640 Hektare Kawasan Perhutani Disulap Jadi Objek Wisata

0
282
wisatawan muslim menikmati Hutan pinus di Lembang Jadi obyek wisata

LEMBANG, bisniswisata.co.id: Administratur Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung Utara, Komarudin, mengungkapkan daerah resapan air di hutan pada Kawasan Bandung Utara (KBU) saat ini hanya sekitar 6,5 persen. Sedangkan sisanya berdiri pemukinan dan perkebunan. Total ideal daerah resapan air di satu wilayah mencapai minimal 30 persen.

“Melihat peta, kawasan hutan yang dikelola Perhutani hanya menyumbang 6,5 persen. Jawa Barat sendiri bercita-cita mempunyai kawasan hutan lindung 45 persen,” ungkap Komarudin di Lembang, Selasa (28/8/2018).

Menurutnya, pengelolaan hutan di KBU memiliki banyak tantangan, di antaranya penduduk yang padat. Katanya, jika dirata-ratakan masyarakat di Pulau Jawa kepemilikan lahannya dibawah 0.2 hektare per orang. Sehingga orang menggunakan lahan perkebunan atau hutan untuk bermukim.

Ia menuturkan seperti dilansir laman Republika, dengan kondisi tersebut pihaknya mengelola hutan dengan misi ekonomi, sosial dan lingkungan. Di mana, pihaknya dituntut untuk untung dan satu sisi kondisi lingkungan harus tetap terjaga.

Sementara dari sisi sosial, masyarakat dapat terlibat dalam mengelola hutan Perhutani. Katanya, dari 20.560 hektare luasan hutan, sekitar 640 hektare direncanakan untuk pengembangan wisata. Hutan yang dikerjasamakan sebagai tempat wisata, di antaranya Terminal Wisata Grafika Cikole, PAL 16, dan Orchid Forest.

Pemanfaatan itu dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku. Setelah ditetapkan menjadi lokasi wisata maka sarana prasarananya maksimal 10 persen. Bangunan maksimal 10 persen dengan desain bangunan yang menyatu dengan alam. “Misalnya, rumah kayu atau rumah panggung,” katanya.

Diakui jika pengembangan tempat wisata memiliki dampak negatif. Meski begitu, dampak positifnya lebih banyak. Pertumbuhan tempat wisata menurutnya memiliki efek ganda, seperti memunculkan pedagang atau penginapan.

“Perhutani memiliki misi mengenalkan hutan kepada masyarakat. Bermain di hutan bisa sangat menyenangkan, sehingga mereka minta kepada pengelola memasukan kegiatan edukasi lingkungan,” paparnya. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.