Kemenekraf Kelompokkan Program Unggulan Tahun 2025 dalam Empat Klaster

this formate

Yovie Widianto, Staff khusus Presiden Prabowo Subianto bidang Ekraf ke dua dari kanan dan Menekraf Teuku Riefky Harsya ( paling kanan).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/KaBekraf) Teuku Riefky Harsya mengelompokkan rencana kerja dan program unggulan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenkraf/Bekraf) tahun 2025 dalam empat klaster.

“Klaster 4 ekraf adalah the new engine of growth,” kata Menekraf Riefky dalam Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2024 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan program unggulan Tahun 2025 dalam Empat Klaster di antaranya klaster 1 disain besar pengembangan ekraf, klaster 2 konsolidasi internal kementerian baru, klaster 3 program yang tertuju kepada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif dan klaster 4 dengan menyediakan perlindungan dan komersialisasi Kekayaan Intelektual,

Dalam klaster 1 grand design pengembangan ekraf tercakup fokus program unggulan yakni penyempurnaan regulasi, sinkronisasi lintas Kementerian/Lembaga (K/L) serta kolaborasi lintas K/L dan pelaku industri.

“Kami berkomitmen penuh menggunakan data sebagai basis acuan dalam setiap penyusunan kebijakan (Data Driven Decision Making), sehingga peran lembaga seperti BPS dan BRIN menjadi sangat penting dalam mendukung formulasi kebijakan ekraf,” kata Riefky.

               Menekraf Teuku Riefky Harsya

Pada klaster 2, Kemenekraf secara paralel akan menyiapkan program-program kementerian terkait Reformasi Birokrasi, Pembangunan Kapasitas SDM, serta Penguatan Identitas Kementerian Ekraf, sehingga masyarakat mengetahui peran institusi Kemenekraf/Bekraf dalam pelayanan publik.

Sedangkan klaster 3, program yang tertuju kepada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif.

Program unggulan dalam klaster meliputi program penguatan di semua rantai nilai (value chains) ekraf mulai dari kreasi, produksi, promosi/pemasaran, distribusi, hingga konsumsi untuk setiap subsektor ekraf.

Sedangkan pada klaster 4, ekraf sebagai the new engine of growth bertujuan untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif dengan menyediakan perlindungan dan komersialisasi Kekayaan Intelektual, peningkatan kesejahteraan pelaku ekraf, dan peningkatan infrastruktur daya saing ekraf.

“Hal ini diarahkan agar dapat membuka banyak lapangan pekerjaan, meningkatkan daya saing produk kreatif lokal, dan menjadikan daerah sebagai pusat- pusat ekonomi kreatif di berbagai provinsi,” katanya.

Teuku Riefky Harsa Sampaikan Capaian Kinerja dan Target Kemenekraf Menuju Indonesia Emas 2045

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/Kabekraf), Teuku Riefky Harsya menyampaikan capaian kinerja dan target menuju Indonesia Emas 2045.

“Kemenekraf pada 2025 sampai 2029 memproyeksikan peningkatan nilai ekspor mencapai 5,15 persen dan nilai tambah yang tumbuh sebesar 5,54 persen sehingga pertumbuhan tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif diproyeksikan mencapai 2,49 persen,” ungkapnya didampingi Wamen Irene Umar

Berbicara pada Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT), kemarin, dia menyebutkan bahwa data capaian itu mencerminkan peran strategis ekonomi kreatif dalam mendukung pertumbuhan ekspor, produk domestik bruto, dan menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.

Dengan pemaparannya itu dia memetakan isu strategis, tantangan dan capaian kinerja, realisasi, dan target mendatang sehingga menghasilkan sejumlah strategi yang inovatif dan aktual dalam perkembangan ekraf.

“Besar harapan kami bahwa ini menjadi titik tumpu penguatan perhatian pada ekraf oleh Pemerintah melalui forum JPAT ini menjadi wadah berbagi dan bertukar pikiran dalam menghadapi tantangan serta peluang di masa depan untuk mendukung akselerasi pembangunan ekonomi kreatif menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” ujar Menekraf Riefky.

Menurut dia, sejak 10 tahun lalu, ekonomi kreatif menunjukan tren positif. Dan tahun ini ekraf memberikan nilai ekspor ekonomi kreatif berada pada angka berkisar Rp396,18 triliun hingga Rp401,61 triliun. Hal ini menunjukkan angka yang tumbuh signifikan dari tahun sebelumnya,” kata Menekraf Riefky.

Sementara itu, untuk nilai tambah ekraf pada tahun 2024 mencapai Rp1.502,77 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp1.417,69 triliun.

Penyerapan tenaga kerja ekonomi kreatif diperkirakan ada peningkatan dari jumlah yang sebelumnya 24,92 juta menjadi 26,47 juta orang pada 2024.

Kemenekraf Proyeksikan Tiga Tren Ekonomi Kreatif pada 2025

this formate

Wamenekraf Irene Umar ( kanan) menjelaskan pada pers produk ekraf dari UMKM Indonesia dan tren Ekraf 2025 salah satunya adalah kuliner

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenkraf/Bekraf) memproyeksikan setidaknya terdapat tiga tren ekonomi kreatif pada 2025 yang mencerminkan dinamika inovasi dengan menggabungkan nilai-nilai budaya lokal dan perkembangan teknologi modern untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/Kabekraf) Teuku Riefky Harsya menjabarkan salah satu konsep yang diprediksi akan menjadi tren yaitu “Local is the New Luxury”.

“Menonjolkan kebanggaan terhadap produk dan budaya nusantara dengan standar kualitas dunia,” ujarnya, kemarin.

Selanjutnya, konsep “Experiential Experience Kuliner” yang menawarkan sensasi baru dalam menjelajahi cita rasa kuliner khas nusantara.

Penyanyi lawas Rocker Renny Djajoesman       ( kedua kiri) tengah menikmati wisata kuliner mbok Sirep yang viral di Pasar Ngasem, Jogja pekan lalu bersama rekan-rekannya. 

Kemudian yang ketiga yaitu “Revolusi Mode” yang menekankan pada keberlanjutan dan visi masa depan industri yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan bahan-bahan dari serat alami.

“Keseluruhan tren ini mencerminkan arah ekonomi kreatif yang berorientasi pada inovasi, keberlanjutan, dan relevansi budaya di tengah era digital,” ujar Menekraf Riefky.

Sejumlah tren tersebut diharapkan dapat memenuhi target-target yang akan dicapai Kemenekraf. PDB Ekraf pada 2029 sebesar 8,37 persen sesuai yang tertuang dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional).

Dengan indikator pertumbuhan ekspor ekraf sebesar 5,96 persen, penyerapan tenaga kerja ekraf sebanyak 27.66 juta orang, dan pertumbuhan investasi ekraf sebesar 8,08 persen.

Hadir mendampingi Menekraf, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/ Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar beserta seluruh pelaksana tugas eselon I dan II di lingkungan Kemenekraf.

Maskapai Beroperasi sebagai Pengambil Harga, dengan Kontrol Minimal atas Tarif Tiket Pesawat

this formate

MUMBAI, bisniswisata.co.id: Thomsen, dalam wawancara baru-baru ini, menyoroti bahwa maskapai penerbangan pada dasarnya adalah “pengambil harga” di pasar penerbangan global. Ini berarti mereka tidak memiliki pengaruh terhadap biaya input utama seperti bahan bakar jet atau pesawat terbang, yang dikendalikan oleh beberapa pemain dominan.

“Terlalu sedikit produsen pesawat terbang dan perusahaan minyak. Apa pun pasokan yang kami lihat di hulu, kami adalah pengambil harga, dan di hilir, kami memiliki lingkungan yang sangat kompetitif di mana semua pelanggan dapat melihat semua tarif setiap saat. Jadi, kami selalu bersaing dalam hal harga.”

Dilansir dari https://urbanacres.in/, alam lingkungan yang kompetitif seperti itu, maskapai penerbangan terhimpit dari kedua belah pihak.

Mereka harus membeli bahan baku yang mahal seperti bahan bakar jet, yang saat ini mencapai sekitar 30% dari biaya operasional mereka, namun, karena persaingan yang ketat, mereka tidak dapat dengan bebas menyesuaikan harga tiket tanpa takut kehilangan pelanggan ke alternatif yang lebih murah.

Dinamika ini hanya menyisakan sedikit ruang bagi maskapai penerbangan untuk meningkatkan laba secara signifikan. Menurut studi IATA terkini, meskipun harga tiket pesawat telah naik, namun tidak dapat mengimbangi inflasi, terutama jika dibandingkan dengan melonjaknya biaya bahan bakar jet.

“Harga tiket pesawat belum sepenuhnya mengimbangi inflasi.Biaya bahan bakar jet telah jauh melampaui inflasi konsumen. Meskipun harga tiket lebih tinggi, laba per penumpang tetap relatif rendah, ungkap studi tersebut.

Thomsen lebih lanjut menjelaskan bahwa biaya administrasi, yang merupakan sebagian besar pengeluaran industri penerbangan, juga berkontribusi terhadap margin laba yang tipis.

Jika maskapai penerbangan memperoleh laba yang besar dari harga tiket, laba per penumpang akan jauh lebih tinggi. “Uang tersebut mengalir ke tempat lain,” katanya, menekankan bahwa banyak biaya maskapai penerbangan terkait dengan layanan dan administrasi, bukan untuk mencari laba.

Bagi penumpang, situasi ini berarti bahwa meskipun maskapai penerbangan ingin menurunkan harga tiket, faktor eksternal, termasuk harga bahan bakar dan pesawat, menyulitkan mereka untuk melakukannya.

Sementara industri ini terus tumbuh di India, tantangan struktural ini dapat membuat harga tiket pesawat tidak turun secepat yang diinginkan banyak orang, yang menyoroti realitas rumit di balik biaya perjalanan udara.

Hal ini karena permintaan perjalanan udara terus melonjak di India, jalan menuju harga tiket pesawat yang terjangkau mungkin tidak semudah yang diharapkan banyak penumpang.

Maskapai penerbangan, yang terjebak di antara biaya operasional yang meningkat dan persaingan harga yang ketat, tetap menjadi penerima harga dengan kemampuan terbatas untuk mengendalikan harga mereka.

IATA: Kita Tertinggal dalam Produksi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

this formate

GENEWA, bisniswisata.co.id: Penelitian industri dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah menegaskan kembali kebutuhan mendesak untuk meningkatkan produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) guna mendukung tujuan dekarbonisasi sektor penerbangan.

Dilansir dari https://sustainabilitymag.com/, meskipun SAF berpotensi mencapai 65% dari strategi nol karbon bersih industri pada tahun 2050, IATA menunjukkan bahwa tingkat produksi saat ini jauh di bawah permintaan, yang menunjukkan tantangan signifikan di masa mendatang.

Kondisi produksi SAF di seluruh dunia

Menurut IATA, produksi SAF global mencapai satu juta ton pada tahun 2024, yang merupakan dua kali lipat dari yang diproduksi pada tahun 2023.

Namun, ini masih kurang dari proyeksi 1,5 juta ton. Yang lebih mengkhawatirkan, tingkat produksi ini setara dengan hanya 0,53% dari kebutuhan bahan bakar industri penerbangan.

“Volume SAF meningkat, tetapi sangat lambat,” kata Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA.

Menurut dia, pemerintah mengirimkan sinyal yang beragam kepada perusahaan minyak yang terus menerima subsidi untuk eksplorasi dan produksi minyak dan gas fosil mereka. Dan investor di produsen bahan bakar generasi baru tampaknya menunggu jaminan uang mudah sebelum menggelontorkan dana secara penuh.

Keterbatasan bahan baku, biaya produksi yang tinggi, infrastruktur yang tidak memadai, dan hambatan kebijakan merupakan hambatan utama untuk meningkatkan pasokan SAF.

Ketergantungan industri pada sumber yang terbatas, seperti minyak goreng bekas dan biomassa, hanya memperburuk masalah.

: “Bagian penting dari solusinya adalah membuka bentuk bahan baku baru – karbon limbah yang secara ekonomis dapat diubah menjadi bahan bakar dan, yang terpenting, tersedia secara luas untuk memenuhi permintaan besar industri ini.” kata Conor Madigan, CEO Aether Fuels.

Peran regulasi dan kolaborasi

Studi IATA dan para eksekutif industri sepakat tentang peran penting kebijakan dalam mempercepat adopsi SAF.

Willie mendesak pemerintah untuk menghapus subsidi bahan bakar fosil dan sebagai gantinya menyalurkan dana tersebut ke inisiatif energi terbarukan, dengan mengacu pada keberhasilan transisi energi angin dan matahari.

Lauren Riley, Chief Sustainability Officer di United Airlines, adalah pendukung besar kemitraan kolaboratif. “Meskipun kontribusi kami saat ini sebesar 3% terhadap emisi global mungkin tampak sederhana, kami mengantisipasi persentase ini tumbuh seiring dengan keberhasilan industri lain melakukan dekarbonisasi,” jelasnya.

“Pada dasarnya, kami adalah sektor yang sulit dikurangi dengan opsi terbatas untuk mengurangi dampak lingkungan kami.” tambah Lauren dan menambahkan bahwa peran regulasi telah signifikan dalam upaya penerbangan berkelanjutan.

Undang-Undang Pengurangan Inflasi AS telah membantu memberikan insentif finansial untuk upaya penerbangan berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir, dan Lauren percaya tata kelola positif seperti ini memainkan peran besar dalam kemajuan industri.

JetBlue juga memperjuangkan kolaborasi.

Direktur Pelaksana Keberlanjutan maskapai, Sara Bogdan. Dia mengatakan bahwa meskipun mengambil langkah-langkah yang dapat dilakukan sendiri untuk mengurangi emisi, pihaknya juga menyadari bahwa industri penerbangan tidak dapat mencapai tujuan mereka sendiri dan harus terus mendorong pertumbuhan pasar SAF.

“Terlepas dari pertumbuhan tersebut dan delapan kemitraan terpisah yang telah kami jalin untuk pasokan SAF saat ini dan di masa mendatang, tetap ada kebutuhan untuk SAF yang lebih terjangkau.” kata Sara Bogdan

Upaya industri penerbangan untuk meningkatkan SAF

Maskapai penerbangan dan perusahaan energi telah mengambil langkah maju untuk mengatasi tantangan SAF. Emirates, misalnya, telah bermitra dengan Shell Aviation untuk memasok SAF bagi penerbangannya dari Bandara Heathrow sebagai bagian dari Program Insentif SAF bandara tersebut.

Adel Al Redha, Chief Operations Officer Emirates, adalah salah satu eksekutif di balik inisiatif ini. “Inisiatif SAF London Heathrow juga menunjukkan tindakan yang kredibel untuk mendorong peningkatan dan penggunaan SAF oleh maskapai penerbangan,katanya.

Membangun kemampuan produksi lokal yang didasarkan pada permintaan riil, selain mengembangkan kapasitas di seluruh rantai pasokan untuk memadukan, menangani, dan mendistribusikan SAF secara lebih luas, tapmbahnya.

JetBlue telah berinvestasi di perusahaan teknologi SAF, seperti Aether Fuels, untuk meningkatkan inovasi. “Kami telah mendukung beberapa perusahaan inovatif di bidang bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) yang telah membuat kemajuan signifikan, masing-masing memainkan peran penting dalam berbagai bagian jalur produksi SAF,” kata Amy Burr, Presiden JetBlue Ventures.

Aether Fuels adalah salah satunya, dan dia melihat misi mereka untuk membuka berbagai macam bahan baku SAF sebagai langkah penting menuju penerbangan tanpa emisi bersih.

Upaya ini mencakup eksplorasi teknologi canggih seperti sistem daya-ke-cair, yang mengubah CO₂ menjadi bahan bakar jet menggunakan energi terbarukan, yang menghadirkan jalur yang menjanjikan untuk keberlanjutan jangka panjang.

Apakah bahan bakar penerbangan berkelanjutan akan menjadi pilihan yang kredibel?

Meskipun industri penerbangan menghadapi tantangan monumental dalam memenuhi target dekarbonisasinya, potensi SAF tetap menjadi landasan strateginya.

Namun, peningkatan produksi SAF untuk memenuhi permintaan global akan membutuhkan tingkat inovasi, investasi, dan kerja sama internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Pemerintah dapat mempercepat kemajuan dengan mengurangi subsidi produksi bahan bakar fosil dan menggantinya dengan insentif produksi strategis dan kebijakan yang jelas yang mendukung masa depan yang dibangun di atas energi terbarukan, termasuk SAF,” kata Willie.

Dengan upaya berkelanjutan dari pemerintah, produsen bahan bakar, dan maskapai penerbangan, SAF dapat menjadi alternatif yang layak dan kompetitif untuk bahan bakar fosil.

Upaya kolektif ini bukan hanya tentang masa depan penerbangan tetapi tentang mencapai tujuan keberlanjutan yang lebih luas untuk ekonomi global yang lebih hijau.

CLEAR Luncurkan Pod Verifikasi Identitas EnVe Baru di 12 Bandara di Seluruh AS

this formate

Kios CLEAR di Bandara Internasional San Jose, California. ( Foto: Adobe Stock/MichaelVi)

NEW JERSEY, bisniswisata.co.id : Perusahaan keamanan identitas CLEAR kini telah menambahkan EnVe Pod untuk membantu menyederhanakan verifikasi identitas biometrik di 12 bandara nasional.

Dilansir dari travelpulse.com, EnVe Pods, yang merupakan singkatan dari “pendaftaran dan verifikasi,” lima kali lebih cepat daripada pemindai biometrik lainnya, dengan anggota hanya menghabiskan beberapa detik di pod untuk memverifikasi identitas mereka, tanpa pemindaian sidik jari atau mata.

Pod ini menggunakan teknologi NextGen Identity+ dari CLEAR. EnVe Pods akan diluncurkan di 58 bandara yang menawarkan CLEAR Plus hingga tahun 2025. Saat ini, terdapat 12 pilihan, daftarnya ada di bawah ini ;

• Bandara Internasional Austin-Bergstrom (AUS)
• Bandara Internasional Buffalo Niagara (BUF)
• Bandara Internasional Cincinnati/Kentucky Utara (CVG)
• Bandara Internasional Denver (DEN)
• Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK)
• Bandara Internasional Oakland (OAK)
• Bandara Internasional Orlando (MCO)
• Bandara Internasional Pittsburgh (PIT)
• Bandara Nasional Ronald Reagan Washington (DCA)
• Bandara Internasional Salt Lake City (SLC)
• Bandara Internasional San Francisco (SFO)
• Bandara Internasional San Jose Mineta (SJC)

Menurut perusahaan, EnVe Pods tersedia untuk Anggota dan Duta CLEAR Plus. Pada awal November, perusahaan juga meluncurkan penawaran Ambassador Assist termasuk panduan menuju CLEAR dengan biaya tambahan di sejumlah bandara di seluruh negeri.

“Di CLEAR, kami bersemangat membantu Anggota memenangkan hari perjalanan dari rumah ke gerbang dan kembali lagi,” kata CEO CLEAR Caryn Seidman Becker.

“Lane of the Future dari CLEAR hadir dengan EnVe Pod baru kami yang memberikan verifikasi 5x lebih cepat. Anggota CLEAR Plus kini akan menikmati pengalaman yang lebih cepat dan lebih terprediksi di seluruh negeri.” tegasnya.

IATA Kecam Keputusan Spanyol Mengenai Bagasi Kabin

this formate

GENEWA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengecam keputusan pemerintah Spanyol yang mengesampingkan hukum Eropa, menghapus biaya bagasi kabin bagi penumpang di Spanyol , dan mendenda maskapai penerbangan sebesar 179 juta euro.

Langkah tersebut merusak kebebasan penetapan harga yang merupakan hal mendasar bagi pilihan konsumen dan persaingan, sebuah prinsip yang telah lama dijunjung tinggi oleh Pengadilan Eropa .

Dilansir dari traveldailynews.com , “Ini adalah keputusan yang mengerikan. Jauh dari melindungi kepentingan konsumen, ini adalah tamparan di wajah para pelancong yang menginginkan pilihan.

Melarang semua maskapai mengenakan biaya untuk tas kabin berarti bahwa biaya tersebut akan secara otomatis dimasukkan ke dalam harga semua tiket.

Apa selanjutnya? Memaksa semua tamu hotel membayar sarapan? Atau menagih semua orang untuk membayar penitipan mantel saat mereka membeli tiket konser?

Hukum UE melindungi kebebasan harga karena alasan yang baik. Dan maskapai penerbangan menawarkan berbagai model layanan dari yang lengkap hingga transportasi dasar. Langkah pemerintah Spanyol ini melanggar hukum dan harus dihentikan,” kata Willie Walsh , Direktur Jenderal, IATA.

Anti-Konsumen

Konsumen menginginkan pilihan dan nilai uang. Undang-undang ini akan menghapus keduanya. Jajak pendapat independen terbaru yang ditugaskan oleh IATA dari Savanta terhadap para pelancong udara terkini yang tinggal di Spanyol menunjukkan bahwa 97% merasa puas dengan perjalanan terakhir mereka dan mengonfirmasi preferensi berikut:

• 65% lebih memilih membayar harga tiket pesawat serendah mungkin dan membayar ekstra untuk layanan tambahan apa pun yang dibutuhkan

• 66% setuju bahwa secara umum terdapat transparansi yang cukup mengenai biaya yang dibebankan oleh maskapai penerbangan untuk berbagai pilihan perjalanan

• 78% mengatakan bahwa perjalanan udara memberikan nilai yang baik untuk uang yang dikeluarkan

• 74% mengatakan mereka merasa mendapat informasi lengkap tentang produk/layanan yang mereka beli dari maskapai penerbangan

Temuan ini sejalan dengan survei Eurobarometer terbaru oleh Komisi Eropa yang menunjukkan 89% pelancong di seluruh Eropa mengatakan bahwa mereka mendapat informasi yang baik tentang jatah bagasi mereka, kata IATA.

Adanya berbagai model – dari layanan penuh hingga biaya sangat rendah – merupakan respons terhadap permintaan pasar dan regulasi tidak diperlukan di area ini.

Selain itu, pendapatan tambahan merupakan kunci bagi model bisnis LCC, yang telah menurunkan harga dan memperluas akses perjalanan udara bagi kelompok berpendapatan rendah.

Langkah Melanggar Hukum terhadap Hukum Uni Eropa

Ini bukan pertama kalinya Spanyol mencoba tindakan regulasi dan denda yang salah arah. Pada tahun 2010, pemerintah Spanyol mencoba mengenakan denda dan pembatasan serupa pada maskapai penerbangan berdasarkan Pasal 97 Undang-Undang Spanyol 48/1960 – undang-undang yang diberlakukan saat Spanyol masih diktator fasis.

Tindakan ini dibatalkan oleh Pengadilan Uni Eropa berdasarkan peraturan Uni Eropa yang melindungi kebebasan penetapan harga (Pasal 22 Peraturan No. 1008/2008).

Setelah gagal pada percobaan pertamanya, langkah terbaru ini kembali mencoba untuk menumbangkan kebebasan penetapan harga dengan mengutamakan Hukum Spanyol lainnya (Pasal 47 Hukum Umum Spanyol untuk Pertahanan Konsumen dan Pengguna) yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan penetapan harga yang secara tegas diabadikan dalam hukum Eropa.

“Mereka gagal sekali, dan mereka akan gagal lagi. Konsumen berhak mendapatkan yang lebih baik daripada langkah mundur ini yang mengabaikan realitas wisatawan masa kini. Industri pariwisata Spanyol telah tumbuh hingga mencapai hampir 13% dari PDB negara tersebut, dengan 80% wisatawan datang melalui udara, dan banyak dari mereka yang sadar anggaran.

Tiket pesawat murah telah memainkan peran besar dalam menumbuhkan sektor ekonomi ini. Pemerintah tidak memiliki kompetensi – secara hukum atau praktis – dalam menghilangkan ketersediaan tiket pesawat dasar.

Pengadilan Eropa menyimpulkan hal ini satu dekade lalu. Pengadilan Eropa perlu segera meningkatkan dan mempertahankan hukumnya yang memberikan manfaat bagi konsumen dengan melindungi kebebasan harga,” kata Walsh.

Biaya Tas Kabin

Membawa tas kabin memiliki biaya yang terkait dengannya. Hal ini terutama disebabkan oleh waktu naik pesawat yang lebih lama, akibat waktu yang dibutuhkan penumpang untuk menampung barang bawaan mereka.

Pemanfaatan pesawat merupakan parameter utama profitabilitas maskapai, khususnya pada operasi jarak pendek. Menambahkan waktu tambahan 10-15 menit di darat untuk naik setiap penerbangan dengan cepat mengurangi jumlah penerbangan dan pesawat yang dapat dilakukan setiap hari.

“Setiap orang yang membayar lebih untuk pilihan yang lebih sedikit adalah hasil terburuk yang dapat ditimbulkan oleh suatu peraturan” , kata Walsh.

CellPoint Digital Amankan Pendanaan Senilai US$30 juta Percepat Transformasi Ritel Maskapai Penerbangan Modern

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id:  CellPoint Digital , penyedia solusi pembayaran terkemuka untuk industri penerbangan dan perjalanan serta pelopor global Orkestrasi Pembayaran, telah memperoleh pendanaan sebesar US$30 juta dari Toscafund dan Penta Capital .

Investasi terbaru ini akan mempercepat peluncuran platform orkestrasi pembayaran Offer Order Service Delivery (OOSD) revolusioner milik CellPoint Digital, yang dibuat khusus untuk mendukung transformasi industri Perjalanan menuju ritel penerbangan modern.

Dilansir dari traveldailynews.com, putaran pendanaan terbaru ini menyoroti permintaan yang terus meningkat akan keahlian pembayaran tingkat lanjut dan solusi orkestrasi pembayaran dalam industri perjalanan global, di mana CellPoint Digital berdiri sebagai pemimpin pasar.

Posisi perusahaan dalam sektor perjalanan udara, perhotelan, pelayaran, OTA, dan operator tur yang dinamis diperkuat oleh kemitraannya dengan merek-merek terkemuka, termasuk Virgin Atlantic, Southwest, Sabre, Cebu Pacific , avianca , dan yang terbaru, Riyadh Air, VoePass, dan La Compagnie .

Investasi mendorong ekspansi global dan pertumbuhan pendapatan

Dengan putaran pendanaan ini, CellPoint Digital akan mempercepat ekspansi globalnya untuk memenuhi permintaan layanannya yang terus meningkat di seluruh dunia.

Investasi ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengintensifkan fokusnya dalam mengoptimalkan layanan pembayaran dan pergerakan uang bagi kliennya sekaligus memperluas hub Metode Pembayaran Alternatif (APM) untuk melayani kebutuhan mitranya yang terus meningkat.

Ekspansi ini akan mendukung CellPoint Digital dalam memenuhi kontrak yang telah dimenangkannya, termasuk kemitraan yang baru-baru ini diumumkan dengan Riyadh Air, dan memenuhi kemitraannya yang terus berkembang dengan Sabre.

“Seiring dengan pertumbuhan pesat perusahaan kami dalam beberapa tahun terakhir, kami telah menghadirkan solusi orkestrasi pembayaran pertama di industri kami kepada lebih banyak merek perjalanan di seluruh dunia, mendukung mereka dalam mengoptimalkan proses pembayaran, mendorong profitabilitas, dan meningkatkan pengalaman pelanggan mereka,” kata Kristian Gjerding , CEO CellPoint Digital.

“Investasi terbaru dari mitra berharga kami di Toscafund dan Penta Capital ini tidak hanya mengakui pertumbuhan kami dan permintaan yang terus kuat untuk solusi kami di industri perjalanan, tetapi juga membuka jalan bagi ekspansi global dan kesuksesan yang lebih besar di pasar, yang memposisikan perusahaan untuk skalabilitas jangka panjang.”

Teknologi pembayaran terkemuka untuk ekosistem perjalanan

Solusi orkestrasi pembayaran CellPoint Digital membantu merek perjalanan meningkatkan pendapatan utama dengan meningkatkan rasio otorisasi dan menyediakan pengalaman pembayaran yang lancar dalam jalur pemesanan, menghadirkan metode pembayaran yang ingin digunakan pelanggan, di mana pun mereka berada di dunia.

Platform ini juga memungkinkan pedagang untuk mengadopsi model pembayaran multi-akseptor yang membuka peluang pertumbuhan baru, menggunakan perutean cerdas untuk meminimalkan biaya transaksi (terutama pada transaksi lintas batas), dan menyediakan kontrol dan transparansi di seluruh proses pembayaran.

“CellPoint Digital terus memperkuat posisi pasarnya yang terdepan dan menunjukkan kemampuannya untuk berekspansi secara agresif dan bertanggung jawab,” kata Steven Scott , Mitra Pendiri Penta Capital.

“Karena kami memperkirakan permintaan akan solusi CellPoint Digital akan terus berlanjut di seluruh sektor perjalanan global, kami yakin bahwa investasi ini akan menjadi peluang pertumbuhan yang menarik.”

Solusi Pembayaran yang Dioptimalkan untuk Penawaran/Pesanan Perjalanan Ritel
Platform OOSD baru milik CellPoint Digital merupakan kemajuan signifikan dalam kemampuan perdagangan maskapai penerbangan, yang memungkinkan:

• Transisi mulus dari PSS lama ke arsitektur Penawaran dan Pesanan modern
• Pembuatan dan pengelolaan penawaran berbasis pembayaran di semua saluran
• Orkestrasi pembayaran terpadu yang mendukung beragam metode pembayaran
• Manajemen dan pemenuhan pesanan secara real-time
• Personalisasi berbasis data dalam skala besar

Untuk memenuhi kebutuhan industri perjalanan yang terus berkembang, CellPoint Digital terus meningkatkan kemampuan penawaran dan pemesanan ecerannya, beroperasi dalam lanskap perjalanan yang semakin ditentukan oleh kemampuan distribusi baru (NDC).

Pendekatan inovatif ini, yang diwujudkan dalam platform OOSD, sangat penting dalam mengamankan kemitraan dengan maskapai penerbangan yang berpikiran maju seperti Riyadh Air dan Southwest Airlines, yang memposisikan CellPoint Digital di garis depan solusi perjalanan generasi mendatang.

TIS2024: Masa depan Pariwisata Ditulis dengan AI, Regulasi, dan Personalisasi

this formate

ATHENA, bisniswisata.co.id : Teknologi baru dan, khususnya, Kecerdasan Buatan (AI) telah membawa revolusi sejati, yang juga telah memengaruhi sektor pariwisata.
Namun, penggunaan, tantangan, dan regulasinya merupakan isu yang menimbulkan banyak perdebatan publik.

Tantangan-tantangan ini telah menjadi protagonis Tourism Innovation Summit ( TIS) 2024 di mana para ahli dari industri pariwisata dan Uni Eropa telah membahas dampak AI di sektor pariwisata dan regulasi Eropa terkait penggunaannya.

Selain itu, tantangan dan peluang yang terkait dengan penerapan ruang data pariwisata telah ditangani, dengan menganalisis bagaimana teknologi ini dapat mengubah dan meningkatkan pengalaman perjalanan.

Dilansir dari traveldailynews.com, Dalam pidatonya, Dolores Ordóñez , Wakil Presiden Gaia-X , menekankan pentingnya menciptakan lingkungan tempat data dapat mengalir tanpa perlu danau data besar.

“Kita tidak perlu semua orang membuang data mereka di satu tempat, tetapi harus terhubung melalui perjanjian dan model pertukaran” , Ordóñez menegaskan.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa akses dan kualitas data sangat penting untuk melatih algoritma yang memungkinkan keberlanjutan dan ketahanan yang lebih besar di sektor pariwisata.

Mengenai ruang data, Misa Labarile , dari Komisi Eropa , menyoroti bahwa proyek D3 Hub tengah berupaya menciptakan pusat kompetensi di bidang pariwisata di tingkat Eropa untuk meningkatkan kolaborasi dan akses ke data.

Labarile juga membahas transformasi yang didorong oleh AI, dengan menyebutkan bahwa regulasi tersebut, yang dikenal sebagai ‘AI Act’, tidak bertujuan untuk memperlambat inovasi, tetapi untuk mendorongnya secara aman dan transparan.

“AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan strategi dan bisnis, tetapi kita perlu mengatur penggunaannya untuk memastikan keselamatan dan etika” , jelas Labarile.

John Fitzgibbon , Managing Director NECSTouR , berbicara tentang peran NECSTouR dalam memfasilitasi penggunaan data di kawasan pariwisata.

“Kami terlibat dalam beberapa proyek Eropa, seperti Deploy Tour dan D3 Hub, yang bertujuan untuk menciptakan pusat kompetensi dalam data pariwisata”; sementara Olga Preveden , Project Manager Data & Innovation di Austrian National Tourism Office.

menambahkan bahwa “AI sekarang dapat berkomunikasi dalam bahasa nasional, yang telah mengubah cara destinasi dipromosikan.

Selain itu, ia telah menyoroti bahwa penggunaan chatbot untuk menganalisis pertanyaan dari kelompok sasaran dan adopsi analitik prediktif oleh beberapa perusahaan, memungkinkan mereka untuk memperkirakan tren dan meningkatkan perencanaan regional.

Pengalaman tamu didorong oleh AI

Hari kedua TIS204 juga membahas peran transformatif AI, komputasi spasial, robotika, Internet of Things (IoT) dan realitas campuran, di antara teknologi lainnya, dalam mempersonalisasi pengalaman tamu di industri perhotelan.

Inovasi-inovasi ini memungkinkan karyawan hotel untuk memberikan pengalaman yang sangat personal, meningkatkan kepuasan pelanggan, pendapatan per tamu dan loyalitas. Dalam hal ini, Raúl Álvarez , Wakil Presiden Global Digital di Radisson Hotel Group menyoroti kekuatan pengalaman imersif.

“Selama pandemi, kami menciptakan ‘perjalanan imersif’ untuk membantu tamu memvisualisasikan pengalaman mereka sebelum tiba di hotel, memungkinkan mereka untuk menjelajahi fasilitas dan memilih kamar mereka”.

Alvarez juga menekankan bahwa industri belum mengambil keuntungan penuh dari data yang dikumpulkan untuk mempersonalisasi pengalaman tamu, sesuatu yang menunjukkan masih ada beberapa cara yang harus ditempuh.

Sementara itu, Inmaculada Martínez-Ruiz , Direktur Global Customer Experience di ILUNION Hotels , terkejut dengan kecepatan perkembangan AI.

“Masih banyak yang harus dilakukan. AI akan membawa pertumbuhan yang cepat, tetapi kita harus menemukan cara untuk memanfaatkannya .”

Dia juga menyoroti perlunya membuat teknologi lebih inklusif, karena “ada 1,2 miliar penyandang disabilitas di dunia, dan jika kita tidak mempertimbangkan kebutuhan mereka, teknologi kita akan bias, dan kita akan meninggalkan banyak orang .

Sementara itu, Javier Álvarez , Direktur TI di Vueling, menekankan dampak AI pada pengalaman pelanggan. “ AI generatif telah memungkinkan asisten virtual kami untuk memecahkan masalah umum pelanggan, meningkatkan pengalaman mereka dan mengurangi biaya operasional ”.

Selain itu, ia telah menyoroti pentingnya identitas digital, karena “jika kita dapat membayar dengan ponsel kita, mengapa kita tidak dapat mengelola seluruh proses di bandara dengan identitas digital kita?” .

Dalam hal ini, Suzanna Chiu , Direktur Amadeus Ventures di Amadeus IT Group , menyoroti relevansi teknologi nirsentuh dan kemajuan dalam biometrik.

“Kami telah mengurangi penggunaan kertas di kamar hotel dan menerapkan pembayaran nirsentuh. Di bandara, wisatawan dapat mendaftarkan data biometrik mereka sebelum tiba, yang menyederhanakan seluruh proses perjalanan”.

Mengenai masa depan, para ahli memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, kita akan menemukan diri kita dengan pengalaman perjalanan yang sepenuhnya digital, dengan AI dan teknologi baru yang memimpin perubahan ini.

Kolaborasi antara berbagai pelaku industri akan menjadi kunci untuk menciptakan pengalaman yang lebih lancar dan personal yang juga dapat diakses oleh semua pelancong, terlepas dari kemampuan mereka.

Abu Dhabi Dapat Sertifikasi QUEST UN Tourism untuk Keunggulan Manajemen Destinasi

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: UN Tourism telah memberikan pengakuan kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi (DCT-Abu Dhabi) atas keunggulannya dalam manajemen destinasi.

Abu Dhabi menjadi Organisasi Manajemen Destinasi (DMO) keenam di dunia dan yang pertama di kawasan Timur Tengah yang menerima sertifikasi UN Tourism QUEST, sebagai bukti dedikasi berkelanjutannya terhadap keunggulan dalam tata kelola dan komitmen terhadap keberlanjutan.

DCT-Abu Dhabi memperoleh skor yang sangat tinggi dalam tiga bidang penilaian sertifikasi setelah menerima 120 jam sesi pengembangan kapasitas yang disampaikan oleh UN Tourism Academy.

Sesinya mencakup kursus tentang: Pariwisata Berkelanjutan; Tata Kelola untuk Pariwisata Berkelanjutan; Kualitas dan Daya Saing; dan Praktik Pariwisata Berkelanjutan untuk Manajemen Destinasi.

Kursus-kursus ini dilengkapi dengan delapan sesi pelatihan tatap muka bagi pejabat DCT–Abu Dhabi untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang kriteria dan indikator penilaian QUEST Pariwisata PBB.

Sertifikasi QUEST merupakan contoh karya utama Pariwisata PBB di bidang standar pariwisata untuk meningkatkan manajemen dan tata kelola destinasi serta menyoroti pentingnya dan keberhasilan kemitraan publik-swasta-masyarakat.

Begitu juga untuk kerja sama horizontal dan vertikal dalam tata kelola kelembagaan. Sertifikasi ini berlaku selama empat tahun dengan kemungkinan perpanjangan.