Turis Indonesia dengan busana Mulimnya mengagumi keindahan bangunan kuno di Taskent, Uzbekistan ( Foto: Sally Giovanny(
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Peningkatan capaian State of the Global Islamic Economy Indicator (SGIE) Report Tahun 2024/ 2025 yang paling menonjol adalah Indonesia berhasil naik ke peringkat pertama dunia untuk sektor modest fashion atau busana Muslim.
Selain itu, Indonesia juga menduduki peringkat kedua dalam sektor pariwisata ramah Muslim serta farmasi dan kosmetik halal, kata Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) RI, Muhammad Aqil Irham.
Dilansir dari bpjph.halal.go.id, dia mengatakan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari upaya serius pemerintah dalam mendorong ekosistem industri halal nasional.
“Kita bersyukur terdapat sejumlah kemajuan di sejumlah sektor unggulan industri halal dalam rilis SGIE Report 2024. Ini merupakan capaian kinerja pemerintah yang terus berupaya memperkuat ekosistem halal nasional melalui berbagai upaya strategis.” ungkapnya.
Pencapaian Indonesia sebagai peringkat pertama di sektor modest fashion adalah hasil nyata Indonesia Global Halal Fashion (IGHF) yang kita jalankan ke lima negara, dimulai dari ajang fashion week di Indonesia pada Maret 2024, kemudian di Malaysia pada Agustus 2024, dan selanjutnya di London UK, Milan Italia, dan Paris pada September 2024. lanjutnya.
Sebagai informasi, IGHF merupakan kolaborasi bersama antara pemerintah, pelaku industri tekstil, para designer dan produsen kain halal di tanah air. IGHF yang dilaunching pada gelaran Indonesia Fashion Week, di JCC Jakarta pada Kamis 28 Maret 2024 bertujuan untuk mendorong pengembangan industri produk fesyen Muslim Indonesia.
Tujuannya memperkenalkan fashion halal wised karya desainer Tanah Air yang mengusung ciri khas dan keunikan tekstil yang sarat dengan nilai budaya Indonesia, seperti tenun, songket, batik dan sebagainya.
“IGHF memang diharapkan menjadi wadah strategis guna mendorong promosi dan penguatan industri fesyen dalam mengantarkan Indonesia sebagai kiblat fesyen Muslim dunia.” sambung Muhammad Aqil Irham.
Menurut dia, IGHF lebih dari sekedar mempromosikan produk fashion halal Indonesia ke pasar dunia, tapi juga membuktikan bahwa produk halal RI mampu kompetitif secara kualitas di pasar dunia.
Muhammad Aqil Irham mengatakan bahwa penguatan ekosistem industri produk fesyen Muslim dilakukan untuk menyambut mandatory atau kewajiban sertifikasi halal bagi barang gunaan termasuk produk fesyen yang akan diberlakukan mulai Oktober 2026.
Penguatan industri fesyen Muslim ini dimulai dari sektor hulu yang berkaitan dengan akses bahan baku, produksi, branding, serta kegiatan pameran dan promosi. Sektor hulu dimulai dari produk fesyen tekstil atau kain bersertifikat halal, yang dipastikan memudahkan produksi fesyen Muslim, untuk selanjutnya didukung pula dengan promosi yang optimal.
Pada SGIE 2024, peningkatan signifikan lain juga diraih Indonesia di sektor Muslim Friendly Tourism (Wisata Ramah Muslim), di mana Indonesia melesat naik ke peringkat dua dari yang sebelumnya pada tahun 2023 Indonesia tidak masuk 10 besar dunia.
Capaian ini tidak terlepas dari upaya Pemerintah mengakselerasi sertifikasi halal bagi produk makanan dan minuman di 3.000 desa wisata melalui sinergi BPJPH dan Kemenparekraf.
Di sektor farmasi dan kosmetik, Indonesia juga naik secara signifikan ke peringkat kedua dari sebelumnya di peringkat kelima pada 2023 lalu, dan hanya terpaut dari Malasysia di peringkat pertama.
Sedangkan di sektor Islamic finance, Indonesia berhasil naik satu tangga dari peringkat ketujuh pada 2023 menjadi peringkat keenam.
Namun, di sektor halal food, Indonesia turun dari peringkat kedua pada 2023 lalu menjadi peringkat keempat. Pada sektor media dan rekreasi, Indonesia juga turun dari peringkat keenam pada 2023 lalu menjadi peringkat ketujuh.
DinarStandard meluncurkan State of the Global Islamic Economy Report (SGIE) 2024/25 dalam sebuah forum strategis di Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI ke-13 Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Aminpada 8 Juli lalu di ballroom Bappenas.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC). SGIE yang kini memasuki edisi ke-11 merupakan laporan tahunan dari DinarStandard yang menjadi rujukan utama dalam mengukur kinerja ekonomi Islam global.










