JAKARTA, bisniswisata.co.id: Panel diskusi sesi dua di Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027 menjadikan Garut sebagai salah satu contoh pengembangan wisata pengalaman wisata yang kini menjadi tren dunia.
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani dalam diskusi memaparkan pengembangan destinasi Garut sebagai salah satu contoh bagaimana pengalaman wisata dapat digunakan untuk meningkatkan kunjungan dan aktivitas ekonomi lokal.
Menurut Hariyadi, pengembangan tersebut diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan pariwisata, antara lain bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama, meningkatkan belanja, serta mengurangi leakage atau kebocoran ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Garut dipilih karena dinilai telah memiliki infrastruktur dan potensi budaya wisata yang dapat dikembangkan. Daerah tersebut juga memiliki sejarah panjang sebagai destinasi wisata. Menurut Hariyadi, sejumlah tokoh dunia pernah mengunjungi Garut sehingga terdapat cerita sejarah yang dapat menjadi bagian dari pengembangan pengalaman wisata.
Namun, citra Garut selama ini lebih banyak dikenal melalui produk kuliner dodol. Pengembangan selanjutnya diarahkan untuk memperkuat potensi kerajinan kulit di kawasan Sukaregang.
Para perajin kemudian mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan inovasi desain, termasuk melalui pelatihan dengan desainer dari pusat industri kulit di Prancis dan Italia.
“Kita upskill para perajin dengan mengundang desainer dari pusat-pusat kerajinan kulit di Prancis dan di Italia,” ujar Hariyadi.
Pendekatan tersebut diarahkan agar para perajin tidak sekadar meniru produk yang sudah ada, tetapi mampu menghasilkan desain sendiri yang menjadi ciri khas.
Hasilnya, kunjungan wisata ke Garut naik bahkan dalam sembilan bulan 2026, jumlah pengunjung mencapai sekitar 97.789 orang, dibandingkan sekitar 44.700 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya
“Total kunjungan sepanjang 2025 tercatat sekitar 77.600 orang dan peningkatan itu justeu kunjungan pada hari kerja atau weekdays,” ujarnya.
Menurut Hariyadi, pola tersebut tunjukkan bahwa pengembangan produk dan promosi dapat diarahkan untuk mengisi kunjungan pada periode yang selama ini tidak terlalu ramai.
Pola kunjungan tersebut bahkan menjadi salah satu pertimbangan bagi industri perhotelan untuk melihat peluang investasi baru di Garut.
Pengembangan pengalaman wisata di Garut juga memberikan dampak terhadap ekonomi lokal karena kuliner dan UKM oleh-oleh baik produk kuliner maupun cinderamata lainnya juga meningkat.
Hariyadi menyebutkan dampak kunjungan wisatawan antara lain meningkatkan omzet penjualan perajin kulit, meningkatkan kunjungan wisatawan pada hari kerja, mendorong inovasi desain terutama produk kulit, serta memperluas lapangan kerja.
Aktivitas wisata juga memberikan dampak terhadap sektor pendukung seperti usaha kecil menengah dibidang makanan dan minuman serta usaha masyarakat lainnya.
Pengembangan tersebut diharapkan mengubah citra Garut yang selama ini identik dengan dodol menjadi destinasi yang memiliki ragam pengalaman, termasuk kerajinan kulit.
“Dan meningkatkan nilai tambah pariwisata Garut. Ya, jadi Garut enggak dikenal hanya dodol Garut, tapi juga punya leather,” kata Hariyadi.

Meningkatnya kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke suatu destinasi akan membuat investor seperti perhotelan tertarik untuk melakukan investasi.
“ Prinsipnya pembangunan hotel itu mengikuti pertumbuhan destinasi,” kata pendiri dan CEO ARTOTEL Group Erastus Radjimin yang akrab disapa Eri.
Dia mengatakan pengembangan destinasi dan pengalaman lokal memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan industri perhotelan. karena hotel tidak dapat kembangkan bisnis secara sendiri tanpa dukungan pengalaman destinasi di sekitarnya.
Eri membagi pengalaman dalam industri hotel ke dalam tiga aspek, yakni pengalaman dari sisi alam, fasilitas atau produk, serta pelayanan.
“Menurut saya kita enggak pernah bisa sendirian. Kita di satu tempat, kita perlu punya local destination experience,” ujarnya.
Menurut dia pengalaman berbasis alam relatif sulit direplikasi karena setiap destinasi memiliki karakteristik geografis yang berbeda.
Sementara fasilitas seperti wellness, olahraga, dan produk hiburan dapat dibangun di berbagai tempat dengan investasi yang memadai.
Namun, aspek pelayanan memiliki tantangan tersendiri karena sangat bergantung pada sumber daya manusia.
“Yang paling susah direplikasi sebenarnya service. Karena kita bisnis jasa, hotel itu kan bisnis melayani orang,” katanya.
Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata yang konsisten.
Eri menilai pengembangan destinasi seperti Garut dapat menciptakan traffic dan minat sosial yang kemudian menjadi pertimbangan bagi pelaku industri perhotelan untuk berinvestasi.
“Hotel will be not the last, tapi not the first yang pasti. Karena kita perlu adanya traffic, kita perlu adanya social interest,” ujarnya.










