Home HALAL GeNose C19, Kebangkitan Pariwisata & Literasi Halal.

GeNose C19, Kebangkitan Pariwisata & Literasi Halal.

0
104
Muslim traveler dari generasi Gen Z (usia 16-24 tahun) kini sedang dalam perjalanan untuk menemukan dunia. ( Foto: unsplash.com /Khaled Ghareeb @khaledkagii).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sesi mentoring dua jam bersama pendiri Indonesia Tourim Forum ( ITF) dan Indonesia Halal Lifestyle Center          ( IHLC)  Sapta Nirwandar yang juga penasehat portal berita wisata ini belum dimulai ketika mata saya melihat sebuah klipping setinggi 15 cm di atas meja kerjanya yang langsung menyita perhatian saya.

Masya Allah!, ternyata klipping berita mengenai GeNose C19, alat skrining dengan sampel nafas yang diciptakan oleh para peneliti di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan menjadi titik terang kebangkitan pariwisata Indonesia karena prosesnya mudah, nyaman dan  waktunya kurang dari satu menit dengan tingkat akurasi 93-95%.

Sapta yang menyelenggarakan peluncuran GeNose C19 secara hybrid ini dan diendorse tiga kementrian yang dihadiri Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRI), Bambang PS Brodjonegoro,  Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif/ Kepala Baparekraf Sandiaga Salahuddin Uno bersama Wakilnya, Angela Tanoesoedibjo.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Raffles Ciputra World Jakarta, Jumat (19/02), juga mendapat dukungan dan kehadiran industri wisata diwakili oleh Elly Hutabarat, Ketua Astindo, Haryadi Sukamdani dari PHRI, Budi Tirtawisata, Ketua Indonesia Convention & Exhibition Bureau serta Adi Satria, SVO Operation & Goverment relations Accor sebagai mitra IHLC.

Hadir pula Denon Prawiraatmadja, Ketua INACA,  Horsea Anrea Runkat, Ketua Asperapi, Rusmiati, Ketua ASITA, Panca Sarungu, Ketua Masata, Alphonsus Wijaya, Ketua APBI, Lily G Karmel, Ketua FOKBI , I Gede Susila Isnawa, Ketua IPI dan Salman Dianda Anwar, Ketua Jakarta Tourism Forum.

Sewaktu ikut hadir di hotel Raffles, saya sudah takjub dengan gerak cepat Sapta Nirwandar menyatukan para ketua asosiasi pariwisata dan langsung optimistis akan kebangkitan pariwisata nasional. 

Ditambah lagi Jerry Sambuaga yang tidak segan-segan memanggil saya “Tante Hilda” karena dulu banyak meliput aktivitas papanya, Theo Sambuaga sebagai tokoh Fungsionaris Golkar juga punya semangat yang sama sambut inovasi produk itu.

Jerry mengatakan kehadiran GeNose memacu semangat anak bangsa untuk Bangga Buatan Indonesia dan menjadi inovasi produk yang bisa jadi solusi bagi seluruh dunia yang dilanda pandemi global COVID-19.

Merinding melihat klipping berita GeNose C19 setinggi itu. Antusiasme dan optimisme tampak jelas di depan mata dari sosok Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono ini.

Sapta memang dikenal sebagai pencetus ide berbagai Calender of Event yang sukses di tanah air seperti Tour de Singkarak dan Jakarta Marathon misalnya dan biasa membuat klipping berita yang mendapat exposure menguntungkan terutama dari sisi promosi pariwisata.

Apalagi dia juga dikenal sebagai media darling alias nara sumber yang disukai wartawan mengacu pada pengertian “darling” dalam bahasa Inggris, yaitu sayang, kesayangan, menawan, atau memikat hati. Istilah yang pertama kali diciptakan oleh The Washington Post pada 1970-an (Urban Dictionary) ini identik dengan konsep “newsmaker” atau “name makes news”.

Sapta menyodorkan buku laporan DinarStandar berjudul State of The Global Islamic Economy Report, Thriving in Uncertainty 2020/ 2021 yang diluncurkan di Jakarta,  November 2020 dengan total peluncuran secara bersambung di 11 negara.

Indonesia menjadi negara kedua tempat peluncuran report penting itu yang dihadiri dan mendapat sambutan dari Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin sehingga selama peluncuran di 11 negara, nama Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia otomatis dipromosikan oleh lembaga internasional itu.

Sapta dengan sabar juga memberikan mentoring per sektor mulai dari keuangan, makanan ( food), fashion, travel, media & rekreasi, farmasi hingga kosmetika dengan joke-joke  lucu sehingga belajar bersama Elva Septinawati, External Relations Director Bisniswisata & EXPLORE! di waktu krisis mengantuk jam 14.00-16.00 WIB membuat kami berdua kadang melepas tawa dengan bebas.

Tapi meski demikian begitu tiba di halaman 98 mengenai Muslim Friendly Travel, tawa lepas kami langsung hilang. Apalagi sang mentor cuma memberikan kata-kata kunci di halaman 106 report DinarStandar itu sehingga sebagai ‘murid’ kami harus membaca dengan seksama dan memahami sinyal-sinyal peluang pengembangan  Muslim Travel Friendly.

Jujur saja setelah Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno dibully netizen saat pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Bali sebagai  destinasi wisata utama di negri ini keinginan untuk menulis literasi halal memicu saya untuk belajar banyak tentang Halal Industry.

Masalahnya Halal Tourism yang hanyalah extended services telah dipolitisir sedemikian rupa sehingga seluruh daerah di Indonesia dengan mayoritas non Muslim diajak tidak perlu menerima konsep itu.

Ulah segilintir orang yang mungkin ‘merasa’  Bali adalah ciptaan manusia, ciptaan mereka sendiri bukan ciptaan Tuhan dan  tidak perlu disodori dengan konsep-konsep dasar agama yang dianggap bisa memecah belah bangsa perlu diluruskan. 

Saat mengisi Programa 4 Radio Republik Indonesia ( RRI)  bersama host Yanti Yusfid, padahal saya sudah menyuarakan agar Daerah Super Prioritas Seperti Toba, Labuan Bajo dan Likupang yang mayoritas non Muslim bisa menggunakan kata ramah Muslim atau Muslim Friendly ketimbang branding halal tourism.

Jika semua elemen bangsa ini ibarat pepatah  kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu soal himbauan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin soal Halal Tourism maka kita akan menjadi bangsa yang merugi karena Muslim Friendly Travel mewakili pemasukan sebesar US$194 miliar dari outbound travel saja yang dikeluarkan oleh 1,9 miliar wisatawan Muslim.

Pengeluaran warga Muslim akan mencapai US$ 2.3 triliun di 2024 pada Tingkat Pertumbuhan Kumulatif Tahunan (CAGR) 3.1%. Meskipun kekacauan yang ditimbulkan oleh COVID-19, tahun lalu mencatat banyak perkembangan penting dalam ekonomi Islami.

Jam 16.00 tepat mentor kami sudah harus menjadi pembicara lagi di webinar internasional sehingga bersama Elva saya juga bergegas ke tempat meeting berikutnya. “Saya bukan ustadzah, tapi kalau Allah memberikan kemampuan menulis, bisa membuat literasi halal berarti saya ikut melakukan syiar Islam kan?,” tanya saya pada Elva tanpa menunggu jawabannya.

 

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.