Belajar dari Turki, Jangan Ragu Beri Label Halal Tourism  

0
12

Para pembicara dari Turki berfoto bersama dengan tuan rumah Sapta Niwardar, Ketua IHLC, Yanti Sukamdani dari Sahid Group, Dadang Solikhin, Deputy Gubernur DKI Jakarta bidang Pariwisata serta undangan VIP lainnya seperti Dubes Turki 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pelaku industri wisata halal di Turki sudah menerapkan konsep Islami sejak 30 tahun lalu dan sepakat melabelkan halal tourism untuk memberikan pelayanan lebih bagi wisatawan Muslim dari dalam dan luar negri.

“Konsep halal sudah kami terapkan sejak 30 tahun tapi label halal tourism baru dua tahun terakhir seiring kami mendirikan International Halal Tourism Organization ( IHATO) yang memberikan pilihan bagi para pelaku usaha untuk memberikan fasilitas ( services) pada wisatawan, kata Yusuf Gerceker, ketua IHATO hari ini.

Berbicara pada Halal Tourism Benchmarking Workshop, Sharing Experience from Turkey yang diselenggarakan oleh Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Turkish Airlines dan organisasi lainnya, Yusuf Gerceker mengatakan inisiatif swastalah untuk melabel, menyediakan fasilitas bagi Muslim terutama di kawasan destinasi Antalya.

” Awalnya ada perdebatan sengit antar pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat untuk mendeklarasikan Antalya sebagai tujuan halal tourism Turki. Namun akhirnya swasta kompak memakai label Halal Tourism untuk memberikan pelayanan lebih bagi wisatawan dan pemerintah mengikuti keinginan industrinya,” kata Yusuf Gerceker.

Antalya di Selatan Turki terkenal dengan keindahan Pantai Mediterania. Di Indonesia, kata Yusuf, mungkin seperti layaknya Pulau Bali yang diburu wisman karena pantai-pantai yang indah.

“Di Antalya kami menawarkan pelayanan tambahan untuk Muslim Traveler artinya kami memberikan fasilitas untuk wisatawan konvensional dan juga Muslim Traveler yang butuh kepastian makanan halal, perangkat sholat dan arah kiblat di kamar serta kebutuhan lainnya,” kata Yusuf Gerceker.

Dia didampingi pembicara dari Turki lainnya seperti Taner Aydin, praktisi usaha perjalanan dan manajemen hotel serta Amrullah Ahmet Turhan, Sekjen IHATO yang juga mengelola hotel bintang lima dengan konsep Halal Tourism.

Sapta Nirwandar, Pendiri dan Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) mengatakan inisiatif kalangan swasta Turki telah membuat Antalya dikunjungi sedikitnya 15 juta wisman/ tahun, sementara di Indonesia angka kunjungan 15,8 juta wisman dari semua destinasi yang ada.

“Itulah sebabnya di workshop ini kita bisa belajar bagaimana dari satu destinasi wisata seperti Antalya, Turki bisa mendapat 15 juta wisman dari negara-negaea tetangga di Eropa hingga dari Afrika,” kata Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden SBY ini.

Emrullah Ahmet Turhan, Sekjen IHATO mengatakan setelah menggunakan label Halal Tourism untuk Antalya, pihaknya juga aktif sosialisasikan pada masyarakat Turki definisi Halal Tourism, membuat riset dan pelatihan bagi kalangan industri pariwisata terutama hotel bagaimana memberikan pelayanan tambahan dalam konsep Halal Tourism.

Kontribusi wisatawan domestik di Turki pada 15 hotel mewah bintang lima yang menerapkan Halal Tourism sangat besar. Banyak keluarga yang berlibur hingga 1-2 minggu di Antalya dan memanfaatkan fasilitas yang ada.

“Tamu kami bahkan 67% warga Turki dan sisanya wisatawan mancanegara terutama dari Itali, Spanyol, Perancis, Belanda,” ujarnya.

Sapta Nirwandar menjelaskan di Indonesia, label halal seringkali menimbulkan persoalan bahkan penolakan-penolakan dari destinasi wisata lainnya. “Padahal Halal Tourism adalah services extended bagi Muslim traveler saat melakukan perjalanan wisata. Misalnya layanan untuk salat, makan, spa, dan lain-lain. Halal tourism bukan berarti menghalalkan destinasi wisata.

“Misalnya kita wisata ke Danau Toba, jadi bukan Tobanya dihalalkan, mana mungkin danau dihalalkan, danau itu buat semua orang. Atau misal ke Kawah Ijen, bukan Kawah Ijennya yang dihalalkan, karena Kawah Ijen adalah ciptaan Tuhan buat semua manusia, bukan untuk Islam saja,” tegas Sapta di sela-sela acara workshop Halal Tourism Sharing Experience From Turkey itu.

Taner Aydin, pengurus IHATO yang juga pimpinan biro perjalanan wisata halal mengatakan selama 30 tahun memberikan pelayanan Halal Tourism, harus konsisten dan tidak bosan memberikan pemahaman, menyatukan persepsi dan sosialisasikan definisi Halal Tourism.

” Hotel-hotel kami dengan konsep Halal Tourism kini bukan hanya dipenuhi wisatawan domestik dari Turki tapi Muslim Traveler dunia karena fasilitas tambahan yang ada bagi kenyamanan wisatawan. Label Turki tujuan wisara halal ini kami sosialisasikan di bursa-bursa wisata internasional juga ,” kata Taner Aydin.

Dia memberikan gambaran bahwa hotel halal di Antalya, punya kolam renang yang banyak dan luasnya hingga 10 ribu meter. Di bagi-bagi untuk wisatawan konvensional, khusus untuk para wanita dan anak-anak dibawah 6 tahun dan ada juga kolam khusus untuk muslimah saja tanpa anak. 

Menurut dia, wisatawan sudah punya pilihan sendiri mau memakai fasilitas Halal Tourism atau tidsk karena  semuanya pilihan jadi pasarnya besar dan jangan ragu menyatakan sebagai tujuan wisata halal ( Halal Tourism),” kata Taner Aydin.

Menurut laporan lembaga penelitian, Thomson Reuters dan DinarStandard 2016, Turki adalah salah satu tujuan wisata halal global. Banyak Negara-negara berpenduduk Muslim menjadikan Turki sebagai tujuan wisata untuk mengisi menghabiskan liburan keluarga.

Hotel halal di Turki jumlahnya mencapai 200 hotel, sedangkan di Antalya sendiri ada 15 hotel yang memiliki fasilitas bintang lima. Sementara jumlah hotel di bawah bintang lima diperkirakan sekitar 50 hotel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.