JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pariwisata halal global.
Guna mewujudkan ambisi tersebut,
Pemerintah Indonesia melalui berbagai lembaga lintas sektoral terus memperkuat ekosistem pariwisata ramah muslim melalui standarisasi layanan dan pemanfaatan teknologi digital.
Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Puturahwidhiyasa, menekankan pentingnya meluruskan persepsi mengenai konsep halal tourism.
Menurutnya, pariwisata ramah muslim bukanlah upaya Islamisasi destinasi, melainkan penyediaan layanan tambahan yang mengakomodasi kebutuhan spesifik wisatawan muslim.
“Pariwisata ramah muslim itu bukan islamisasi destinasi, tapi ramah terhadap wisatawan muslim dengan potensinya ada lebih dari 2 miliar orang,” ujar Puturah- widhiyasa dalam konferensi pers di Jakarta seperti dilansir dari mediaindonesia.com
Pemerintah saat ini tengah mendorong sektor perhotelan dan penginapan untuk menyediakan fasilitas ibadah yang nyaman serta menjamin ketersediaan makanan halal.
Langkah ini juga dibarengi dengan upaya pemberdayaan ekonomi lokal. ”Kami mendorong hotel dan biro perjalanan untuk menyerap produk lokal, mulai dari peternakan hingga katering.” tambah Putu Rahwidhiyasa
Saat ini, ujarnya, sudah ada 31.000 sertifikat halal di desa-desa wisata untuk menjamin keamanan konsumsi wisatawan.
Selain penguatan infrastruktur fisik, KNEKS sedang menyiapkan peta jalan (roadmap) strategis yang melibatkan digitalisasi. Salah satu inovasi yang disiapkan adalah penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) untuk membantu wisatawan menyusun jadwal perjalanan (itinerary) melalui platform digital.
“Dengan adanya digitalisasi akan memudahkan para wisatawan mencari lokasi yang menyediakan makanan halal dan tempat ibadah yang baik,” jelasnya.
Solusi Ekosistem Muslim Modern
Sebagai langkah nyata pertemukan seluruh pemangku kepentingan, pameran gaya hidup halal bertajuk Indonesia Muslim Travel Fair (IMTF) dijadwalkan hadir pada 23-24 Januari 2027 di ICE BSD City, Tangerang Selatan.
Pameran seluas 15.000 meter persegi ini menargetkan 10.000 pengunjung dan melibatkan lebih dari 200 mitra eksibitor dari enam sektor utama, mulai dari perjalanan umrah, fesyen modest, hingga kuliner halal.
Direktur Utama PT Naganaya Indonesia International, Aditya Adiguna, menjelaskan bahwa IMTF 2027 akan menjadi titik temu terbesar bagi wisatawan, pembeli global, maskapai, hingga investor.
Mengusung tema “Beyond Journeys: Tapping into the Modern Muslim Lifestyle and Travel Ecosystem”, ajang ini berupaya mengintegrasikan dimensi spiritual dengan gaya hidup modern.
Aditya juga menyoroti tantangan posisi Indonesia di kancah global. “Di tahun 2025 kita sempat keluar dari 5 besar destinasi wisata ramah muslim dunia. Kita kalah bukan karena kurang indah, tapi karena kurang terhubung dan kurang bercerita. IMTF 2027 akan menjadi solusi untuk memperkuat konektivitas tersebut,” ungkapnya.









