JAKARTA, bisniswisata.co.id: Potensi pasar wisata geopark sangat besar. Sayangnya, belum dikemas secara optimal untuk menjadi suatu destinasi wisata yang menarik (interesting) sekaligus menjual (salable). Padahal jika dikemas secara baik, wisata Geopark Indonesia menjadi daya tarik bahkan mampu menjadi daya saing unggulan.
“Unsur daya saing kita yang paling lemah adalah Safety and Security, Helathy and Hyegiene, dan Tourism Service Infrastructure. Ini yang harus dibenahi agar wisata geopark kita dikenal wisatawab penjuru dunia,” papar Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof. Azril Azahar kepada bisniswisata.co.id, di Jakarta, Senin (10/12/2018).
Dilanjutkan, potensi Geopark yang tersebar di penjuru nusanata sebenarnya sudah cukup baik. Mulai tahun 2012 sudah ada yang diakui UNESCO dengan Gunung Batur-Bali pada tahun 2012. Juga Gunung Sewu tahun 2015 dan saat ini 2018 yaitu Ciletuh Pelabuhan Ratu dan Gunung Rinjani NTB.
Namun sayang, lanjut dia, belum dikemas secara baik menjadi suatu destinasi Geopark Tourism dan Edu Tourism. Keempat Goepark itu memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Bahkan, bisa dipelajari dengan baik rahasia dibalik geopark tersebut. “Bukan hanya keindahannya saja, namun terbentuknya ke-empat geopark itu sangat berbeda dan memiliki karakteristik masing-masing.
“Dari pengamatan saya di Gunung Sewu saja, yang memiliki batuan kars dan 33 situs alam atau geosite sangat menakjubkan. Gunung Sewu berada di Tiga Kabupaten (Gunung Kidul, Wonosari, Pacitan) yang berada dalam Tiga Provinsi (DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur),” ungkapnya.
Menurutnya, negara lain yang memiliki wisata geopark dan sudah mendapat pengakuan UNESCO pada tahun 2018: Perancis, Spanyol, Belgia, Vietnam, Jepang, China, Korea Selatan, Kanada, Thailand, Tanzania. Juga ada beberapa negara lainnya yang pernah mendapat predikat UNESCO Global Geopark yaitu: Austria, Italy, Portugal, Germany, Greece, UK. “Menurut pendapat saya kondisinya sangat jauh dengan yang ada di Indonesia,” ungkapnya.
Meski demikian, sambung dia, kunjungan turis asing ke destinasi wisata Geopark diproyeksikan meningkat 15% tahun 2019. Saat ini jumlah kunjungan wisman ke destinasi wisata Geopark pada tahun 2018 sekitar 800.000 hingga 850.000 wisman. “Prospek wisman yang datang ke geopark ini ke depannya sangat bagus. Di tahun depan akan meningkat 10% hingga 15%,” sambungnya.
Menurutnya, saat ini tren turis asing menyukai destinasi wisata alam petualangan dan menantang. Terlebih Indonesia memiliki banyak potensi geopark. “Ini nantinya akan menarik banyak turis ke Indonesia kalau benar-benar dipotensialkan. Turis ke Indonesia banyak yang mencari wisata alam menantang,” katanya.
Azril berharap pemerintah tidak hanya melakukan promosi atau branding destinasi wisata saja tetapi juga menyiapkan infrastruktur pendukung geopark.
Untuk diketahui, geopark merupakan sebuah wilayah geografi yang memiliki warisan geologi dan keanekaragaman geologi yang bernilai tinggi, termasuk di dalamnya keanekaragaman hayati dan keragaman budaya yang menyatu di dalamnya, yang dikembangkan dengan tiga pilar utama, yaitu konservasi, edukasi dan pengembangan ekonomi lokal.
Di tempat terpisah, Pakar Tsunami Institut Teknologi Bandung (ITB) Hamzah Latief mengatakan berdasarkan hasil penelitian timnya, wilayah obyek wisata Geopark Ciletuh Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat merupakan daerah rawan terjadi gempa dan tsunami. “Di lokasi geopark ini terdapat lempeng bumi yakni Cimandiri, jika terjadi gempa longsor maka akan terjadi tsunami lokal,” kata Hamzah
Gempa dan tsunami tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Namun Hamzah meminta semua mewaspadai karena potensi itu ada. Bahkan, jika terjadi tsunami di Geopark Ciletuh imbasnya akan dirasakan sampai ke beberapa daerah. “Untuk wilayah perairan laut Sukabumi, tinggi gelombang jika terjadi tsunami sangat tinggi. Itu karena wilayah Palabuhanratu persis berada di atas patahan Cimandiri.
Dengan situasi tersebut, Hamzah megatakan jika terjadi gempa berpotensi tsunami hampir seluruh pantai terkena dampaknya mulai dari Pantai Ujung Genteng di Kecamatan Ciracap. “Diperkirakan jika terjadi tsunami yang terkena dampaknya mencapai 890 gedung pemerintah dan sekitar 5 ribu rumah dan fasilitas lainnya,” tambahnya.
Sebagai antisipasi atas hasil penelitian itu Hamzah lantas membuat peta evakuasi di wilayah perairan laut Sukabumi dan selter. Dengan peta evakuasi itu masyarakat diharapkan dapat mengetahui jalur evakuasi jika terjadi bencana.
Selain Sukabumi, hasil penelitian ITB juga memasukkan DKI Jakarta dalam kategori rawan terjadi tsunami. Hamzah mengatakan jika terjadi tsunami di ibu kota tinggi gelombangnya hanya 1,2 meter. Yang harus diwaspadai adalah kekuatan arusnya. (EP)










