2018, Jumlah Kunjungan Wisman di Bawah Target Kemenpar

0
134
Ilustrasi - Anak Gunung Krakatau dikunjungi turis (Foto: Merahputih.com

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Capaian jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang tahun 2018, dibawah target Kementrian Pariwisata (Kemenpar). Targetnya 17 juta wisman, namun data BPS hanya tercapai 15,81 juta wisman. Memang, jumlah itu mengalami kenaikan 12,58 persen dibandingkan dengan periode yang sama sepanjang tahun 2017 sebanyak 14,04 juta.

Memang pertumbuhan itu belum cukup untuk mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk Desember 2018 saja, jumlah turis asing yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 1,41 juta atau meningkat 21,43% dari bulan sebelumnya, papar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Dr. Suhariyanto dalam keterangan pers di kantor BPS Pusat, Jakarta, Jumat (1/2)

Dijelaskan, Wisman dari Malaysia menjadi yang terbanyak dengan 2,5 juta kunjungan atau 15,83%, disusul oleh turis China dengan 2,14 juta kunjungan atau 13,52%. Berikutnya, Singapura dengan 1,77 juta kunjungan atau 11,19%, Timor Leste dengan 1,76 juta kunjungan atau 11,15%, dan Australia dengan 1,3 juta kunjungan atau 8,23%.

Sementara itu, dari sisi pertumbuhan, turis Asean menunjukkan persentase kenaikan paling tinggi yakni 20,6% secara year of year. Sebaliknya, wisman dari Timur Tengah memperlihatkan penurunan terbesar, yaitu 6,13%.

“Menurut kebangsaaan, kunjungan wisman yang datang ke Indonesia selama 2018 paling banyak dari wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 2,50 juta kunjungan (15,83 persen), Tiongkok 2,14 juta kunjungan (13,52 persen), Singapura 1,77 juta kunjungan (11,19 persen), Timor Leste 1,76 juta kunjungan (11,15 persen), dan Australia 1,30 juta kunjungan (8,23 persen),” kata Suhariyanto.

Dilanjutkan, jumlah kunjungan wisman ini terdiri atas wisman yang berkunjung melalui pintu masuk udara sebanyak 10,08 juta kunjungan, pintu masuk laut sebanyak 3,22 juta kunjungan, dan pintu masuk darat sebanyak 2,51 juta kunjungan,” ungkapnya.

Dari sisi okupansi, rata-rata Tingkat Penghunian Kamar (TPK) berada di posisi 58,75% atau naik 22 poin dari TPK Desember 2017 yang sebesar 59,53%. Kenaikan terbesar untuk hotel klasifikasi bintang terjadi di Sulawesi Barat dengan 25,06 poin, disusul Sulawesi Tenggara dengan 16,4 poin dan Kalimantan Utara dengan 11,21 poin.

Penurunan TPK terdalam terjadi di Sulawesi Tengah sebesar 14,38 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia di hotel berbintang menunjukkan kenaikan tipis 0,03 poin menjadi 1,75 hari pada Desember 2017 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sambungnya.

Inflasi

BPS mencatat kenaikan inflasi sebesar 0,32 persen secara bulanan pada Januari 2019. Angka ini lebih rendah dibandingkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan di Desember yakni 0,62 persen. Angka ini menyebabkan inflasi secara tahunan mencapai 2,82 persen. Karena ini masih awal tahun, inflasi secara tahun kalender juga sama seperti inflasi bulanan, yakni 03,2 persen. “Sebuah capaian yang bagus di awal tahun, semoga ke depan akan terkendali,” ujar Suhariyanto.

Komponen penyumbang inflasi selain bahan makanan tercatat 0,92 persen dan memberi andil inflasi 0,18 persen, inflasi juga didorong tarif tiket pesawat yang sempat menjadi bulan-bulanan masyarakat beberapa saat lalu. Inflasi tiket pesawat mencapai 0,2 persen sepanjang Januari.

Namun, inflasi tarif tiket pesawat bisa dikompensasi dengan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi pada awal bulan ini dengan andil deflasi 0,04 persen dan tarif kereta api yang juga memberi andil deflasi 0,04 persen. Sehingga, komponen transportasi dan komunikasi mencatat deflasi 0,16 persen dengan andil kepada inflasi bulanan -0,04 persen.

“Untuk tarif angkutan udara di Januari tahun lalu ini mencatat deflasi, tapi tahun ini ada inflasi. Meski memang , sebagian maskapai sudah berkomitmen menurunkan tarif tiket pesawat,” jelas dia. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.