DESTINASI HALAL INTERNATIONAL

Bandung Dorong Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim

Pemerintah Kota Bandung mempromosikan pariwisata ramah Muslim untuk tingkatkan kenyamanan dan aksesibilitas bagi wisata- wan Muslim.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah Kota Bandung di Jawa Barat terus mempromosikan pengembangan pariwisata ramah Muslim sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan Muslim selama kunjungan mereka.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan pariwisata ramah Muslim harus memenuhi berbagai kebutuhan wisatawan, termasuk ketersediaan fasilitas sholat, fasilitas wudhu, dan jaminan makanan halal.

“Pada prinsipnya, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, kita harus menyediakan destinasi wisata yang ramah bagi umat Islam. Ini termasuk fasilitas sholat yang baik dan nyaman, fasilitas wudhu yang memadai, dan jaminan bahwa makanan yang disajikan halal,” kata Adi setelah menghadiri Indonesia Halal Travel Fair (IHTF) 2026 di Bandung belum lama ini.

Dia mengatakan bahwa, selain sediakan fasilitas khusus untuk wisatawan Muslim, pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan berkesan tetap menjadi hal yang penting, seperti halnya destinasi wisata pada umumnya.

Adi mengatakan IHTF bukan hanya platform untuk menjual paket wisata luar negeri, termasuk paket Haji dan Umrah, tetapi juga kesempatan untuk promosikan Bandung sebagai destinasi wisata ramah Muslim.

“Acara ini juga diharapkan dapat menyoroti destinasi wisata ramah Muslim di Bandung,” katanya.

Dia menambahkan bahwa Pemerintah Kota Bandung menyambut baik acara tersebut. Sebelumnya, beberapa destinasi wisata di Bandung juga telah mendapatkan pengakuan dalam penilaian pariwisata ramah Muslim di Jawa Barat.

“Konsep ini melibatkan penyesuaian fasilitas dan layanan pariwisata untuk memenuhi kebutuhan umat Muslim. Misalnya, area sholat harus terletak dengan jelas, nyaman, dan ditempatkan secara strategis, bukan disembunyikan,” katanya.

Fasilitas wudhu juga perlu diperhatikan, termasuk fasilitas terpisah untuk pria dan wanita. Pertimbangan penting lainnya adalah kepastian mengenai status halal makanan yang dijual atau disajikan kepada wisatawan.

“Yang sama pentingnya adalah kejelasan mengenai status halal makanan yang dijual dan disajikan, sebagaimana dibuktikan dengan sertifikasi halal dari lembaga yang berwenang. Pada intinya, itulah yang dimaksud dengan pariwisata ramah Muslim,” katanya.

Adi mengatakan upaya untuk membimbing dan mengembangkan destinasi wisata ramah Muslim di Bandung terus berlanjut. Penilaian dan kompetisi berfungsi sebagai insentif bagi pengelola destinasi untuk meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan mereka.

Destinasi yang memenuhi standar yang dibutuhkan juga menerima penghargaan sebagai bentuk apresiasi. “Ini berlaku untuk semua sektor pariwisata, mulai dari tempat kuliner dan penyedia akomodasi hingga pusat perbelanjaan. Ini juga termasuk desa wisata kreatif dan atraksi wisata lainnya,” katanya.

Museum Geologi Bandung sebagai contoh, dan mengatakan bahwa museum tersebut baru-baru ini menerima penghargaan atas kualitas fasilitas pendukungnya bagi wisata- wan Muslim.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Pusat Asosiasi Agen Perjalanan Indonesia (ASTINDO), Priyadi Abadi, mengatakan ASTINDO didirikan pada tahun 1999 dan awalnya beroperasi di bawah pengawasan Kementerian Perhubungan.

ASTINDO dibentuk sebagai respons terhadap kondisi industri pariwisata setelah krisis ekonomi 1998, yang menyebabkan nilai dolar AS naik dan harga tiket perjalanan melonjak.

“Oleh karena itu, bersama dengan 25 agen perjalanan, kami mendirikan sebuah asosiasi bernama ASTINDO dengan tujuan untuk menata kembali manajemen penjualan tiket,” katanya.

Seiring perkembangan industri pariwisata, ASTINDO telah berkembang menjadi asosiasi pariwisata dengan berbagai kegiatan yang lebih luas. Layanannya tidak lagi terbatas pada penjualan tiket tetapi sekarang mencakup paket wisata dan berbagai fasilitas pariwisata lainnya.

Priyadi mengatakan ASTINDO telah menyelenggarakan Pameran Perjalanan ASTINDO sebanyak 25 kali hingga saat ini. Dalam dua tahun terakhir, ASTINDO juga telah menyelenggarakan Pameran Perjalanan Halal Indonesia.

“Ini edisi kedua di Bandung. Di Jakarta, kami juga menyelenggarakan acara serupa dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu ASTINDO Muslim Friendly Travel Fair, yang akan diadakan pada tanggal 16 hingga 18 Oktober,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa acara ini terus mempromosikan prinsip-prinsip pariwisata ramah Muslim dengan menyediakan berbagai layanan bagi wisatawan Muslim. Cakupannya meluas beyond perjalanan Haji dan Umrah hingga mencakup destinasi dan produk pariwisata ramah Muslim.

“Ini berarti bahwa orang-orang yang bepergian ke luar negeri, termasuk ke tempat-tempat di mana Muslim merupakan minoritas, tidak perlu lagi khawatir tentang menemukan makanan halal atau fasilitas sholat. Kami juga menyediakan informasi tentang warisan peradaban Islam di berbagai negara,” katanya.

Melalui konsep ini, wisatawan Muslim diharapkan dapat terus menjalankan kewajiban agama mereka selama perjalanan, termasuk melaksanakan shalat lima waktu di berbagai destinasi.

Priyadi memuji Dewan Eksekutif Regional ASTINDO Jawa Barat atas inisiatifnya menyelenggarakan Indonesia Halal Travel Fair. Ia berharap acara serupa akan berkembang dan diselenggarakan oleh dewan regional ASTINDO di daerah lain.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)