme yang saya anut dan praktekkan telah “mendisrupsi kondisi” lingkungan pemerintahan. Dan/atau “merusak keamanan dan” keselamatan negara.

Dalam acara dengar pendapat dengan satu Komisi DPR, September 2021, 14 dari 28 menit waktu yang ada digunakan untuk “mengecam artikel yang” saya tulis mengenai kegagalan DPR untuk meng-impeach gubernur, menurut guardian.com.

Seorang politikus lalu mengunggah di akun Facebook-nya: isinya, sejumlah “warga” menulis komentar bahwa saya “harus dibunuh”. Betulkah klaim “warga” tersebut ? Sepertinya hoax.

Sementara itu seorang jurnalis di Yap juga  menghadapi situasi semakin bertambahnya resiko pekerjaan. Satu Grup Kebebasan Pers mengingatkan wartawan AS Bill Jaines, editor Kaselehlie Press di Pohnpei, salah satu daerah di Pulau Yap, akan adanya ancaman pembunuhan pula.

“Itu bukan sekali ini saja saya diteror ancaman pembunuhan,” tutur Jaines. Selama 15 tahun bertugas, dia sudah diancam dibunuh belasan kali. Termasuk mobilnya “ditabrak dengan” sengaja beberapa kali.

Disekap dan dianiaya

Di Indonesia, wartawan Tempo, Nurhadi (31), dianiaya dan disekap. Kekerasan tersebut diduga dilakukan oleh sejumlah orang yang “mengaku aparat”. Menurut penelusuran Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, aksi kekerasan dialami Nurhadi saat dia melakukan kerja jurnalistik, Sabtu (27/3/2021) malam.

Kala itu Nurhadi sedang reporting terkait kasus suap pajak yang diduga (menyeret Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu, Angin Prayitno Aji), yang tengah diusut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Insiden kekerasan bermula ketika Nurhadi mendatangi Gedung Samudra Bumimoro, Krembangan, Surabaya, sekitar pukul 18.25 WIB. Di lokasi sedang berlangsung resepsi pernikahan anak Angin Prayitno Aji dan anak Kombes Pol Achmad Yani, mantan Karo Perencanaan Polda Jatim.

Hadi masuk ke Gedung Samudra Bumimoro untuk melakukan investigasi dan memotret Angin Prayitno Aji yang berada di atas pelaminan bersama besannya.

Pada jam 19.57 WIB, korban yang masih berada di dalam gedung didatangi seorang anggota panitia pernikahan. Hadi juga sempat difoto. Pukul 20.00 WIB, Hadi yang akan keluar dihentikan oleh beberapa anggota panitia dan “ditanya ihwal” identitas serta undangan mengikuti acara.

Sekitar pukul 20.10 WIB keluarga mempelai kemudian didatangkan untuk mengkonfirmasi apakah mereka “mengenal Hadi”. Setelah keluarga mempelai mengatakan “tidak”, Hadi lantas dibawa ke belakang gedung. Dia didorong oleh seseorang yang diduga ajudan Prayitno Aji.

“Selama proses tersebut korban mengalami perampasan ponsel, kekerasan verbal, fisik dan ancaman pembunuhan,” kata Ketua AJI Surabaya, Eben Haezer.

Kabar sejuk meluncur dari India. Ravish Kumar, wartawan senior di sejumlah koran dan kanal TV, meraih Magsaysay Award karena “karya jurnalistiknya yang excellent”. Dia satu-satunya wartawan di India yang tetap mengkritisi sikap dan kebijakan pemerintah: hal yang sama juga terhadap anggota partai BJP dan anggota Congress. Bravo.

Karena investigasi

Sejumlah wartawan AS dibunuh ketika reporting. Atau saat meliput konflik militer. Sedikitnya 39 jurnalis menjadi target pembunuhan lantaran investigasi yang mereka lakukan. Paling terkini adalah empat reporter di Annapolis, Maryland. Mereka tewas dibunuh 28 Juni 2018 sewaktu terjadi “penembakan massal” di kantor koran mereka.

Paling berbahaya adalah sektor media kesukuan dan etnis. Menurut Committee to Protect Journalists, sepuluh “kuli tinta” bekerja untuk media Vietnam, Haiti dan komunitas imigran China. Mereka tewas dalam “pembunuhan politik” antara 1980 dan 1993.

Pers Indonesia berduka: 

Tepat 8 hari sebelum peringatan Hari Pers Nasional 2022, kabar duka untuk Pers Indonesia menyebar cepat. H Margiono, berpulang Selasa (1/2/2022) pagi, pukul 09.02 WIB di RS Pertamina Modular, Simprug, Jakarta Selatan.

CEO Rakyat Merdeka Group/ Direktur Utama Harian Rakyat Merdeka yang juga mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Almarhum dimakamkan Selasa siang di TPU Jelupang, dekat dengan kediamannya di Serpong.

Sebelum tutup usia Ketua Umum PWI Pusat dua periode ini (2008-2013, 2013-2018)  sempat menjalani perawatan intensif akibat COVID-19 dan komplikasi penyakit sejak 23 Januari lalu.

Wartawan senior Ilham Bintang belum lama mengabarkan Margiono (yang juga direktur utama harian _Rakyat Merdeka_ ), harus cuci darah secara rutin karena sakit ginjalnya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sementara Tri Agung Kristanto dari kompas.com menulis obituari Wartawan yang Peduli Wartawan itu Pergi…
Mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia sekaligus mantan Wakil Ketua Dewan Pers Margiono berpulang, Selasa (1/2/2022). Semasa hidupnya, almarhum ikut mendorong kemandirian media dan kesejahteraan wartawan.

Perjuangan untuk menegakkan kebenaran selalu menjadi bekal H.Margiono pada wartawan muda. “Wartawan pada era sekarang ini sebenarnya sulit. Wartawan tidak bisa lagi melihat sebuah peristiwa sebatas peristiwanya itu sendiri, tetapi harus mendudukkan dalam konteksnya,” kata  Margiono disampaikan pada peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2011 di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Penulis adalah: Senior journalist, pemerhati pariwisata &  Free Individual traveler

Hana Fahila