HALAL HOSPITALITY INTERNATIONAL KOMUNITAS LIFESTYLE

ITLA: Halal Tourism, Pelayanan dengan Kompetensi dan Hati

JAKARTA, bisniswisata.co.id; Di balik perjalanan wisata yang melintasi berbagai belahan dunia, ada kisah-kisah kecil tentang empati yang sering kali luput dari perhatian.

Bagi wisatawan Muslim yang bepergian ke negeri asing, menemukan makanan halal atau tempat yang layak untuk menunaikan ibadah menjadi kebutuhan penting yang tidak selalu mudah dipenuhi.

Namun, bagi seorang tour leader profesional, kebutuhan tersebut bukan sekadar persoalan teknis perjalanan. Di situlah empati, kepekaan, dan profesiona-lisme diuji. Perbedaan keyakinan justru dapat menjadi ruang untuk menghadirkan pelayanan yang lebih manusiawi, aman, dan nyaman.

Semangat tersebut menjadi bagian dari Sharing Session “Beyond The Basics: A Practical Guide to Leading Muslim Travelers”, yang digelar secara daring melalui Zoom, Kamis pekan lalu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan Tour Leader
Next-Level.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Indonesia Tour Leader Association (ITLA) untuk tingkatkan kompetensi sekaligus kepekaan para tour leader dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan latar belakang yang beragam.

Belajar Memahami Kebutuhan Wisatawan Muslim

Sebanyak 52 peserta dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan mengikuti sesi tersebut. Menariknya, tidak semua peserta merupakan Muslim. Kehadirannya menunjukkan bahwa profesionalisme seorang tour leader tidak berhenti pada
kemampuan mengatur itinerary, transportasi, akomodasi, maupun aktivitas wisata.

Lebih dari itu, tour leader dituntut mampu memahami kebutuhan personal dan budaya wisatawan yang didampi – nya. Bagi peserta non-Muslim, sesi ini menjadi kesempatan untuk memahami kebutuhan riil wisatawan Muslim ketika melakukan perjalanan, khususnya di negara-negara non-Muslim.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat menghilangkan keraguan maupun kekhawatiran yang selama ini mungkin muncul ketika harus mendampingi wisatawan Muslim dalam perjalanan internasional.

                                             foto: Idfi Pancani

Dari Waktu Shalat hingga Mencari Makanan Halal

Sharing session dipandu oleh Idfi Pancani, tour leader senior yang telah berpengalaman memimpin perjalanan ke lebih dari 50 negara di lima benua.
Materi disampaikan secara praktis dan dekat dengan situasi yang benar-benar dihadapi tour leader di lapangan.

Salah satu pembahasan adalah bagaimana membantu wisatawan Muslim memenuhi kebutuhan ibadah selama perjalanan. Mulai dari menentukan waktu shalat dan arah
kiblat secara dinamis, memahami konsep shalat qashar, hingga menemukan ruang yang bersih dan layak digunakan sebagai tempat beribadah.

Persoalan bersuci di fasilitas umum juga menjadi perhatian. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai etika dan cara berwudhu di tempat umum dengan tetap memperhatikan kebersihan, kenyamanan pengguna fasilitas lain, serta norma yang berlaku di negara setempat.

Tak kalah penting adalah persoalan makanan halal. Tour leader perlu memiliki kejelian ketika memilih restoran maupun makanan yang aman bagi wisatawan Muslim.

Termasuk kemampuan membaca komposisi bahan makanan, mengonfirmasi kandungan makanan
kepada pihak hotel atau restoran, hingga memanfaatkan teknologi untuk membantu memastikan pilihan makanan halal.

Hal-hal yang terlihat sederhana tersebut dalam praktiknya dapat memberikan rasa aman yang sangat berarti bagi wisatawan.

Profesionalisme Melampaui Perbedaan Keyakinan

Bagi ITLA, pemahaman mengenai kebutuhan wisatawan Muslim bukan dimaksudkan untuk membatasi pelayanan berdasarkan agama. Sebaliknya, hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun standar pelayanan yang inklusif.

Seorang tour leader tidak harus memiliki keyakinan sama dengan wisatawannya untuk dapat memberikan pelayanan yang baik. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memahami, menghormati, dan membantu memenuhi kebutuhan wisatawan secara profesional.

Dari sinilah toleransi, profesionalisme
bertemu. Ruang belajar tersebut pun berkembang menjadi lebih dari sekadar sesi peningkatan kompetensi. Ia jadi jembatan untuk membangun pemaha- man lintas iman dan memperkuat semangat saling menghargai dalam dunia pariwisata.

ITLA: Pelayanan dengan Kompetensi dan Hati

Presiden ITLA, Bob Moningka, mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, program semacam ini perlu terus dikembangkan agar tour leader ITLA tidak hanya semakin kompeten secara teknis, tetapi juga semakin peka terhadap kebutuhan wisatawan yang mereka layani.

“Program seperti ini akan terus berlanjut agar para tour leader ITLA semakin
paham, makin peka, dan terus tingkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu Muslim secara profesional dan dengan hati yang tulus,” ungkap Bob Moningka.

Melalui Tour Leader Next-Level, ITLA ingin menegaskan bahwa profesi tour leader terus berkembang. Memimpin perjalanan bukan semata-mata tentang mengantarkan wisatawan dari satu destinasi ke destinasi lainnya, tetapi juga tentang menciptakan rasa aman, memberikan kenyamanan, menghormati keberagaman, dan membangun pengalaman perjalanan yang bermakna.

Pada akhirnya, perjalanan wisata mungkin membawa seseorang melintasi batas negara dan benua. Namun, profesionalisme dan empati seorang tour leader justru mampu
melintasi batas-batas perbedaan—termasuk batas iman. Pelayanan dengan Kompetensi dan Hati menjadikan perjalanan wisata ini selalu menjadi kenangan indah.
(RM/bm)

admin