Diplomat Senior Berbagi Pengalaman dalam Jalankan Polugri

0
60

Oleh : Reny Sahetappy

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Fakultas Ilmu-llmu Sosial dan Politik (FISIP)  Universitas Indonesia (UI) mengadakan acara Bedah Buku bertajuk ”Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara” mendengarkan paparan dari dua diplomat senior, yakni Dubes Prayono Atiyanto dari Kemlu dan Niniek Kun Naryati, Dubes RI untuk Argentina merangkap Uruguay dan Paraguay. 

Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc, Dekan Fisip UI dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan berbagi pengalaman ini sangat relevan dengan program studi Fisip karena jurusan hubungan internasional juga mendalami masalah tersebut dari aspek teori.

Diharapkan pengalaman para diplomat senior dapat menambah bobot materi yang diajarkan di UI. Selanjutnya Arie mengusulkan agar kegiatan kolaborasi antara para diplomat dengan akademisi dapat terus dilakukan.  

Mengawali paparannya, Prayono Atiyanto, Dubes/Ahli Utama Kemlu menyerahkan buku diplomasi dimana semua penulis para diplomat lulusan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) adalah alumnus Angkatan X pada tahun 1984. 

Dalam perjalanan kariernya Angkatan X tersebut telah mendapat amanah memegang berbagai jabatan di Kemlu dan Perwakilan. Buku Diplomasi yang diberikan kata sambutan oleh Menlu Retno Marsudi itu ditulis oleh 17 (tujuh belas) diplomat senior dan dibantu ilustrasi dan penyunting bahasa oleh 2 (dua) diplomat senior lainnya. 

Diakhir paparannya, mantan Dubes RI untuk Azerbaijan ini menyatakan empat pesan, yaitu  Pertama, bahwa angka statistik itu penting, yaitu indikator pelaksanaan diplomasi politik, ekonomi, sosial budaya, perlindungan WNI.

Kedua ,”You will never walk alone”. Artinya diplomasi tidak dilakukan di ruang hampa, diplomasi adalah kerja bersama pemerintah pusat dan daerah – masyarakat madani – swasta – akademisi- diaspora indonesia di luar negeri.

Ketiga, kinerja harus bisa diukur dan dipertanggungjawabkan dan Keempat, integritas dan NKRI adalah harga mati dan diplomasi ditujukan untuk kepentingan rakyat.

Nara sumber lainnya, Dubes Niniek Kun Naryati menyatakan bahwa buku diplomasi ini adalah untuk memperluas wawasan pembaca melalui tulisan yang menguraikan fakta di lapangan. Informasi tersebut diolah dan dianalisis, sehingga mencerminkan keluasan dan kedalaman pemikiran. 

Menurut Niniek, pada krisis  di Ukraina, ternyata Perwakilan RI tidak bisa mengandalkan laporan semata-mata dari sumber terbuka yaitu dari berita lokal atau regional, namun juga perlu memeriksa sendiri validitasnya di lapangan.

Untuk itu diperlukan jejaring yang kuat dari semua pemangku kepentingan. Ketika kendala di lapangan sangat sulit seperti bahasa, kepentingan dua kubu yang bertikai dan akses resmi ditutup, maka mau tidak mau harus mencari sumber berita secara langsung dengan memanfaatkan kedekatan dengan semua pihak. 

Diakhir paparan Niniek menyampaikan bahwa Konflik Ukraina yang semula merupakan ketidakstabilan politik internal bereskalasi menjadi krisis internasional. Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negerinya yang ditujukan untuk terciptanya perdamaian. 

Sambutan pembahas yang memperkaya isi buku

Para pembahas dari universitas Indonesia memberikan pandangan yang bervariasi dan menambah bobot diskusi. 

Dr. Asra Vergianita, Ketua Jurusan Hubungan Internasional menyatakan bahwa beragamnya bidang tugas yang ditangani diplomat membuat spektrum pengalaman dan pengetahuan seseorang diplomat menjadi luas: mulai dari politik, ekonomi sampai perlindungan. 

Selanjutnya Dr. Nurul Isnaeni menyoroti tentang peranan LSM khsusnya pekerja migran Indonesia (PMI) perlu diberikan highlight tersendiri mengingat jasa mereka untuk membantu perekonomian keluarganya di Indonesia. 

Pembahas lainnya Dr. Eddy Prasetyono antara lain menyampaikan tentang pentingnya kategorisasi dalam pembagian tugas diplomat. Dimulai dari diplomasi ekonomi, diplomasi perlindungan, diplomasi kebudayaan, diplomasi keamanan, dan sebagainya. 

Kebijakan luar negeri

Diskusi yang diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik khususnya jurusan hubungan internasional ini juga membahas tentang kebijakan luar negeri dan capaian diplomasi ekonomi yang dijalankan oleh Kementerian Luar Negeri. 

Para penulis Buku lainnya antara lain Agus Sriyono, Darmansjah Djumala, Bagas Hapsoro dan E.D. Syarief Syamsuri juga memberikan tanggapan terhadap pertanyaan pada buku Diplomasi termaksud.

Mereka sepakat memberikan penghargaannya kepada  UI yang telah memberikan kajian mendalam terhadap materi dan format buku.  M.G. Hendra Henny Andries da Lopez sebagai salah satu penulis menyatakan bahwa tujuan penyusunan buku Diplomasi adalah dilandasi oleh keinginan para penulis untuk berbagi pengalaman di lapangan.

Salah satu lesson-learned yang dapat dipetik dari tulisan tersebut Perwakilan mencarikan kesempatan kerja di kedutaan besar lain bagi local-staff yang terpaksa harus dihentikan kontraknya karena tidak tersedianya anggaran. Upaya ini berhasil dan langkah ini merupakan bagian dari tugas dan fungsi diplomat yang menyangkut aspek protecting dan managing. 

Dede Syareif Syamsuri menambahkan bahwa kreativitas sangat diperlukan agar diplomasi ekonomi di pasar nontradisional berjalan dengan baik. Oleh karena itu masukan UI juga bisa menjadi materi berharga bagi Kemlu.

Antusiasme mahasiswa UI terlihat dari pertanyaan langsung dan yang tertera dalam kolam chats. Umumnya adalah pertanyaan tentang tantangan dalam menjalankan  fungsi diplomat, asimilasi budaya suku Jawa di Kaledonia Baru, problem lingkungan hidup, dan isu persenjataan nuklir. 

Dengan usainya bedah buku ini maka acara program Bedah Buku putaran pertama telah selesai,  melalui diskusi dengan 7 perguruan tinggi, dan 2 penggiat bisnis dan sosial. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.