JAKARTA,bisniswisata.co.id: Dunia pariwisata kembali dikejutkan oleh berita memprihatinkan atas kelangsungan hidup industrinya, meski berita baiknya juga disampaikan oleh Presiden Jokowi atas pelaksanaan vaksin yang meningkat.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera merealisasikan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Kebijakan yang berisi pengetatan kegiatan sosial dan ekonomi ini akan berlaku pada 3-20 Juli mendatang.
“Saya memutuskan untuk memberlakukan PPKM darurat 3-20 Juli 2021 khusus di Jawa dan Bali,” kata Jokowi dalam keterangan pers, Kamis (1/7/2021).
Menko Kemaritiman dan Investasi akan jadi koordinator PPKM darurat di Jawa Bali. Salah satu aturan yang berlaku dalam PPKM darurat ini adalah ditutupnya pusat perbelanjaan, mall, atau pusat perdagangan.
Sementara itu Presiden Jokowi juga mengungkapkan bahwa upaya memerangi pandemi COVID-19 maka pelaksanaan vaksinasi akan ditingkatkan.
“Vaksinasi di Indonesia sudah mencapai 42 juta dosis suntikan sampai kemarin. Mulai hari ini, target kita satu juta per hari dan Agustus besok dua juta,” ungkapnya.
Bagaimana dengan target bulanan? Bulan Juli ini, kurang lebih 34 juta dosis, Agustus 43,7 juta, kemudian September 53 juta, Oktober 84 juta, November 80,9 juta, dan Desember 71,7 juta.
Dengan kerja keras dan bergotong-royong, target ini bukan sesuatu yang sulit asal vaksinnya ada. Kemarin, sebanyak 14 juta dosis bahan baku vaksin Covid-19 dari Sinovac kembali tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Ini kedatangan vaksin yang ke-18.
Setelah itu akan datang lagi vaksin gratis dari Covax/GAVI, lalu dari AstraZeneca, dan bulan Agustus nanti akan masuk pula vaksin dari Pfizer.
Dengan ketersediaan vaksin-vaksin itu, pemerintah berharap, di akhir tahun ini sebanyak 181,5 juta rakyat Indonesia telah memperoleh vaksin setidaknya untuk satu dosis suntikan.
CHESHIRE,UK, bisniswisata.co.id:Pariwisata secara bertahap kembali karena banyak wisatawan merencanakan liburan mereka untuk bulan-bulan musim panas. Agar pemulihan industri perjalanan berjalan lancar, kepercayaan dan transparansi adalah aspek utama.
Dilansir dari Tourism-review.com, dalam konteks ini, perusahaan humas Edelman melakukan studi untuk Travelport. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan mengharapkan lebih banyak kepercayaan dan transparansi dari industri pariwisata.
Fleksibilitas dan Tanpa Biaya Tambahan
Menurut mereka yang disurvei, elemen terpenting untuk industri perjalanan yang lebih terpercaya adalah tidak ada biaya tambahan atau tersembunyi (55%) serta fleksibilitas dan kebijakan pengembalian uang yang lebih baik (45%). Responden percaya bahwa industri tidak melakukan cukup dalam aspek yang disebutkan di atas.
Menurut CEO Travelport, Greg Webb, tidak ada biaya perjalanan tersembunyi atau tambahan yang mewakili aspek kepercayaan yang bahkan lebih penting daripada, misalnya, catatan keselamatan maskapai penerbangan.
Sumber Paling Tepercaya?
Studi ini juga membahas topik sumber informasi perjalanan dalam konteks pemulihan industri pariwisata.
Lebih dari dua pertiga responden (67%) menganggap keluarga dan teman mereka sebagai sumber yang paling dapat diandalkan. Sebaliknya, hanya 30% pemberi pengaruh yang mempercayai dan bahkan lebih sedikit orang yang menganggap selebritas dapat dipercaya (25%).
Hasil ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki pemahaman umum tentang cara kerja konten yang memengaruhi dan disponsori dan bahwa mereka lebih menghargai keaslian dan transparansi.
Sedikit Masalah Keamanan
Studi ini juga mencatat bahwa 56% responden menganggap langkah-langkah keamanan yang diterapkan oleh industri sehubungan dengan pandemi memuaskan.
Namun, ada sedikit kekhawatiran terkait dengan penegakan tindakan tersebut. Dalam konteks ini, hanya setengah dari responden yang percaya bahwa pemangku kepentingan di industri akan mampu menegakkan langkah-langkah jarak sosial.
Masalah Manajemen Data
Terakhir, pengelolaan data juga menjadi perhatian para pelancong. Kurang dari setengah (40%) responden mengatakan bahwa mereka mempercayai perusahaan di industri untuk menggunakan data mereka sesuai dengan peraturan data yang berlaku.
Umumnya, responden kurang percaya diri dan nyaman tentang pengelolaan data informasi yang dibagikan secara tidak langsung. Ini adalah kasus, misalnya, komunikasi melalui media sosial atau berdasarkan perilaku pencarian dan pemesanan sebelumnya.
SEOUL, bisniswisata.co.id: Korea memulai pameran perjalanan komprehensif baru, Korea International Travel Expo (KITE 2021), menggabungkan empat acara pariwisata Korea di bawah sektor MICE, Perjalanan Korea, Perjalanan Mewah dan Kesehatan Medis pada 29 Juni – 13 Juli 2021.
Upacara Pembukaan yang diadakan di Gateway to Korea – Paradise City Hotel, Incheon, mengirimkan pesan harapan untuk dimulainya kembali pariwisata internasional.
Dilansir dari Travel Daily News, Korea menampilkan dirinya sebagai ‘One-stop Travel Expo’ baru, KITE 2021 memberikan gambaran tentang pariwisata Korea dalam persiapan untuk memulai kembali pariwisata inbound.
Delegasi yang hadir dapat berharap untuk menemukan informasi terbaru tentang pariwisata Korea di empat sektor, terlibat dalam konsultasi bisnis video 1:1 dengan penjual Korea melalui platform online baru, dan mendapatkan wawasan tentang pariwisata pasca -COVID -19 di Korea melalui berbagai program konferensi .
Upacara Pembukaan dengan streaming online langsung tersedia untuk peserta dari luar negeri, menyoroti konten Wisata Malam Korea dengan rangkaian program lengkap termasuk pidato utama oleh pembicara Burkhard Kieker (CEO Pariwisata Berlin dan Kongres), Chang Chee Pey (Asisten Kepala Eksekutif Dewan Pariwisata Singapura) dan aktris Inggris Joanna Lumley.
Burkhard Kieker terbang dari Berlin untuk mengikuti acara tersebut secara langsung, sementara Chang Chee Pey dan Joanna Lumley akan bergabung melalui hologram dari Singapura dan London untuk membahas strategi dimulainya kembali dan revitalisasi pariwisata internasional pasca-COVID-19.
Program tambahan termasuk pertunjukan longboard khusus oleh longboarder Korea Ko Hyojoo, ditambah pertunjukan drone malam hari untuk mengakhiri malam.
Selama periode dua minggu, KITE 2021 akan menyediakan ruang pertemuan virtual untuk 1.500 Pembeli Domestik dan Luar Negeri dan ribuan pengunjung untuk berjejaring dan terhubung dengan penyedia layanan lokal, termasuk RTO, CVB, agen perjalanan, hotel, perusahaan perjalanan mewah, pusat konvensi , institusi medis dan banyak lagi.
Acara dimulai dengan Korea MICE Expo dari 29 Juni – 2 Juli, dengan MICE Roadshow, RTO/CVB Showcase, dan Meeting Technology Pitching. Acara berlanjut dengan Korea Travel Mart dari 5 – 7 Juli, di mana para delegasi dapat mengharapkan untuk menemukan diskon khusus produk perjalanan virtual Korea, tiket penerbangan awal ke Korea, ditambah talkshow perjalanan langsung dengan bintang K-pop, dan Fam Tour online untuk pembeli luar negeri.
Korea Luxury Travel Mart akan berlangsung dari 8 – 9 Juli, dengan Konferensi Pariwisata Mewah dan Tour Fam virtual yang menampilkan fasilitas dan konten pariwisata mewah.
Pameran ini akan ditutup dengan Pameran Wisata Kesehatan Kesehatan Korea dari 12 – 13 Juli, dengan Konferensi Wisata Kesehatan Kesehatan, program pengalaman kesehatan virtual, dan konsultasi medis untuk delegasi luar negeri.
BANGKOK, bisniswisata.co.id: Untuk melawan dampak COVID-19 dan bersiap menghadapi masa depan pascapandemi, perjalanan global perlu diubah. Krisis COVID-19 menghadirkan peluang unik untuk berkolaborasi dalam menghidupkan kembali industri ini.
Pandemi dan pembatasan perjalanan terkait telah berdampak buruk pada pariwisata. Jeda ini telah mengarah pada awal baru dan reimajinasi tentang bagaimana pariwisata dapat menjadi lebih kuat, menguntungkan, berkelanjutan, berdampak, dan bertanggung jawab di masa depan.
Dilansir dari Traveldailynews.asia, sekarang adalah kesempatan untuk menyatukan pemangku kepentingan pariwisata saat mereka membuka kembali babak baru yang akan mengembangkan pemahaman baru tentang keseimbangan antara:
kebutuhan manusia vs. kemajuan ekonomi & kebutuhan lingkungan/sosial vs. kemakmuran finansial
Perjalanan akan kembali.
Dengan meningkatnya vaksinasi, kita telah melihat ini. Bounce-back itu signifikan. PATA dalam laporan terbaru mereka memperkirakan kedatangan pengunjung internasional di wilayah tersebut akan meningkat sebesar +50,8 persen menjadi 113,55 juta pengunjung tahun ini menjadi 316,50 juta (+320,3 persen) tahun depan.
ForwardKeys mencatat waktu pemesanan prospek yang lebih pendek adalah normal baru. Analis ForwardKeys yang melacak tren pariwisata global dalam reservasi maskapai penerbangan di masa depan telah mengamati tren lanjutan untuk tahun 2021 bahwa waktu tunggu pemesanan terus menyusut, seringkali kurang dari 4 hari sebelum perjalanan.
China, ekonomi terbesar kedua di dunia, yang penduduknya suka bepergian, mengalami pertumbuhan PDB 18,3 % pada kuartal pertama tahun 2021, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerbangan juga meningkat. Qatar Airways misalnya akan melanjutkan penerbangan ke Phuket, dengan empat layanan mingguan. Maskapai ini telah menerbangkan 12 penerbangan semi-komersial setiap minggu ke Bangkok.
Layanan Phuket yang baru akan meningkatkan total menjadi 16 penerbangan seminggu antara Doha dan Thailand karena Phuket dibuka pada bulan Juli ini untuk warga negara dari negara-negara dengan daftar risiko rendah hingga menengah di Thailand.
Jika mereka telah divaksinasi COVID -19 dan menunjukkan sertifikat tes negatif mereka tidak perlu menjalani karantina 14 hari.
WTCC mengatakan bahwa masa depan perjalanan dan pariwisata akan berada di bawah empat tren makro yang diperkirakan akan memimpin jalan melalui pemulihan dan seterusnya.
– Evolusi Permintaan: Preferensi wisatawan telah bergeser ke arah yang akrab, dapat diprediksi, dan tepercaya. Liburan domestik dan liburan outdoor akan tumbuh.
– Kesehatan dan Kebersihan: Kesehatan, keselamatan, dan kepercayaan adalah yang terpenting di era baru ini.
– Inovasi dan Digitalisasi: COVID-19 terbukti menjadi katalisator yang tak terduga, dengan teknologi nirsentuh antara lain menawarkan pengalaman perjalanan yang aman dan mulus.
– Keberlanjutan: Dunia telah dihidupkan kembali untuk menangani keberlanjutan sosial, lingkungan, dan kelembagaan.
Ketika perjalanan kembali, saya telah mengidentifikasi 6 tren utama yang akan memengaruhi kita semua:
Agen perjalanan dan profesional perjalanan akan menjadi penting;
Pariwisata Berkelanjutan Akan Melambung;
Komunitas kecil dan lokal akan melihat pariwisata tumbuh;
Kualitas daripada kuantitas akan menjadi yang terpenting;
Tinggal lebih dekat dengan rumah akan menjadi norma;
Kita perlu bepergian – bepergian baik untuk kesehatan mental;
Agen perjalanan dan profesional perjalanan akan menjadi penting
Agen perjalanan dan profesional perjalanan akan menyumbang dua pertiga dari semua pemesanan perjalanan. Conde Nast Traveler memprediksi pergeseran ke pemesanan perjalanan melalui agen dan operator mapan, dengan mencatat pengetahuan mereka yang tak ternilai dan koneksi industri.
Tahun 2020 telah menunjukkan dan mengajari kami bahwa keahlian dan perlindungan finansial dari pemesanan melalui agen perjalanan sering kali lebih besar daripada jumlah komisi yang Anda bayarkan.
Selain itu, konsumen akan mencari agen yang berspesialisasi dalam lingkungan. Mereka yang peduli ke mana mereka mengirim pelanggan mereka dapat secara intuitif memotong greenwash. Dengan penurunan perjalanan udara dari pandemi, perjalanan darat domestik akan menjadi populer.
Industri perjalanan global senilai US $8 triliun, dengan perbatasan terbuka, tujuan terbuka, dan perjalanan bebas visa, tidak akan kembali dalam jangka pendek tetapi permintaan yang terpendam akan pulih pada tahun 2022. Kami tidak hanya akan bepergian lagi, tetapi kami juga akan lakukan dengan lebih baik.
Jeda ini memberi kita waktu untuk mempertimbangkan bagaimana kita dapat melakukan perjalanan dengan lebih aman, sadar dan melindungi industri masa depan kita dan planet ini.
Pariwisata berkelanjutan akan melambung
Menjauh dari keramaian dan menjelajahi alam bebas akan semakin populer. Setelah pandemi, para ahli memperkirakan akan ada lebih banyak minat untuk mengunjungi tempat-tempat yang kurang ramai.
Wisatawan akan menuntut kebijakan perjalanan yang bertanggung jawab. Industri merespons dengan secara aktif mempromosikan dunia yang sehat melalui margin keuntungan.
Selain itu, wisatawan mengurangi jejak karbon dengan membeli offset dan menginap di hotel ramah lingkungan bersertifikat.
Komunitas kecil dan lokal akan diuntungkan
Kami akan mengubah tempat kami bepergian. Kami perlu mendiversifikasi lokasi kami untuk menghindari pariwisata massal dan fokus pada tempat yang benar-benar membutuhkannya. Banyak masyarakat yang menderita selama COVID-19.
Untuk memberdayakan suara operator yang lebih kecil dalam ekosistem, contoh yang baik adalah pemain teknologi perjalanan dan perhotelan Airbnb, EaseMyTrip, OYO dan Yatra, mereka telah bersatu sebagai Konfederasi Industri Perhotelan, Teknologi, dan Pariwisata (CHATT).
Mereka bertujuan untuk mempromosikan pariwisata domestik, memimpin transformasi digital bisnis terkait pariwisata dan secara proaktif melibatkan wisatawan dan industri pariwisata untuk menjadi pemimpin pemikiran dan juga menawarkan pelatihan pendidikan.
Kualitas daripada kuantitas akan menjadi yang terpenting
Sebelum kita bepergian, kita akan memikirkan kembali bagaimana dan mengapa kita melakukan perjalanan, dan lebih banyak lagi perjalanan di luar jalur. Menghindari keramaian dan sebaliknya, menuju ke ruang terbuka lebar dan alam.
Tinggal lebih dekat dengan rumah akan menjadi norma
Beberapa menemukan manfaat perjalanan bahkan di rumah. Kursus belajar mandiri; kelas memasak, kunjungan ke taman, makan di yrotoar brasserie di luar ruangan atau di teras luar ruangan menjaga semangat perjalanan tetap hidup dengan mempertimbangkan perasaan yang ditimbulkan oleh perjalanan.
Ketika kita membandingkan semuanya dengan kondisi di daldm ruangsn terus maka berjalan-jalan ke taman bisa terasa seperti perjalanan.
Bepergian dan merencanakan perjalanan membantu kesehatan mental
Sebuah survei baru-baru ini di AS menemukan bahwa perjalanan meningkatkan empati, energi, perhatian, dan fokus. Merencanakan perjalanan sama efektifnya.
Sebuah studi Cornell juga menunjukkan bahwa melihat ke depan untuk bepergian secara substansial meningkatkan kebahagiaan.
Mempelajari peta dan menentukan rute membuat Anda merasa seperti sedang bekerja menuju tujuan yang sebenarnya. Jika kita menerima bahwa segala sesuatunya mungkin dibatalkan, kita juga dapat memperluas zona nyaman kita tanpa terlalu banyak stres.
BANGKOK, bisniswisata.co.id: Skema Phuket Sandbox Thailand, fase percontohan dari rencana pembukaan kembali pariwisata ambisius Thailand, dimulai pada hari ini di tengah harapan dan ketakutan.
Karena bisnis mengharapkan dorongan luar biasa untuk ekonomi lokal dan sangat bergantungnya masyarakat pada pariwisata, banyak penduduk setempat khawatir program pro-pariwisata dapat memicu wabah baru COVID -19.
Sekitar 100.000 turis asing diperkirakan akan mengunjungi Phuket selama kuartal ketiga tahun ini dari Juli hingga September, dengan harapan akan menghasilkan pendapatan pariwisata sekitar 8,9 miliar baht.
Bulan ini, sebanyak 426 penerbangan akan melayani 8.281 penumpang masuk dan 3.613 pelancong keluar. Provinsi pulau selatan akan rata-rata menerima sekitar 13 penerbangan sehari, kata juru bicara pemerintah Anucha Burapachaisri, kemarin.
Sebanyak 249 wisatawan di bawah program Phuket Sandbox dijadwalkan tiba di Thailand Kamis ini dengan penerbangan dari Israel, Abu Dhabi dan Qatar, kata Taweesilp Visanuyothin, juru bicara Pusat Administrasi Situasi Covid-19 (CCSA).
Turis-turis ini akan tinggal di Phuket setidaknya selama 14 hari, di mana dua tes ulang Covid-19 akan diberikan untuk memastikan mereka bebas dari virus Corona, katanya.
Mulai hari ini Phuket berharap untuk mencapai keseimbangan antara menggerakkan ekonomi dengan pariwisata dan mengendalikan penyebaran Covid-19, kata gubernur provinsi Narong Wunsiew.
Namun, dia mengakui bahwa bukan pengunjung asing yang tiba di Phuket di bawah program Phuket Sandbox yang mengkhawatirkan provinsi dalam hal penahanan wabah. Mereka yang akan datang ke provinsi melalui darat dari dalam Thailand justru yang dikhawatirkan.
Pos pemeriksaan keamanan Tha Chatchai, pos pemeriksaan Covid-19 utama di jalan menuju Phuket, masih membutuhkan lebih banyak staf dan teknologi untuk memastikan semua orang yang akan melewati pulau itu diperiksa secara menyeluruh, katanya.
“Hanya mereka yang telah divaksinasi penuh terhadap COVID -19 dan memiliki bukti vaksinasi mereka yang diizinkan masuk ke Phuket,” katanya.
Pantai Patong tampaknya menjadi tujuan paling populer bagi wisatawan asing yang telah memesan hotel mereka di Phuket di bawah program Phumet Sandbox.
Sebanyak 383 kamar telah dipesan di hotel-hotel di kawasan pantai Patong untuk 1.671 pengunjung, katanya.
Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha akan berada di Phuket hari Kamis ini untuk menyapa dan menyambut turis asing setibanya di bandara internasional Phuket dan mengunjungi pos pemeriksaan keamanan.
Mengutip temuan dari survei online baru-baru ini oleh kelompok kesehatan lokal di antara 1.112 penduduk setempat, Manot Saithong, presiden kelompok tersebut, mengatakan kekhawatiran paling umum yang dimiliki oleh banyak orang adalah kemungkinan bahwa wisatawan di bawah program itu dapat menjadi pembawa penyakit varian virus Corona yang lebih mematikan dan memicu wabah baru yang serius di provinsi tersebut.
Responden survei juga meragukan apakah wisatawan asing akan secara ketat mengikuti langkah-langkah pengendalian COVID -19 yang dikenakan kepada mereka ketika mereka berada di sini, kata Manot.
Keraguan juga muncul atas efisiensi penyaringan COVID-19 di antara pengunjung Thailand ke Phuket. Dia menambahkan bahwa jika wabah baru meletus di Phuket, kaum muda akan terpengaruh karena mereka adalah satu-satunya kelompok populasi yang belum divaksinasi. .
Don Limnanthaphisit, presiden klub warga di kota tua Phuket, menyerukan pemeriksaan COVID -19 yang lebih ketat di semua sekolah karena khawatir beberapa siswa mungkin tertular virus dari orang tua mereka yang tertular virus dari turis.
Jika semua dari sekitar 100.000 turis asing yang telah memesan kunjungan mereka ke Phuket dalam tiga bulan ke depan tetapi belum mengkonfirmasi perjalanan mereka benar-benar datang, sekitar 13 miliar baht pendapatan terkait pariwisata akan dihasilkan, kata Thanusak Phuengdet, Ketua Kamar Dagang Phuket.
CANGGU, Bali, bisniswisata.co.id: Bali I’am Coming !! Untungnya ini cuma teriakan dalam hati saja karena girang melewati koridor kedatangan di bandara Ngurah Rai. Rasanya kali ini datang lagi ke Bali di tengah masa pandemi COVID-19 memang jadi ‘sesuatu’ yang berharga.
Padahal ini kedatangan kedua di era pandemi karena tahun lalu bulan November 2020 saya juga tinggal seminggu mulai dari hotel bintang mewah di Nusa Dua, hotel yang banyak digemari komunitas India di Sunset Road dan juga Hotel Fourteen Roses yang homey di kawasan Legian, Kuta yang saat itu kondisinya tanpa tanda-tanda kehidupan.
Kali ini kedatangan saya murni tergiur teman-teman sesama pengusaha di WA Group yang sudah lebih dulu dari awal tahun 2021 bolak-balik ke Bali. Kalau ditanya ngapain sih ?
” jadi digital nomad aja, merdeka, bebas macet, asyik kulineran tanpa antri dan yang jelas villa-villa harganya nggak selangit lagi,” kata Anton Thedy, bos TX Travel yang sudah dua bulan kerja dari Bali dan masih dua bulan ke depan lagi Work from Bali ( WfB) sebelum pemerintah membuat program ini untuk ASN dan BUMN.
Teman lain yang ditanya malah lebih sederhana lagi, pingin kerja berpakaian casual, celana pendekan dan istrinya malah cukup pakai celana jeans dan diatasnya mengenakan miniset, memamerkan bentuk tubuh. Santai keluar masuk jaringan kedai kopi Amrik dan dapat deal bisnis yang bagus-bagus pula.
Keluar dari bandara, Hendra, Manager TX Travel di Bali sudah menyambut dengan mengacungkan papan nama dan langsung saya hampiri sambil mengumbar senyum dan kamipun langsung akrab.
Setelah makan siang, acaranya memang marathon jumpa dengan berbagai kalangan pebisnis lokal hingga anggota KADIN Bali dan politisi. Barulah jelang magrib mobil mengarah ke rumah kedua saya selama di Bali yaitu Kampoeng Villa di daerah Canggu, Seminyak.
Menikmati endorse dari salah satu teman di Bali, mobil Alphard yang saya tumpangi berhenti di depan villa bernama Medewi. Karena hari masih terang saya langsung ‘keliling’ Kampoeng Villa Bali di Jl. Tengah, Raya Canggu No.20, Banjar Anyar Kelod, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali yang cuma terdiri dari 12 villa.
Soal bagasi satu kopor besar, tenang saja sudah naik ke kamar atas sehingga di ruang tamu saya bersama Hendra dan manager Kampoeng Villa, pak Sami asyik ngobrol santai sambil menikmati pemandangan kolam renang di depan mata dari balik pintu kaca yang lebar.
Nama lengkap Sami adalah Ketut Sami Ade Merta, Director of Operations Lestari Living Hospitality. Tugasnya mengelola dan memasarkan Kampoeng Villa, L Village Villa, Summerfield Villa beserta beberapa Villa lainnya yang bekerjasama dengan Lestari Living Hospitality.
Saat tamu-tamu pergi barulah saya naik ke kamar atas dengan balkon pribadi. Ada dua kamar berhadapan. Di dalam kamar dengan dinding kaca seluruhnya menghadap bagian depan villa saya bisa melihat pemandangan kolam renang, mengintip taman-taman milik ‘tetangga’ di kiri kanan villa yang juga sebagian terlihat dari atas.
Kamar saya single bed besar lengkap dengan bathtub mewah, dilengkapi lemari pakaian dan wastafel berkaca lebar untuk berhias diri. Kamar ke dua ada dua tempat tidur dengan dinding kanannya sama menghadap ke depan villa dan pemandangan kolam renang yang cantik. Bedanya tanpa bathup untuk berendam, hanya ada shower.
Tentu saja membersihkan diri, mandi menjadi prioritas utama setelah seharian berada di luar rumah mulai dari menunggu keberangkatan di bandara Soetta yang mengantri panjang untuk validasi swab test hingga tiba di Bali dan bertemu sejumlah nara sumber.
Untunglah acara besok memang sengaja dikosongkan untuk menikmati villa sehingga bisa dilanjutkan langsung istirahat berbekal makan buah tanpa makan malam.
Kampoeng Villa, rumah kedua bernuansa tropis Bali
Menikmati ketenangan
Pagi hari saat matahari baru muncul saya sudah menyelesaikan olahraga Senam Perkasa Indonesia searching videonya di Google dan 30 kali bolak balik renang di kolam kecil.
Untuk sarapan pagi ada banyak buah dan roti gandum yang saya beli di Pepito sebelum ke villa. Padahal Sami ternyata sudah menyediakan roti dan pelengkapnya di meja makan.
Seekor kucing kecil tiba-tiba hadir dari dinding pembatas dengan tetangga di kiri. Konon peliharaan seorang wanita yang memiliki anak kecil dan suka kucing. Santai dengan kursi malas di pinggir kolam sambil membaca buku, baru saya sadari si kucing kecil sudah tiduran santai di kursi sebelah.
Gayanya kucing itu bikin saya ngikik karena selonjoran kaki persis serasa bule jemur di pantai. Sayang saya nggak pegang kamera jadi pose si meng nggak terekam. Meski villanya rapat dengan tetangga, tidak ada suara berisik sama sekali. Tenang, damai dikelilingi tanaman rindang seputar kolam.
Sendiri di villa saya mulai berkenalan dengan sudut dapur. Setelah pintu masuk dari kayu berwarna hijau daun, kita langsung menemukan dinding kaca yang luas dari ujung ke ujung ditutupi dua gorden panjang yang tipis dan tebal.
Begitu masuk di sebelah kiri ada Open Kitchen, dapur terbuka lengkap penghisap asap di atas kompor di bagian ujung kiri. Bagian tengah untuk mempersiapkan masakan dan di ujung kanan tempat mencuci alat dapur dan menata peralatan yang sudah bersih.
Dapur berkonsep terbuka memang memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah pemilik dapur, harus menjaganya tetap bersih dan rapi. Pasalnya, setiap sudut dapur akan terlihat jelas oleh siapapun yang melaluinya. Rasa malu dan tak nyaman tentu akan timbul, jika dapur terlihat kotor dan berantakan.
Di sini, dapur terbukanya juga banyak lemari penyimpanan plus peralatan dapur yang biasa kita butuhkan di rumah. Jadi kalau saya mau mengundang makan tamu dan makan bersama juga Oke saja. Apalagi ada meja panjang dengan kursi-kursi bar di depannya sehingga bisa menjadi sudut kuliner yang mengasyikkan.
Sami sudah melengkapi meja ala bar itu dengan minuman soft drink dan permintaan saya untuk disediakan setrika listrik serta magic Jar juga dipenuhi dan diletakkan di ujung. Alhamdulilah, lengkaplah semua, apalagi saya juga bawa sendiri Air Fryer demi menghindari makanan yang dimasak dengan minyak goreng.
Ruang tamu dan ruang makan yang menyatu
Berbisnis sambil liburan
Keuntungan Work from Bali adalah bisa berbisnis sambil liburan. Jadi di hari kedua di Pulau Dewata ini praktis dari pagi saya bekerja cukup lewat handphone meski komputer juga tersedia.
Sebelum datang lagi ke Bali saya senang melihat foto-foto digital nomad asing di berbagai co-working space di Canggu, Ubud sedang duduk santai dengan laptop sambil kaki berendam di air kolam. Ada juga yang sedang asyik depan laptop dan membelakangi deburan ombak untuk berselancar.
Kerja rasa libur bisa dimana saja dan kali ini saya menikmati banyak pilihan Wi-Fi di Kampoeng Villa ini sambil mengecek kondisi teman dan saudara yang sedang isolasi mandiri karena terpapar COVID-19 di Jakarta, bercanda dengan cucu lewat Zoom hingga mengikuti webinar-webinar.
Tak ada rasa lonely karena saya yang dijuluki punya pabrik kata-kata ini begitu enjoy melewati hari di Kampoeng Villa. Malah bisa sholat dan ibadah-ibadah lainnya tepat waktu karena meski tidak ada suara azan dari mesjid, alarm dari handphone langsung mengingatkan untuk meeting point dengan sang khalik.
Allahu Akbar, nikmat mana lagi yang saya dustakan ketika sore hari, keluarga dari pihak almarhum suami, menelpon akan berkunjung dan membawa ‘oma’ nya ini menikmati musik Jazz dan dinner di restaurant Gado-Gado di tepi pantai Seminyak.
Cucu saya Chitra Violet yang tinggal di Canggu menikah dengan Daniel Herry yang profesinya sama dengan omanya ini di TV 10 Australia. Anak pertama mereka, Elvian Danitra Victoria, 10 bulan serta keponakanku Anna Legoh yang maminya Citra juga hadir di Villa.
Bahagia rasanya saya dapat bonus bisa silaturahim di kegiatan Work from Bali ini sehingga kami bisa melepas rindu untuk berenang dan hangout bersama. Menyadari oma Hilda sudah punya cicit Elvian membuat sujud syukur saya menjadi tambah lama tentunya.
Bertemu dengan “Malaikat’ bisnis
Sehari jelang keberangkatan ke Bali saya memang berdoa pada Allah SWT dipertemukan dengan orang-orang terbaik sesuai visi yang saya miliki bahwa perusahaan saya adalah ladang amal ibadah, ladang ilmu dan ladang bisnis. Jadi bukan bertemu dengan orang yang hanya berorientasi pada keuntungan bisnis semata yang menjadikan uang adalah segala-galanya.
Bersama cucu dan cicit, bonus silaturahim yang membahagiakan
Sesuai doa, pola kerja yang saya atur, sehari berburu ilmu, sehari berdiam diri di Villa ternyata sangat efektif sehingga saya memiliki waktu untuk menikmati keindahan suasana kampoeng tropis yang terletak di tepi Canggu – Kerobokan, Bali.
Kalau di Jakarta, sebenarnya Kampoeng Villa ini layaknya perumahan cluster menawarkan 12 villa berdesain tropis yang indah dilengkapi dengan kolam renang pribadi, parkir pribadi langsung di depan villa Anda.
Sesekali saya bisa melihat tetangga bule dari lantai dua yang siap-siap bermotor ria keluar belanja. Mereka memang kebanyakan digital nomad yang menyewa untuk selama setahun. Konon digital nomad kelak akan diberi ijin tinggal selama lima tahun dari aturan sekarang yang hanya per tahun.
Sami bercerita, tinggal di villa bergaya tropis Bali ini memang membuat mereka merasa seperti di rumah sendiri apalagi lokasinya hanya beberapa menit dari kawasan Seminyak, Kuta, dan Legian yang semarak. Beberapa menit dari salah satu pantai pasir keemasan yang paling terkenal di pulau ini, banyak restoran, dan butik perbelanjaan.
Masing-masing villa dilengkapi dengan perlengkapan terbaik untuk kenyamanan hidup modern, namun dilengkapi dengan banyak warisan dan sentuhan tradisional untuk pengalaman liburan eksotis di Bali.
Tempat ini ideal untuk keperluan bisnis atau liburan yang bisa disewa , mingguan, bulanan, atau tahunan dan full Wi-Fi sehingga saat tidak keluar saya hanya duduk dan bersantai di tepi kolam renang pribadi membuat hidup tercerahkan, tenang, damai.
Hendra bila datang menjemput untuk memenuhi aktivitas WfB di Bali kerap saya minta mereview nara sumber yang sudah saya temui. Obrolan akrab kami berujung pada kekaguman bahwa mereka di era pariwisata Bali terpuruk malah punya kepedulian tinggi pada umat.
Dia memang mengatur jadwal saya sehari bekerja, sehari libur. Namun saat sehari kerja itu bisa mulai dari jam 9 pagi dan kembali lagi ke villa jam 9 malam. Maklum ibaratnya ‘ Ibu Negara’ yang jadwalnya diatur Hendra, banyak sekali tempat yang perlu dikunjungi.
Kadang saya juga banyak request ingin melihat property dari Lestari Living Hospitality yang dikomandani Alex Purnadi Chandra, pendiri bank lokal yang sukses ini.
Maklum selain Kampoeng Villa, Sami juga mengurus L Village Villa Bali di Pererenan – Canggu dan Summerfield Executive Residence Bali, Jl. Karang Mas, Jimbaran, Badung.
Untuk L Village Villa ada 16 unit masing-masing tiga kamar dengan kolam renang pribadi yang juga terisi oleh para digital nomad. Sedangkan
Summerfield Executive Residence Bali, Jl. Karang Mas, Jimbaran, Badung menjadi hunian yang eklusif dan mewah baru tersedia 5 unit dari satu hektar tanah yang dimiliki komplek itu.
Tak semua keinginan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang sudah ada geliat bisnisnya bisa terpenuhi karena keterbatasan waktu. Tiba-tiba hari kepulanganpun sudah tiba.
Di hari ke delapan Daniel Herry siap mengantar omanya ke Bandara Ngurah Rai. Saya sempat berfoto ria dulu bersama teman-teman gereja Citra, ada Darwin dengan Maria bersama anak mereka Abel dan Velly. Ada pazangan Fandi dan Melanie.
Ketika tiba di halaman, saya melihat Daniel dihampiri dua balita cilik berpakaian renang bersama omanya juga. Rupanya tetangga depan kami dari Inggris, sebelah kiri dari Amerika dan kanan villa konon dari China namun cuma kucing peliharaannya saja yang pernah bertemu.
Terima kasih tuhan atas segala-galanya, bisa jadi digital nomad di temani Dwi Yani, soul mate sekaligus kepala Perwakilan kami di Bali serta bonus-bonus silaturahim lainnya.
CANGGU, Bali, bisniswisata.co.id: Menyelamatkan nasabah bank dari penyitaan aset akibat tak mampu membayar bunga bank menjadi upaya serius Alex Purnadi Chandra, pemilik dan pendiri BPR Lestari.
” Kami punya tiga kluster nasabah. Kluster pertama kurang lebih sepertiganya adalah nasabah yang bisnisnya tetap tumbuh di masa krisis. Jangan dikira semuanya di Bali menderita lho,” jelasnya.
Kluster nasabah inilah yang antara lain menyebabkan aset bank tetap bertumbuh di masa pandemi. “Aset BPR Lestari tumbuh konsisten 100 Miliar setiap bulannya dari Januari sampai Mei ini,” kata Alex.
Kluster nasabah yang kedua juga kurang lebih sepertiga-nya adalah nasabah yang terdampak, bisnisnya menurun drastis, namun masih mampu membayar cicilan bunga banknya dari uang tabungannya selama ini.
“Tapi semakin lama periode pandemi semakin berkurang tabungannya. Jika berlarut, mereka akan terpaksa melepas aset-aset yang sudah bertahun-tahun dikumpulkan.”
“Nah sepertiga nasabah lainnya, terdampak bisnisnya dan tidak punya cadangan cash. Ketiadaan cash flow membuat mereka tidak mampu mencicil kewajibannya ke bank. Nah merekalah yang kreditnya memerlukan kebijakan buat direstrukturisasi.”
Restrukturisasi itu menunda kewajiban, memecahkan masalah cash flow yang terhenti di masa ini. Ketika bisnisnya recover, cashflownya kembali, maka nasabah akan mampu mulai mencicil kembali, jelas Alex.
Itu prinsip restrukturisasi. Intinya ‘membeli waktu’ supaya debitur tidak menjadi macet kreditnya. Restrukturisasi itu macam-macam jenisnya, disesuaikan kebutuhan dan kemampuan, baik kemampuan debitur maupun kemampuan banknya.
Ada yang berupa penundaan pembayaran (deferred), ada yang berupa pemberian penambahan pinjaman, perpanjangan jangka waktu dan keringanan bunga.
“Sayangnya, beberapa debitur mengartikan restrukturisasi sebagai kesempatan untuk tidak membayar, atau menego bunga serendah mungkin.”
“Restrukturisasi itu debitur diberi waktu sampai cashflownya kembali, tapi banknya kan enggak boleh rugi juga. Harus win-win,” demikian kata Alex. Kredit direstruktur supaya debitur tidak macet. Kalau macet, bank terpaksa mengeksekusi jaminan.
“Bank itu tidak mau memiliki aset. Bank tidak boleh pegang aset lama-lama. Ada ketentuannya. Harus segera jual. Kalau debitur macet, dan bank terpaksa mengeksekusi, sama-sama rugi. Debitur rugi kehilangan asetnya, bank juga rugi karena harus segera menjual.” ungkap Alex
“Siapa yang membeli aset di masa ini. Jikalau ada penawaran, maka harganya dibawah pasaran.” Restrukturisasi merupakan jalan tengah. Debitur punya kesempatan tidak kehilangan asetnya sampai bisnisnya pulih dan bank tidak kehilangan pendapatannya.
Kluster terakhir yang terdampak dan mulai kehabisan napas ini beresiko untuk menjual asetnya jikalau ekonomi tak kunjung pulih. “Akan mungkin terjadi transfer aset besar-besaran,” kata Alex.
Para spekulan datang dari berbagai kota besar di Indonesia dan berada diatas angin karena di saat pariwisata Bali terpuruk punya uang tunai sehingga mudah mendapatkan aset-aset dengan harga serendah mungkin.
“Kami, sebagai bank lokal berinisiatif meluncurkan kebijakan kredit Bali Bangkit. Ada sekitar 1 Triliun dana yg kami siapkan buat pembiayaan kembali usaha para pelaku bisnis di Bali. Supaya ketika ekonomi recover, aset- asetnya siap bekerja kembali.
“Hal ini Untuk menghindari terjadinya transfer aset besar2-an dari para pengusaha Bali ke investor luar. Sayang, aset-aset itu sudah dikumpulkan dengan jerih payah berpuluh tahun,” ujarnya.
Menghadapi situasi ini dan melindungi masyarakat Bali dari spekulan apalagi sudah ada pencanangan Work fromBali, sekarang Bali juga tujuan Wisata Vaksin dan Pemerintah maupun BUMN ke depan fokuskan MICE ke Bali. Maka itu industri pariwisata harus pertahankan aset bukan ramai-ramai jual aset,”kata Alex panjang-lebar.
Siapa pemilik Bali pasca COVID-19 ? Bisa saja orang asing ! bukan lagi putra daerahnya. Oleh karena itu pemerintah memang dituntut untuk mereview semua peraturan perbankan agar tidak terjadi kredit gagal dan pelelangan.
Prinsipnya pemerintah harus mengevaluasi lebih mendalam aturan perbankan yang memberatkan kreditur di tengah pandemi global dimana semua institusi keuangan dunia termasuk para penyelenggara negara secara global juga kesulitan likuiditas,” kata Alex P. Chandra memberikan solusinya.
MADRID, bisniswisata.co.id: Kerugian ekonomi meningkat di negara-negara berkembang karena tidak adanya vaksinasi COVID-19 yang meluas. Jatuhnya pariwisata internasional karena pandemi virus corona dapat menyebabkan kerugian lebih dari $4 triliun terhadap PDB global untuk tahun 2020 dan 2021, menurut laporan UNCTAD yang diterbitkan pada 30 Juni.
Dilansir dari Unwto.org, perkiraan kerugian disebabkan oleh dampak langsung pandemi terhadap pariwisata dan efek riaknya pada sektor lain yang terkait erat dengannya.
Laporan tersebut, yang dipresentasikan bersama dengan Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), mengatakan pariwisata internasional dan sektor-sektor yang terkait erat menderita kerugian sekitar US$2,4 triliun pada tahun 2020 karena dampak langsung dan tidak langsung dari penurunan tajam dalam kedatangan turis internasional.
Kerugian serupa dapat terjadi tahun ini, laporan itu memperingatkan, mencatat bahwa pemulihan sektor pariwisata akan sangat bergantung pada penggunaan vaksin COVID-19 secara global.
“Dunia membutuhkan upaya vaksinasi global yang akan melindungi pekerja, mengurangi dampak sosial yang merugikan dan membuat keputusan strategis terkait pariwisata, dengan mempertimbangkan potensi perubahan struktural,” kata Penjabat Sekretaris Jenderal UNCTAD Isabelle Durant.
“Pariwisata adalah penyelamat bagi jutaan orang, dan memajukan vaksinasi untuk melindungi masyarakat dan mendukung dimulainya kembali pariwisata dengan aman kata Zurab Pololikashvili, Sekretaris Jenderal UNWTO.
Sektor ini psangat penting untuk pemulihan pekerjaan dan menghasilkan sumber daya yang sangat dibutuhkan, terutama di negara-negara berkembang, banyak di antaranya sangat bergantung pada pariwisata internasional.”
Negara berkembang dirugikan oleh ketidakadilan vaksin
Dengan vaksinasi COVID-19 yang lebih menonjol di beberapa negara daripada yang lain, laporan itu mengatakan, kerugian pariwisata berkurang di sebagian besar negara maju tetapi memburuk di negara-negara berkembang.
Tingkat vaksinasi COVID-19 tidak merata di seluruh negara, mulai dari di bawah 1% populasi di beberapa negara hingga di atas 60% di negara lain.
Menurut laporan itu, peluncuran vaksin yang tidak simetris memperbesar pukulan ekonomi yang diderita pariwisata di negara-negara berkembang, karena mereka dapat menyumbang hingga 60% dari kerugian PDB global.
Sektor pariwisata diperkirakan akan pulih lebih cepat di negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi, seperti Prancis, Jerman, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat, kata laporan itu.
Tetapi para ahli tidak mengharapkan kembalinya tingkat kedatangan turis internasional pra-COVID-19 hingga 2023 atau lebih baru, menurut UNWTO.
Hambatan utama adalah pembatasan perjalanan, penahanan virus yang lambat, kepercayaan pelancong yang rendah, dan lingkungan ekonomi yang buruk.
Prediksi kerugian hingga US$1,8 triliun pada tahun 2021
Rebound dalam pariwisata internasional diharapkan pada paruh kedua tahun ini, tetapi laporan UNCTAD masih menunjukkan kerugian antara US$1,7 triliun dan US$2,4 triliun pada tahun 2021, dibandingkan dengan tingkat 2019.
Hasilnya didasarkan pada simulasi yang menangkap efek pengurangan pariwisata internasional saja, bukan kebijakan seperti program stimulus ekonomi yang dapat melunakkan dampak pandemi pada sektor tersebut.
Laporan tersebut menilai dampak ekonomi dari tiga skenario yang mungkin – semuanya mencerminkan pengurangan kedatangan internasional – di sektor pariwisata pada tahun 2021.
Hal yang pertama, diproyeksikan oleh UNWTO, mencerminkan pengurangan 75% dalam kedatangan turis internasional – perkiraan paling pesimistis – berdasarkan pengurangan turis yang diamati pada tahun 2020.
Dalam skenario ini, penurunan penerimaan turis global sebesar US$948 miliar menyebabkan kerugian dalam PDB riil sebesar US$2,4 triliun, peningkatan dua setengah kali lipat. Rasio ini sangat bervariasi antar negara, dari satu kali lipat menjadi tiga kali lipat atau empat kali lipat.
Ini adalah pengganda dan tergantung pada keterkaitan ke belakang di sektor pariwisata, termasuk pengangguran tenaga kerja tidak terampil, menurut laporan tersebut.
Misalnya, pariwisata internasional menyumbang sekitar 5% dari PDB di Turki dan negara itu mengalami penurunan 69% turis internasional pada tahun 2020.
Penurunan permintaan pariwisata di negara itu diperkirakan mencapai US$33 miliar dan ini menyebabkan kerugian di sektor-sektor yang terkait erat seperti makanan, minuman, perdagangan ritel, komunikasi dan transportasi.
Total penurunan produksi Turki adalah US$93 miliar, sekitar tiga kali lipat dari kejutan awal. Penurunan pariwisata saja berkontribusi pada hilangnya PDB riil sekitar 9%. Penurunan ini pada kenyataannya sebagian diimbangi oleh langkah-langkah fiskal untuk merangsang perekonomian.
Skenario kedua mencerminkan pengurangan 63% dalam kedatangan turis internasional, perkiraan yang kurang pesimistis oleh UNWTO.
Dan skenario ketiga, yang dirumuskan oleh UNCTAD, mempertimbangkan tingkat pariwisata domestik dan regional yang bervariasi pada tahun 2021.
Ini mengasumsikan pengurangan 75% pariwisata di negara-negara dengan tingkat vaksinasi rendah, dan pengurangan 37% di negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang relatif tinggi, sebagian besar negara maju dan beberapa ekonomi kecil.
Kehilangan pekerjaan di seluruh negara
Menurut laporan tersebut, pengurangan pariwisata menyebabkan kenaikan rata-rata 5,5% dalam pengangguran tenaga kerja tidak terampil, dengan varian tinggi 0% hingga 15%, tergantung pada pentingnya pariwisata bagi perekonomian.
Tenaga kerja menyumbang sekitar 30% dari pengeluaran layanan wisata di negara maju dan berkembang. Hambatan masuk di sektor ini, yang mempekerjakan banyak perempuan dan karyawan muda, relatif rendah.
Kerugian lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya
Pada Juli tahun lalu, UNCTAD memperkirakan bahwa terhentinya pariwisata internasional selama empat hingga 12 bulan akan merugikan ekonomi global antara US$1,2 triliun dan US$3,3 triliun, termasuk biaya tidak langsung.
Tetapi kerugiannya lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya, karena bahkan skenario terburuk yang diproyeksikan UNCTAD tahun lalu ternyata optimis, dengan perjalanan internasional masih rendah lebih dari 15 bulan setelah pandemi dimulai.
Menurut UNWTO, kedatangan wisatawan internasional turun sekitar 1 miliar atau 73% antara Januari dan Desember 2020. Pada kuartal pertama tahun 2021, Barometer Pariwisata Dunia UNWTO menunjukkan penurunan sebesar 88%.
Negara-negara berkembang telah menanggung beban terbesar dari dampak pandemi terhadap pariwisata. Mereka mengalami penurunan terbesar dalam kedatangan turis pada tahun 2020, diperkirakan antara 60% dan 80%.
Wilayah yang paling terpengaruh adalah Asia Timur Laut, Asia Tenggara, Oseania, Afrika Utara, dan Asia Selatan, sedangkan yang paling sedikit terkena dampak adalah Amerika Utara, Eropa Barat, dan Karibia.
UKRAINA, bisniswisata.co.id: Menulis, sudah menjadi kebiasaan sebelum menjadi duta besar. Ini, buku ke-8 di tahun ke-4 sebagai dubes. Dan merupakan catatan-catatan kerja, sebagai legacy ,semoga bermanfaat bagi kegiatan diplomasi, khususnya bagi diplomat baru yang bertugas di Ukraina.
Demikian dijelaskan Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.H., M.E, Dubes RI di Kyiv dalam acara peluncuran buku “Perjalanan Tahun ke-4 Dubes RI di Kyiv: Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.H., M.E.” dan diskusi “Memperkuat Daya Tawar Diplomasi untuk Dunia yang Damai dan Sejahtera” yang digelar secara daring oleh KBRI Kyiv.
Diskusi ini dihadiri lebih dari 80-an orang peserta webinar dengan narasumber dari berbagai kalangan termasuk para tokoh nasional seperti Wakil Ketua DPR RI Bidang Korpolkam, Dr. H.M. Azis Syamsudin; Anggota Wantimpres RI, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Sidarto Danusubroto SH; Dubes LBBP RI untuk Selandia Baru merangkap Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya; Rektor IPB/Ketua Forum Rektor Indonesia, Prof Dr. Arief Satria dan Rektor Universitas Nasional, Dr. Bermawi El Amry.
Diplomasi adalah salah satu sarana menuju dunia yang damai dan sejahtera, sewajarnya jika para narasumber mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Yuddy Chrisnandi membawa manfaat yang nyata bagi kepentingan RI.
Para narasumber juga mengapresiasi kemampuan sosok Dubes Yuddy sebagai dubes dalam menciptakan peluang-peluang yang mampu mengangkat kepentingan RI di arena global, khususnya di Ukraina, serta produktivitas Dubes RI Kyiv dalam menulis buku di tengah-tengah kesibukannya.
Dalam diskusi Dubes Tantowi menyampaikan peran diplomasi RI menjadi sangat penting, mengingat Pemerintah RI memang harus terlibat dalam mewujudkan perdamaian dunia. Hal ini telah diamanahkan dalam Pembukaan UUD 1945 dan sejalan dengan polugri RI, yaitu ikut melaksakanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Diplomasi menjadi salah satu sarana mewujudkan perdamaian dunia. Kesejahteraan hanya dapat diraih jika perdamaian tercipta.
Acara ditutup dengan peluncuran secara resmi buku “Perjalanan Tahun Ke-4 Dubes RI di Kyiv: Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.H., M.E.” dalam versi e-book yang dapat diunduh para peserta webinar. Adapun versi cetak buku ini akan terbit pada awal Juli 2021.
Penerbitan buku ini merupakan bagian dari pertanggungjawaban Duta Besar RI Kyiv atas amanah yang diberikan Pemerintah dan rakyat Indonesia dalam meningkatkan kerjasama dengan Ukraina, Georgia dan Republik Armenia untuk sebaik-baiknya kepentingan rakyat Indonesia.*
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah Provinsi Gorontalo menyelenggarakan “Hulonthalo Art andCraft Festival 2021, di Graha Aziza Gorontalo, pada 30 Juni – 2 Juli 2021. Acara ini dilakukan untuk membangkitkan sektor ekonomi kreatif di masa pandemi, mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing pelaku ekraf, sekaligus menciptakan peluang pasar bagi produk kreatif lokal.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat memberikan sambutan, secara daring, di Jakarta, Rabu (30/6/2021), mengatakan transformasi digital merupakan salah satu kunci dalam menciptakan peluang pasar yang lebih luas, karena tidak hanya mampu menjangkau konsumen domestik saja, tetapi juga konsumen luar negeri.
Digitalisasi mendorong pesatnya transaksi ekonomi digital melalui e-commerce di tengah pandemi. Tercatat, dari data Bank Indonesia, nominal transaksi e-commerce terus meningkat.
Pada 2020 terdapat kenaikan nominal transaksi e-commerce 29,6 persen, dari Rp205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp266,3 triliun.
Sementara, berdasarkan data dari e-Conomy SEA 2020 by Google, Tamasek, dan Brain & Company, kontribusi ekonomi digital terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebanyak US$44 miliar dan diprediksi akan meningkat hingga US$124 miliar pada 2025.
“Data-data ini menunjukkan bagaimana UMKM-bisa kita dorong masuk ke pasar digital, agar mereka tumbuh berkembang menjadi usaha besar ” kata Menparekraf Sandiaga Uno.
Untuk itu kita perlu bergandengan tangan, karena ini adalah upaya kita bersama untuk membangkitkan ekonomi, serta agar kita bisa segera pulih dan bangkit dari pandemi COVID-19, ujar Menparekraf.
Untuk mendukung masuknya para pelaku UMKM ke dalam ekosistem digital, pihaknya memiliki beberapa program inkubasi dan fasilitasi, seperti Baparekraf Digital Enterpreneurship (BDE), Foodstartup Indonesia, serta Beli Kreatif Lokal, yang merupakan turunan dari program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.
“Tentunya, digitalisasi dapat menyentuh ke semua sektor dan dapat melahirkan banyak peluang bisnis dan karir yang bisa dilakukan dari mana saja dan memberikan pemasukan yang cukup luar biasa,” katanya.
Menparekraf juga mengapresiasi kolaborasi Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Gorontalo serta Dekranasda Provinsi Gorontalo dalam pelaksanaan Hulonthalo Art and Craft Festival 2021 dengan tema “Peran Digitalisasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional”.
“Saya mengajak semua pihak untuk saling kolaborasi dan bersinergi dalam upaya percepatan transformasi digital di Indonesia, terutama di Provinsi Gorontalo, serta terus saling menebarkan semangat dan optimisme agar bisa bangkit di saat sulit, menang melawan COVID, together yes we can do it,” imbuhnya.
Turut hadir Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim; Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo sekaligus Anggota DPR RI Komisi VIII, Idah Syahidah Rusli Habibie; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Gorontalo, Paris R.A Jusuf; Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto; dan Para Bupati/Walikota se-Gorontalo.
Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo sekaligus Anggota DPR RI Komisi VIII, Idah Syahidah Rusli, mengatakan ekonomi kreatif ini harus dibangun secara serius dan komprehensif, sehingga mampu melahirkan ekosistem yang mengintegrasikan berbagai komponen, baik pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, hingga akademisi.
“Jika peran para pelaku UMKM ini bisa dioptimalkan, maka saya yakin akan mampu menjadi pilar perekonomian yang saling menguatkan dengan pariwisata. Karena UMKM dan pariwisata tidak bisa dipisahkan, kata Idah
Di mana pariwisata menggeliat, tentunya UMKM itu berperan dalam pengembangan pariwisata. Dan saya yakin dengan penerapan teknologi berbasis digital, dapat memperluas pemasaran penjualan produk kreatif lokal, khususnya Gorontalo, tambahnya.
Hulonthalo Art and Craft Festival 2021 menampilkan 21 produk kreatif artisan lokal yang telah melewati proses kurasi, selain itu juga ada penampilan Sounds of Hulonthalo yang memadukan musik modern dengan musik etnik Gorontalo, serta Fashion Show Karawo Gorontalo.