Berwisata di Jordan, Pelajari Kisah Nabi dan Melongok Rumah Prabowo

0
187

Bersiap mengapung di Laut Mati, Jordan ( foto-foto: Nur Hidayat).

Pada 7-19 Febuari 2019, Wartawan Senior  Nur Hidayat melakukan perjalanan wisata bersama keluarga besarnya mengikuti  tour wisata religi ke Mesir, Palestina, Israel, Jordan, Oman. Berikut tulisan ke empat belas.

AMMAN, Jordania, bisniswisata.co.id: Bagaimana kondisi sekarang gua Ashabul Kahfi, tempat tujuh pemuda dan seekor anjingnya tidur selama 300+9 tahun.? Sejauh ini sudah 33 lokasi di dunia yang diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Dari 104 penelitian,  akhirnya lokasi di timur Amman, ibukota Jordania yang diakui sebagai gua tersebut berada.

Rombongan kami berkunjung ke sana, sekitar 40 menit dari Amman, sehari sesudah melewati perbatasan Israel-Jordan. Gua yang berlokasi di daerah Abu Alanda itu masih bagus, terawat baik. Pintu gua telah diperlebar sehingga pengunjung mudah keluar masuk.

Gua tidak terlalu besar dan panjang, cukup untuk sekitar 50 orang berdesakan. Di dalamnya ada makam tujuh pemuda itu serta ruang kecil untuk menyimpan memorabilia berkaitan dengan kisah mereka.

Tujuh pemuda yang beriman kepada Allah SWT itu melarikan diri bersama seekor anjing karena diancam akan dibunuh. Mereka hidup semasa penguasa Romawi, Raja Diqyanus, penyembah berhala. Di dalam gua mereka tidur selama 300+9 tahun. Mereka bangun dalam kondisi sehat, tak ada bagian tubuhnya yang rapuh.

Begitu pula dengan pàkaian dan uang mereka: utuh. Kisah hidup mereka diabadikan dalam al Qur’an, surat al Kafh, ayat 9-26. Mengapa bisa begitu.? Berdasarkan kajian, ada sejumlah faktor.

Tujuh pemuda tadi ditutup telinganya, sehingga tidak mendengar suara yang dapat mengganggu tidur mereka. Telinga memiliki empat titik akupuntur yang mampu menekan nafsu makan. Gua redup dan sejuk, nyaman, karena sinar matahari tidak masuk ke dalam gua.

Sedikit sinar matahari terbit masuk di bagian kanan gua; dan di kiri waktu hendak terbenam. Tubuh mereka juga dibolak balik agar aliran darah mereka terjaga dan mereka tidur tidak berdesakan. Allah Ta’ala menjaga agama dan fisik mereka. Menjadikannya bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

 

Depan pintu Gua Ashabul Kahfi, tempat tujuh pemuda dan seekor anjingnya tidur ratusan tahun.

Laut Mati

Laut Mati menjadi kunjungan berikutnya yang tidak kalah menarik dengan keunikannya sehingga wisatawan bisa mengambang di atas air tanpa tenggelam dan tanpa bantuan alat tentunya.

Laut Mati atau Laut Asin adalah danau yang membujur di daerah antara Israel, Daerah Otoritas Palestina dan Yordania atau 417,5 m di bawah permukaan laut sehingga merupakan titik terendah di permukaan bumi.

Kadar garam yang tinggi, 8-9 kali lipat dibanding dengan yang biasa ada di laut, membuat seseorang mengambang, tidak akan tenggelam di Laut Mati, walau pun tidak bisa berenang. Kondisi tersebut juga menyebabkan  tidak ada ikan dan makhluk bernyawa lainnya yang dapat hidup di situ. Hanya bakteri dan sejenis jamur yang bisa.

Baca koran sambil mengambang di Laut Mati

Sesungguhnya itu bukan laut, melainkan danau yang luas. Membujur 75,6 km sepanjang perbatasan Israel, Palestina, Jordan, lebar 16 km. Di sebut Badrul Mayyit, Yam ha Maved, konon terbentuk sejak tiga juta tahun lalu.

Di zaman Nabi Luth, perilaku homoseksual berkembang di tengah kaumnya di kawasan itu. Nabi Luth mengingatkan mereka untuk hidup normal, namun mereka membangkang. Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Luth dan sebagian kaumnya yang beriman untuk menyingkir dari Sodom dan Gomorah.

Gempa vulkanik disusul aliran lava panas menghancurkan kota itu dan warganya, yang kemudian dijungkirbalikkan sehingga seluruhnya tenggelam di Laut Mati. Peneliti Universitas Cambridge, London, membuktikannya.

Mereka membangun tiruan kawasan kaum Luth di laboratorium, lalu mengguncangnya dengan gempa buatan. Tiruan kawasan tadi tenggelam dan miniatur rumah-rumah tergelincir, masuk dan terbenam di telaga buatan.

Rombongan kami juga ke laut yang tak ada duanya di dunia itu. Sesudah menyimpan pakaian di locker yang disewa seharga US$2, kami masuk pelan-pekan ke pantai yang berkarang dan berbatu. Hati-hati, supaya kaki tidak terluka.

Ibu-ibu terus “berkicau”, antara gembira dan takut. Ramai sekali. Betul 100%: kami benar-benar mengambang. Kami menikmati sensasi tersebut. Percikan air garamnya yang asin sekali membuat mata pedih. Lumpurnya dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Tak heran bagi wisman, mengambang di Laut Mati adalah “keharusan”.

Selain itu Petra juga  menjadi tujuan favorit turis asing. Resor tersebut disesaki hotel-hotel terkenal seperti Hilton, Movenpick, Kempinski, Marriot, Crown Plaza. Pada 2016, misalnya, negeri berpenduduk 9 juta orang itu dikunjungi 3,8 juta turis asing. Petra juga banyak dikunjungi turis China yang turut menyumbang meningkatnya jumlah wisman, selain Eropa, Jepang dan Indonesia ke Jordania.

Makam Nabi Syuaib dan Rumah Prabowo

Kali ini rombongan juga ziarah ke makam Nabi Syuaib AS, di satu bukit, 40 km dari Amman. Makam tersebut berada di salah satu ruangan Masjid Syuaib. Kami duduk di karpet, dekat makam yang ditutup kain beludru. Penjaga makam memberi penjelasan singkat.

Berdoa di makam Nabi Syuaib
Rumah Prabowo di kita Amman, Jordania

Nabi Syuaib diutus untuk kaum Madyan, yang masih kafir dan berbuat banyak kemaksiatan. Mereka menyembah Aikah, pohon besar, suka merampok dan berdagang curang, mengurangi berat timbangan. Beliau menyuruh mereka menyembah Allah Ta’ala dan meninggalkan kemaksiatan.

Namun kaum Madyan membangkang. “Wahai Syuaib.! Apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (QS Huud: 87).

Allah SWT menyuruh Nabi Syuaib dan pengikutnya meninggalkan daerah itu. Azab akan segera turun. Tak lama cuaca jadi sangat panas, sumur kering, tanaman mati. Mereka keluar rumah, berlindung di bawah awan hitam. Kilat menyambar dan membakar mereka, guntur menggelegar, bumi berguncang. Kaum kafir itu tewas bergelimpangan.

Di Amman, rombongan sempat melintas sebentar ke rumah Prabowo Subianto, melihatnya dari dalam bus. Rumah luas di pojok jalan besar itu berada di daerah elit Amman. Tidak jauh dari kedutaan besar Suriah dan AS.

Kita tahu, Prabowo pernah tinggal dan berbisnis selama beberapa tahun di Jordan. Dia kenal baik dengan (Raja) Pangeran Abdullah II bin al-Husein, karena sama-sama menjalani pendidikan militer di Fort Bragg, AS. Mereka siswa yang cemerlang, menonjol, cerdas, disiplin, berani.

Wayne Downing, purnawirawan jendral bintang  empat yang disegani, juga instruktur di situ, mengakui dua orang siswa asing itu paling menonjol prestasinya. Menurut dia, Prabowo paling disiplin, nyalinya tinggi dan paling keras menjalani latihan.

Downing terkesan dengan Prabowo yang selalu bergairah jika cerita tentang Indonesia dan yakin dengan masa depan negaranya. Sewaktu datang ke Jordan pada 1998, Prabowo dijemput di ruang VIP bandara dan diberi mobil.

“Pangeran Abdullah memang tidak menemui saya karena beliau sedang di luar negeri,” kenang Prabowo. Tetapi kata-kata sang kolonel, perwira utusan Pangeran yang menyambut saya, sungguh membuat haru, tutur Prabowo kepada Majalah Tempo. Dia bilang, “Anda selalu kami terima di sini sebagai saudara. Dan bagi kami, Anda tetap seorang jenderal.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.