Kucuran Dana Desa Wisata di Jateng Tidak Asal-asalan

0
14
Desa wisata kerajinan gerabah di Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur. Magelang

SEMARANG. bisniswisata.co.id: Desa wisata menjadi perhatian serius pemerintah. Perhatian itu dengan memberikan kucuran dana, yang diharapkan desa wisata semakin berkembang, maju dan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan. Sehingga dampaknya, masyarakat desa semakin merasakan kesejahteraan dan terjadi peningkatan pendapatan.

Kucuran dana desa juga mengalir ke Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Saat ini ada 229 desa wisata dengan berbagai potensi dan keunggulan daya tariknya. Ke-229 desa wisata tersebut tersebar di 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah. Dari jumlah itu, setiap desa wisata di Jateng berpeluang mendapatkan kucuran dana hingga Rp 1 milar.

Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk mengembangkan potensi desa. Langkah ini menjadi komitmen Pemprov Jateng menciptakan destinasi wisata baru, sebagai penunjang pariwisata unggulan di daerahnya, seperti Candi Borobudur, Dataran Tinggi Dieng, Karimunjawa serta situs purbakala Sangiran.

Namun kucuran dana ini bukan tanpa syarat, tidak asal-asalan dan tetap mempertimbangkan sejumlah ketentuan, misalnya konsep pengembangan desa wisatanya seperti apa, kemasannya, bagaimana kunjungannya dan sebagainya. “Sebagai stimulan, akan kami berikan dulu dana sebesar Rp 100 juta,” ungkap Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di Semarang, Ahad (21/07/2019).

Dilanjutkan, keberadaan desa wisata bakal dijadikan sebagai destinasi penunjang dari destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah. Karena akan menjadi destinasi wisata pendukung. “Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan desa wisata, baik dari sisi kualitas dan keamanan hingga kemasan dan atraksinya,” lontarnya.

Juga, dalam hal pengelolaan desa wisata harus ada yang mengontrol. BUMDes harus jadi semacam auditor, agar potensi desa wisata dapat terkelola, tempatnya aman, kulinernya harganya tak ngepruk alias wajar. “Dan, agar bisa menjadi objek penunjang destinasi wisata unggulan, desa wisata harus memiliki konsep yang jelas, serta benar- benar menjual potensi serta kekayaan desa,” tandasnya serius.

Menurutnya, kalau toiletnya bau, sajian makanannya juga instan, kopinya instan, tidak akan memiliki daya tarik. Harus kuliner khas setempat, kopinya diajari bikin kopi sendiri sekaligus sebagai atraksi yang dijual kepada para pengunjung. “Maka semua harus belajar dan kalau tidak bisa kita kasih pelatihan gratis,” tegas Ganjar Pranowo.

Saat mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, gubernur mendapat perintah langsung agar gencar mengembangkan desa wisata dalam menopang perekonomian masyarakat di pedesaan. Melalui kucuran dana hingga Rp 1 miliar untuk tiap desa wisata tersebut, targetnya Jawa Tengah akan memiliki setidaknya 500 desa wisata penunjang destinasi wisata unggulan yang sudah ada.

“Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah tentang Pemberdayaan Desa Wisata sudah lahir. Maka dana tersebut merupakan stimulan dalam mewujudkan target tersebut,” lanjutnya.

Rencana Pemprov Jawa Tengah ini disambut positif para pemangku kepentingan desa, yang selama ini telah mengembangkan potensi desanya menjadi salah satu desa wisata yang cukup populer di Jawa Tengah. Karena warga benar- benar merasakan multiplier effect dari pengembangan desa wisata yang sudah berjalan di wilayah desanya.

“Tidak hanya dari sisi perekonomian warga desa, namun juga dari infrastruktur,” kata Kepala Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Ahmat Nuri yang dikonfirmasi terpisah.

Selama ini, jelasnya, BUMDes Sepakung bersama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan LMDH telah mengelola Desa Wisata Sepakung yang memiliki potensi wisata alam potensi budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan mancanegara. Dengan adanya stimulan dana dari Pemprov Jawa Tengah ia yakin akan semakin mendorong pengembangan desa wisata, tidak hanya di desanya namun juga desa lain di Jawa Tengah.

“Kami, saat ini juga tengah mengembangkan pengolahan kopi rakyat sebagai atraksi penunjang Desa Wisata Sepakung serta terus mengemas atraksi budayaagar lebih menjual kepada wisatawan,” tanda Ahmat Nuri seperti dilansir laman Republika, Ahad (21/07/2019).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Plt Kepala Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Sri Errita Haryanti. Potensi desa wisata yang ada di desanya dikembangkan bertahap dari hasil pengelolaan Desa Wisata Gogik.

Beberapa infrastruktur penunjang yang terbaru merupakan dukungan dari CSR Perusahaan Listrik Negara (PLN). “Masih banyak potensi desa yang bisa dikembangkan untuk dijual, namun kemampuan keuangan desa yang bekum sepenuhnya memungkinkan,” tambahnya. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here