Sekali Lagi, Patuhi Social Distancing

0
20

Untuk ilustrasi, silahkan buka tautan :https://twitter.com/edwardsuhadi/status/1239053087764955137

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di tengah pencegahan virus corona (Covid-19), sekitar 9.000 jemaah tabligh Ijtima Dunia 2020 Zona Asia dikabarkan sudah berkumpul di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Untunglah acara tabligh akbar itu dibatalkan, Rabu.

Ijtima Asia 2020 yang berlangsung di Kabupaten Gowa akhirnya disepakati tidak dilanjutkan demi pencegahan Virus Corona (Covid-19). Penanggung jawab Itjima Zona Asia 2020, Tahir mengatakan, pihaknya sepakat menunda kegiatan karena melihat perkembangan saat ini.

Penyelenggara Ijtima Dunia 2020 Zona Asia ini sebelumnya menyelenggarakan Tabligh Akbar di Masjid Sri Petaling, Kuala Lumpur, Malaysia pada 28 Februari hingga 1 Maret 2020. Dalam Tabligh Akbar tersebut, sedikitnya 696 warga negara Indonesia (WNI) menjadi peserta.

Tabligh akbar tersebut dihadiri sekitar 16.000 orang, termasuk 1.500 warga asing. Pada Jumat (13/3), Malaysia mengumumkan 12 warganya terinfeksi virus corona usai menghadiri acara itu.

Sejumlah negara di Asia Tenggara juga mengalami lonjakan kasus virus corona dalam beberapa hari terakhir. Negara-negara itu adalah Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Singapura, Vietnam, dan Thailand. 

Pemerintah RI menyebut kasus positif Virus Corona per Rabu (18/3) pukul 12.00 WIB sudah mencapai 227 orang, dengan 19 orang meninggal dunia dan rianciannya, Bali satu orang, Banten 1 kasus, DKI 12 kasus, Jabar 1 orang, Jateng dua kasus, Jatim satu kasus, dan Sumut satu korban meninggal.

Hanya dalam sehari ada penambahan kasus 55 kasus positif. Padahal per 17 Maret jumlahnya masih 172 kasus atau  ada lonjakan 38 kasus positif COVID-19 dibandingkan sehari sebelumnya yaitu Senin lalu. Faktanya, jumlah kasus yang meninggal lebih banyak dari yang sembuh.

Belum ada pernyataan apa yang ingin dihasilkan dari pihak penyelenggara Ijtima Dunia 2020 Zona Asia itu,  apalagi sebelumnya sudah menyelenggarakan di Masjid Sri Petaling, Kuala Lumpur, Malaysia.

Hal inilah yang menggelitik pikiran saya di tengah pemakaian kata Ijtima yang sering dikaitkan dengan Ijtima ulama padahal dua kata yang berbeda artinya. Ijtima berasal dari kata ijma yang berarti kesepakatan atau konsensus berkaitan dengan Fikih. Sedangkan Ijtima ulama di negri ini dikaitkan dengan dukungan politik.

Fikih membahas tentang cara beribadah, prinsip Rukun Islam, dan hubungan antar manusia sesuai yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Nah Ijtima mana yang dimaksud penyelenggara ? Wallahu a’lam bish-shawabi, Allah Maha tahu yang benar/yang sebenarnya.

Kerumunan massa juga masih terjadi pada prosesi penahbisan Uskup Ruteng di Kota Ruteng, Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (19/3/2020) yang tetap berlangsung.

Di kutip dari Investor Daily, sebelumnya, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo sudah mengirimkan surat meminta acara penahbisan uskup Ruteng ditunda demi alasan kemanusiaan.

“Korban akibat Covid-19 terus berjatuhan. Penyebabnya bukan dari orang yang sedang dirawat di rumah sakit, tetapi oleh orang yang sehat namun dia sudah sebagai carrier, sebagai pembawa Covid-19,” jelasnya.

Soalnya yang bersangkutan berpotensi sebagai penular kepada siapa saja yang berada di sekitarnya. Sangat berbahaya bila menular kepada orang lanjut usia atau memiliki penyakit bawaan. Carrier tersebut bisa berpotensi menjadi pembunuh potensial karena bisa menyebabkan kematianm,” demikian Doni Monardo.

Social Distancing

Terkait penyebarannya yang secara global dimana  pemerintah RI dan negara-negara di dunia telah meminta seluruh masyarakat untuk disiplin menerapkan social distancing atau membatasi interaksi sosial untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19, maka kedisiplinan dan kepatuhan masyarakatlah yang utama.

Waspadalah, para peneliti menemukan, virus corona bisa tahan berhari-hari di permukaan benda. Sebelumnya, virus corona seperti SARS dan MERS, telah ditemukan pada permukaan benda mati seperti logam, kaca, atau plastik, paling lama 9 hari, jika permukaan benda tersebut tidak segera diberi disinfektan.

Keterangan tersebut diperoleh sebagai hasil penelitian yang dipublikasikan awal Febuari lalu oleh The Journal of Hospital Infection. Nah jika tertular dari benda yang ramai-ramai di pegang saat di supermarket atau tempat keramaian lainnya. Setelah itu reaksi baru muncul 14 hari ke depan ? bagaimana nasib Anda ?.

Oleh karena itu mengapa  masyarakat diminta membatasi pertemuan-pertemuan yang melibatkan keramaian massa, menyarankan warga untuk bekerja dari rumah serta bentuk-bentuk aktivitas lain yang mendukung social distancing,

Mengapa dibutuhkan social distancing di gambarkan dampaknya seperti dikutip dari Washington Post

Menyimak tulisan Shohib Khoiri, Dosen Agama & Etika Islam ITB yang beredar di WA chat group pernyataan “Saya tak takut Corona, hanya takut Allah”. Kalimat ini kelihatannya benar dan menggambarkan keimanan mereka yang tinggi, tapi sebenarnya “sarat akan paham Jabariyyah” dalam kajian Aqidah. 

Lalu bagaimana dengan keimanan Baginda Nabi yang mengatakan “Larilah engkau dari lepra sebagaimana larinya engkau dari singa” (HR. Bukhari). Apakah mereka lebih tinggi keimanannya dari keimanan Baginda Nabi?.

Kalimat lainnya yang sering diucapkan adalah “Tak mungkin Allah turunkan wabah kepada orang-orang shalih”. Kalimat ini tampak seperti benar, tapi ada kerancuan. Kalau diyakini bahwa wabah hanya akan mengenai orang kafir/ahli maksiat, lalu bagaimana dengan Sahabat mulia Muadz bin Jabal yang wafat karena wabah penyakit saat itu?. Apakah keimanan beliau lebih rendah dari keimanan mereka yang mengatakan kalimat di atas?

Tanpa perlu datang menghadiri acara-acara yang menghadirkan ribuan massa, cukup dari rumah dan buka youtube, saya sudah bisa mendapatkan pencerahan agama dari Ustad Adi Hidayat terkait virus Covid-19 dan penyakit mematikan lainnya.

Intinya kalau seseorang sakit, tidak ada kaitannya dengan jaminan kematian. Para korban terjangkit virus baik yang masih sakit maupun sudah dinyatakan sembuh tidak bisa dipastikan mati karena penyakitnya itu. Tetangga korban atau masyarakat yang ketakutan meski tubuhnya 100 persen sehat bisa saja langsung wafat karena kematian hanya rahasia sang penciptanya, Allah SWT.

Apabila terkena penyakit atau divonis menjadi bagian dari penyakit itu misalnya terkena Corona, kanker dan penyakit mematikan lainnya, Ustadz Adi Hidayat menyarankan untuk membaca ayat dalam Al-Quran ini dengan penuh keikhlasan dan permohonan kuat kepada Allah.

Penyakit manusia biasanya karena phisik, pikiran dan karena penyakit hati ( ruh). Nah pikiran dan penyakit ini justru yang lebih berbahaya dari penyakit akibat sakit di raganya karena saling terkait yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya. Sama halnya dengan penyakit fisik, penyakit ini juga ada obatnya.

Ustadz Adi Hidayat menggabungkan tiga surat dalam Al-Quran sekaligus. Insya Allah jika dibacakan dengan benar di situ ada janji Allah sebagaimana janji Allah kepada Nabi Ayyub bahwa penyakit apapun selain kematian, Allah akan berkenan menyembuhkannya.

Berikut ayatnya:

  1. Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 82.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الۡـقُرۡاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ‌ۙ وَلَا يَزِيۡدُ الظّٰلِمِيۡنَ اِلَّا خَسَارًا‏

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Al-Isra’: 82)

  1. Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 83-84.

وَاَيُّوۡبَ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗۤ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ‌

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Al-Anbiya: 83)

فَاسۡتَجَبۡنَا لَهٗ فَكَشَفۡنَا مَا بِهٖ مِنۡ ضُرٍّ‌ وَّاٰتَيۡنٰهُ اَهۡلَهٗ و مِثۡلَهُمۡ مَّعَهُمۡ رَحۡمَةً مِّنۡ عِنۡدِنَا وَذِكۡرٰى لِلۡعٰبِدِيۡنَ

“Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (Al-Anbiya: 84)

Apabila ingin berdoa bisa membaca kalimat di bawah ini:

اللَّهُمَّ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ

‘Allahumma Annii Massaniyadh-dhurru wa Anta Arhamur Roohimiin’

Artinya:

Ya Allah Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.

  1. Ditutup dengan Surat Al-Fatihah ayat 1-7.

Nabi SAW pernah mengatakan bahwa Surah Al-Fatihah ini sebagai (As-Syifa). Pernah dikisahkan seorang kepala suku tersengat kalajengking dan medis mengatakan tidak mungkin sembuh. Akhirnya dibacakan Surah Al-Fatihah dan Allah memberikan kesembuhan.

Inilah bagian dari ikhtiar ruh, pendekatan-pendekatan spritual yang perlu diamalkan. Adapun obat untuk menyembuhkan segala penyakit bisa ditemukan dalam kalimat Al-Quran.

Beberapa ayat dalam Al-Quran berupa dzkir-dzikir tertentu yang apabila dilakukan dengan benar akan melahirkan penawar yang tidak ditemukan dalam ilmu kedokteran.

“Semoga Allah memberi kemudahan dan menghilangkan segala kesulitan di sekitaran kita. Insya Allah saudara kita yang meminta penguatan dan doa semoga Allah meringankan musibah yang kita hadapi saat ini,” ungkap ustad Adi Hidayat.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.