Kisah Batu Melayang, Dome of the Rock dan Tembok Ratapan.

0
115

Kaligrafi, mozaik dan ornamen keramik warna warni yang menghiasi eksterior Dome of the Rock.

Pada 7-19 Febuari 2019, Wartawan Senior  Nur Hidayat melakukan perjalanan wisata bersama keluarga besarnya mengikuti  tour wisata religi ke Mesir, Palestina, Israel, Jordan, Oman. Berikut tulisan ke sembilan.

JERUSSALEM, bisniswisata.co.id: Masih di kompleks Mesjid Al-Aqsha, kami melongok dalamnya Dome of the Rock (Qubbat as-Sakhra) dimana tersimpan batu besar, yang dikurung pagar kayu. Konon batu itu mau ikut Nabi Muhammad SAW terbang ke langit dalam peristiwa Isra’ Mikraj.

Nabi Muhammad SAW melarangnya sehingga batu itu tetap mengambang di atas permukaan tanah. Betulkah? Ada yang percaya. Ada yang tidak. Yang pasti, ada pintu di pagar itu untuk turun ke bawah melalui anak tangga, masuk ruangan di bawah batu.

Orang dewasa bisa tegak berdiri di situ. Cukup untuk tempat sembahyang beberapa orang. Saat saya turun ke situ, beberapa orang sedang shalat; tidak berjamaah. Ruangannya terang, berlampu sehingga peziarah masuk bergantian. Jadi penasaran karena sudah mendengar cerita tentang batu mengambang dan ingin membuktikannya.  Seperti biasa, pengunjung langsung selfie, jeprat jepret dan membuat video.

Setelah mengamatinya, saya sulit menemukan bukti bahwa batu tersebut benar-benar mengambang. Ada yang bilang batu besar itu sudah diberi penyangga agar tidak jatuh. Batu besar itu diyakini sebagai batu pijakan Rasulullah SAW dalam perjalanan ke langit menerima perintah untuk shalat. Umat Yahudi  percaya batu tersebut tempat Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Ishak (bukan Ismail).

Pintu gerbang menuju ke bagian bawah tempat batu besar seperti gua dan digunakan pula untuk sembahyang.

Orang sering keliru saat melihat foto Dome of the Rock, yang kubahnya kuning keemasan: dikiranya itulah Masjid al-Aqsha. Kubah Batu itu berlokasi di tengah kompleks Masjidil Aqsha, dengan pelataran terbuka berlantai batu yang cukup luas. Di sampingnya ada bangunan dengan kubah lebih kecil (Dome of the Ascension).

Dome of the Rock itu bangunan bersegi delapan, tanpa mimbar, dihiasi ornamen keramik biru yang cantik di bagian luar atas. Awalnya, Kubah Batu dibangun secara sederhana oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan, 687-691 M. Kini, tempat itu juga digunakan untuk shalat setelah dibangun mimbar.

Interior bangunan unik itu dihiasi dengan kaligrafi huruf Kufi tentang keesaan Tuhan,  tidak beranak, dan Isa al-Masih tiada lain adalah hamba Allah. Berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mikraj, Shalahuddin al-Ayyubi menambahkan kaligrafi Arab bertuliskan ayat2 al Qur’an.

Tertulis surat al Isra’ dan ketika dia merebut kembali Jerusalem dari pasukan Salib pada abad ke 13. Pada tahun 1545, dinding luar direnovasi dengan pemasangan keramik dan mosaik dari Turki.

Siapa pun yang berkunjung ke Dome of the Rock sulit untuk tidak mengagumi keindahannya. Ornamen dinding luar, paduan warna warni dan kaligrafi yang menyatu secara harmonis, mengundang decak kagum.

Begitu pula dengan kubahnya yang kuning keemasan, memancarkan keanggunan. Hiasan interior amat indah pula. Tak pelak lagi, Dome of the Rock adalah ikon Jerusalem paling dikenal di  jagad.

Mengapa kaum Yahudi hingga kini meratap di Tembok Ratapan.? Katanya, mereka menangisi Kuil Suci, dibangun oleh Raja Herodes pada tahun 19 M, yang dihancurkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M. Kini yang tersisa hanyalah reruntuhan tembok setinggi 18 m, sepanjang 60 m (dari aslinya sekitar 485 m).

Tembok Ratapan begitu penting bagi orang Yahudi, sehingga setiap perdana menteri, para menteri dan pejabat tinggi Israel yang baru dilantik segera ke sana: meratap, memeluk dan  menciumi bagian tembok tersebut.

Warga Yahudi yang ada di sana juga menyelipkan kertas doa dan permohonan kepada Tuhan di sela-sela tembok. Mereka berharap Yahweh mengabulkannya. Setahun dua kali, petugas membersihkan ratusan ribu kertas untuk Yahweh tersebut.

Ketika kekeringan parah melanda Israel empat tahun terakhir, warga melakukan doa bersama meminta hujan, 28 Des. 2017. Menteri Pertanian Israel Uri Ariel, yang memprakarsainya, ikut dalam acara itu. Tindakan tersebut dicemoh oleh banyak netizen.

Sewaktu rombongan kami ke sana, ritual meratap di tembok itu masih tetap berlangsung. Kami menyaksikan para pria Yahudi yang bertopi kecil unik berdiri dan menyandarkan kepala mereka di tembok.

Jamaah perempuan berdoa di tempat terpisah. Apakah mereka benar-benar meratap.? Mungkin. Saya tidak dapat mendengarnya karena melihat mereka dari kejauhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.