Jollong, Perkebunan Peninggalan Kolonial Jadi Agro Wisata

0
122
Tanaman Naga hiasi Agro Wisata Jollong Pati (Foto: Repro Google)

PATI, bisniswisata.co.id: Alternatif destinasi wisata keluarga di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng) kini semakin beragam. Salah satunya adalah Agro Wisata Jollong, di wilayah Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong. Agro Wisata yang dikelola unit usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX ini menawarkan paket wisata alam, wisata perkebunan serta berbagai wahana permainan yang nyaman untuk liburan bersama keluarga.

“Jollong ini memiliki areal seluas 306 hektare, dan berada pada ketinggian 650-900 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Asisten Kepala Agrowisata Jollong, Nurdiyanto, Selasa (9/4/2019).

Agro wisata Jollong ini, lanjut dia, semula merupakan kawasan perkebunan tanaman kopi peninggalan masa kolonial Belanda. Perkebunan kopi ini sudah ada sejak tahun 1895. Karena panorama alam kawasan perkebunan yang berada di lereng timur gunung Muria ini cukup potensial, maka sejak tahun 2012 mulai dikembangkan menjadi lokasi wisata agro.

Pada awal rintisannya, hanya dibuat beberapa wahana spot foto serta pembenahan infrastruktur dan penambahan fasilitas guna menunjang pengembangan agro wisata. Setelah infrastruktur dan fasilitas pendukungnya siap, baru dikembangkan kebun hortikultura dengan memanfaatkan sebagian dari lahan perkebunan kopi di Jollong ini.

Kini wisata agro Jollong telah memiliki 233 hektare kebun kopi, 29 hektare kebun buah naga dan 44 hektare kebun jeruk. “Khusus kebun jeruk meliputi blok tanaman jeruk keprok dan blok jeruk pamello,” jelas Nurdiyanto.

Sehingga, lanjutnya, agro wisata ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam dan hamparan perkebunan kopi saja. Namun juga kebun buah naga serta buah jeruk, yang nantinya pengunjung bisa langsung membeli, memilih dan memetik sendiri.

Ia juga mengungkapkan, untuk menarik animo wisata keluarga, juga disiapkan berbagai paket- paket wisata di kebun Jollong ini. Yakni berupa paket field trip yang dipadu dengan edukasi mengenai potensi yang ada di kebun ini.

Tersedia moda angkutan keliling kebun berkapasitas 11 orang dengan tarif Rp 150 ribu jika hanya keliling kebun jeruk. Juga ditawarkan paket tambahan bukit naga (buah naga) atau ke air Terjun Grenjengan yang ada di sekitar kawasan perkebunan dengan biaya Rp 250 ribu.

Ia mengakui paket tambahan ini memang lebih mahal karena jaraknya lebih jauh dan field trip bisa memakan waktu 1 jam untuk sekali perjalanan. “Kalau mau masuk kebun naga, ada tarifnya lagi, Rp 7 ribu per orang,” lanjutnya seperti dilansir Republika.co.id.

Bagi yang ingin menginap, tersedia tiga wisma dengan total 11 kamar. Wisma tersebut, dulunya merupakan tempat tinggal kepala perkebunan zaman Belanda. Bangunannya kini ditata ulang sebagai penginapan dengan mempertahankan keasliannya yang kental dengan arsitektur kolonial. Tarifnya Rp 850 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Menurut Nurdiyanto, sejak dikemas menjadi agro wisata, kebun Jollong ini mampu menarik minat pengunjung lebih banyak. Tentunya ini juga mampu mendongkrak pendapatan dari Agrowisata Jollong. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.