Oleh : Laiba Adnan
TOKYO, bisniswisata.co.id: Di tengah dinamika pariwisata Asia Tenggara, Kamboja dan Indonesia muncul sebagai pelopor di sektor wisata halal, memadukan warisan budaya yang kaya dengan praktik berkelanjutan modern.
Dilansir dari halaltimes.com, per Oktober 2025, kedua negara telah gencarkan inisiatif untuk memenuhi permintaan wisatawan Muslim yang terus meningkat, yang mencari destinasi yang sejalan dengan keyakinan, nilai-nilai, dan kesadaran lingkungan mereka.
Lonjakan ini merupakan bagian dari tren global yang lebih luas di mana pasar wisata Muslim diproyeksikan mencapai US$235 miliar pada tahun 2030, didorong oleh preferensi untuk kesehatan, pendalaman budaya, dan pengalaman ramah lingkungan.
Dengan berfokus pada kuliner halal dan keberlanjutan, Kamboja dan Indonesia tidak hanya meningkatkan perekonomian mereka tetapi juga mendorong pariwisata inklusif yang menghargai keberagaman latar belakang.
Artikel ini mengulas perkembangan terbaru, berdasarkan sumber terverifikasi dan wawasan para ahli, untuk memberikan panduan komprehensif bagi wisatawan, professional industri, dan penggemar.
Baik Anda merencanakan perjalanan keluarga atau menjajaki peluang bisnis di bidang pariwisata halal, Anda akan menemukan kiat praktis, contoh detail, dan analisis berwawasan ke depan untuk membuat keputusan yang tepat.
Meningkatnya Pariwisata Ramah Muslim di Kamboja
Kamboja, yang secara tradisional dikenal dengan kuil-kuil kuno seperti Angkor Wat, kini menyoroti warisan Muslimnya untuk menarik gelombang wisatawan baru. Suku Cham, yang merupakan sekitar 5% dari populasi—atau sekitar 800.000 jiwa—telah melestarikan tradisi Islam mereka di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Buddha di negara tersebut.
Koeksistensi yang harmonis ini dimanfaatkan melalui tour warisan budaya yang menjelajahi komunitas Muslim berusia berabad-abad di desa-desa terpencil di sepanjang Sungai Mekong.
Salah satu sorotan utama adalah transformasi lebih dari 650 masjid di seluruh negeri menjadi objek wisata, termasuk bangunan kayu bersejarah berusia lebih dari 100 tahun yang masih aktif menjadi tempat ibadah.
Situs-situs ini menawarkan pengalaman imersif, memungkinkan pengunjung untuk menyaksikan shalat harian, mempelajari adat istiadat Cham, dan berpartisipasi dalam pertukaran budaya.
Forum dan Pameran Pariwisata Ramah Muslim Kamboja yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata di Phnom Penh baru-baru ini, memamerkan inisiatif-inisiatif ini, yang menekankan aksesibilitas, pelestarian lingkungan, komunikasi, dan layanan berkualitas tinggi.
Dalam hal kuliner halal, Kamboja mengintegrasikan opsi bersertifikat ke dalam penawaran pariwisatanya. Wisatawan dapat menikmati hidangan Khmer autentik yang disesuaikan dengan standar halal, seperti ikan amok (kari berbahan dasar kelapa) atau lok lak (daging sapi tumis), yang disiapkan tanpa alkohol atau babi.
Paket ramah keluarga mencakup santapan halal di pondok ramah lingkungan dan pasar, memastikan pengalaman yang nyaman. Demi keberlanjutan, negara ini berinvestasi dalam infrastruktur ramah lingkungan, seperti Bandara Internasional Techo yang baru beroperasi, yang meningkatkan konektivitas sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.
Tahun lalu, Kamboja menyambut hampir setengah juta wisatawan Muslim dari enam juta pengunjung internasional, angka yang diperkirakan akan bertambah seiring dengan perluasan penerbangan dari negara-negara mayoritas Muslim.
Bagi pembaca yang berencana berkunjung, mulailah dari Phnom Penh untuk menikmati restoran halal perkotaan dan tour masjid, lalu kunjungi provinsi Kampong Cham untuk menikmati keaslian pedesaan.
Tipsnya antara lain mengunduh aplikasi seperti HalalTrip untuk mengetahui jadwal sholat dan restoran bersertifikat, serta memilih tour yang dipandu komunitas untuk mendukung ekonomi lokal.
Kepemimpinan Indonesia dalam Ekspansi Pariwisata Halal
Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia dengan lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat pariwisata halal global. Negara ini memiliki lebih dari 309.000 masjid dan 376.000 mushala di ruang publik seperti bandara dan pusat perbelanjaan, sehingga secara inheren akomodatif untuk wisata berbasis agama.
Salah satu inisiatif utamanya adalah perluasan sertifikasi halal ke 1.500 desa wisata di 15 provinsi, yang merupakan kelanjutan dari program percontohan di 20 desa yang diluncurkan pada Juli 2025.
Per 15 Oktober 2025, sebanyak 438 produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah tersertifikasi, termasuk 24 produk dari Pulau Penyengat di Kepulauan Riau.
Program ini, yang merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk, standar kesehatan, dan transparansi.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menggambarkan Pulau Penyengat sebagai “lokasi simbolis” untuk komitmen ini dalam kunjungannya baru-baru ini.
Kuliner halal memainkan peran penting, dengan produk UMKM bersertifikat yang beragam, mulai dari camilan tradisional seperti rendang hingga hidangan fusion inovatif. Produk-produk ini tersedia di desa wisata, tempat pengunjung dapat mengikuti kelas memasak atau pengalaman memasak langsung dari pertanian ke meja makan.
Keberlanjutan dijalin melalui pembangunan berbasis masyarakat, resor ramah lingkungan, dan praktik bertanggung jawab yang melestarikan warisan alam dan budaya. Misalnya, desa-desa menekankan pariwisata berdampak rendah, seperti penggunaan energi terbarukan dan mempromosikan inisiatif tanpa limbah.
Indeks Perjalanan Muslim Indonesia (IMTI) 2025, yang dikembangkan bersama mitra seperti Bank Indonesia dan CrescentRating, mengukur kesiapan provinsi dan menyelesaikannya dengan standar global.
Dengan 36 bandara internasional dan perluasan pilihan visa, aksesibilitas semakin meningkat. Wisatawan dapat menjelajahi destinasi seperti Lombok untuk menikmati pantai atau Yogyakarta untuk menikmati situs budaya, semuanya dengan fasilitas halal.
Saran praktis untuk pembaca: Gunakan portal khusus yang akan datang bagi wisatawan Muslim untuk merencanakan rencana perjalanan, dan pilih desa bersertifikat untuk tempat menginap yang autentik dan berkelanjutan yang memberi manfaat bagi penduduk setempat.
Inisiatif Bersama dan Kolaborasi Lintas Batas
Dalam kerangka ASEAN, Kamboja dan Indonesia tengah mengembangkan pariwisata lintas batas untuk menciptakan rute yang lancar bagi wisatawan Muslim.
Ini mencakup infrastruktur berkelanjutan bersama, diplomasi budaya, dan paket inklusif yang menghubungkan situs-situs warisan di kedua negara. Misalnya, tour multi-destinasi dapat dimulai dari desa-desa Cham di Kamboja dan meluas ke pulau-pulau warisan Islam di Indonesia.
Upaya-upaya ini mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja di bidang perhotelan dan jasa makanan sekaligus mempromosikan perdamaian regional.
Pada tahun 2025, ekspansi dalam pengalaman kreatif dan proyek-proyek yang dipimpin masyarakat direncanakan, menjadikan Asia Tenggara sebagai duo dinamis untuk wisata halal.
Kuliner halal merupakan inti dari dorongan ini, menawarkan lebih dari sekadar makanan—ini adalah gerbang menuju pemahaman budaya.
Di Kamboja, adaptasi halal dari hidangan nasional memastikan wisatawan Muslim merasa diterima, sementara beragamnya hidangan Indonesia menarik jutaan wisatawan setiap tahunnya.
Sertifikasi menekankan kesehatan dan kualitas, sebagaimana dicatat oleh Kepala BPJPH Haikal Hasan, yang menyebut pariwisata halal sebagai “mesin baru ekonomi.”
Bagi para pembaca, cobalah salad daging sapi halal Kamboja atau sate Indonesia, dan cari label untuk memverifikasi keasliannya. Hal ini tidak hanya mendukung UMKM tetapi juga sejalan dengan tren kesehatan dalam perjalanan halal tahun 2025.
Kedua negara memprioritaskan praktik ramah lingkungan, mulai dari keterlibatan masyarakat hingga pelestarian warisan. Desa wisata Indonesia mempromosikan konsep berkelanjutan seperti sumber daya lokal, sementara Kamboja berfokus pada wisata berdampak rendah.
Hal ini sejalan dengan tren global di mana wisatawan halal mencari destinasi bebas alkohol dan berfokus pada kesehatan yang menyehatkan pikiran, tubuh, dan jiwa.
Tips: Pilihlah resor ramah lingkungan, berpartisipasilah dalam kegiatan konservasi, dan meminimalkan penggunaan plastik untuk berkontribusi positif.
Perkembangan ini menawarkan pengalaman yang aman dan memperkaya bagi wisatawan Muslim, mendorong pertumbuhan pribadi dan ikatan keluarga. Secara ekonomi, perkembangan ini menciptakan peluang bagi investor di bidang perhotelan halal.
Ke depannya, dengan ekonomi halal global yang mencapai US$9 triliun, Kamboja dan Indonesia siap untuk pertumbuhan eksponensial. Pada tahun 2030, peningkatan konektivitas dan inovasi seperti aplikasi perjalanan berbasis AI akan semakin meningkatkan sektor ini.
Singkatnya, fokus Kamboja dan Indonesia pada pariwisata halal menunjukkan bagaimana keyakinan, budaya, dan keberlanjutan dapat berpadu untuk saling menguntungkan. Rencanakan perjalanan Anda hari ini untuk merasakan langsung lanskap yang terus berkembang ini.










