Penari Rampak Beduk di Bundaran HI saat memasuki Ramadhan lalu ( Foto ANTARA/ Dhemas Reviyanto)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Farah Fauziah Arditami, Chief Marketing Officer CrescentRating dan HalalTrip, mengatakan Jakarta sebagai kota metropolitan utama Indonesia dapat mengubah keunggulan demografis yang masif untuk tingkatkan kunjungan wisatawan internasional.
Berbicara mewakili otoritas global dalam bidang perjalanan yang ramah bagi wisatawan Muslim (faith-conscious travel), Fauziah menegaskan perlunya ada penyelarasan kebijakan, infrastruktur perkotaan, dan pelaksanaan komersial.
Dalam presentasi praktis yang dirancang khusus untuk Jakarta dengan mengusung tema “Membangun Jakarta sebagai Destinasi Ramah Wisatawan Muslim Berkelas Dunia,” presentasi Farah dalan forum ini satukan para pemimpin dari sektor penerbangan (Garuda Indonesia), perhotelan (PHRI), dan institusi budaya (TMII).
Forum yang berlangsung akhir Agustus lalu ini dihadiri para pejabat tinggi pemerintah, pembuat kebijakan tingkat provinsi, eksekutif agen perjalanan, dan pemimpin perhotelan berkumpul diMövenpick Hotel, Jakarta untuk menghadiri Jakarta Muslim Friendly Forum (JMFF) 2026.
Diselenggarakan oleh Alliance of the Indonesian Tour & Travel Agencies (AITTA / DPD ASITA Jakarta) bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta (Disparekraf DKI Jakarta), JMFF 2026 mempertemukan lebih dari 200 pemangku kepentingan utama industri.
Wawasan Global & Lonjakan Indonesia ke Peringkat ke-2
Farah membuka sesi dengan menempatkan posisi Jakarta dalam konteks data makro perjalanan global yang bersumber dari Mastercard – CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026
Tren Kunjungan Global: Jumlah kunjungan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta pada tahun 2025 (meningkat 11,3% secara tahunan/YoY) dan diproyeksikan akan mencapai 262 juta pada tahun 2030, yang mendorong nilai belanja tahunan sebesar USD 310 miliar.
Skala Demografis: Populasi Muslim global diperkirakan akan mencapai 2,57 miliar jiwa pada tahun 2036 (mencakup 28,8% dari total populasi dunia),dengan usia median 25–27 tahun dan 70% di antaranya merupakan konsumen digital native berusia di bawah 40 tahun.
Momentum Bersejarah Indonesia: Dalam peringkat GMTI 2026, Indonesia mencatatkan lonjakan skor terbesar (+3 poin) di antara negara-negara lainnya, naik untuk menempati posisi kedua dunia secara bersamaan dengan Arab Saudi dan Turki.
“Indonesia Tidak Perlu Memenangkan Pasar Ini karena keunggulan demografis yang melekat,” jelasnya.
Inti dari presentasi ini menantang pemikiran destinasi konvensional: Indonesia tidak perlu berjuang dari awal untuk “memenangkan” pasar wisata Muslim, tambahnya.
Indonesia sudah memiliki dua keunggulan struktural yang tidak dapat ditiru oleh destinasi pesaing mana pun: basis domestik yang besar dan mesin masuk regional yang mapan.
Basis permintaan domestik: Terdapat 216 juta Muslim di Indonesia, 87% dari total populasi, 63% di antaranya berusia di bawah 40 tahun.
Pasar Sumber untuk Indonesia: Pada tahun 2024, terdapat 227 juta kedatangan dari Malaysia sebagai pasar sumber utama Indonesia. Pasar sumber lainnya termasuk Australia, Singapura, Tiongkok, Timor Leste, dan India.
Konsentrasi Regional: 75% dari perjalanan Muslim masuk berasal dari ASEAN.
Pusat Demografi Muslim: Indonesia memiliki 11,3% dari populasi Muslim dunia dan merupakan rumah bagi 86% populasi Muslim Asia Tenggara.
Mengapa Keunggulan Itu Nyata, dan Mengapa Kesempatan Itu Ada Sekarang ?.
Meskipun angkanya mencengangkan, keunggulan demografis yang melekat tidak secara otomatis berubah menjadi penguasaan ekonomi.
Kelompok konsumen Muslim yang memasuki puncak daya beli antara tahun 2026 dan 2036 tumbuh sepenuhnya di Instagram, TikTok, dan mesin pencari AI.
Pasar domestik sebesar ini hanya akan berhasil jika destinasi tersebut siap algoritma, mudah ditemukan secara digital, dan ramah Muslim.
Kebijakan yang dirancang untuk pengunjung rata-rata kemarin akan gagal memenuhi kebutuhan wisatawan dominan di masa depan.
Kesempatan strategis untuk membentuk infrastruktur fisik dan mengkurasi penemuan digital terbuka sekarang sebelum kebiasaan, koridor loyalitas, dan preferensi platform mengeras di kalangan demografi muda ini.
Kesempatan Strategis Jakarta & Kinerja IMTI
Dalam Indeks Perjalanan Muslim Indonesia (IMTI) 2025, Jakarta menonjol sebagai kota dengan konektivitas terbaik dan menduduki peringkat #1 sebagai provinsi yang paling mudah diakses di Indonesia.
Jakarta berada di posisi ideal untuk menarik pengeluaran wisatawan yang lebih luas melalui empat peran strategis yang berbeda:
Gerbang Negara: Titik masuk internasional yang didukung oleh gerbang otomatis biometrik Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan koridor penerbangan yang terus berkembang.
Destinasi Perkotaan Premium: Pusat kosmopolitan yang memadukan belanja mewah modern dan gastronomi Halal dengan warisan budaya Betawi dan Islam yang mendalam.
Ibu Kota MICE & Bisnis: Pusat komersial yang menjadi tuan rumah pertemuan puncak perusahaan, forum keuangan Syariah, dan acara perdagangan internasional.
Penghubung Regional: Jalur domestik utama yang menghubungkan kedatangan internasional ke pusat-pusat wisata seperti Bali, Lombok, dan Yogyakarta.
Dari Akomodasi Dasar Menuju Kebersamaan Holistik
Untuk meraih loyalitas wisatawan modern, Jakarta harus beralih dari kepatuhan dasar ke kebersamaan holistik. Ini membutuhkan peralihan dari daftar periksa manual ke Kemudahan Penemuan AI dan penerapan Kerangka Kerja RIDA (Bertanggung Jawab, Imersif, Digital, Terjamin).
Ketika wisatawan Muslim internasional cari pengalaman, platform rekomendasi AI harus segera tampilkan tempat sholat terverifikasi, pilihan kuliner bersertifikat, dan fasilitas kesehatan yang memperhati- kan privasi di seluruh Jakarta.
5 Area yang Perlu Ditingkatkan untuk Jakarta
Untuk mewujudkan visi ini, Farah menyampaikan lima prioritas yang dapat segera ditindaklanjuti bagi para pemangku kepentingan pariwisata Jakarta:
*Kebijakan Formal & Badan yang Ditunjuk: Membentuk Koordinasi Pariwisata Ramah Muslim yang berdedikasi dan membuat gugus tugas di dalam Disparekraf untuk menyelaras- kan pelaksanaan multi-lembaga.
*Panduan Pengunjung yang Dapat Dibaca Mesin: Beralih dari PDF statis ke basis data digital yang terstruktur, siap API, dan dapat diakses oleh LLM dan agen AI perjalanan.
*Desain Spesifik Segmen: Menyesuaikan pengalaman untuk demografi utama, dimulai dengan perempuan.
*Sertifikasi Lini Depan: Latih dan sertifikasi staf hotel dan tur terlebih dahulu, kemudian susun Paket yang dapat dipesan dan rencana perjalanan perkotaan yang dijamin sesuai dengan keyakinan untuk OTA.
*Posisi “Mulai di Sini”: Pasarkan Jakarta sebagai babak pertama yang penting dan kaya budaya dari setiap liburan di Indonesia, bukan sekadar tempat transit.
Membuka Potensi Penuh Jakarta
Indonesia memiliki skala demografis, konektivitas regional, dan otentisitas budaya. Dengan memformalkan koordinasi kebijakan, menyusun data digital untuk penemuan AI, dan mengkurasi pengalaman perkotaan yang inklusif, ibu kota dapat membuka potensi penuhnya.
“Semoga tahun 2027 menjadi tahun di mana Jakarta berhenti menjadi kota yang hanya dilewati oleh para pelancong Muslim, dan menjadi kota tempat perjalanan Indonesia dimulai,” tutup Farah Fauziah Arditami.










