JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pelaku bisnis pariwisata Indonesia perlu segera mengantisipasi perubahan model bisnis pariwisata di era digital atau Millennial Tourism. Pasalnya, pasar dunia akan didominasi kelompok wisatawan generasi millennial yang rata-rata berusia muda antara 18 tahun hingga 34 tahun atau lebih dikenal dengan generasi Y.
“Para Millennial travellers ini memiliki kesenangan untuk berpetualang atau travelling, namun mereka lebih suka menggunakan jasa perjalanan wisata yang berbasis aplikasi, bukan lagi konvensional. Karenanya pelaku bisnis pariwisata Indonesia perlu mengantisipasi dengan perubahan ini,” lontar Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Pariwisata Kemenpar Rizki Handayani saat membuka FGD Millennial Tourism di JW Marriott Hotel Jakarta, Kamis (18/10/2018).
Perubahan ini, lanjut Rizki, menjadi salah satu tantangan besar bagi pelaku bisnis pariwisata di Tanah Air untuk segera menyesuaikan model bisnis sesuai dengan tuntutan pasar. “Jika tidak, jelas akan tertinggal apalagi saat ini era digital sehingga semua dilakukan secara digital yang butuh kecepatan, kelengkapan data dan informasi, praktis serta mudah,” sambung Rizki.
Menghadapi situasi itu, Kemenpar menggelar Focus Group Discusstion (FGD) Millennial Tourism. “Dalam FGD ini membahas sejumlah persoalan berupa peluang dan tantangan berupa perubahan model bisnis pariwisata di era Millennial Tourism. kemudian dipetakan dan menjadi semacam framework,” paparnya.
Selain itu dalam FGD ini, akan mendapatkan pemahaman tentang Millennial Tourism, bagaimana trend Millennial Tourism dan ekonomi digital pariwisata serta faktor apa yang menjadi kunci sukses dalam mengadapi perubahan bisnis di era digital, sambungnya.
Asdep Manajemen Strategis Kemenpar Grans Teguh menambahkan di era digital saat ini, kaum Millennial sebagai pemeran utama dalam menggunakan teknologi dan mengakses informasi di dunia maya. Bahkan kaum generasi Y ini, mudah terlihat dengan kegemaran mereka berwisata, travelling, suka berpetualangan dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
“Minimnya pengalaman tidak mengurungkan niat kaum Millennial untuk mengaktualisasi diri. Ini yang membedakan generasi sebelumnya yang sudah berpengalaman dan lebih menyenangi aktivitas rutinitas yang sudah jelas,” jelasnya.
Wisatawan Millennial akan terus tumbuh dan menjadi pasar utama. Diproyeksikan pada 2030, pasar pariwisata Asia mendominasi wisatawan Millennial berusia 15 tahun hingga 34 tahun mencapai hingga 57 persen. Di China kaum Millennial akan mencapai 333 juta orang, Filiphina 42 juta wisatawan, Vietnam 26 juta anak muda, Thailand 19 juta dan Indonesia mencapai 82 juta generasi Millennial. (END)









