INTERNATIONAL LAPORAN PERJALANAN LIFESTYLE TIPS WISATA

Berkunjung ke Ibu kota diplomatik Afrika, Addis Ababa

Gedung2 perkantoran menjulang tinggi di pusat kota dan kawasan bisnis Addis Ababa. ( Foto-foto: dok.pribadi)

ADDIS ABABA, bisniswisata.co.id: Addis Ababa dijuluki Ibu kota diplomatik Afrika karena menjadi pusat organisasi besar seperti African Union. Kali Ini adalah pengalaman perjalanan saya bersama suami, Bengt Sahlin,
mengunjungi Addis Ababa, ibukota Ethiopia dimana saya dibesarkan.

Alhamdulilah mas Bengt setuju dengan keinginan saya melakukan napak tilas,
melihat kota yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil saya, 53 tahun yang silam.

Penerbangan kami datang dari pulau Zanzibar (Tanzania) di Afrika Timur tepat waktu dan take off pukul 19.20 menuju Addis Ababa memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit. saya dan suami, Bengt Sahlin tiba di bandara Internasional Bole Addis Ababa sekitar pukul 21.50 waktu setempat.

Setibanya di Addis Ababa, kami langsung menuju hotel yg jaraknya sekitar 10 menit dari bandara, yaitu Hotel Golden Tulip. Langsung beritirahat karena acara kami padat keesokan harinya sementara kunjungan kami di kota ini hanya selama dua hari.

Bandara Internasional Bole Addis Ababa

Sejarah Bandara Internasional Bole Addis Ababa Bole (ADD) merupakan contoh nyata dari perkembangan cepat infrastruktur penerbangan di Afrika. Bandara ini didirikan pada tahun 1961 melalui dekrit Kaisar Haile Selassie I dan awalnya menggunakan namanya.

Sejak awal, bandara ini menjadi basis utama maskapai nasional, Ethiopian Airlines, yang kisah suksesnya sangat terkait dengan modernisasi pusat transportasi ini.

Setelah terjadi perubahan politik di negara tersebut pada tahun 1974, bandara ini diganti namanya menjadi Bole — sesuai dengan nama distrik di Addis Ababa tempat bandara ini berada.

Pada dekade-dekade awal operasinya, bandara ini memainkan peran penting namun relatif sederhana. Namun, pada pertengahan 1980-an, bandara ini menjadi pusat vital untuk koordinasi dan pengiriman bantuan kemanusiaan internasional.

Selama kelaparan yang dahsyat terjadi, bandara ini memiliki peran penting strategis bagi seluruh negara. Tahap penting dalam sejarah bandara terjadi pada tahun 2003, ketika modernisasi besar-besaran selesai dilakukan.

Pekerjaan tersebut meliputi pembangunan terminal internasional baru, menara kontrol modern, dan landasan pacu baru sepanjang 3.800 meter. Hal ini memungkinkan penerimaan semua jenis pesawat modern dan menjadi fondasi untuk mengubah Bole menjadi hub internasional utama.

Churchill Avenue, dengan latar belakang pemandangan Piazza District ( tengah) 

Bandara ini merupakan pusat utama (hub) Ethiopian Airlines, maskapai nasional Ethiopia yang melayani penerbangan domestik serta rute ke berbagai destinasi di seluruh benua Afrika, dan juga koneksi ke Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan dan sekaligus menjadi basis Ethiopian Aviation Academy.

Hingga Juni 2018, hampir 380 penerbangan per hari beroperasi melalui bandara ini. Ke depannya, bandara ini direncanakan akan digantikan oleh pusat penerbangan baru di Bandara Internasional Bishoftu, dengan target penyelesaian pada tahun 2030.

Ibu kota Addis Ababa

Terletak di dataran tinggi yang subur dan dikelilingi perbukitan, Addis Ababa lahir sebagai simbol harapan dan kehidupan baru. Nama kota ini sendiri, “Addis Ababa”, berarti “Bunga Baru” dalam bahasa Amharik — sebuah nama yang dipilih oleh Kaisar Menelik II ketika ia menemukan lembah yang dipenuhi bunga liar, jauh dari dinginnya kota sebelumnya, Entoto.

Di setiap sudut kota, terasa semangat pembaruan itu: dari jalan-jalan yang sibuk hingga pasar yang berwarna-warni, dari arsitektur kolonial hingga gedung – gedung modern. Addis Ababa bukan sekadar ibu kota; ia adalah permulaan baru, tempat di mana sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari berpadu menjadi satu mozaik yang hidup dan terus berkembang.

Kota modern

Hari pertama kami keliling kota Addis Ababa melihat perkembangan kota yg begitu modern dibanding tentunya ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di tahun 1969.

Banyak sudah perubahan kota Addis Ababa yang tertata rapi dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Kami melewati pusat kota dan kawasan bisnis.Gedung perkantoran menjulang tinggi di pusat kota dan kawasan bisnis Addis Ababa.

Monumen Menelik II

Monumen yang juga sering disebut Addis Ababa Martyrs’ Monument. Monumen ini berada di sebuah bundaran besar di pusat Addis Ababa.

Dibangun untuk memperingati korban pembantaian 19 Februari 1937 (12 Yekatit menurut kalender Ethiopia) saat masa pendudukan Italia di Ethiopia.

Peristiwa tersebut terjadi setelah percobaan pembunuhan terhadap gubernur Italia saat itu, Rodolfo Graziani, yang kemudian memicu pembantaian besar terhadap warga Ethiopia.

Ciri khas monumen, pilar tinggi berbentuk silinder di tengah. Di bagian bawah terdapat patung-patung manusia (martir) yang menggambarkan penderitaan rakyat. Di dekat puncak ada wajah-wajah pahatan yang melambangkan para korban.

Monumen ini menjadi salah satu simbol penting sejarah perlawanan Ethiopia terhadap penjajahan Italia dan lokasinya dekat Sidist Kilo. Mengapa monumen ini penting ? sebagai penghormatan kepada para martir Addis Ababa yang dibantai selama Perang Dunia II

Di sini kita bisa merasakan pusat kota yang hidup menceritakan kisah masa lalu Ethiopia yang kaya sekaligus menyaksikan sebuah monumen indah yang melambangkan ketahanan Ethiopia

Mengunjungi Lembah Entoto yang berada disekitar pegunungan Entoto Mountains di utara Addis Ababa.

African Union Monument

African Union Monument terletak di sekitar kawasan African Union (AU) Di puncaknya terdapat peta benua Afrika dengan sinar di sekelilingnya. Patung-patung di bagian bawah melambangkan bangsa-bangsa Afrika yang bersatu.

Selain African Union Monument, ada Lion of Judah Monument, patung singa dengan mahkota, simbol kerajaan Ethiopia. Sangat terkait dengan kekaisaran Haile Selassie.

Ada Lion of Judah Monument dan Tiglachin Monument, monumen ini sering juga disebut Derg Monument. Dibangun pada tahun 1984 oleh pemerintah militer Derg yang dipimpin Mengistu Haile Mariam. Monumen ini untuk memperingati tentara Ethiopia dan Kuba yang gugur dalam Perang Ogaden (1977–1978) melawan Somalia.

Kata “Tiglachin” dalam bahasa Amharik berarti “Perjuangan Kita”. Ciri khas monumen adalah beberapa elemen pada monumen memiliki makna simbolis:
Bintang merah di puncak → simbol sosialisme pada masa pemerintahan Derg.

Emblem matahari dengan palu-arit di tengah → lambang komunisme dan solidaritas blok Soviet. Patung tentara di bagian bawah → menggambarkan perjuangan militer Ethiopia bersama sekutunya.

Monumen ini berada di Tiglachin Square, tidak jauh dari pusat kota Addis Ababa dan dekat dengan kawasan perkantoran. di kawasan ini, kami juga sempat melewati campus Addis Ababa University dan juga Gedung United Nations Economic Commission for Africa

National Museum of Ethiopia

Setelah kami keliling kota Addis Ababa melihat monumen bersejarah, saatnya untuk mengunjungi salah satu museum paling penting di Afrika, yaitu National Museum of Ethiopia. Di kompleks museum ini terdapat patung Kaisar Haile Selassie.

Museum Nasional Ethiopia mungkin merupakan salah satu museum terkemuka di Afrika sub-Sahara dalam hal koleksinya yang banyak dan tak ternilai harganya. Museum ini menyimpan kerangka Lucy yang terkenal berusia 3,2 juta tahun, serta artefak paleontologi, sejarah, dan budaya yang penting.

Fossil Lucy

Perjalanan kami lanjutkan ke Fosil Lucy, dimana pada museum ini tersimpan fosil manusia purba terkenal Lucy yang berusia sekitar 3,2 juta tahun. Museum ini memberi konteks mendalam tentang peradaban Ethiopia, serta sejarah, seni dan budaya Ethiopia.

Penemuan fosil Lucy merupakan salah satu penemuan terpenting dalam studi evolusi manusIa. Banyak bukti dari Ethiopia mendukung teori bahwa manusia modern pertama kali muncul di Afrika lalu menyebar ke seluruh dunia.

Fosil Lucy ditemukan pada 24 November 1974 di daerah Hadar, wilayah Afar, Ethiopia oleh paleoantropolog Donald Johanson dan timnya. Fosil ini berumur sekitar 3,2 juta tahun dan termasuk spesies Australopithecus afarensis salah satu nenek moyang awal manusia.

Sekitar 40% dari kerangka tubuhnya berhasil ditemukan, menjadikannya salah satu fosil hominin paling lengkap yang pernah ditemukan.

Mengapa dinamakan “Lucy”?

Nama “Lucy” diambil dari lagu Lucy in the Sky with Diamonds oleh The Beatles yang diputar di kamp penelitian pada malam setelah penemuan fosil tersebut.

Ciri-ciri Lucy : Tinggi sekitar 1,1 meter dan berat sekitar 27 kg. Memiliki otak kecil seperti kera, tetapi panggul dan kaki menunjukkan kemampuan berjalan tegak (bipedal) seperti manusia.

Temuan ini membantu ilmuwan memahami bahwa manusia mulai berjalan tegak sebelum otaknya berkembang besar.

Ethiopia sering disebut “Cradle of Humankind” (tempat kelahiran umat manusia) karena banyak fosil manusia purba paling tua dan penting di dunia ditemukan di sana. Penemuan-penemuan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana manusia berevolusi.

Lembah Entoto & Entoto Park

Di hari kedua, kami ingin melihat lembah Entoto yang berada disekitar pegunungan Entoto Mountains di utara Addis Ababa.

Wilayah ini memiliki peran penting dalam sejarah politik dan budaya Ethiopia, terutama pada abad ke-19, sebagai pusat kekuasaan awal sebelum Addis Ababa.

Pada akhir abad ke-19, Kaisar Menelik II menjadikan daerah Entoto sebagai pusat pemerintahan sementara. Dia membangun istana dan markas militer di sana karena lokasinya tinggi dan mudah dipertahankan dari serangan musuh.

Namun, daerah Entoto memiliki beberapa kekurangan yaitu cuacanya sangat dingin, sulit mendapatkan kayu bakar dan air, dan medannya cukup terjal. Karena itu kemudian ibu kota dipindahkan ke lembah di bawahnya.

Lahirnya kota Addis Ababa

Istri Menelik II, Empress Taytu Betul menemukan sumber air panas di daerah lembah di selatan Entoto. Ia menyarankan membangun kota baru di sana. Kota tersebut kemudian dinamakan Addis Ababa yang berarti “bunga baru” dalam bahasa Amharik. Sejak saat itu pusat pemerintahan berpindah dari Entoto ke Addis Ababa sekitar tahun 1886.

Peran Entoto saat ini

Saat ini daerah Entoto dikenal sebagai:tempat wisata sejarah dan alam, lokasi dengan pemandangan kota Addis Ababa dari ketinggian dan kawasan hutan dan rekreasi.

Kami menyempatkan untuk makan siang di Entoto Park sambil menikmati pemandangan kota Addis Ababa dan mendengarkan desisnya daun-daun pohon Eucalyptus yg memberi kesan tenang dan meditatif, suasana alam pegunungan dengan irama alami yang lembut.

Program kami di hari kedua juga termasuk berkunjung ke sekolah International Perancis ”Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam Addis Ababa” dimana saya bersekolah dari kelas 3 SD hingga kelas 1 SMP.

Kami juga menyempatkan berkunjung ke Kedutaan Besar RI Addis Ababa, dimana ayah saya dulu bekerja. Kunjungan kami diterima dengan ramah oleh Ibu Paulina Gupta Wijaya, PF Protokol dan Konsuler.

Kopi Ethiopia

Mengakhiri kunjungan kami, adalah berbelanja oleh-oleh tentunya. Apalagi kalau bukan kopi Ethiopia yang terkenal itu. Kopi Ethiopia terkenal sebagai salah satu kopi terbaik di dunia dan memiliki sejarah yang sangat panjang. Ethiopia sering disebut sebagai tempat asal kopi Arabika.

Kopi Ethiopia terkenal di dunia karena asal-usulnya yang kuno, varietas Arabika asli, serta rasa yang kompleks dan aromatik. Budaya kopi juga menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Ethiopia.

Asal-usul kopi

Menurut legenda populer, kopi ditemukan oleh seorang penggembala kambing bernama Kaldi sekitar abad ke-9. Ia melihat kambingnya menjadi sangat energik setelah memakan buah merah dari pohon kopi. Dari situlah masyarakat mulai menggunakan biji kopi sebagai minuman.

Jenis kopi yang berasal dari Ethiopia adalah Coffea arabica, yang sekarang menjadi jenis kopi paling populer di dunia. Kopi dari Ethiopia memiliki karakter unik yaitu aroma floral (seperti bunga), rasa buah (citrus, berry, atau peach), keasaman cerah dan segar. Karena tumbuh di dataran tinggi dengan tanah vulkanik yang subur, rasa kopinya sangat kompleks.

Daerah penghasil kopi terkenal

Beberapa wilayah penghasil kopi terbaik di Ethiopia:
Yirgacheffe – rasa floral, lemon, dan teh
Sidamo – fruity dan seimbang
Harrar – dengan rasa blueberry dan cokelat
Tidak seperti banyak negara lain, Ethiopia memiliki ratusan bahkan ribuan varietas alami dari tanaman kopi Coffea arabica.

Budaya minum kopi

Di Ethiopia ada tradisi khusus yang disebut upacara kopi. Awalnya kopi disangrai, digiling, dan diseduh langsung di depan tamu menggunakan teko tradisional yang disebut jebena, dan biasanya diminum dalam tiga putaran.

Abol (cangkir pertama),Tona (kedua) dan
Baraka (ketiga – berarti berkah)
Upacara ini merupakan bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Ethiopia.

Berakhirlah sudah kunjungan napak tilas saya selama dua hari di ibukota Addis Ababa yg akan selalu membawa kenangan manis dan merupakan pengalaman yang indah, bermakna, dan patut disyukuri.

Penulis: Sri Darmastuti Sahlin tinggal di
Stockholm, Swedia

Sri Darnastuti Sahlin