DESTINASI ENTREPRENEUR EVENT INTERNATIONAL NEWS

ITMO 2027: From Event to Experience, MICE Perlu Berdampak pada Destinasi

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ketua IVENDO Irvan Muhidin Sukamto mengatakan industri event tengah alami perubahan orientasi. Jika sebelumnya keberhasilan lebih banyak diukur melalui jumlah pengunjung dan transaksi, kini kualitas peserta dan pengalaman yang mereka dapatkan menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah event.

“Kalau dulu, target sebuah event lebih banyak berorientasi pada sisi transaksional dan jumlah pengunjung. Sekarang mulai mengarah kepada experience,” ujar Irvan.

Menurutnya, sebagai perancang acara pihaknya harus merancang sejak sebelum peserta berangkat hingga setelah mereka meninggalkan destinasi. Hal tersebut mencakup komunikasi, kedatangan, venue, program utama, hiburan, kuliner, hingga closing.

Konferensi yang berlangsung satu atau dua hari dapat dikembangkan menjadi perjalanan lebih panjang apabila peserta mendapatkan pilihan aktivitas wisata yang menarik sebelum atau setelah event ( pra-post conference)

Dengan demikian wisata pengalaman yang dilakukan ( experience) juga dapat memperpanjang length of stay peserta confrence maupun pameran.

Irvan mencontohkan konferensi di Bali yang digelar Kamis dan Jumat sehingga peserta memiliki kesempatan memperpanjang kunjungan hingga akhir pekan.

Sebuah event juga perlu melibatkan ekosistem lokal seperti UMKM,restoran, transportasi, kuliner, budaya, dan masyarakat.

Pengalaman peserta harus dirancang secara menyeluruh karena setiap titik interaksi dapat memengaruhi kesan terhadap sebuah event. Mulai dari kesan pertama, program utama, momen puncak, hingga penutupan dan pengalaman yang dibagikan peserta setelah acara.

Kepala Bidang Promosi dan Kemitraan MICE Kementerian Pariwisata Robby Hasan mengatakan event telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Berdasarkan analisis terhadap 40 event yang didukung pada 2025, tercatat sekitar 12,2 juta pengunjung dengan dampak ekonomi (economic impact ) sekitar Rp23,7 triliun.

Event tersebut juga melibatkan UMKM dan menciptakan lapangan kerja. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan dampak event tidak berhenti pada output, tetapi menghasilkan manfaat nyata bagi destinasi.

Pemerintah memang mendorong dampak event ke destinasi. Pers- pektif pemerintah, kata Robby, tidak hanya melihat event dari pelaksa- naan kegiatannya, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut menghasilkan nilai melalui spending, pertukaran pengetahuan, koneksi bisnis, serta penguatan destinasi.

Pemerintah juga dorong pengembangan Event by Indonesia, sebuah platform yang diarahkan untuk memperkuat database, konektivitas, fasilitas, dan promosi event.

Pengalaman peserta perlu dirancang sejak kedatangan di bandara hingga kembali ke daerah atau negara asal. Karena itu, event harus terhubung dengan hotel, transportasi, kuliner, atraksi wisata, ekonomi kreatif, dan masyarakat lokal.

Executive Director ASPERAPI Wini Yoniton mengatakan perubahan orientasi juga terjadi di industri pameran yang tidak lagi sekadar menampilkan produk dalam booth, tetapi mulai mengutamakan pengalaman pengunjung.

“Dulu kita lebih booth-centric, sekarang menjadi visitor-centric,” kata Wini. Ia mencontohkan Jakarta Fair yang berkembang menjadi destinasi karena menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Hal serupa terlihat pada pameran furniture dan otomotif yang memungkinkan pengun- jung berinteraksi langsung dengan produk.

Menurut Wini, digitalisasi tidak hilangkan kebutuhan konsumen untuk melihat, menyentuh, mencoba, dan merasakan produk secara langsung.

Pameran juga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus pintu masuk bagi pelaku industri global ke Indonesia.

Industri pameran, lanjut Wini, juga menghadapi tantangan geopolitik, kondisi ekonomi, perizinan, serta masuknya penyelenggara pameran global. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang kolaborasi antara pelaku industri lokal dan internasional.

Chairman Bali Convention & Exhibition Bureau (BaliCEB) Ketut Jaman menekankan pentingnya melihat dampak event setelah kegiatan selesai.

Dia sepakat MICE tidak cukup diukur dari jumlah peserta, tetapi juga length of stay, spending, keterlibatan masyarakat, dan legacy bagi destinasi.

“Ujungnya adalah legacy,” kata Ketut. Ia menggambarkan MICE sebagai rangkaian pengalaman yang dimulai sejak peserta tiba di bandara, menggunakan transportasi, menginap di hotel, mengikuti konferensi, menikmati kuliner dan atraksi wisata, hingga berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Ketut mencontohkan konferensi International Airlines Technical Pool (IATP) di Bali yang diikuti lebih dari 600 peserta dan menghasilkan sekitar 2.800 agenda business matching B2B selama empat hari.

Kegiatan tersebut tidak hanya hasilkan bisnis, tetapi juga pertukaran pengetahuan, networking, interaksi sosial, serta peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Contoh lain adalah konferensi dengan sekitar 5.000 peserta pada 2023 yang menggunakan produk ekonomi kreatif lokal untuk kebutuhan seminar kit.

Pendekatan tersebut membuat event turut memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM. Ketut juga melihat peluang pengembangan incentive travel di berbagai destinasi Indonesia, tidak hanya Bali.

Destinasi heritage dan kekayaan budaya daerah dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman MICE dengan tetap memperhatikan aspek pelestarian.

Alhasil, diskusi “From Event to Experience” memperlihatkan perubahan orientasi industri event dan MICE di Indonesia. Event tidak lagi sekadar kegiatan yang berlang- sung di sebuah venue, tetapi menjadi bagian dari perjalanan &  pengalamanwisatawan.

Pengalaman tersebut  diharapkan dapat memperpanjang masa tinggal peserta dan meningkatkan pengeluaran wisatawan, buka peluang bagi UMKM,  memperkuat ekonomi lokal, serta meninggalkan legacy bagi destinasi.

Bagi ITMO 2027, arah tersebut sejalan dengan tema “Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism”, bahwa nilai pariwisata tidak hanya lahir dari jumlah wisatawan, tetapi juga dari kualitas pengalaman dan dampak yang tercipta bagi destinasi.

Indonesia Tourism & MICE Outlook (ITMO) 2027 terselenggara berkat dukungan berbagai pihak, yakni Kementerian Pariwisata, Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, InJourney, InJourney Hospitality, Kokola, Indofood, dan Yogadihotel, serta kolaborasi berbagai stakeholder yang turut mendukung pengembangan pariwisata dan industri MICE Indonesia.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)