JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bisnis Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) masih menunjukkan prospek positif pada kuartal IV-2026
Pameran industri, konferensi,pertemuan korporasi, hingga pameran konsumen menjadi sejumlah kategori event yang berpeluang menggerakkan bisnis menjelang akhir tahun.
General Manager Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Siti Karmila mengatakan, permintaan terhadap berbagai kegiatan MICE masih menjadi bagian dari aktivitas bisnis di sejumlah sektor.
“Memasuki kuartal IV-2026, bisnis MICE masih menunjukkan prospek yang cukup positif. Permintaan terhadap kegiatan pameran, konferensi, meeting, corporate event, hingga berbagai consumer event masih menjadi bagian dari aktivitas bisnis di berbagai sektor,” ujar Karmila kepada kontan.co.id, Senin (12/10)
Menjelang akhir tahun, berbagai pameran berpotensi menjadi sarana perusahaan untuk memperluas pasar dan membangun jejaring bisnis maka pameran berbasis industri seperti otomotif, kesehatan, teknologi, manufaktur, energi, dan sektor consumer goods masih memiliki potensi, ujarnya.
Event menjadi salah satu sarana bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar, membangun networking, dan menciptakan peluang bisnis, tambah Karmila
Dari sisi venue, Karmila menyebut penye- lenggara kini tidak hanya pertimbangkan kapasitas dan ketersediaan ruang, tetapi juga fleksibilitas lokasi, kualitas layanan, keamanan, aksesibilitas, dan pengalaman peserta.
Dampak ekonomi kegiatan MICE juga menjangkau sektor hotel, transportasi, restoran, UMKM, jasa produksi event, tenaga kerja, hingga industri kreatif.
“Kontribusi MICE terhadap ekonomi nasional sebaiknya dilihat sebagai ‘multiplier effect’. Satu event dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pelaku usaha dan sektor pendukung di luar venue itu sendiri,” jelas Karmila.
Data Kementerian Pariwisata yang di kutip Karmila mencatat program “Event by Indonesia” sepanjang 2025 menghasilkan perputaran ekonomi Rp 23,76 triliun, dengan 12,20 juta pengunjung.
Program tersebut melibatkan 20.877 UMKM serta menyerap 257.561 tenaga kerja, pelaku seni, dan komunitas.
“Angka ini merupakan dampak ekonomi dari program Event by Indonesia dan bukan kontribusi industri MICE secara keseluruhan,” jelasnya.
Menjelang 2027, dia menilai peluang pertumbuhan industri masih terbuka seiring kebutuhan perusahaan, asosiasi, industri, dan pemerintah terhadap kegiatan yang pertemukan pelaku usaha.
“Indonesia juga memiliki peluang untuk terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi business events di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.
Untuk meningkatkan daya saing, ia menyoroti pentingnya infrastruktur, konektivitas, kesiapan venue, kualitas sumber daya manusia, dan dukungan ekosistem MICE.
Strategi pengelola venue juga dapat mencakup peningkatan layanan, optimalisasi ruang, renovasi area, pengembangan pasar, serta penguatan kerja sama dengan penyelenggara dan asosiasi.
Karmila turut menyoroti digitalisasi dan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi industri ke depan.
“Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman peserta dan efisiensi operasional. Sementara itu, penerapan praktik event yang lebih berkelanjutan akan menjadi salah satu aspek yang semakin diperhatikan oleh penyelenggara maupun peserta,”
Dia juga memperkirakan, industri MICE tetap memiliki ruang untuk tumbuh pada 2027. Namun, pertumbuhan tersebut akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi, aktivitas bisnis, serta kemampuan seluruh pelaku industri untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar









