DAERAH LAPORAN PERJALANAN

Melongok Kiram Park dengan Fasilitas Masjid Bambu yang Artistik

Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia  (ASPPI) DPD Kalimantan Selatan menyelenggarakan South Kalimantan.( SUKA) Travel Mart pada 21 – 24 Oktober 2021 bersama Dinas Pariwisata Pemprov Kalsel di dukung industri wisata lainnya. Acara diikuti 34 buyer dari 17 Provinsi dan seller dari Kalsel. Berikut laporan perjalanan bagian pertama 

BANJAR BARU, bisniswisata.co.id: Cuaca mendung saat dua bus wisata berisi rombongan buyer peserta South Kalimantan ( SUKA) Travel Mart 2021 tiba di kawasan Kiram Park, nama yang diambil dari nama desa di mana objek wisata tersebut berada, yakni, Desa Kiram.

Wilayahnya masuk daerah Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari ibukota kabupaten, yakni Martapura yang dikenal sebagai kota intan atau kota santri.

Provinsi Kalimantan Selatan kini memiliki objek wisata alam yang indah dengan pemandangan perbukitan sebagai latar utamanya, diberi nama Kiram Park. Kawasan ini dipoles oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan Sahbirin Noor atau yang lebih akrab disapa Paman Birin menjadi tempat wisata alam yang luas.

Bis langsung merapat ke sebuah aula pertemuan terbuka yang cukup besar terbuat dan berstruktur dari kayu alami. Guide langsung menunjuk ke arah bukit bertuliskan ‘Welcome to Kiram’ di antara hijaunya perbukitan. Disini, wisatawan disajikan suasana khas pegunungan dengan hawa sejuk dan segar.

Hujan gerimis tak menghentikan langkah rombongan menuju rumah panggung Banjar di seberang aula pertemuan untuk berfoto ria dengan spanduk besar dan melambaikan tangan ke arah drone yang berputar-putar mengabadikan momen kedatangan kami.

Puas berfoto ria, kami kembali naik bis sebentar dan berhenti di sebuah mesjid yang terbuat dari bambu masih di kawasan wisata ini. Namanya Masjid Bambu KH Abdul Qadir Hasan,  masjid pertama di Kalsel yang bahan ornamennya seluruhnya terbuat dari bambu.

Mesjid bambu di Kiram Park, tak sekedar fasikitas ibadah tapi juga menjadi daya tarik wisata karena keunikan bahannya.

Hal yang membuat unik dari masjid ini ialah bangunannya yang berbentuk jukung atau perahu apabila dilihat dari samping. Selain itu, konsep pembangunan  bagian atasnya mengambil arsitektur masjid tertua di Kalimantan Selatan, yakni Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin.

Bangunan masjid yang menonjolkan pengulangan bentuk atap dengan bentuk dasar segitiga dan bentuk pohon hayat atau pohon kehidupan,  kian eksotik dengan interior dari potongan-potongan maupun susunan bambu.

Desainnya diperlombakan sehingga akhirnya dibuat sesuai dengan pemenang sayembara dan menjadi fasilitas pelengkap kawasan wisata Kiram ini dengan biaya Rp 11,9 miliar di atas tanah sekuas 7900 meter persegi dan selesai pada Desember 2020.

Masjid bambu sendiri dibangun dua lantai. Lantai atas merupakan ruang utama yang digunakan untuk shalat. Lantai atas ini bisa menampung sekitar 250 orang. Sementara lantai bawah terdapat tempat wudhu dan toilet.

Bangunannya  yang dibuat dari pohon bambu langka dari pegunungan Meratus ini memiliki kesan unik dan artistik. Tak heran para buyer langsung berham-buran mengelilingi semua sudut mesjid.  Ada yg nge vlog, ada yang shalat sunat pokoknya semua sibuk termasuk ke toilet.

Bahan baku utamanya dari susunan bambu menjadi daya tarik utama. Widhi, misalnya, jadi sangat kreatif mengambil foto-foto yang instagramable. Pemilik travel agent dari Lampung ini punya channel YouTube juga sehingga cukup sibuk dengan memilih sudut-sudut mesjid untuk content.

Saya juga memilih duduk di tangga pintu masuk ruangan sholat sambil asyik menikmati aneka bambu ukuran besar dan kecil menjadi tangga, tiang, ventilasi bahkan di susun menjadi dinding.

 

Semua bagian interior Masjid Bambu KH Abdul Qadir Hasan, nama ulama terkenal di Kalsel ini terdiri dari bambu dari pegubungan Meratus setempat. 

Rekan Masrura Ram Idjal yang menyabet gelar doktor dari Universitas Oxford Brookes, Inggris dan penelitiannya di bidang Desa Wisata yang juga menjadi program kerja saya sebagai Ketua Bidang Pariwisata di Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) Pusat menemani dilantai atas.

Karena pengunjungnya hanya kami maka saya tidak menghalangi jalan. Meski baru kenal dan jumpa pertama di event ini dengan Masrura, kami bisa langsung akrab. Dia teliti dan berkeliling sambil  mengagumi bagian  atap masjid termasuk pencahayaan yang jatuh dan bergantian mengajak foto bersama karena setiap sudut mesjid ini artistik.

Teman-teman lainnya bergantian memotret bangunan mesjid secara utuh atau bergantian foto bersama dengan latar belakang mesjid. Keberadaan mesjid ini bukan sekedar fasilitas ibadah tetapi juga jadi daya tarik sendiri melengkapi destinasi green tourism yang menjadi trend dunia saat ini. 

Sebagai sebuah kawasan wisata baru di Kalsel, Kiram Park juga dilengkapi tempat-tempat penginapan berbentuk villa. Terlebih juga di sana ada sebuah lapangan rumput luas di lereng perbukitan.

Di bagian perbukitan yang cukup tinggi, dibangun pula sebuah bangunan terbuka dari kayu Ulin, di sana pengunjung bisa melihat pemandangan alam dan hutan luas.

Bahkan di puncak pegunungan yang lebih tinggi lagi, Paman Birin membangun sebuah replika kapal yang diberinya nama “Kapal Nabi Nuh”.

Banyak lagi fasilitas yang dibangun di objek wisata tersebut, karena lokasinya sangat luas, hingga membuat petualangan berwisata di sana tidak membosankan. Sayangnya kani tidak memiliki waktu melongok fasilitas lainnya.

Rombongan hanya punya waktu terbatas dan langsung menuju Danau Riam Kanan dan masih akan naik ke Matang Keladan ? konon saingannya Raja Ampat Papua. Penasarankan ? yuk ah…lanjuttt……

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)