Chef Ragil: Kuliner Otentik Indonesia Diambang Kepunahan

0
283
Chef Ragil (Foto: Istimewa)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Chef Ragil Imam Wibowo prihatin dengan perkembangan dengan kuliner otentik Indonesia. Keprihatinan bersumber dari semakin punah kuliner asli nusantara, yang berlangsung secara perlahan namun pasti. Bahkan tercatat dua kuliner otentik sudah jarang ditemuinya.

Penyebabnya berbagai sebab. Selain tergerus dengan aneka makanan moderen yang merajai pasar bahkan konsumen Indonesia, juga sudah tidak ada lagi generasi penerus yang melestarikannya. Bahkan tak ada resep secara tertulis, hingga susah menemukan bahan-bahan utama untuk membuat masakan tradisional tanah air.

“Sebenarnya banyak sekali yang diambang kepunahan. Ada beberapa yang paling dekat. Ada Sayur Babanci khas Betawi dan Mie Lethek dari Jogja,” papar Chef Ragil – panggilan akrabnya ditemui di press conference Festival Jajanan Bango (FJB) di Nusa Indonesian Gastronomy, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis, (21/2).

Punahnya kedua kuliner itu, lanjut Chef Ragil, karena susah mencari atau mendapatkan bahan-bahan resepnya. “Misalnya, Mie Lethek. Ini adalah mie asli Jogja yang menggunakan bahan dari tepung gaplek yang dicampur dengan tepung singkong. Yang menjadi susah dicarinya tepung gaplek. Bahan itu susah didapatkan karena di Jogja sendiri sudah tak banyak lagi yang menyediakannya,” lontarnya.

Sementara yang jual Mie Lethek juga semakin sedikit. Karena, mereka agak kurang sabar untuk menunggu proses itu. Padahal, itu yang paling dicari orang saat datang ke Jogja,” tambah pengamat kuliner sekaligus foodpreneur.

Ini tentu sebuah kerugian, karena kuliner Indonesia sangat dicari-cari oleh para pecinta kuliner. Tak hanya rasanya yang lezat, kuliner Indonesia juga kaya akan cerita. “Beda dengan di luar negeri, mereka harus mencari-carinya. Kalau Indonesia pasti ada cerita di belakangnya dan menarik. Itu yang harus digali dan di-trigger ke milenial. Karena, mereka suka hal-hal yang seperti itu,” tuturnya

Chef Ragil mengklaim sudah melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk mencari resep otentik dan resepnya hampir hilang. Dan mencatat ada tiga problem yang menjadi perhatian kita bersama. Pertama, bangsa kita jarang menulis resep, hanya dilakukan secara lisan saja. “Jadi generasi dulu hanya bisa diingat-ingat, dihafal juga mendampingi cara memasaknya. Tanpa melakukan pencatatan,” jelas peraih penghargaan Chef of The Year 2018 dari Jakarta’s Best Eats.

Kedua, lanjut pria berkaca mata ini, menyebut hampir punahnya kuliner asli Indonesia juga lantaran bahan-bahan utama yang sudah hampir sulit didapatkan. Karena ada beberapa bahan di satu tempat dengan tempat lain. Padahal bahan itu memiliki nilai otentitas.

Ketiga, yang membuat makanan asli Indonesia hampir punah adalah generasi berikutnya yang tidak tertarik. Nah ini bagaimana buat makanan yang menurut mereka kuno dibuat menarik seperti dari packaging-nya,” kata koki gastronomi yang menyebet predikat pemenang Asian Cuisine Chef of the Year 2018 (Regional) dari ajang penghargaan internasional World Gourmet Summit (WGS) Award Of Excellent 2018

Keempat, yang membuat kuliner asli Indonesia terancam punah lantaran penjaja kuliner yang menghidangkan aneka hidangan autentik hang mulai pudar. Maka dari itu kata dia, eksistensi penjaja kuliner dari generasi ke generasi menjadi hal yang penting agar kelezatan asli Indonesia tidak hilang ditelan waktu. (ENDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.