EVENT LAPORAN PERJALANAN

Menyusuri Sungai Amandit, Menikmati Aktivitas Balanting Paring

Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia  (ASPPI) DPD Kalimantan Selatan menyelenggarakan South Kalimantan.( SUKA) Travel Mart pada 21 – 24 Oktober 2021 bersama Dinas Pariwisata Pemprov Kalsel di dukung industri wisata lainnya. Acara diikuti 34 buyer dari 17 Provinsi dan seller dari Kalsel. Berikut laporan perjalanan bagian ke tiga

KANDANGAN, Kalsel, bisniswisata.co.id: Tengah malam baru tiba dan langsung check in di Mountain Meratus Resort dengan mata mengantuk menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang siap berarung jeram meski sudah tergolong warga senior dan berusia 62 tahun.

Jam menunjukkan pukul 1.30 WIT tengah malam. Padahal jadwal untuk balanting paring atau bambu rafting pukul 8.00 pagi. Hanya tersisa waktu lima jam untuk mandi, sholat dan tidur. Untung ada air panas untuk mandi di hotel yang letaknya persis di tepi sungai Amandit ini.

Penginapan ini persis di tepi sungai Amandit, tempat start bambu rafting yang berada di Loksado, desa Loklahung, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. 

Tempat ini memang daerah pegunungan yang dari Banjar Baru saja butuh perjalanan selama lima jam untuk mencapainya. Entah karena kami berangkat setelah makan malam di sebuah resto di Banjar Baru sehingga kecepatan kendaraan memang berbeda di siang hari.

Untungnya selama perjalanan ke Loksado sebagian besar peserta banyak yang bisa tidur dengan posisi duduk. Sementara saya sendiri meski tak bisa tidur nyenyak bisa diselingi membaca artikel-artikel yang sudah diunduh di handphone

Alhamdulilah pandangan ke luar juga saya halangi dengan menutupi  korden jendela bis karena kami blusukan masuk pedalaman dan seram lihat perjalanan berbelok-belok di daerah pegunungan yang jarang jumpa rumah penduduk. Alhasil yang terang memang cuma bagian dalam bus. 

Makanya begitu tiba di Mountain Meratus Resort ini rasanya lega. Apalagi pembagian kamar tergolong cepat. Saya dan mbak Dien Ishartini, Wapemred bisniswisata.co.id dapat kamar Deluxe tak jauh dari ruang Reception. Sementara yang muda-muda mendorong koper-koper di atas jalan berbatu.

Konon di penginapan yang didominasi dengan kayu dan bambu ini menyediakan tiga tipe kamar, yaitu Deluxe Room, Super Deluxe Room, dan Villa House yang semuanya didukung fasilitas yang masih prima.

Masuk kamar dan melihat fasilitas twin bed seperti konsep Jepang dengan beralaskan tikar bambu, didukung dengan kipas angin, cermin, dan meja rias. Sementara, kamar mandi mengusung konsep kamar mandi terbuka dengan shower air dingin/ panas.

Berbagai fasilitas fi Montain Meratus Resort

Gara-gara konsep kamar mandi terbuka, saya bisa bersahut-sahutan dengan tetangga kamar yang masih serombongan dan cekakak cekikik takut buang anginpun terdengar sampai ke sebelah.

Masuk kamar lagi, mbak Dien sudah tertidur lelap selesai mandi dan sholat. Nyamannya rebahan di kasur empuk menjadi suatu kemewahan tersendiri apalagi setelah duduk berjam-jam di bis wisata. Akhirnya tertidur dan pagipun menjelang. Nyanyian burung-burung terdengar menjadi nikmat di telinga.

Letak kamar yang berseberangan dengan ruang makan terbuka membuat  saya mudah mengintip apakah sudah ada teman yang muncul sarapan pagi.

Saya keluar dari ruangan dan sejenak bercengkrama dengan teman lainnya sambil menyeruput kopi dan sarapan pagi. Sementara teman sekamar pilih bangun tidur langsung mandi. Persis seperti lirik lagu saat SD, ” Bangun tidur kuterus mandi,tidak lupa menggosok gigi,” hi hi hi….

Alhamdulilah saya terbangun tadi saat mbak Dien tengah menyelesaikan sholat subuhnya sehingga selesai sholat saya langsung keluar kamar untuk sarapan. Lapaar…..

Wow… selesai makan baru saya memperhatikan keindahan hutan alami disekeliling resort, barisan kamar-kamar penginapan yang seluruh arsitekturnya menggunakan kayu sebagai bahan utama, membuat kita paham akan konsep yang tawarkan, green tourism sesuai tren dunia pasca COVID-19 ini. 

Apalagi dari ruang  makan sudah terlihat jelas tempat start untuk memulai bambu rafting. Deretan bambu sudah menanti plus tumpukan jaket pelampung di pinggir sungai. 

Melihat kesiapan panitia seakan memberikan energi baru dan sudah terbayang keseruan dan petualangan di hari kedua kegiatan SUKA Travel Mart 2021 ini. Maklum aktivitas rombongan di hari pertama seakan tidak ada hentinya.

Petualangan seru

Ternyata rakit bambunya cukup panjang terdiri dari susunan bambu utuh tanpa sambungan. Lebar sekitar dua meter panjangnya 8 meteran lebih membuat saya takjub bagusnya pohon bambu dari pegunungan Meratus ini.

Setiap rakit dikendalikan oleh Acil joki yang selama tiga jam memandu kami menyusuri Sungai Amandit yang penuh bebatuan. Saya serakit dengan Ifana dari Depok dan mbak Dien Ishartini dari Semarang. Tentunya masing-masing sudah siap mengenakan pelampung

Menjajal sendiri mengemudikan rakit berbekal galah panjang.                                                   

Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan dan foto bersama dengan memegang  banner SUKA Travel Mart yang dibentang.

Penumpang duduk di bagian tengah sedangkan acil joki bernama Arul berada di paling depan dengan tongkat bambu yang panjang di tangan dan sebuah tongkat lainnya diletakkan di bawah kakinya.

Kami masing-masing mengenakan stelan baju renang lengan panjang untuk basah-basahan di sungai. Anggap saja lagi nyebur di kolam renang Cilandak Town Square ( Citos)  Jakarta tempat saya sehari-hari latihan. Selain juga untuk melindungi kulit tubuh dari sengatan matahari selama tiga jam perjalanan.

” Serius nih acil perjalanan kita selama tiga jam ?,” tanya saya dibalas dengan anggukan acil Arul sambil tertawa melihat wajah saya yang bingung.

Merasakan sensasi menyusuri Sungai Amandit yang berarus deras dengan bambu rafting alias arung jeram selalu memikat wisatawan untuk datang ke Loksado. Begitu pula rombongan buyer yang datang dari 17 provinsi ini antusias saling memotret rakit temannya.

Sesekali terdengar teriakan riang dan sayapun mulai duduk tenang menga-mati Acil joki bekerja. Masya Allah tiba-tiba si acil melompat, berjalan di atas rakit mundur, maju bahkan kadang dia bergantungan di atas tongkat bambunya dengan lincah sambil terus meluncur dengan stabil. 

Setelah satu jam perjalanan saya mulai bosan tapi rakit tidak bisa sembarangan berhenti. Ibarat jalan tol belum ada tanda-tanda ada rest area, membuat saya menyibukkan diri dengan bershalawat sambil memperhatikan lebatnya pepohonan hutan di kiri-kanan sungai. Apalagi kami berarung jeram di hari Jumat, zikir dan shalawat dilantunkan untuk Nabi Muhammad SAW.

Dayak Meratus 

Tiba-tiba jadi ingat pelajaran di bangku sekolah soal suku dayak Meratus. Sekumpulan sub-suku Dayak mendiami sepanjang kawasan pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, sekitar kawasan inikah ?

Acil kembali mengangguk, membuat saya makin penasaran jadinya karena orang  Banjar Hulu Sungai menyebut suku Dayak Meratus dengan sebutan Urang Bukit (Dayak Bukit/Buguet)Suku Bukit juga dinamakan Ukit, Buket, Bukat atau Bukut. 

Suku Bukit atau suku Dayak Bukit terdapat di beberapa kecamatan yang terletak di pegunungan Meratus pada kabupaten Banjar, kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, kabupaten Tapin, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru.

Nah karena Loksado berada di Hulu Sungai Selatan maka mata saya jadi mengawasi pepohonan siapa tahu ada orang Dayak yang sedang berladang.

Bukan suku Dayaknya saja yang jadi daya tarik wisata, rafting di Loksado memang sudah banyak dikenal para pelancong yang tak hanya dari wilayah Kalimantan Selatan, namun sejumlah daerah di Indonesia, bahkan turis mancanegara juga kerap datang.

Jernihnya aliran sungai, ditambah aroma kebersamaan diiringi derasnya aliran sungai Amandit membuat perjalanan ini menjadi petualangan seru. Bisa berada di Sungai Amandit yang membelah hutan sudah merupakan pengalaman luar biasa buat Andung Hilda ini. Alhamdulilah Ya Rabb atas kesempatan ini.

Perhentian pertama akhirnya tiba ketika melihat adik-adik mahasiswa yang terlibat kepanitiaan mendokumentasikan perjalanan ini dengan drone dan kamera berhenti di bebatuan. Mengambil momen penting melalui jeram yang membuat acil dan penumpang  harus waspada.

Alhamdulilah setelah semua rakit bisa melampaui jeram jeram yang menegangkan akhirnya seluruh rakit berkumpul di sudut sungai yang airnya tenang. Jangan tanya kelakuan para peserta yang langsung nyebur dan berenang.

Mereka yang punya akun media sosial seperti instagram, Tik Tok dan lainnya langsung membuat konten. Andung Hilda secara naluriah langsung wawancara Acil joki. Sementara perwakilan CNN di Banjarmasin, pak Mohammad Risanta juga mewawancarain andung ini. Mahasiswa juga ikut menjadikan saya nara sumber untuk vlog mereka.

Sayang hasil wawancara saya dengan Acil joki  kategori off the record. Saya cuma berharap Pemprov dan Pemkab memperhatikan nasib para Acil joki sebagai ujung tombak pariwisata setempat. Di masa pandemi COVID-19 ini semua kehidupan manusia termasuk di pelosok negri memang berat.

Berendam dan membuat konten TikTok sambil menpromosikan bambu rafting Loksado

 

Mengisi ‘ bahan bakar’ tubuh

Setelah dua jam berada di atas rakit dan mendengarkan nyanyian burung-burung yang berpadu dengan ayunan daun-daunan tersapu angin di sepanjang Sungai Amandit, di kejauhan terlihat warung di pinggir sungai dan sudah ada beberapa rakit yang berhenti.

” Teh panas manis….teh panas manis,” teriak saya pada teman -teman yang sudah ‘mendarat’ dan menikmati pisang goreng, kopi atau teh panas manis yang saya dambakan.

Sekian lama menantang nyali,  beradu adrenaline di sungai Amandit dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu pastinya lelah dan lapar banget. Kaki yang beralaskan sendal jepit dan terendam air selama perjalanan melengkapi rasa dingin yang menyerang tubuh. 

Pastinya memang sudah waktunya tubuh ini diberi bahan bakar lagi berupa asupan makanan dan minuman panas. Akhirnya begitu terlihat ada bungkusan susu coklat favorit keluarga kami berwarna hijau menggantung di warung, teh panas manis tidak jadi saya pesan.

Susu coklat lebih berenergi kali ya sehingga saya langsung membantu acil pemilik warung membuat sendiri menuman karena dia sedang sibuk melayani 30 an peserta rafting rombongan kami.

Acil Arul berkumpul bersama sesama joki dan beristirahat sejenak juga. Mereka bicara dalam bahasa Banjar yang sebagian besar saya pahami mengingat biasa berkumpul dengan keluarga Risty, adik iparku yang bersuamikan Fairid Rusdi, kontraktor asal Barabai, Kalsel ini.

Rakit yang menjadi sumber nafkah mereka sehari-hari atau disebut balanting paring seperti DNA dalam darah mereka. Jauh sebelum COVID -19 terutama di momen libur sekolah misalnya, kunjungan wisatawan sangat ramai. 

Bahkan, konon stok perahu bambu yang tersedia tidak mencukupi. Tak sedikit pula pengunjung yang menyiapkan perahu karet sendiri untuk tetap bisa melakukan arung jeram.

“Tiap akhir pekan mulai Jumat hingga Minggu sudah banyak wisatawan lokal yang datang ke Loksado untuk bambu rafting serelah level pandemi COVID -19 makin turun” kata salah seorang Acil joki.

Puncaknya keramain pengunjung  terjadi sejak satu minggu sebelum Natal dan Tahun Baru. Pengunjung biasanya menyempatkan untuk menginap satu – dua malam.

Ada sekitar 80 perahu bambu milik masyarakat yang tersedia untuk bamboo rafting, setiap harinya selalu habis disewa dengan tarif Rp330.000 untuk tiga sampai empat orang dengan durasi perjalanan 2 hingga 3 jam tergantung derasnya arus, beber Acil.

Usai bambu rafting naik colt pick-up kembali ke hotel

Etape terakhir

” Tenang saja kurang dari satu jam atau setengah jam lagi kita akan  sampai di dermaga. Kalau sudah selesai penumpang naik colt pick-up kembali ke Mountain Meratus Resort. Rakit-rakit juga di bongkar dan para joki juga kembali dengan colt pick up ke resort tempat kami memulai perjalanan,” jelas Acil Arul.

Menyusuri  etape terakhir di Sungai Amandit, sudah banyak terlihat rumah-rumah tradisional. Namun pepohonan di sekitar sungai masih lebat. Sepanjang jalan, mbak Dien Ishartini yang menjadi ‘kamus’ berjalan untuk tempat saya bertanya soal jenis-jenis pohon yang ada.

Maklum selain pernah berdinas di Kalsel periode 1987-1993, Komisaris Besar Polisi ini familiar dengan lebatnya hutan khas Kalimantan yang jadi bagian dari Bukit Meratus. 

Baru melihat pohon dari jauh saja mbak Dien sudah paham bahwa itu pohon Kayu Manis. Pantesan banyak ahli tanaman dunia yang mampir ke Kalimantan buat penelitian, hasil rempah-rempah yang dicari penjajah juga tersedia di sepanjang sungai ini.

Akhirnya perjalanan panjang belasan kilometer dengan waktu tiga jam setengah termasuk istirahat di warung berakhir. 

Kami naik colt pic -up beramai-ramai kembali ke resort. Di perjalanan pulang cerita suku Dayak Meratus dan jalanan kecil meliuk-liuk masih jadi topik bahasan. Au Revoir alias  Good Bye Amandit .  

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)