Pertama Kali, Indonesia Rangking Satu Wisata Halal Global

0
137
Wisatawan muslim di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali, Rabu (26/12/2018). (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dalam sejarah berkibarnya wisata halal secara global, pertama kalinya Indonesia menduduki rangking Satu Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019, bersama Malaysia. Dua negara ini menempatkan dirinya sebagai destinasi wisata halal teratas di kalangan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Sementara Singapura mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata ramah muslim teratas di kalangan negara-negara non-OKI, diikuti oleh Thailand, Inggris, Jepang, dan Taiwan. “Tahun ini, Indonesia dan Malaysia di spot teratas Global Muslim Travel Index (GMTI),” ujar CEO Crescent Rating dan HalalTrip, Fazal Bahardeen di Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Fazal mengakui Indonesia menjadi negara paling pesat pertumbuhan wisata halalnya di dunia. Terbukti tahun 2015, Indonesia hanya menduduki peringkat kelima sebagai negara ramah Muslim. Lalu naik ke peringkat keempat pada 2016. Di 2017 Indonesia mendapatkan peringkat ketiga dan pada 2018 berada di peringkat kedua. “Indonesia layak jadi yang terbaik untuk wisata muslim,” sambungnya.

Laporan GMTI ini mencakup 130 destinasi secara global, baik negara OKI maupun negara-negara non-OKI, yang menganalisis kesehatan dan pertumbuhan berbagai destinasi wisata ramah muslim berdasarkan empat kriteria strategis, yaitu akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

Laporan CrescentRating Global Muslim Travel Index 2019 menyebutkan pasar wisata halal berpotensi memberikan kontribusi sebesar US$300 miliar terhadap perekonomian global. Angka ini meningkat dari US$220 miliar di 2020. Laporan ini mencakup 130 destinasi secara global, baik negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maupun negara-negara non-OKI.

“Pada saat itu, wisatawan muslim secara global diprediksi akan tumbuh menjadi 230 juta wisatawan, yang merepresentasikan lebih dari 10% total wisatawan global secara keseluruhan,” demikian laporan GMTI,

Laporan ini juga menyebutkan, pasar wisata halal menjadi salah satu sektor pariwisata dengan tingkat pertumbuhan tercepat di seluruh dunia. Selain potensi yang besar, GMTI menilai tujuan sejumlah negara, baik negara OKI maupun non-OKI, melakukan pengembangan wisata halal karena integrasi, keberagaman, dan keyakinan, yakni memungkinkan umat muslim dapat aktif sebagai masyarakat dalam komunitas global sekaligus tetap memenuhi kewajiban spiritual mereka.

Tujuan kedua, peninggalan sejarah, budaya, dan koneksi akan menghubungkan para wisatawan muslim dengan sesama wisatawan muslim, komunitas lokal, peninggalan budaya, dan sejarah di destinasi-destinasi pilihan mereka.

Tujuan ketiga, edukasi, wawasan, dan kapabilitas yang akan meningkatkan pemahaman di kalangan komunitas, para akademisi, dan pelaku industri untuk meningkatkan kapabilitas para pemangku kepentingan.

Keempat, industri, inovasi, dan perdagangan, ialah menciptakan peluang baru untuk meningkatkan perdagangan melalui sektor pariwisata dan mendorong pertumbuhan di berbagai sektor.

Kelima, kesejahteraan dan pariwisata berkelanjutan akan mengenali tanggung jawab para pemangku kepentingan di sektor pariwisata dan dampak sosialnya bagi para wisatawan, komunitas yang lebih luas, dan lingkungan.

“Seiring dengan pasar wisata halal yang semakin bertumbuh dan berkembang, kami percaya laporan ini, dan didukung oleh laporan ‘Halal Travel Frontier 2019’ yang diluncurkan pada awal tahun, telah membuka peluang baru untuk fase berikutnya dari perkembangan segmen wisata yang unik ini, yaitu Halal Travel 2.0,” sambung Fazal.

Ditambahkan, pariwisata halal di Indonesia memiliki kesempatan baru untuk menggaet wisatawan muslim dari dunia dan memperluas perkembangan ekonominya. Dengan populasi muslim yang besar, potensi wisata halal sangat prospek untuk terus dikembangkan, terlebih keunggulan objek wisata seperti pantai, keragaman budaya, hingga infrastruktur dasar.

Kesepuluh destinasi unggulan berdasarkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2019 yakni Lombok di Nusa Tenggara Barat, Aceh, Jakarta, Sumatra Barat, Yogyakarta, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Malang Raya di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Makassar di Sulawesi Selatan. Adapun Lombok memiliki nilai skor tertinggi mencapai 70 mengungguli 10 destinasi lain di Tanah Air.

Pada IMTI 2018 yang diluncurkan pada akhir tahun lalu, dari 10 destinasi unggulan, skor tertinggi sebesar 58 yang diperoleh Lombok dan terendah destinasi Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya) sebesar 30. “IMTI akan membantu para pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk memainkan peran penting dalam mempercepat pertumbuhan pariwisata halal di Indonesia,” tutur Fazal.

IMTI yang diterapkan di Indonesia mengadopsi empat kriteria yang ditetapkan dalam GMTI. Keempat kriteria itu yakni aksesibilitas, komunikasi, lingkungan, dan jasa layanan. Pembentukan IMTI dimulai pada 2018 dan IMTI 2019 ini merupakan tahun kedua dalam menerapkan standar global GMTI untuk menilai kinerja destinasi pariwisata halal unggulan di Indonesia

Dalam laporan IMTI 2019 menyebutkan, 10 destinasi wisata halal unggulan Indonesia (Lombok, Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur (Malang) dan sekitarnya, Sulawesi Selatan dan sekitarnya mempunyai nilai rata-rata sebesar 55, tertinggi skor 70 dicapai destinasi Lombok, sedangkan skor terendah 33 diperoleh destinasi Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya).

“Hasil IMTI 2019 menunjukkan terjadinya peningkatan skor di 10 destinasi wisata unggulan Indonesia. Dan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali terpilih sebagai destinasi wisata halal (halal tourism) terbaik di Indonesia dengan nilai skor tertinggi mencapai 70 mengungguli 10 destinasi lain di Tanah Air,” lontar Fazal.

Sementara itu pada IMTI 2018, 10 destinasi unggulan mencatatkan skor tertinggi 58 yang diperoleh Lombok dan terendah destinasi Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya) sebesar 30.

Fazal mengakui IMTI 2019 mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI) yang mengadopsi empat kriteria meliputi Access, Communication, Environment, dan Services (ACES). Masing-masing kriteria terdiri dari tiga komponen. Untuk Access terdiri atas visa requirements, air connectivity, transport infrastructure;

Sementara Communication (outreach, ease of communication, dan digital presence); Environment (safety and culture, visitor arrivals, dan enabling climate). Sedangkan komponen Services terdiri dari core needs (halal food and prayers); core services (hotels, airports), dan unique experiences, katanya. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.