BATU, Malang, bisniswisata.co.id: Keamanan menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan sebuah destinasi wisata. Persepsi wisatawan terhadap keamanan turut memengaruhi minat mereka untuk berkunjung kembali, kata Fadjar Hutomo, Staf Ahli Bidang Manajemen, Kemenpar.
Berbicara pada Forum “ Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Wisata Party, Jatim Park 3, Kota Batu, Jawa Timur, Fadjar yang Staf Ahli Manajemen Krisis Kepariwisataan
mengatakan pariwisata itu adalah tentang persepsi.
“Ketika sebuah destinasi wisata alam dipersepsikan aman untuk dikunjungi, minat wisatawan untuk datang kembali akan tinggi. Sebaliknya, ketika sebuah destinasi dipersepsikan tidak aman karena bencana alam tidak tertangani dengan baik, sering terjadi kecelakaan, atau kriminalitas, ini menjadi penghambat bagi pariwisata berkelanjutan,” ujar Fadjar.
Dia mencontohkan Taman Nasional Gunung Bromo, Jawa Timur, yang sempat ditutup akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski demikian, menurut dia, kondisi tersebut tidak menurunkan minat wisatawan karena Bromo masih dipersepsikan aman untuk dikunjungi.
“Awareness wisatawan terhadap kelestarian Bromo tinggi. Meski mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), wisatawan mempersepsikan Bromo aman untuk dikunjungi,” tambah Fadjar
Event yang diinisiasi Forwaparekraf ini mengangkat tema “Safety Tourism, Sustainable Future: Membangun Wisata Aman, Edukatif, dan Berkelanjutan” yang menghadirkan narasumber Rio Imam Sendjojo, Direktur Jawa Timur Park Group, Suryo Widodo, Direktur Jawa Timur Park 3, dan Titik S. Ariyanto, Manager Marketing & PR Jawa Timur Park Group.
“Aspek safety menjadi sangat penting. Ibu Menteri Pariwisata menetapkan keselamatan pariwisata menjadi salah satu program prioritas. Intinya, tourism is not only about beauty, but also safety, “ kata Fadjar Hutomo.
Dia mengatakan keamanan, kenyamanan, dan pelestarian alam menjadi perhatian utama terhadap pengembangan pariwisata alam Taman Nasional Gunung Bromo agar berkualitas dan berkelanjutan.
Kemenpar melihat faktor kelalaian manusia (masyarakat/wisatawan) seperti menggunakan flare untuk keperluan foto prewedding, membuang puntung rokok sembarangan di area savana, dan lupa mematikan sisa perapian (api unggun) sering menjadi sumber kebakaran.
Apalagi pada musim kemarau dengan suhu panas ektrem disertai angin kencang membuat percikan api kecil cepat merambat dan membesar dan membakar padang savana kering sehingga sulit dikendalikan.
Kemenpar mengajak semua pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan yang tinggi serta pengawasan yang ketat dalam penerapan SOP (Standar Operasional Prosedur) tehadap masyarakat atau wisatawan.
“Kemenpar berkolaborasi dengan media mengedukasi wisatawan agar tercipta persepsi positif terhadap destinasi wisata,” kata Fadjar Hutomo.
Rio Imam Sendjojo, Direktur Jawa Timur Park Group, menyampaikan pengembangan Jatim Park Group, sebagai destinasi wisata yang menggabungkan unsur edukasi, hiburan rekreasi, dan konservasi, telah memasuki usia 25 tahun.
Dimulai membangun Jatim Park 1, 2, dan 3, pada September tahun ini akan melanjutkan dengan membuka wisata edukasi Mega Science Center dan Budaya.
“Daya tarik obyek wisata ini adalah sebagai ruang pembelajaran anak sekolah untuk belajar tentang sain; kimia, fisika, biologi, matematika, dan budaya, yang dilengkapi dengan area untuk robot yang bisa perform dan bertingkah seperti manusia,” lanjutnya.
Di tempat yang sama, Suryo Widodo, Direktur Jawa Timur Park 3, menegaskan sejauh ini Kota Batu Malang yang dikelilingi pegunungan seperti Gunung Bromo, Gunung Arjuna dan Gunung Welirang secara historis cukup aman dari dampak erupsi gunung berapi maupun banjir bandang.
“Namun demikian, sesuai SOP dan standar Disnaker, Jatim Park secara periodik senantiasa melakukan simulasi kebencanaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan para petugas.
Sementara itu Titik S. Ariyanto, Manager Marketing & PR Jawa Timur Park Group mengatakan, dalam menciptakan persepsi positif diperlukan kerja keras dan upaya yang sistematis.
Ia membentuk tim yang solid bekerja dalam 24 jam untuk memonitor dan melakukan action terhadap setiap postingan (berupa keluhan, saran, dan berita hoax) dari masyarakat (wisatawan).
“Krisis komunikasi di sosial media (medsos) sangat luar biasa. Saya punya tim yang harus bekerja keras memantau setiap komentar dan postingan melalui early warning system dalam 24 jam. Kalau ada informasi negatif, kita langsung buat rencana dan mengambil tindakan segera atau take action, “ katanya










