Pantai Bali yang penuh sesak menyoroti tantangan pariwisata berlebihan di Asia Tenggara karena jumlah pengunjung melonjak melampaui tingkat sebelum pandemi. (Foto: Unsplash/Lachlan Rennie)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemulihan pariwisata di kawasan ini mendorong perekonomian, tetapi peningkatan jumlah pengunjung menciptakan tekanan lingkungan dan sosial yang baru.
Pemulihan pariwisata pasca-pandemi di Asia Tenggara telah melampaui ekspektasi, tetapi kembalinya wisatawan juga membawa tantangan baru, seperti pariwisata berlebihan.
Selama pandemi COVID-19, Asia Tenggara adalah kawasan yang mengalami penurunan pariwisata paling tajam di dunia, namun berhasil melakukan pemulihan yang luar biasa.
Seiring dibukanya kembali perbatasan dan operasi penerbangan kembali normal, arus wisatawan internasional pulih dengan cepat dan mulai meningkat secara signifikan lagi.
Dilansir dari thesoutheastasiadesk.com,
menurut data ASEAN, pariwisata menyumbang sekitar 12,1% dari PDB Asia Tenggara dan mendukung hingga sekitar 42 juta pekerjaan sebelum pandemi. Ini menyoroti pentingnya sektor pariwisata bagi perekonomian regional.
Namun, meskipun sektor pariwisata telah pulih dengan cepat dan mendorong pertumbuhan serta penciptaan lapangan kerja, beberapa destinasi populer di Asia Tenggara mulai menghadapi dampak negatif dari pertumbuhan ini.
Dari Bali dan Phuket hingga Boracay dan Teluk Ha Long, terdapat kekhawatiran tentang kepadatan pengunjung, degradasi lingkungan, dan beban yang ditimbulkan pariwisata terhadap masyarakat setempat.
Didukung oleh setengah juta wisatawan, peringkat terbaru Condé Nast menunjukkan bahwa Asia Tenggara tidak hanya pulih—tetapi juga menulis ulang aturan perjalanan. Penasaran pulau-pulau Asia Tenggara mana yang menduduki puncak tangga lagu perjalanan global?
Perahu-perahu wisata memenuhi perairan Teluk Ha Long, mencerminkan pemulihan pariwisata yang kuat di Asia Tenggara. (Foto: Unsplash/Falco Negenman)
Mengapa Ini Menjadi Perhatian Kita
Pemulihan pariwisata yang pesat ini membawa tekanan tertentu. Pariwisata di Asia Tenggara tumbuh dengan sangat cepat, dengan kedatangan wisatawan internasional meningkat lebih dari 150% dari tahun ke tahun pada tahun 2023.
Destinasi populer seperti Bali, Phuket, Boracay, dan Ha Long Bay telah mengalami lonjakan pengunjung yang tajam, bahkan melebihi tingkat pra-pandemi. Di Bali, muncul kekhawatiran mengenai pengelolaan sampah, kemacetan lalu lintas, dan tekanan pada sumber daya air.
Boracay adalah salah satu destinasi yang sering disebut-sebut menderita akibat pariwisata berlebihan menyusul degradasi lingkungan. Hal ini akhirnya menyebabkan pihak berwenang untuk sementara menutup akses ke pulau tersebut untuk rehabilitasi.
Pariwisata berlebihan semakin dipandang sebagai masalah sosial, bukan hanya masalah lingkungan. Hal ini karena penduduk setempat juga merasakan dampaknya, seperti kenaikan harga sewa, ruang publik yang terlalu padat, dan meningkatnya ketegangan dengan pengunjung.
Singkatnya, pemulihan pariwisata yang pesat di Asia Tenggara telah menciptakan tantangan baru dalam memastikan destinasi tetap layak huni bagi penduduk lokal sekaligus mengakomodasi jumlah pengunjung yang terus meningkat.

Platform seperti TikTok dan Instagram telah mempermudah wisatawan untuk menemukan destinasi baru, tetapi popularitas viral juga dapat memberikan tekanan tambahan pada komunitas dan infrastruktur lokal. (Foto: Unsplash/Plann)
Mengapa Sekarang?
Permintaan perjalanan melonjak setelah pandemi: Permintaan perjalanan yang tertahan pasca-pandemi telah mendorong jutaan wisatawan kembali ke pariwisata internasional.
Akibatnya, banyak destinasi wisata pulih lebih cepat dari yang diperkirakan, dengan jumlah pengunjung mendekati tingkat pra-pandemi.
Perjalanan menjadi lebih terjangkau: Perluasan maskapai penerbangan berbiaya rendah telah membuat perjalanan regional lebih murah dan mudah, memungkinkan lebih banyak wisatawan untuk mengunjungi destinasi populer beberapa kali dalam setahun.
Media sosial mengubah perilaku perjalanan: Platform seperti TikTok dan Instagram dapat mengubah permata tersembunyi menjadi objek wisata viral dalam semalam.
Akibatnya, pengunjung berbondong – bondong dalam jumlah yang lebih besar ke pantai yang sama, tempat-tempat yang Instagramable, kafe, dan situs budaya, sehingga memberikan tekanan terkonsentrasi pada infrastruktur lokal.
Nomad digital menjadi tren utama: Tempat-tempat seperti Bali dan Chiang Mai menarik ekspatriat jangka panjang selain wisatawan jangka pendek, yang berkontribusi pada kenaikan harga sewa dan peningkatan permintaan akan layanan dan utilitas publik.

Sampah yang terperangkap di antara vegetasi pantai menjadi pengingat akan tantangan lingkungan yang dapat menyertai pertumbuhan pariwisata yang pesat. (Foto Unsplash/Bernd Dittrich)
Apa yang Dipertaruhkan
Dampak pariwisata berlebihan melampaui sekadar destinasi wisata yang terlalu ramai:
*Lingkungan
*Peningkatan produksi limbah dan polusi.
*Peningkatan permintaan air dan sumber daya alam lainnya.
*Kerusakan terumbu karang, pantai, dan ekosistem laut.
Maya Bay di Thailand dan Boracay di Filipina sama-sama membutuhkan intervensi besar-besaran setelah degradasi lingkungan yang terkait dengan pariwisata massal.
*Sosial
*Meningkatnya biaya perumahan dan sewa di daerah wisata populer.
*Ruang publik dan infrastruktur yang terlalu ramai.
*Tekanan pada budaya lokal dan situs warisan budaya.
*Meningkatnya ketegangan antara penduduk lokal dan pengunjung terkait perilaku, penggunaan sumber daya, dan kualitas hidup.
Di Bali, misalnya, kekhawatiran tentang perilaku wisatawan yang tidak pantas telah mendorong pihak berwenang untuk memberlakukan pedoman dan peraturan yang lebih ketat untuk melindungi budaya lokal dan menjaga ketertiban umum.
*Ekonomi
*Pengalaman pengunjung dapat menurun karena destinasi wisata menjadi lebih ramai.
*Berita negatif dapat merusak reputasi destinasi wisata.
*Pemerintah mungkin perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk infrastruktur, transportasi, dan pengelolaan limbah.
*Destinasi wisata berisiko kehilangan daya saingnya jika masalah lingkungan dan sosial mengurangi daya tariknya.
Dalam jangka panjang, destinasi yang terkait dengan kemacetan lalu lintas, polusi, atau degradasi lingkungan pada akhirnya akan kehilangan keunggulan kompetitifnya*
Ini dibandingkan dengan lokasi alternatif yang menawarkan pengalaman yang lebih baik dan kredibilitas keberlanjutan yang lebih kuat. Pertumbuhan pariwisata dapat menjadi kontraproduktif jika tidak dikelola dengan benar.
*Kepentingan Regional
Pariwisata akan tetap menjadi salah satu pilar terpenting ekonomi di Asia Tenggara, menjadikan fenomena pariwisata berlebihan sebagai isu regional, bukan hanya isu lokal.
ASEAN sendiri berupaya memperkuat posisinya sebagai pusat pariwisata global, tetapi menghadapi dilema yang sulit. Sektor pariwisata telah menjadi sumber lapangan kerja dan devisa, serta mendukung bisnis lokal.
Namun, di satu sisi, lonjakan jumlah wisatawan yang tidak terkendali dapat memberikan tekanan pada ekosistem, infrastruktur, dan bahkan masyarakat lokal.
Oleh karena itu, dalam strategi pariwisata regionalnya, ASEAN lebih menekankan pada pengembangan pariwisata berkelanjutan, manajemen destinasi, perlindungan lingkungan, dan partisipasi masyarakat.
Para pembuat kebijakan juga harus menemukan cara untuk mendistribu- sikan wisatawan secara lebih merata di berbagai destinasi, daripada memu- satkan kegiatan pariwisata hanya di beberapa tempat wisata terkenal.
Tujuan utama saat ini bukan hanya untuk menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga untuk memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata terus memberi- kan manfaat ekonomi sekaligus memini- malkan dampak negatif terhadap










