VIENTIANE, bisniswisata.co.id: Pertemuan ketiga Kelompok Kerja Pariwisata Bersama Kamboja-Laos tentang kerja sama pariwisata dan Forum Bisnis ke Bisnis (B2B) Pariwisata Kamboja-Laos berlangsung di Siem Reap, Kamboja, minggu ini.
Dilansir dari thestar.com.my, pertemuan tersebut mengidentifikasi dan membahas potensi kegiatan dan inisiatif bersama untuk lebih meningkatkan kerja sama pariwisata bilateral di bawah rencana aksi untuk tahun 2023-2024.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Direktur Jenderal Departemen Pemasaran Pariwisata Kementerian Informasi, Kebudayaan, dan Pariwisata Laos, Phouthone Dalalom; Sekretaris Negara Kamboja Dr. Thok Sokhom; Wakil Gubernur Provinsi Siem Reap, Ing Kimleang; dan Direktur Jenderal Pengembangan Pariwisata, Kerja Sama Internasional, Dr Chuk Chumno.
Para pemimpin bisnis dari kedua negara juga terlibat dalam diskusi.
Phouthone mencatat bahwa Laos dan Kamboja memiliki hubungan yang sangat dekat dan panjang secara umum, dan khususnya di bidang pariwisata.
Pariwisata merupakan aspek penting dari ekonomi Kamboja dan Laos. Pariwisata menghasilkan pendapatan dalam jumlah besar untuk digunakan dalam proses pembangunan kedua negara dan menyediakan peluang kerja bagi penduduk setempat, katanya.
Pertemuan tersebut merupakan kesempatan yang baik bagi Kamboja dan Laos untuk memperkuat kerja sama mereka dan menemukan lebih banyak cara untuk melaksanakan kegiatan pariwisata bersama.
Pada saat yang sama, para pelaku bisnis dapat membuat kontak yang bermanfaat dan menyiapkan program wisata bersama, kata Phouthone.“Saya yakin bahwa pertemuan ini akan menjadi tonggak penting lainnya dalam hubungan kita dan semakin memperkuat kerja sama di bidang pariwisata,” tambahnya.
Para peserta menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang berkelanjutan di bidang pariwisata dan membahas cara terbaik untuk memenuhi tujuan Rencana Aksi Bersama Kamboja-Laos tentang Kerja Sama Pariwisata untuk tahun 2023-2024.
Rencana aksi tersebut diadopsi oleh menteri pariwisata Kamboja dan Laos dan terdiri dari empat bidang kerja sama utama, yaitu fasilitasi perjalanan dan penyeberangan perbatasan, pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas, pemasaran, serta pengembangan produk dan keterkaitan pariwisata.
SINGAPURA, bisniswisata.co.id – Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Sorawong Thienthong, bersama Duta Besar Thailand untuk Singapura, Ureerat Chareontoh, dan Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Thapanee Kiatphaibool, baru-baru ini memimpin upacara pembukaan Paviliun Thailand di ITB Asia 2024 di Singapura.
Dilansir dari www.pattayamail.com, di ITB Asia, TAT memamerkan inisiatif pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab Thailand, yang sejalan dengan visi pemerintah “IGNITE THAILAND’s TOURISM”.
Paviliun Thailand menampilkan berbagai atraksi khas Kerajaan, termasuk pengalaman “Lima Hal yang Harus Dilakukan”, yang menyoroti pesona unik Thailand di destinasi terkenal dan kurang dikenal.
Pengunjung diundang untuk berpartisipasi dalam aktivitas Do It Yoyself ( DIY) langsung, membuat suvenir dari bahan daur ulang yang bersumber dari sampah laut, yang memperkuat komitmen Thailand terhadap perlindungan lingkungan.
Bekerja sama dengan Asosiasi Pariwisata Phuket, TAT mempertemukan 32 operator pariwisata Thailand, termasuk hotel, resor, layanan tur, taman air, dan klub golf, bersama mitra strategis TAGTHAI dan Thailand Privilege Card.
Lebih dari 800 pertemuan bisnis-ke-bisnis diadakan, menciptakan peluang baru yang berharga bagi perusahaan pariwisata Thailand.
Selama acara tersebut, Thailand menerima “Penghargaan Mitra Global 2024 – Destinasi Paling Populer” dari Trip.com, yang mencerminkan daya tarik abadi negara tersebut di antara wisatawan internasional dan kekuatan kemitraan antara TAT dan Trip.com dalam mempromosikan Thailand sebagai destinasi wisata utama.
Tahun lalu, lebih dari satu juta wisatawan Singapura mengunjungi Thailand, dan tahun ini, antara Januari dan 21 Oktober, 747.994 warga Singapura telah tiba, dengan Bangkok, Songkhla, Phuket, Krabi, dan Pattaya sebagai destinasi terpopuler.
Untuk tahun 2024, TAT menargetkan untuk menarik lebih dari satu juta pengunjung Singapura, menghasilkan pendapatan pariwisata yang diproyeksikan melebihi 48 miliar Baht.
Segmen target utama meliputi wisatawan lintas batas dan Fly & Drive, Kesehatan & Kebugaran, wisatawan olahraga (terutama mereka yang tertarik pada golf, bersepeda, maraton, dan Muay Thai), pemuda, dan penumpang kapal pesiar.
Penumpang meninggalkan bandara Noi Bai pada 24 Januari 2023. (Foto: VnExpress/Pham Chieu).
HANOI, bisniswisata.co.id: Vietnam telah dengan cepat muncul sebagai sumber pasar pariwisata Australia yang tumbuh paling cepat, dengan hampir 178.000 wisatawan Vietnam dilaporkan mengunjungi Australia dalam 12 bulan menjelang Agustus 2024.
Lonjakan luar biasa dalam jumlah pengunjung Vietnam ini menandai tonggak penting dalam kemitraan ekonomi dan pariwisata antara kedua negara, yang telah diperkuat melalui serangkaian inisiatif strategis yang diluncurkan oleh pemerintah Australia.
Menurut siaran pers terbaru dari Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia, Don Farrell, peningkatan jumlah wisatawan Vietnam menyoroti keberhasilan upaya yang ditargetkan untuk menarik pasar Asia Tenggara.
Fokus Australia untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Asia Tenggara ditekankan setahun yang lalu dengan peluncuran “Invested: Strategi Ekonomi Asia Tenggara Australia hingga 2040.”
Rencana ekonomi komprehensif ini menguraikan komitmen Australia untuk meningkatkan perdagangan, investasi, dan pariwisata di seluruh Asia Tenggara, dengan Vietnam muncul sebagai mitra utama dalam upaya ini.
Menteri Farrell menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah pengunjung Vietnam ke Australia merupakan indikator positif dari hubungan bilateral yang semakin erat dan menghadirkan peluang berharga bagi bisnis pariwisata Australia untuk berkembang.
Dewan Ekspor Pariwisata Australia (ATEC), sebuah organisasi terkemuka dalam industri perjalanan, telah berperan penting dalam mempromosikan Australia sebagai tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan Vietnam.
Program khusus ATEC memberikan wawasan berharga tentang preferensi dan harapan wisatawan Vietnam, membantu bisnis Australia menyesuaikan penawaran mereka untuk lebih memenuhi kebutuhan demografi yang berkembang pesat ini.
Salah satu inisiatif tersebut, Program Tuan Rumah Vietnam, dirancang untuk membekali operator pariwisata Australia dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk terlibat secara efektif dengan pengunjung Vietnam.
Kursus pelatihan daring ini, bagian dari rangkaian sumber daya ATEC yang lebih luas, bertujuan untuk menumbuhkan lingkungan yang lebih ramah dan peka terhadap budaya bagi wisatawan Asia Tenggara di Australia.
Minggu ini, konferensi tahunan ATEC Meeting Place diadakan di Gold Coast, yang selanjutnya meningkatkan momentum dalam keterlibatan Australia dengan Asia Tenggara. Konferensi tersebut menampilkan serangkaian panel pakar dan presentasi dari Komisi Perdagangan dan Investasi Australia (Austrade), yang menyoroti peluang yang berkembang di kawasan tersebut.
Diskusi di acara tersebut menekankan potensi bisnis pariwisata Australia untuk memanfaatkan masuknya wisatawan Vietnam, dengan hal-hal penting tentang membangun kemitraan yang berkelanjutan dan menawarkan pengalaman unik yang menarik bagi wisatawan Asia Tenggara.
Menteri Farrell menyoroti komitmen pemerintah untuk membina hubungan yang lebih erat antara Australia dan Vietnam, dengan mencatat bahwa pariwisata merupakan topik utama selama pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini.
Farrell mengingat kunjungannya ke Vietnam tahun lalu untuk Pertemuan Kemitraan Ekonomi tahunan, di mana peningkatan pariwisata bilateral merupakan agenda utama.
Topik ini dibahas kembali awal bulan ini selama kunjungan balasan oleh Wakil Perdana Menteri Vietnam Bui Thanh Son dan Menteri Perencanaan dan Investasi Nguyen Chi Dung ke Australia.
Farrell menyatakan optimisme tentang pertumbuhan berkelanjutan pariwisata Vietnam ke Australia, dengan menekankan bahwa tren ini mendukung perluasan bisnis pariwisata Australia dan berkontribusi pada ekonomi lokal.
Pemerintah Australia telah berinvestasi dalam beberapa inisiatif untuk menarik wisatawan Vietnam, dengan menyadari potensi ekonomi pasar yang sedang berkembang ini.
Selain Program Tuan Rumah Vietnam, berbagai alokasi dana telah diarahkan untuk kampanye yang bertujuan meningkatkan daya tarik Australia di antara khalayak Asia Tenggara.
Inisiatif ini mencakup upaya pemasaran yang terarah, kemitraan kolaboratif dengan agen perjalanan Vietnam, dan investasi dalam peningkatan infrastruktur untuk mengakomodasi pengunjung internasional dengan lebih baik.
Peningkatan signifikan wisatawan Vietnam juga tercermin dalam pertumbuhan timbal balik wisatawan Australia yang menuju Vietnam.
Dengan kedua negara berkomitmen untuk mempromosikan pariwisata, pertukaran pengunjung telah menciptakan manfaat bersama.
Lebih banyak warga Australia yang menjelajahi warisan budaya Vietnam yang kaya, kota-kota yang semarak, dan pemandangan alam yang indah. Sementara pengunjung Vietnam ke Australia berkontribusi pada vitalitas ekonomi tempat-tempat wisata Australia yang populer. Arus wisatawan dua arah ini telah memperkuat pemahaman budaya dan memupuk hubungan antarmasyarakat antara kedua negara.
Pertumbuhan pesat pariwisata Vietnam sejalan dengan tren regional yang lebih luas di Asia Tenggara, di mana negara-negara secara aktif bersaing untuk menarik pengunjung internasional.
Kedekatan negara-negara Asia Tenggara, ditambah dengan beragamnya daya tarik wisata di Australia, telah memposisikan kawasan ini sebagai pasar penting bagi operator pariwisata Australia.
Dengan mengembangkan program khusus dan berfokus pada pertukaran budaya, bisnis Australia berada pada posisi yang tepat untuk memanfaatkan permintaan wisatawan Vietnam yang terus meningkat dan menciptakan hubungan jangka panjang yang mendorong kunjungan berulang.
Seiring dengan terus berkembangnya pasar pariwisata Asia Tenggara, kemitraan antara Australia dan Vietnam menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin mempererat hubungan ekonomi dan pariwisata.
Pertumbuhan pasar Vietnam yang pesat menggarisbawahi potensi Australia untuk memanfaatkan kedekatannya dengan Asia Tenggara dan memanfaatkan permintaan akan pengalaman wisata yang memperkaya budaya.
Dengan merangkul inisiatif seperti Program Tuan Rumah Vietnam, bisnis pariwisata Australia dapat menawarkan layanan khusus yang secara khusus melayani minat wisatawan Vietnam, meningkatkan pengalaman mereka secara keseluruhan, dan mempromosikan Australia sebagai destinasi utama di kawasan ini.
Selain manfaat ekonominya, lonjakan pariwisata Vietnam ke Australia telah berkontribusi pada pertukaran dan pemahaman budaya yang lebih besar. Wisatawan Vietnam membawa perspektif dan tradisi mereka sendiri, yang memperkaya jalinan budaya masyarakat Australia dan mendorong lingkungan yang lebih inklusif bagi semua pengunjung.
Pertukaran budaya ini berpotensi untuk memperkuat hubungan diplomatik dan menciptakan landasan bagi kolaborasi berkelanjutan di bidang ekonomi lainnya.
Ke depannya, pemerintah Australia diharapkan untuk terus berfokus pada pengembangan pariwisata sebagai komponen inti dari Strategi Ekonomi Asia Tenggara.
Dengan investasi berkelanjutan dalam program-program yang ditargetkan dan kemitraan strategis, Australia bertujuan untuk semakin memantapkan posisinya sebagai destinasi utama bagi wisatawan Vietnam.
Seiring dengan berkembangnya lanskap pariwisata, pendekatan proaktif pemerintah Australia memposisikan negara tersebut untuk tetap kompetitif dalam menarik pengunjung internasional, khususnya dari pasar-pasar dengan pertumbuhan tinggi seperti Vietnam.
Tren peningkatan pariwisata Vietnam menunjukkan dampak sukses dari jangkauan strategis Australia ke Asia Tenggara. Dengan berinvestasi dalam program-program yang meningkatkan pemahaman budaya dan memenuhi kebutuhan unik wisatawan Vietnam, Australia telah memantapkan posisinya sebagai destinasi yang menarik di kawasan tersebut.
Fokus pada pembangunan hubungan yang kuat dan saling menguntungkan dengan pasar-pasar Asia Tenggara ini tidak hanya mendukung industri pariwisata Australia tetapi juga membuka jalan bagi kolaborasi ekonomi yang lebih luas di masa mendatang
Seorang pemandu wisata menjelaskan lokasi Taman Arkeologi Angkor kepada sekelompok wisatawan internasional yang penasaran. (Foto: The Phnom Penh Post)
Dengan jumlah kedatangan wisatawan asing yang belum pulih seperti sebelum pandemi, pariwisata lokal secara tak terduga telah menjadi penyelamat.
SIEM REAP, Kamboja, bisniswisata.co.id:
Setelah pencabutan pembatasan perjalanan internasional pasca-Covid-19, Kamboja telah melihat peningkatan pengunjung yang lambat namun menggembirakan.
Pemandangan di Angkor Wat telah berubah, dengan pemandu yang sibuk dengan pengunjung domestik. Mereka membentuk aliansi baru dan memberikan kehidupan baru pada apresiasi kekayaan sejarah Kamboja.
Meas Sovannaroth, pemandu wisata yang tinggal di Siem Reap, menemukan dirinya menjelajahi berbagai jalur karier setelah pandemi Covid-19 menghentikan industri pariwisata.
Ia merambah bisnis real estat dan penjualan mesin pertanian, tetapi hasratnya untuk berbagi pengetahuan tidak pernah pudar. Pada tahun 2022, saat pengunjung mulai berdatangan kembali, ia kembali ke akarnya, terhubung kembali dengan warisan yang dicintainya.
Kini, Sovannaroth menyeimbangkan pekerjaan pemandunya dengan pekerjaan paruh waktu sebagai pengemudi Grab, yang memungkinkannya untuk menghidupi keluarganya sambil menunggu pariwisata pulih perlahan.
Kerumunan kembali
“Antusiasme pada bulan November sangat menggembirakan. Kami melihat minat terhadap Angkor Wat dan candi – candi lainnya meningkat, memberikan stabilitas setelah beberapa tahun yang penuh tantangan.”ungkapnya.
Lonjakan minat lokal ini terbukti bermanfaat bagi pemandu dan pengunjung Kamboja.
Setelah bertahun-tahun tempat-tempat bersejarah sebagian besar dikunjungi oleh tamu internasional, wisatawan domestik semakin terpikat oleh kekayaan sejarah Kerajaan tersebut.
Kea Simon, seorang pemandu dengan pengalaman 17 tahun, mengamati rasa ingin tahu yang baru ditemukan di antara orang Kamboja. Banyak tamu lokal kini ingin memahami kisah di balik pahatan kuili, jelasnya.
“Mereka tertarik dengan sejarah, budaya, dan warisan arsitektur kami, yang memperdalam hubungan mereka dengan situs-situs ini,” imbuhnya.
Dia mengatakan bahwa saat bertemu wisatawan lokal di depan kuil, ia tidak membicarakan harga terlebih dahulu, karena sering kali tergantung pada minat dan niat mereka.
Simon mencatat bahwa untuk mendapatkan kesempatan bekerja dan berbagi pengetahuan dengan tamu Kamboja, sebagian besar pemandu tidak fokus membahas biaya pemandu.
Ia menjelaskan bahwa durasi setiap tour juga bergantung pada lokasi kuil – kuil yang lebih besar memerlukan penjelasan yang lebih rinci, sedangkan kuil yang lebih kecil sering kali memerlukan pengenalan yang lebih singkat.
Daya tarik yang baru ditemukan
Dengan pengalaman bertahun-tahun, Simon mencatat bahwa di masa lalu, jarang bagi pengunjung Kamboja untuk menyewa pemandu karena terbatasnya minat pada sejarah dan keterbatasan anggaran.
Namun, sejak tahun 2022, menyusul krisis Covid-19, wisatawan domestik tampaknya menjadi lebih tertarik pada sejarah, budaya, arsitektur, agama, dan seni kuil.
“Mereka kini menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya kita dengan ingin mempelajari lebih lanjut tentang kuil-kuil tersebut,” katanya.
Dia menambahkan jika mereka hanya datang untuk mengambil foto, mereka tidak akan memahami kedalamannya yang sebenarnya, tidak peduli seberapa banyak mereka membaca buku, kata Simon.
Simon mengakui bahwa selain berbagi pengetahuan, peningkatan jumlah wisatawan lokal juga membantu mempertahankan profesi pemandu.“Biasanya, ketika saya bertugas di kuil Bayon, setelah sekitar satu jam memandu pengunjung lokal, mereka memberi saya sekitar 50.000 hingga 60.000 riel,” katanya kepada The Post.
“Beberapa tamu bahkan menawarkan hingga US$20 atau US$30. Untuk orang asing, kami biasanya mendiskusikan harga terlebih dahulu. Namun, orang Kamboja baik hati; mereka menghargai upaya dan pengertian kami,” tambahnya.
Pengetahuan budaya, kebanggaan budaya
Wisatawan Kamboja semakin banyak mengisi kekosongan, yang mendukung industri ini berkat rasa ingin tahu sejarah dan kebanggaan nasional mereka yang semakin meningkat. Direktur Departemen Pariwisata Provinsi Siem Reap, Thim Sereyvuth, menyoroti pentingnya mendidik kaum muda Khmer tentang warisan mereka.
“Pemandu wisata kini menawarkan wisata kepada siswa lokal, meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah nyata, termasuk topik-topik seperti monarki, Brahmanisme, Buddhisme, gaya kuil, arsitektur, mitologi, dan berbagai perang yang digambarkan dalam ukiran setiap kuil,” kata Sereyvuth.
Ssjumlah biksu berjalan di Angkor Wat yang sepi pengunjung asing
Dia menambahkan bahwa ini berarti semakin banyak orang Kamboja yang belajar untuk memahami dan menghargai budaya mereka lebih dalam. Meskipun jumlah wisatawan masih sedikit, pemandu wisata kini berfokus pada pengunjung lokal, yang telah membantu mempertahankan pekerjaan mereka dan menjaga profesi ini tetap berkembang.
Bisakah wisatawan domestik menopang industri ini?
Situasi ini memungkinkan pemandu dan pengunjung saling mendapatkan manfaat. Pengunjung yang sebelumnya tidak tertarik dengan narasi sejarah kini memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pahatan candi, sementara pemandu dapat melanjutkan profesinya.
Meskipun demikian, Khieu Thy, presiden Asosiasi Pemandu Wisata Angkor, yang beranggotakan lebih dari 200 orang, tidak yakin apakah peningkatan klien domestik akan cukup.
“Saya berharap sektor pariwisata kita dapat tumbuh lagi, tetapi ada analisis yang terlalu optimis yang memprediksi bahwa tahun 2025 akan menyamai level tahun 2019. Jelas, tahun 2025 sudah dekat, dan tidak ada tanda-tanda yang jelas akan peningkatan seperti itu,” katanya.
“Sekitar 50 pemandu duduk di depan Angkor tanpa penghasilan apa pun, tetapi mereka bersedia melakukan ini meskipun tahu itu tidak profesional dan tidak pantas,” tambahnya. Tujuan mereka adalah untuk menarik pengunjung nasional dan internasional sebagai satu kelompok.
Prediksi yang beragam untuk masa depan
Thy mengakui iklim saat ini yang sulit, menunjuk pada “musim ramai” yang terasa lebih seperti musim sepi.
“Oktober mengecewakan, dengan permintaan yang tidak memenuhi harapan,” catat Thy. “Hanya November yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam reservasi. Bulan-bulan mendatang tidak dapat diprediksi, sehingga pemandu menghadapi peluang kerja yang terbatas.”
Dibandingkan tahun lalu, ketika pemandu dapat memperoleh pekerjaan selama 20 hari sebulan, sekarang mereka rata-rata hanya memperoleh 12 hari, dengan banyak yang ditempatkan di candi setiap hari untuk menarik wisatawan.
Indikator lain dari penurunan tersebut, tambahnya, adalah bagaimana bisnis di area Pasar Lama seperti restoran, hotel, dan wisma tamu melihat lebih sedikit pengunjung daripada tahun lalu.
Dengan lebih sedikit reservasi, pemandu menghadapi pasar yang sulit dan harus keluar sendiri untuk mencari tamu di candil, terutama di Angkor Wat.
“Jumlah pemandu telah menurun sejak Covid-19, dengan beberapa yang mengubah karier. Sekelompok pemandu kami kini berdiri di depan Angkor, mengundang pengunjung asing dan Khmer untuk menggunakan jasa mereka sebanyak mungkin,” tutur Thy.
Kementerian menunjukkan tanda-tanda pemulihan
Sektor pariwisata Kamboja, yang pernah memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional, menghadapi penurunan besar saat pandemi melanda. Pada tahun 2019, kedatangan wisatawan internasional melebihi 6,6 juta, tetapi pada tahun 2021, jumlah ini anjlok hingga di bawah 200.000 karena pembatasan perjalanan dan masalah kesehatan global.
Penutupan hotel, restoran, dan bisnis pariwisata dan perhotelan lainnya yang diakibatkannya memengaruhi ribuan pekerjaan, sehingga memaksa pemandu seperti Sovannaroth, Thy, dan Simon untuk mencari sumber pendapatan alternatif.
Namun, pada tahun 2023, sektor ini mulai bangkit kembali saat perjalanan kembali dibuka, menarik wisatawan internasional kembali ke lokasi ikonik seperti Angkor Wat.
Sebuah laporan dari Kementerian Pariwisata Kamboja mencatat peningkatan 32 persen dalam kedatangan internasional pada awal tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kampanye “ Keajaiban Kerajaan”,
bersamaan dengan kebijakan visa baru Kamboja, telah berhasil menonjolkan negara tersebut sebagai destinasi yang aman dan kaya budaya, menarik minat wisatawan di seluruh dunia, jelas kementerian tersebut.
Pembukaan Bandara Internasional Siem Reap-Angkor baru-baru ini telah semakin meningkatkan pariwisata di wilayah tersebut, tambahnya.
Dalam tahun pertamanya, bandara tersebut telah mengelola lebih dari 1,3 juta penumpang, meningkatkan aksesibilitas ke tempat-tempat di luar jalur yang biasa dilalui.
Hal ini, dikombinasikan dengan peningkatan infrastruktur dan pilihan akomodasi baru, telah membuat Siem Reap lebih menarik bagi wisatawan asing dan lokal.
KUALA LUMPUR, bisniswisata .co.id: Retail Solution Expo (Resonex) 2024 siap memberi dampak signifikan pada industri ritel dan perhotelan di Malaysia. Acara tahun ini, yang dijadwalkan berlangsung dari 7 hingga 9 November di Pavilion Bukit Jalil Exhibition Centre, menjanjikan akan lebih besar dan lebih baik dari sebelumnya.
Dilansir dari nst.com.my, berbicara kepada New Straits Times setelah peluncuran, kepala eksekutif Diverge Retail Sdn Bhd dan pendiri Resonex Adrian Ang mengatakan pameran, yang diharapkan akan memamerkan 200 stan, akan berfungsi sebagai pusat untuk menemukan kemajuan terbaru dalam ritel.
Hal ini, katanya, akan menawarkan kesempatan kepada para peserta untuk mengeksplorasi produk, layanan, dan ide baru yang dapat mendorong bisnis mereka maju.
“Resonex lebih dari sekadar pameran biasa, ini adalah pusat pengalaman komprehensif yang mencakup pameran, demonstrasi langsung, kompetisi, sesi edukasi, dan peluang jaringan.”
Ang mengatakan Resonex menarik beragam audiens mulai dari pemilik usaha lokal kecil hingga eksekutif jaringan ritel besar yang semuanya memiliki tujuan yang sama untuk menyambut masa depan.
Pameran yang kini memasuki tahun ketiga, adalah pameran dagang yang mempertemukan pengecer, penyedia teknologi dan layanan, pakar industri, dan inovator di bawah satu atap.
Acara ini bertujuan untuk memamerkan kemajuan terbaru dalam ritel dan memberi peserta kesempatan untuk mengeksplorasi produk, layanan, dan ide baru yang dapat mendorong bisnis mereka maju.
“Salah satu hal yang menarik dari Resonex 2024 adalah pameran Kuliner Internasional yang disempurnakan, yang akan menampilkan solusi makanan dari seluruh dunia.
“Baik Anda mencari ide baru untuk menu lezat Anda atau sekadar ingin menemukan tren terbaru dalam makanan dan minuman, segmen ini tidak boleh dilewatkan,” katanya.
Selain fokus pada makanan dan minuman, Ang mengatakan Resonex juga akan menampilkan segmen solusi kesehatan, kebugaran, dan mode. “Segmen ini akan dipimpin oleh para pakar industri dan memamerkan peritel lokal yang berkomitmen untuk menyediakan produk dan layanan berkualitas tinggi.
“Resonex lebih dari sekadar pameran; ini adalah platform untuk membina hubungan dan kolaborasi dalam industri ritel.”
Ang mengatakan acara tersebut akan menampilkan platform komunitas bisnis yang bertujuan untuk memberikan wawasan pasar dan peluang yang lebih baik bagi mereka yang terlibat dalam ekosistem Resonex.
Yang juga hadir pada peluncuran tersebut adalah kepala eksekutif Asosiasi Hotel Malaysia Isaac Raj, presiden Asosiasi Eksekutif Makanan dan Minuman Malaysia (MFBEA) Hisham Tan dan sponsor acara mendatang.
Raj mengatakan MAH menantikan kolaborasi dengan Resonex dan semua penyedia layanan industri lainnya. “MAH memiliki sekitar 1.100 hotel yang terdaftar dan kami yakin akan mampu menjembatani lebih jauh hubungan antara pelaku industri ritel, teknologi, dan perhotelan di negara ini,” katanya dalam sambutannya.
Dia mengatakan, mengingat tahun 2025 akan menjadi Tahun Kunjungan Malaysia, kolaborasi ini tepat waktu. “Kami berharap dapat memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung, yang mungkin terlewatkan setelah pandemi,”.
Penyedia layanan juga dapat menggunakan platform ini untuk tujuan membangun jaringan dan memasarkan diri, sehingga memperkuat industri pariwisata dan perhotelan,katanya.
Sementara itu, Hisham mengatakan salah satu hal yang menarik dari pameran tersebut adalah Kompetisi Bartender dan Mixologi selama tiga hari.
Salah satu stand milenial yang mengubah minyak jelantah menjadi bioavtur di booth 179, Halal Kulture 2024. ( Foto: bisniswisata.co.id)
Pameran Halal Kulture Market 2024 menargetkan kalangan gen z dan milenial. Halal Kulture Market digelar di ICE BSD, Tangeramg, Banten. Foto: Istimewa.
TANGSEL, bisniswisata co.id: Mumtaz Creative mempersembahkan Halal Kulture 2024 yang digelar di Hall 3-3A ICE BSD, pada 1-3 November 2024. Acara yang menargetkan 25.000 pengunjung ini bertujuan untuk menyebarkan kesadaran religi dan nilai-nilai muamalah bagi para muslim muda.
CEO Mumtaz Creative sekaligus ketua pelaksana Halal Kulture Market, Agung Paratama, mengatakan pameran ini menyasar segmen pasar muda, Gen Z dan milenial. Menurut Agung, perkembangan teknologi digital dan media sosial yang makin masif memberikan pengaruh besar bagi muslim muda untuk mengenal dan memperdalam agama.
“Tren inilah yang mendorong kami menghadirkan Halal Kulture Market untuk menjawab kebutuhan milenial dan Gen Z sekaligus juga memberikan preferensi bagi pelaku bisnis halal untuk lebih mengenal market mereka,” kata Agung seperti dilansir dari langit7.id saat pembukaan Halal Kulture Market di ICE BSD, Tangerang, Banteng, Jumat (1/11/2024).
Selain itu, tambah Agung, populasi milenial dan Gen Z adalah yang terbesar dari total penduduk. Ditambah, usia yang masuk kategori pekerja produktif dan daya beli yang tinggi.
“Saat ini populasi mereka yang terbesar, yakni 74,93 juta atau 27,94 persen dari total penduduk. Mereka tengah memasuki usia pekerja produktif dan memiliki daya beli yang terus meningkat,” ungkapnya.
Agung menyebut, pameran ini juga bertujuan untuk membangkitkan kegairah muslim muda hijrah serta mendorong bangkitnya jiwa entrepreneur untuk mengembangkan ekosistem halal.
“Kami berharap Halal Kulture Market ini bisa menjadi wahana yang menggerakan lahirnya ekosistem muslim muda dalam berbagai sektor ekonomi dan sosial ,” ungkap Agung.
Sementara, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DKI Jakarta, Diana Dewi, menyebut Halal Kulture Market sejalan dengan program andalan Kadin dalam mendukung produk halal buatan lokal.
“Kami menyambut positif Halal Kultur karena selaras dengan concern kami dalam mewujudkan ekosistem produk halal di Indonesia. Kami optimis gelaran ini dapat melahirkan talenta-talenta muslim baru dalam dunia usaha di masa mendatang.” tutur Diana Dewi.
Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar kedua di dunia setelah Pakistan, Indonesia seharusnya menjadi produsen utama dalam perkembangan industri halal di dunia. Namun sebaliknya, Indonesia masih mengalami ketergantungan dengan produk halal luar negeri.
Merujuk laporan Bank Indonesia menyatakan, Indonesia terutama Jakarta merupakan importir makanan halal terbesar ke-4 di dunia dan merupakan pasar bagi industri obat, kosmetik halal dan fashion syariah global.
“Jakarta memiliki potensi industri halal yang besar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui Halal Kulture, kami berkomitmen mendukung para pelaku usaha halal Jakarta untuk unjuk gigi sekaligus mendorong Jakarta untuk tak hanya menjadi pangsa pasar saja, namun juga diproyeksikan sebagai pemain utama industri halal dunia.” jelas Diana Dewi.
Diana Dewi kemudian menambahkan bahwa industrialisasi produk halal dapat menjadi salah satu solusi dalam mengantarkan Jakarta sebagai pusat industri halal dunia.
Untuk itu, Kadin DKI Jakarta bersinergi dengan berbagai pemangku kebijakan untuk percepatan pertumbuhan ekosistem industri halal di Jakarta.
RIYADH, bisniswisata.co.id : Arab Saudi telah meluncurkan destinasi pulau mewahnya, Sindalah, bagian dari megaproyek NEOM senilai US$500 miliar, saat Kerajaan mengintensifkan upaya untuk memperluas sektor pariwisatanya.
Dilansir dari arabnews.com, NEOM mengumumkan bahwa proyek tersebut, yang dikembangkan selama dua tahun dengan melibatkan empat kontraktor lokal dan 60 subkontraktor, telah menyambut tamu pertamanya, menandakan era baru pariwisata kelas atas di Arab Saudi, menurut siaran pers.
Proyek-proyek besar seperti itu merupakan inti dari strategi Arab Saudi untuk diversifikasi ekonomi, yang sejalan dengan tujuan pariwisata Visi Kerajaan 2030. Strategi Pariwisata Nasional bertujuan untuk menarik 150 juta pengunjung pada tahun 2030 dan meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto dari 6 persen menjadi 10 persen.
“NEOM berkomitmen untuk mendukung era baru pariwisata mewah di Kerajaan, dengan dibukanya Sindalah. Terwujudnya destinasi bersejarah ini, gerbang menuju Laut Merah, berkat kepemimpinan visioner Yang Mulia Mohammed bin Salman dan Visi Saudi 2030,” kata Nadhmi Al-Nasr, CEO NEOM.
Destinasi perdana NEOM menawarkan kepada para pengunjung ‘pandangan pertama’ tentang masa depan portofolio destinasi dan pengembangan kami yang luas, tambahbya.
Terletak 5 km dari pantai barat laut NEOM, Sindalah mencakup luas 840.000 meter persegi dan diperkirakan akan menyambut hingga 2.400 tamu setiap hari pada tahun 2028, menciptakan 3.500 lapangan pekerjaan dan mendorong pertumbuhan di sektor perhotelan dan pariwisata Arab Saudi.
Perairan Sindalah adalah rumah bagi 1.100 spesies ikan, termasuk 45 spesies unik NEOM, dan lebih dari 300 spesies karang. Sejalan dengan komitmen NEOM terhadap keberlanjutan dan konservasi, pelestarian habitat laut alami Sindalah telah menjadi pusat pengembangan pulau ini, dan para tamu diundang untuk menyelam di bawah permukaannya untuk menjelajahi keajaibannya sendiri.
Destinasi tersebut akan menampilkan klub kapal pesiar, klub pantai, dan klub golf, serta fasilitas dok, pelampung lepas pantai tambahan untuk kapal pesiar super, dan layanan manajemen kapal pesiar yang komprehensif.
Sindalah menawarkan 440 kamar, 88 vila, dan 218 apartemen mewah berlayanan untuk akomodasi. NEOM menyatakan bahwa informasi pemesanan akan segera dirilis melalui saluran pariwisatanya.
SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Diselenggarakan oleh Singapore Hotel Association (SHA) dan didukung oleh Singapore Tourism Board (STB) serta Workforce Singapore (WSG), Hospitality Exchange perdana yang diadakan pada tanggal 3 Oktober 2024 di Hilton Singapore Orchard meraih kesuksesan besar. Tamu kehormatan acara tersebut adalah Olivier Lim, Ketua STB.
Dilansir dari traveldailynews.asia, dihadiri oleh sekitar 270 pemangku kepentingan industri yang terdiri dari pemilik, manajer umum, manajemen hotel senior, dan perwakilan dari lembaga pemerintah, Hospitality Exchange memberikan program yang sangat mengesankan bagi para peserta.
Kenneth Li, Presiden SHA, menyampaikan bahwa tujuannya adalah untuk menjadikan Hospitality Exchange sebagai acara tahunan yang wajib dihadiri, tempat para pemimpin hotel bertemu untuk bertukar pandangan tentang memajukan industri kami, sambil mengatasi tantangan utama melalui studi kasus nyata.
Berpusat pada tiga pilar utama SHA yaitu Inovasi, Keberlanjutan, dan Modal Manusia, Hospitality Exchange menampilkan jajaran pakar lokal dan internasional yang terhormat, yang memberikan kepemimpinan pemikiran tentang perhotelan saat ini dan di masa mendatang.
Michael Vaz, pelatih kepemimpinan dan budaya global untuk merek perhotelan mewah, MVP Leadership, memberi semangat kepada para peserta dengan presentasi utamanya tentang “Satu-satunya Cara untuk Menang”, yang menggarisbawahi pentingnya menumbuhkan keunggulan kepemimpinan dan mendorong keterlibatan untuk meningkatkan pengalaman perhotelan.
Dalam menutup konferensi, Adam Mogelonsky, Mitra di Hotel Mogel Consulting Limited, memberi pencerahan kepada para pesertanya tentang bagaimana tren kebugaran yang berkembang membentuk harapan tamu dan mendefinisikan ulang masa depan penawaran perhotelan.
Apresiasi juga diberikan kepada pembicara ternama lainnya, yaitu Ahmed Disokey, Wakil Presiden Grup Teknologi Hotel, AccorInvest, Michael Levie, Pendiri Bersama CitizenM, dan Eric Ricaurte, CEO Greenview, atas presentasi mereka yang berwawasan.
Untuk mendorong pertukaran pandangan, para peserta memperoleh perspektif langsung dan berpartisipasi dalam diskusi panel yang menggugah pikiran seperti “People + Tech – Paradigma Tempat Kerja Baru”, “Memimpin Inovasi dan Disrupsi Teknologi”, “Menciptakan Bersama Pengalaman Perhotelan Regeneratif”, serta “Pandangan dari Para Pelaku Perhotelan G Berikutnya” yang memberikan perspektif baru terhadap lanskap industri.
Joyce Chua, Manajer Hotel Senior di AMOY dan The Clan Hotel, menganggap seluruh alur program acara ini menarik dan bermanfaat. Ia setuju bahwa mempersiapkan industri untuk masa depan adalah jalan ke depan dan hal terpenting baginya adalah berbagi pengalaman oleh para pembicara tentang cara bermanuver dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong inisiatif.
Melengkapi konferensi tersebut adalah pasar khusus tempat para peserta pameran, dalam suasana yang semarak, memamerkan berbagai solusi inovatif untuk meningkatkan operasi dan meningkatkan pengalaman tamu.
Lee Jun Keong, Manajer Penjualan ID B2B dari LG Electronics Singapura, sangat senang bahwa Marketplace menghasilkan kontak yang baik bagi mereka.
Ia berbagi bahwa platform tersebut menawarkan peluang yang sangat baik bagi mereka untuk berjejaring dengan mitra potensial dan bahwa mereka sudah tidak sabar untuk kembali ke Marketplace tahun depan.
Berkolaborasi dengan para sponsor, Hospitality Exchange ditutup dengan suasana yang meriah dengan sesi koktail dan jejaring yang meriah di mana percakapan terus berlanjut untuk mendorong terjalinnya hubungan.
Pimpinan perhotelan veteran, Tan Kim Seng, Manajer Umum di Aloft Singapore Novena, mengatakan bahwa salah satu pencapaian penting adalah kemampuan Hospitality Exchange untuk menghubungkan anggota dengan mitra industri utama dalam skala besar. Ia memuji SHA atas upaya terpujinya dalam menyelenggarakan acara yang luar biasa bagi industri ini.
HANOI, bisniswisata.co.id: Sektor pariwisata Vietnam, yang terkenal dengan warisan budayanya yang kaya dan bentang alamnya yang menakjubkan, kini membuka cakrawala baru: pariwisata halal.
Menurut Otoritas Pariwisata Nasional Vietnam (VNAT) dan berbagai sumber lainnya, sektor yang sedang berkembang ini, yang melayani wisatawan muslim, dengan cepat mendapatkan daya tarik sebagai tambang emas potensial bagi industri pariwisata Vietnam.
Mari kita selidiki bagaimana Vietnam merangkul pariwisata halal dan mengapa Vietnam menjadi pemain kunci di pasar global. Pariwisata halal, sebagaimana didefinisikan oleh Global Muslim Travel Index (GMTI), lebih dari sekadar ceruk pasar.
Dengan lebih dari 2,2 miliar muslim di seluruh dunia, yang merupakan 25% dari populasi global, permintaan akan pengalaman perjalanan ramah Muslim semakin meningkat.
Jumlah wisatawan Muslim internasional melonjak dari 108 juta pada tahun 2013 menjadi sekitar 160 juta pada tahun 2019, dengan perkiraan peningkatan sebesar 80% pada tahun 2023. Daya beli pasar ini sangat besar, dan diperkirakan akan mencapai angka US$341,1 miliar per tahun pada tahun 2030.
Strategi Vietnam menarik wisatawan muslim
Vietnam telah menyaksikan peningkatan signifikan wisatawan dari negara-negara mayoritas muslim seperti Timur Tengah, negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Indonesia juga berkontribusi terhadap peningkatan kedatangan wisatawan muslim di negara tersebut.
Masuknya wusatawan ini bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil dari upaya strategis Vietnam untuk memasuki pasar. Upaya pemasaran yang tertarget
dan menyadari potensi tersebut, membuat Otoritas Pariwisata Nasional Vietnam (VNAT) telah menyelenggarakan beberapa konferensi dan promosi di kawasan utama seperti Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Acara-acara ini fokus untuk menunjukkan kesiapan Vietnam dalam melayani wisatawan muslim. Selain itu, VNAT sedang mengintensifkan promosinya di India, yang diidentifikasi sebagai pasar penting bagi pertumbuhan di masa depan.
Layanan melayani wisatawan muslim ini
pendekatannya lebih dari sekedar pemasaran. Daerah-daerah seperti Quang Ninh, Da Nang, Quang Nam, dan Kien Giang secara aktif menyesuaikan penawaran mereka agar lebih ramah muslim.
Hal ini mencakup pendirian sarana ibadah di tempat umum, hotel, dan tempat hiburan, serta memastikan ketersediaan makanan dan minuman bersertifikat halal. Fokus pada pengalaman kelas atas sambil terus jajaki pasar tradisional seperti Malaysia, Indonesia, dan Singapura, Vietnam juga mengincar pasar Timur Tengah yang makmur.
Wisatawan dari wilayah ini dikenal karena kesediaan mereka untuk menikmati layanan kelas atas, sehingga menghadirkan peluang yang menguntungkan bagi segmen pariwisata mewah Vietnam. Jalan menuju pariwisata halal Vietnam bukan hanya tentang memperluas jangkauan pasarnya; ini tentang merangkul keragaman budaya dan inklusivitas.
Dengan memenuhi kebutuhan unik wisatawan muslim, Vietnam menjadi tolok ukur dalam industri pariwisata global dan
seiring dengan berkembangnya pariwisata halal, Vietnam siap menjadi tujuan pilihan bagi wisatawan muslim, menawarkan perpaduan harmonis antara keaslian budaya, keindahan pemandangan, dan fasilitas ramah muslim.
Melalui inisiatif strategis dan pendekatan inklusif, sektor pariwisata Vietnam berada pada jalur yang tepat untuk membuka potensi besar dari sektor pariwisata guna menarik lebih banyak wisatawan dari negara-negara muslim.
Pariwisata Vietnam kini secara aktif berupaya menarik lebih banyak wisatawan dari negara-negara muslim, karena sektor ini dipandang sebagai pasar potensial bagi industri pariwisata global. Jumlah wisatawan muslim internasional meningkat dari 108 juta pada tahun 2013 menjadi 160 juta pada tahun 2019, dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 80 persen tahun 3024 ini.
Pengeluaran pariwisata dari pasar ini diproyeksikan mencapai US$341,1 miliar per tahun pada tahun 2030. Statistik dari Otoritas Pariwisata Nasional Vietnam (VNAT) menunjukkan bahwa jumlah wisatawan dari negara-negara muslim yang mengunjungi Vietnam telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama wisatawan dari negara-negara muslim.
India, naik 240 persen pada bulan September tahun ini. Jumlah wisatawan Muslim yang datang dari negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura dan Indonesia, juga mengalami peningkatan tajam.
Wakil Direktur Jenderal VNAT, Ha Van Sieu mengatakan pasar halal menawarkan peluang yang menjanjikan bagi industri pariwisata Vietnam dan dapat menjadi “tambang emas” yang dapat memberikan dorongan signifikan pada sektor ini.
Vietnam Promosikan Pembangunan Berkelanjutan Industri Halal Perdana Menteri Pham Minh Chinh berpidato di konferensi pada tanggal 22 Oktober. (Foto: VNA)
Vietnam bertekad mengubah industri Halal menjadi sektor ekonomi yang kuat, memposisikan negara tersebut sebagai destinasi yang tak tergantikan di peta Halal global dan mata rantai penting dalam rantai pasokan produk dan layanan Halal di seluruh dunia l, kata Perdana Menteri Pham Minh Chinh pada sebuah konferensi yang diadakan di Hanoi pada tanggal 22 Oktober lalu.
Konferensi yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sains dan Teknologi, dan Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam bertujuan untuk menciptakan perubahan substantif dan secara efektif mengimplementasikan rencana untuk memperkuat kerja sama internasional guna membangun dan mengembangkan industri Halal Vietnam pada tahun 2030.
Hal ini adalah acara bertema Halal tingkat nasional pertama dan juga terbesar, yang menarik sekitar 600 peserta daring dan tatap muka, termasuk lebih dari 50 delegasi organisasi internasional, bisnis Halal asing, dan pasar Halal utama.
Pada kesempatan itu PM Chinh memyoroti pentingnya berkontribusi dalam memandu strategi pengembangan industri Halal Vietnam, membuka peluang bisnis dan investasi baru, serta mempromosikan hubungan ekonomi, budaya, dan antarmasyarakat antara Vietnam dan negara-negara lain melalui produk dan layanan Halal.
Dia menekankan bahwa Vietnam memiliki tiga basis penting untuk mengembangkan industri Halal, termasuk stabilitas politik dan sosial, potensi dan skala ekonomi yang terus tumbuh; hubungan luar negeri dan hubungan ekonomi internasional yang terus berkembang.
Disamping itu, keunggulan geografis dan kondisi alam yang menguntungkan untuk bergabung lebih dalam dalam rantai pasokan produk dan layanan Halal, pengalaman dan kontribusi dalam memastikan keamanan pangan global, serta keunggulan untuk pariwisata, termasuk pariwisata Halal.
Komponen kerja sama ekonomi, pilar baru, dan motivasi baru bagi hubungannya dengan negara lain, katanya, seraya mencatat bahwa negara itu memandang Halal sebagai “peluang emas” bagi bisnis Vietnam untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka dan berpartisipasi secara efektif dalam pasar halal global.
Negara ini berkomitmen untuk mengembangkan industri Halal berdasarkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya, khususnya budaya manusia, dan nilai hidup berdampingan secara damai, dengan demikian menunjukkan kontribusi dan rasa tanggung jawabnya terhadap pembangunan dunia yang damai, beragam, dan harmonis untuk pembangunan bersama, lanjutnya.
Untuk memanfaatkan keunggulan Vietnam dan mempromosikan kerja sama internasional dalam industri ini, PM menekankan perlunya mempromosikan kerja sama dalam berbagi informasi dan pengalaman; meningkatkan negosiasi dan penandatanganan perjanjian, nota kesepahaman tentang kerja sama, dan yang terkait dengan pengakuan bersama terkait sertifikasi halal.
Mendorong mitra regional dan internasional untuk berinvestasi dan berbisnis di Vietnam; meningkatkan pengenalan dan promosi produk, layanan, dan merek Halal Vietnam seiring dengan pembukaan pasar; dan mendorong pertukaran antarmasyarakat, kerja sama budaya, dan saling pengertian.
Pada konferensi tersebut, delegasi domestik dan internasional memuji potensi, kekuatan, dan strategi negara tersebut untuk terlibat dalam pasar halal global. Ketua Halal India Mohamed Jinna mengatakan Vietnam menghadapi “masa depan yang cerah” karena mendekati pembukaan pasar Halal global di mana sertifikasi Halal akan berfungsi sebagai pintu gerbang untuk mengakses pasar yang mencakup berbagai industri seperti makanan, farmasi, kosmetik, mode, dan pariwisata.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Institut Standar dan Metrologi untuk Negara-negara Islam (SMIIC) Ihsan Ovut memuji pembangunan ekonomi Vietnam yang dinamis dan potensinya untuk mengembangkan sektor pariwisata Halal
( halal tourism) makanan, kosmetik, dan farmasi.
Sementara itu, Ketua Pusat Akreditasi Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Moteb Al-Mezani menilai bahwa kebijakan Vietnam untuk mengembangkan industri Halal sesuai dengan kepentingan dan orientasi negara-negara Teluk untuk mengembangkan hubungan kerja sama.
Dalam sambutannya, Menteri Sains dan Teknologi Huynh Thanh Dat menekankan komitmen Vietnam untuk melanjutkan kolaborasi dengan mitra internasional guna meningkatkan standarisasi proses produksi dan meningkatkan kapasitas sertifikasi Halal negara tersebut guna memenuhi persyaratan ketat pasar internasional.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) bekerja sama dengan Bank Indonesia dengan bangga menyelenggarakan Konferensi Gaya Hidup Halal Internasional Indonesia ke-6 (INHALIFE) 2024.
Acara yang diselenggarakan pada 31 Oktober 2024 di Jakarta Convention Center ini merupakan bagian dari Festival Ekonomi Syariah Indonesia (ISEF) ke-11 yang diprakarsai oleh Bank Indonesia.
Tahun ini menandai enam tahun penyelengga-raan INHALIFE yang secara konsisten berkontribusi pada perkembangan industri gaya hidup halal di Indonesia dengan mengikuti tren global dan inovasi.
Mengusung tema “Capitalizing the Global Trends: Digitalization and Technology Transformation in the Halal Industry”, INHALIFE 2024 mengumpulkan para pemimpin industri, akademisi, perwakilan pemerintah, dan pakar halal internasional untuk membahas perkembangan terkini dalam digitalisasi dan teknologi di sektor halal.
Tema ini menyoroti perkembangan teknologi yang pesat yang mengubah pasar halal global dan sejalan dengan pesan dari Gubernur Bank Indonesia bahwa setiap tahun, pihaknya selalu menghadirkan kemajuan baru dalam bidang halal dan keuangan syariah.
Chairman IHLC, Sapta Nirwandar, menjelaskan alasan di balik pemilihan tema digitalisasi untuk INHALIFE 2024. “Kami mengangkat tema ini karena digitalisasi merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing industri halal Indonesia di era global.
“Teknologi digital tidak hanya memperluas akses pasar internasional, tetapi juga mempercepat proses sertifikasi dan meningkatkan efisiensi dalam ekosistem halal.”
Sapta juga menambahkan, tahun ini, IHLC bersama DinarStandard, didukung oleh Bappenas, telah meluncurkan Indonesia Digital Islamic Economy Report 2023/24. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi digital Islam Indonesia bernilai US$ 40,57 miliar pada 2022 dan diproyeksikan hampir dua kali lipat menjadi US$ 76,09 miliar pada 2029, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 9,9%.
Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran halal melalui media digital, adopsi teknologi baru seperti Artificial Intelligence, dan kontribusi penting dari unicorn digital di Indonesia, termasuk Kopi Kenangan, Tokopedia dan Blibli.” Data ini menyoroti potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam memperkuat ekonomi digital Islamnya.
Konferensi ini menyambut Haikal Hasan, Ketua Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), sebagai Keynote Speaker yang membahas kebijakan baru dalam sertifikasi halal. Dr. Juda Agung, Deputi Gubernur Bank Indonesia, memberikan sambutan resmi sekaligus membuka acara, menekankan pentingnya transformasi digital untuk pertumbuhan ekonomi.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, menyampaikan strategi utama untuk mendorong digitalisasi industri halal melalui pemanfaatan teknologi.
“Strategi utama yang kami tempuh meliputi penggunaan platform digital e-commerce untuk memasarkan produk yang telah tersertifikasi halal, serta penerapan pembayaran digital, seperti QRIS, yang dapat membuat transaksi pembayaran menjadi lebih mudah dan inklusif,” jelas Juda.
Selain itu, ia menambahkan bahwa pemanfaatan keuangan digital syariah sangat penting untuk mendorong pembiayaan bagi bisnis halal. “Strategi lain yang juga ditempuh adalah pemanfaatan halal traceability guna memperkuat ekosistem jaminan produk halal, memungkinkan penelusuran bahan produk dari sisi hulu hingga ke tangan konsumen.
“Kami juga mendorong sertifikasi digital halal dengan memanfaatkan sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat dan mengefisienkan proses sertifikasi produk,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, sebagai wujud nyata pemanfaatan teknologi digital, BI meresmikan Enterprise Resources Planning (ERP) Sistem Informasi Integrated Farming with Technology Information and Society (Infratani) atau disingkat sebagai Simfratani.
Simfratani merupakan sistem informasi yang digunakan untuk mendukung program pertanian di Indonesia, khususnya dalam pemantauan dan pelaporan kegiatan tanam dan panen.
Sistem ini bertujuan untuk membantu pemetaan kebutuhan dan produksi pangan, serta memberikan data real-time terkait perkembangan pertanian di berbagai wilayah.
Salah satu sorotan utama adalah Special Presentation oleh Rafi-uddin Shikoh, CEO dan Managing Director DinarStandard, yang mengulas mengenai Indonesia Digital Islamic Economy Report dan tren terbaru dari State of Global Islamic Economy Report.
Laporan ini menyoroti peran signifikan Indonesia dalam ekonomi halal global yang saat ini bernilai US$ 40,6 miliar, dengan proyeksi mencapai US$ 76,1 miliar pada tahun 2029.
Konferensi ini terdiri dari tiga sesi utama, yang masing-masing membahas aspek digitalisasi dalam industri halal:
1.Application of Digital Technology in Halal Business
*Special Speaker: Irshad Cader, CEO Globothink Consultants (Australia), yang akan berbagi strategi transformasi digital untuk UMKM di industri halal.
*Panelis lainnya termasuk Assoc. Prof. Dr. Hüseyin Pamukçu dari Turki, Sally Giovanny dari Trusmi Group, dan Adi Purwanto Sujarwadi dari Evermos. Sesi ini akan dimoderatori oleh Indrawan Nugroho, CEO Corporate Innovation Asia.
1.Innovation and Collaboration in the Halal Digital Ecosystem
*Special Speaker: Assoc. Prof. Winai Dahlan, Pendiri Halal Science Center di Universitas Chulalongkorn, Thailand, yang telah menjadi pelopor dalam penelitian halal dan menjadikan Thailand sebagai “Dapur Halal Dunia.”
Prof. Winai juga diakui sebagai salah satu dari “16 Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh” dalam bidang Sains dan Teknologi.
*Panelis lainnya termasuk Prof. Nur Aini Rakhmawati dari Institut Teknologi Surabaya, Ali Fahmi Perwira Negara dari Yayasan Berkah Ilmu Semesta, dan Dr. Kurnadi Gularso, CEO HALIV (PT Halal Digital Nusantara), yang mempresentasikan aplikasi Halal Scan Haliv. Sesi ini dimoderatori oleh Gunawan Yasni.
1.Technology and Smart Food Product
*Panelis termasuk Irfan Aziz, CEO Adeen Solutions (India), Rani Mayasari dari Java Halu Coffee, dan Nilam Sari, CEO PT Nava Sari Kreasi, yang akan membahas integrasi teknologi dalam produksi makanan.
Dr. Syifa Fauzia memoderatori sesi ini fan sebelum acara ditutup, Imam Hartono, Kepala Departemen Keuangan dan Ekonomi Syariah Bank Indonesia, menyampaikan sambutan penutup yang menegaskan pentingnya kolaborasi, inovasi, dan adopsi teknologi dalam memperkuat ekonomi halal global.
INHALIFE 2024 diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para pemangku kepentingan bisnis halal, memperluas peluang pasar melalui platform digital, dan mendorong keselarasan internasional dalam standar halal.
Dengan lebih dari 270 peserta, diantara Kepala kantor Perwakilan Daerah Bank Indonesia, lembaga pemerintah, dan UMKM binaan Bank Indonesia, para akademisi pegiat ekonomi islam dan perbankan syariah, INHALIFE 2024 bertujuan untuk mendorong industri halal Indonesia lebih maju dan memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam ekonomi digital Islam global.