KOTA AMBON, bisniswisata.co.id: INDONESIA negara yang memiliki seluruh potensi bencana mulai dari hidrometeorologi, vulkanologi, geologi, bencana sosial hingga non alam seperti pandemi COVID-19. Namun, kurang tepat jika dengan serangkaian potensi bencana tersebut, Indonesia disebut sebagai supermarket bencana.
“Indonesia ini adalah laboratorium bencana. Semua bencana ada di Indonesia dan kita harus bisa mempelajarinya untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang baik” jelas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Ganip Warsito.

Sebagai laboratorium bencana, wajib dipelajari untuk disiapkan langkah-langkah antisipasi dan pencegahannya.Pengurangan risiko bencana menjadi sebuah investasi penting guna meminimalisir dampak dari potensi ancaman bencana. Bentuk investasi PRB dimaksud adalah investasi struktural, kultural, sumber daya manusia (SDM), ilmu pengetahuan dan teknologi serta keuangan.
Berinvestasi dalam pengurangan risiko bencana guna mewujudkan impian dan visi Indonesia hingga tahun 2045. Hal itu disampaikan Ganip saat memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Kota Ambon, Maluku,sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2021
Investasi struktural yang dimaksud Ganip adalah melalui pembangunan infrastruktur berdasarkan kajian risiko bencana. Infrastruktur itu sendiri dapat berupa bangunan ciptaan manusia seperti gedung atau sarana dan prasarana lainnya, maupun dengan pemanfaatan ekologi dan sistem vegetasi sebagai penyangga atau pelindung dari ancaman bencana.
“Baik berupa bangunan tahan bencana, penanaman dan pemeliharaan vegetasi yang dapat menjadi buffer bagi jenis bencana tertentu seperti tsunami, maupun bencana hidrometeorologi,” jelas Ganip.
Kearifan Lokal
Investasi kultural, mengarah kepada bagaimana mengubah paradigma masyarakat dalam penanggulangan bencana,mulai dari responsif menjadi preventif. Dapat dilakukan melalui sosialisasi, edukasi maupun pemanfaatan budaya dan kearifan lokal di tiap-tiap daerah.
“Literasi kebencanaan, edukasi, maupun sosialisasi, serta pengembanganya dapat dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal setempat,” kata Ganip.
Investasi pengurangan risiko bencana berikutnya adalah menyangkut bagaimana kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) ditingkatkan. Ganip menilai, masyarakat harus memiliki kapasitas dalam penanggulangan bencana, dimulai dari pembangunan karakter manusia tangguh bencana.
Dalam pengurangan risiko bencana, investasi Iptek juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Dengan menciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk monitoring, analisa dan asesmen pengurangan risiko bencana. Iptek juga dapat diartikan sebagai kontribusi pemikiran dan teknologi yang tepat oleh para akademisi, pakar maupun peneliti.
Investasi yang terakhir adalah mengenai anggaran keuangan. Hal ini menyangkut tentang investasi yang dikeluarkan untuk pengurangan risiko bencana, sehingga dapat menyelamatkan aset yang bernilai lebih besar, baik anggaran untuk implementasi program maupun melalui asuransi bencana.
Ganip juga meminta perguruan tinggi lebih memaksimalkan peran dalam penanggulangan bencana, sebagaimana yang diintegrasikan ke dalamTri Dharma perguruan tinggi. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 3 Tahun 2020, wujud dari peran perguruan tinggi itu dapat dilakukan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik atau kegiatan lain yang mengacu pada aspek pencegahan dan kesiapsiagaan.
“Sangat banyak kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa dan perguruan tinggi dalam hal penanggulangan bencana, terutama dalam aspek pencegahan dan kesiapsiagaan, diantaranya adalah melatih kesiapan teknis perguruan tinggi, dalam menghadapi bencana,” kata Ganip. *









