HILDA'S NOTE

Tehnologi Bantu Dikenal Dunia, Kearifan Lokal Alasan untuk Datang

Oleh : Jeffrey Wibisono V.

Dalam rangka menyambut Hari Pariwisata Sedunia 27 September 2026, dengan tema resmi yaitu “Digital Agenda and Artificial Intelligence to Redesign Tourism,” mari membangun desa wisata melalui pendekatan Hanacarakan —n-JAWA—ni. Teknologi membantu desa dikenal dunia, namun menjadikan kearifan lokal, alasan untuk datang.

DESA WISATA masa depan, bukan desa yang paling digital. Ia adalah desa yang mampu menggunakan teknologi untuk memperkuat manusia, budaya, pengalaman, ekonomi lokal, dan keberlanjutan.

Saya mengusulkan roadmap 8 tahap Hanacaraka: HA–NA–CA–RA–KA–MA–BA–TA, dalam pengembangan kepariwisataan desa.

roadmap-merintis-desa-wisata yang njawani

HA — Hana: Kenali Jati Diri Desa

Sebaiknya, tidak memulai dengan Instagram, logo, tidak dengan spot selfie. Mulailah dengan mengenali desa.

Kekeliruan mendasar pengembangan destinasi adalah bertanya, “Apa yang bisa kita jual?” sebelum bertanya, “Siapa kita?”

Lakukan village DNA audit terhadap alam, sejarah, budaya, kuliner, pertanian, kerajinan, tokoh lokal, ritual, arsitektur, cerita rakyat, kehidupan sehari-hari, dan kearifan lokal. Gunakan AI sebagai alat bantu menginventarisasi dan mengelompokkan data, mentranskripsikan wawancara tetua desa, mengembangkan data base cerita, serta menemukan pola potensi. Catatan pentingnya: AI “tidak boleh” menciptakan sejarah atau tradisi yang sebenarnya tidak pernah ada. Dan output: village DNA, cultural asset inventory, story bank, unique village proposition.

Prinsip n-JAWA-ni nya: Ojo kesusu adol sadurunge ngerti sapa awake dhewe.

NA — Nur: Temukan Potensi dan Peluang

Setelah mengetahui siapa kita, tanyakan:

Dari seluruh kekayaan desa, mana yang benar-benar dapat menjadi “alasan” orang datang?

Petakan potensi ke dalam kelompok seperti nature, culture, culinary, agriculture, craft, wellness, education, adventure, spirituality dan community life.

Kemudian lakukan AI-assisted market intelligence: tren pencarian wisatawan, profil calon pasar, kompetitor destinasi, ulasan wisatawan, tren media sosial dan kemungkinan niche market. Dengan catatan penggunaan AI, Bukan sebagai “pengambil keputusan”. Tehnologi AI membantu melihat kemungkinan, “masyarakat” menentukan arah.

Output: dengan batuan AI diperoleh gambaran tourism potential map, target market, competitor map, sampai 3–5 alternatif hero experiences.

CA — Cipta: Rancang Pengalaman, Bukan Sekadar Objek

Air terjun bukan produk wisata.

Sawah bukan produk wisata.

Tari tradisional juga belum otomatis menjadi produk wisata.

Semuanya menjadi produk ketika dirancang menjadi pengalaman.

Kita dapat menggunakan:

Experience Journey

Dream → Discover → Plan → Book → Arrive → Experience → Share → Remember → Return

Misalnya sawah dapat dikembangkan menjadi:

Morning Farmer Experience → belajar menanam → sarapan lokal → mendengar cerita petani → membawa hasil desa → digital storytelling.

AI dapat membantu itinerary personalization, multilingual interpretation, QR storytelling, rekomendasi aktivitas, digital guide dan pengembangan konten.

Dari proses ini, kita mendapatkan : guest journey map, experience menu, village tourism packages, digital visitor journey.

RA — Rasa: Bangun Hospitality Desa

Inilah titik yang “sering” hilang, terlupakan. Boleh jadi desa, memiliki alam luar biasa tetapi membuat pengunjung tidak ingin kembali karena toiletnya kotor, informasi membingungkan, warga tidak siap menerima tamu atau pengalaman terasa transaksional.

Saya hanya mengingatkan bahwa hospitality bukan keramahan yang dibuat-buat. Hospitality adalah kemampuan membuat orang merasa:

diterima → aman → dihargai → dipahami → keterhubungan yang “hangat”.

Mari bangun village hospitality standard untuk penyambutan, kebersihan, keamanan, homestay, food hygiene, guiding, complaint handling, komunikasi lintas budaya, serta pelayanan digital.

AI mempercepat service. Tetapi “rasa” memanusiakan service.

Di dalamnya kita menemukan: hospitality SOP, host training, guide training, service recovery standard.

KA — Karya: Dari Potensi Menjadi Ekonomi

Selayaknya desa wisata, tidak boleh hanya ramai. Desa wisata harus menciptakan nilai ekonomi lokal. Dengan membangun ekosistem produk:

Stay + Eat + Experience + Learn + Buy + Share.

Contohnya tumbuhkan bisnis homestay, kuliner, guiding, workshop kerajinan, pertanian, wellness, produk UMKM, merchandise, event budaya, paket sekolah hingga corporate experience.

Kemudian digitalkan transaksi melalui Google Business Profile, website, WhatsApp Business, online booking, pembayaran digital dan kanal distribusi yang relevan.

Output proses ini antara lain: product portfolio, pricing architecture, revenue model, UMKM integration.

MA — Manunggal: Bangun Ekosistem, Bukan Kerajaan Kecil

Tidak ada desa wisata, maju karena satu orang. Diperlukan “orkestrasi” dari Pemerintah Desa + Pokdarwis + BUMDes + UMKM + Pemuda + Perempuan + Tokoh Adat + Akademisi + Industri + Pemerintah Daerah + Platform Digital.

Kita “harus” menetapkan dengan jelas siapa pemilik aset, pengelola, penerima pendapatan, penanggung jawab pengalaman, pengelola data dan pihak yang mengambil keputusan.

Gunakan dashboard digital untuk transparansi kunjungan, revenue, feedback, keluhan dan perkembangan UMKM.

Dalam proses ini kita mendapatkan : destination governance model, RACI, partnership map, digital dashboard.

BA — Bakti: Sustainability before Popularity

Viral belum tentu maju. Desa dapat viral dalam enam bulan, tetapi kehilangan karakternya dalam beberapa tahun. Karena itu, ukurannya bukan hanya: berapa orang datang, tetapi juga apa yang mereka tinggalkan dan apa yang masyarakat peroleh.

Mari gunakan kerangka: people × planet × culture × prosperity

Tetapkan carrying capacity, waste management, konservasi air, perlindungan budaya, aturan wisatawan, distribusi manfaat ekonomi dan indikator kepuasan masyarakat.

Ini sejalan dengan pesan PBB 2026 bahwa transformasi digital harus terbuka, inklusif, manusiawi, dan memberikan manfaat kepada masyarakat serta tempat yang membuat pariwisata itu ada dan berkelanjutan mensejahterakan destinasi serta penikmatnya.

Output-nya: sustainability charter, carrying capacity, community benefit index.

TA — Tatas, Tutus, Titis

Kelompok mampu execute, measure, improve, dan menetapkan scale, di sinilah desa bergerak dari konsep menjadi destinasi.

Tatas — tata dengan benar brand identity, website, Google Maps, social media, database tamu, CRM, booking system, content calendar dan dashboard desa wisata.

Tutus — kerjakan sampai jadi, bukan 20 ide sekaligus. Pilih 3 Hero Experiences + 3 Hero Stories + 3 Hero Products.

Luncurkan, ukur impact-nya, sempurnakan atau perbaiki kekurangannya.

Titis — tepat sasaran, gunakan data dan AI untuk membaca siapa yang datang, dari mana, mencari apa, membeli apa, mengeluhkan apa, menyukai apa dan kemungkinan apa yang harus dikembangkan berikutnya.

Output: 12-Month Digital & AI Transformation Roadmap.  

Roadmap 0 → Maju: Dari Jati Diri Menuju destinasi Berdaya

Delapan tahapan HA–NA–CA–RA–KA–MA–BA–TA bukanlah delapan pekerjaan berdiri sendiri. Ia merupakan satu perjalanan “bertumbuh”: dari desa yang mulai mengenali dirinya, menemukan potensi, menciptakan pengalaman dan membangun budaya hospitality, hingga mampu menghasilkan nilai ekonomi, mengorkestrasi ekosistem, menjaga keberlanjutan, serta bertumbuh dengan dukungan teknologi dan kecerdasan buatan.

Dengan demikian, transformasi desa wisata tidak harus dilakukan sekaligus. Yang dibutuhkan adalah urutan yang benar, prioritas jelas, dan keberanian untuk bertumbuh secara bertahap.

Saya membaginya ke dalam empat fase  implementasi:

0–3 bulan — Merintis (HA + NA)

Mulailah dari dalam. Kenali dahulu siapa kita sebelum memikirkan apa yang akan dijual. Lakukan audit DNA desa, masyarakat, budaya, aset, potensi, pasar, serta kesiapan digital. Pada tahap ini, teknologi digunakan terutama untuk membantu desa mengenali, mendokumentasikan, dan membaca dirinya sendiri.

4–6 bulan — Membangun (CA + RA)

Potensi yang telah ditemukan kemudian diterjemahkan menjadi pengalaman. Bangun hero experiences, paket wisata, standar hospitality, kesiapan SDM, guest journey, serta pilot experience. Pada fase ini desa mulai belajar bahwa wisata bukan sekadar tentang apa yang dilihat tamu, tetapi apa yang dialami, dirasakan, dan diingatnya.

7–12 bulan — Berkembang (KA + MA)

Pengalaman baik harus mampu menciptakan manfaat ekonomi dan melibatkan semakin banyak masyarakat. Mulailah komersialisasi secara sehat melalui penguatan UMKM, sistem booking, pembayaran digital, pemasaran, kemitraan, pengelolaan data, serta destination governance. Desa tidak lagi bergerak sebagai kumpulan usaha sendiri-sendiri, melainkan mulai tumbuh sebagai satu ekosistem destinasi.

Tahun 2–3 — Maju(BA + TA)

Ketika fondasi telah terbentuk, fokus bergeser dari sekadar bertumbuh menjadi bertumbuh dengan benar. Keberlanjutan, daya dukung lingkungan, perlindungan budaya, pemerataan manfaat ekonomi, visitor analytics, CRM, smart , interpretation, inovasi produk, dan ekspansi pasar mulai dikelola secara lebih sistematis. AI dapat semakin banyak digunakan untuk membantu membaca data, mengenali pola, meningkatkan pelayanan, dan mendukung pengambilan Keputusan —bukan pengambil keputusan—.

Dengan demikian, “maju” bukan berarti menjadi desa dengan teknologi paling canggih. Maju berarti desa semakin mampu menjaga identitasnya, memberikan pengalaman semakin baik, menciptakan perekonomian semakin sehat, dan memastikan manfaat pariwisata semakin dirasakan masyarakatnya.

Dari digital maturity menuju human maturity, di sinilah posisi teknologi dan AI perlu ditempatkan secara proporsional.Transformasi digital bukan tujuan akhir dari roadmap ini. Teknologi adalah pengungkit yang mengikuti kematangan destinasi. Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah desa sudah menggunakan AI?”, melainkan:

“Sejauh mana teknologi membantu desa menjadi lebih dikenal, lebih mudah diakses, lebih cerdas dalam mengambil keputusan, dan pada akhirnya lebih mampu melayani manusia?”

Untuk melihat perjalanan tersebut, saya menggunakan kerangka AI Maturity Desa Wisata:

LEVEL 0 — Invisible (belum ditemukan)

Desa memiliki potensi, tetapi jejak digitalnya hampir tidak ada. Wisatawan belum mudah menemukan siapa desa ini, apa yang dimilikinya, dan mengapa mereka perlu datang.

LEVEL 1 — Visible (mulai dikenal)

Desa mulai hadir di Google Maps, media sosial, foto, video, dan kanal informasi dasar. Teknologi membantu desa ditemukan.

LEVEL 2 — Bookable (mudah diakses dan dibeli)

Wisatawan tidak hanya dapat menemukan desa, tetapi juga dapat bertanya, memilih pengalaman, melihat harga, berkomunikasi, melakukan reservasi, dan bertransaksi secara digital. Teknologi membantu desa mengubah ketertarikan menjadi kunjungan.

LEVEL 3 — Data driven (mulai memahami wisatawan)

Data kunjungan, asal wisatawan, pola pembelian, ulasan, keluhan, preferensi, dan perilaku digital mulai digunakan sebagai dasar pengembangan produk dan pelayanan. Teknologi membantu desa belajar dari tamunya.

LEVEL 4 — AI Assisted (Semakin Cerdas)

AI mulai membantu pengembangan konten, penerjemahan bahasa, digital guide, analisis ulasan, personalisasi itinerary, pengelolaan CRM, pembacaan tren, hingga rekomendasi pengembangan produk. Namun AI tetap berfungsi sebagai asisten, bukan pengambil keputusan.

LEVEL 5 — Smart & Human Destination (Teknologi di Belakang, Manusia di Depan)

Inilah tingkat kematangan yang sesungguhnya. Teknologi bekerja semakin cerdas di belakang layar, sementara yang dirasakan wisatawan di depan tetaplah manusia, keramahan, budaya, cerita, alam, rasa, dan kehidupan desa yang autentik.

Pada titik ini kita kembali kepada pemikiran awal:

Desa wisata masa depan bukan desa yang paling digital. Ia adalah desa yang semakin mengenal siapa dirinya, semakin mampu mengubah potensinya menjadi pengalaman bermakna, semakin baik dalam memanusiakan tamunya, semakin kuat dalam menyejahterakan masyarakatnya, dan semakin bijaksana dalam menjaga apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Teknologi dan kecerdasan buatan tidak datang untuk menggantikan semua itu. Teknologi hadir untuk memperkuatnya. Karena pada akhirnya, wisatawan mungkin menemukan sebuah desa melalui algoritma, Google, media sosial, atau AI.

Tetapi mereka datang karena ceritanya.

Mereka tinggal karena pengalamannya.

Mereka kembali karena rasanya.

Dan desa menjadi maju karena masyarakatnya ikut sejahtera.

Itulah perjalanan dari HA menuju TA.

Dari mengenali jati diri menuju kemampuan untuk bertumbuh.

Dari local wisdom menuju global relevance.

*Teknologi membantu desa dikenal dunia.

*Kearifan lokal memberi dunia alasan untuk datang.

Local Roots. Digital Reach. Human Touch. Global Relevance. ***

 

Malang,26,September 2026
Jeffrey Wibisono V.
@namakubrandku Telu Learning and Consulting for Hospitality Industry

 

admin