DESTINASI ENTREPRENEUR HOSPITALITY HOTEL INTERNATIONAL LIFESTYLE

'Ndalem Gamelan’, Butik Hotel yang Pertahankan Budaya Jawa

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Mobil melintas di jalan Wijilan, Kampung Wijilan yang terletak di sebelah Selatan Plengkung Wijilan di sebelah Timur dari Alun Alun Utara, Yogyakarta. Deretan warung-warung gudeg di sisi kiri jalan membuat ingatan kembali saat memasuki kawasan yang di sebut Njero Beteng ini.

Saya menghela nafas dalam- dalam ingat almarhum kedua mertua dan suami yang tinggal di jalan Patehan Tengah masih masuk kawasan Jeron Beteng (dalam lingkup beteng Keraton). Di akhir tahun 1990 an, cukup berbecak ria untuk membeli gudeg kuliner khas Yogya setiap kami sekeluarga pulang kampung pak suami.

Berebes mili alias air mata mulai mengge-nang karena ketiganya sudah di alam berbeda. Mobil terus melaju menyusuri jalan Gamelan Raya dan masuk pekarangan rumah di kanan jalan bertuliskan angka 18.

Saya turun di halaman bangunan rumah pribadi yang saya perkirakan dibangun sebelum tahun 1900 an tepatnya di Jalan  Gamelan Raya No.18, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY).

Ada dua mobil dan empat motor di halaman yang asri. Sepasang suami/ istri yang sudah sepuh tengah saling memotret di pojokan teras rumah. Keduanya lalu selfie di atas sofa panjang menempel di dinding putih bertuliskan “Ndalem Gamelan”.

Tak lama kemudian anak, menantu dan cucunya menyusul ke teras dan mengambil foto bersama. Reflek saya menghampiri mereka sambil menyapa bolehkah membantu memotretkan supaya seluruh anggota keluarga masuk dalam satu frame tanpa sempat berkenalan lebih dahulu.

Bak fotografer profesional saya langsung menunjuk spot- spot foto lainnya untuk mereka berpose. Satu keluarga dari Blitar ini memang sudah check-out dan mengucap-kan terima kasih atas hasil jepretan saya.

Bu Ibnu, pengelola Ndalem Gamelan langsung menyongsong dan persilahkan saya duduk di teras. Supir yang menjemput saya dari stasiun Tugu, pak Handoko ikut menemani dan berbahasa jawa pada bu Ibnu agar tetap menemani saya dulu karena kamar saya sedang dipersiapkan.

Tanpa sungkan-sungkan pak Handoko langsung memuji dan bilang dia betah duduk di teras dan izin untuk merokok. Bu Ibnu langsung mempersilahkan bahkan menyajikan dua cangkir kopi sesuai tawarannya.

Entah mengapa sejak dari awal kami sudah akrab seperti dijemput keluarga sendiri sejak di stasiun. Mata saya berkeliling seputar halaman dengan paving block bentuk grass block yang ditumbuhi rumput-rumput.

Rupanya di belakang mobil sewaan yang supirnya kini saya panggil “ pakdhe “             ( bapak gedhe) dalam bahasa jawa, ada kereta kuda kuno. Di pojok kiri halaman juga ada kursi taman untuk bersantai.

Dari kursi taman memandang bangunan berkarakter ‘Rumah Jawa’ ini sangat mengasyikkan. Baru melihat tampilan luar saja sudah memikat untuk menjelajahi ruangan- ruangannya. Bentuk bangunan dipertahankan kuno, interior ditata dengan konsep heritage yang menenangkan.

Berdiri di tanah seluas 800 meter persegi. Ibu Ibnu menjelaskan sebelumnya memang rumah pribadi dan sejak 18 September 2006 oleh pemilik baru Heroe Soelistiawan
difungsikan sebagai guest house.

Bangunan ini mengalami sedikit renovasi dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Sekeliling rumah juga ditata dan dihiasi tanaman hijau. Halaman depan, juga taman yang menyatu dengan sumur tradisional. Ndalem Gamelan adalah representasi masa kini yang pertahankan keaslian bangunan warisan budaya.

Meski disewakan untuk penginapan tamu, bentuk Ndalem Gamelan secara keseluruhan adalah rumah tinggal. Kapasitasnya memang hanya lima kamar untuk sekitar 10 tamu namun ada taman, teras, ruang bersama, dapur tamu, dan bahkan motor yang dapat disewa untuk berwisata di DIY.

Sejak 2006 itu pula bu Ibnu lulusan sebuah akademi pimpinan perusahaan di Yogya dipercaya mengelola dan agaknya tujuan pengelolaannya dari sang pemilik rumah lebih menekankan pelestarian bangunan lama daripada komersialisasi.

“ Kalau biaya operasional yang paling harus diulang dan diperhatikan adalah dinding rumah agar tidak cepat berjamur karena bahannya jaman dulu pakai batu kapur,” jelas bu Ibnu yang dipanggil sesuai nama suaminya. Namanya sendiri Aip Purwanti.

Bangunan terdiri dari rumah utama dan rumah belakang dengan tegel lama dan di rumah utama masih dipertahankan. Lantainya dari tegel (antique cement tile) buatan pabrik yang menjaga tradisi proses pembuatan sejak zaman penjajahan Belanda sampai sekarang.

Ketika pakdhe sudah pergi dan tas pakaian masuk ke kamar, saya langsung menjelajahi ruangan demi ruangan dan terkesima dengan furniture antik serta benda-benda historis di dalamnya. Kesan pertama adalah inilah boutique hotel sesungguhnya bukan sekedar guest house ataupun hotel bergaya tradisional.

Terasa seperti pulang ke rumah eyang dan Ndalem Gamelan yang terletak di jantung Yogyakarta ini adalah tempat peristirahatan yang menawan, memadukan arsitektur Jawa tradisional dengan kenyamanan modern.

Hampir semua detil hiasan seperti lampu gantung dan koleksi barang antiknya orsinil yang menciptakan suasana bersejarah membuat tamu merasa seperti di rumah sendiri.

Tamu dapat menikmati suasana di luar maupun di dalam rumah yang menyenangkan, sempurna untuk
bersantai setelah menjelajahi budaya kota yang kaya. Di sini juga tempat sempurna bagi wisatawan yang ingin merasakan tinggal di rumah jogja.

Bahagia rasanya seolah memiliki rumah tradisional di dalam kawasan kota lama/Keraton, dengan suasana
lingkungan yang kental budaya Jawa.

Jadi ingat pak suami pernah bercita-cita ingin memiliki rumah Joglo yang memperta-hankan budaya maupun hunian sebagai  satu trah keturunan keluarga menantu dari Sri Sultan Hamengkubuwono IV.

Di dalam rumah ada seperangkat kursi kuno, di belakang kursi utama ada tiga tombak dan sebelum masuk kamar masing-masing ada meja konsol di ruang tamu itu dengan kaca besar antik. Lampu gantung kristal kuno, lemari antik berjejer mengapit dua kamar tidur bertuliskan aksara Kawi atau Jawa kuno di atas pintu.

Ada satu ruang tengah terbuka berhiaskan korden warna emas. Di dalamnya ada seperangkat kursi kuno dan di belakang kursi utama ada tiga tombak dan di depan kamar masing-masing ada meja konsol ruang tamu dengan kaca antik. Sebuah meja disiapkan khusus bagi tamu untuk membuat kopi/ teh .

Lemari antik berjejer mengapit dua kamar tidur tadi dan ada satu ruang tengah terbuka berhiaskan korden warna emas. Ruang tengah itu disebut sentong atau senthong, bagian kamar atau ruangan privat di bagian tengah rumah adat Jawa seperti Joglo ini menjadi bagian utama rumah.

Ruang tamu ditandai dengan lantai warna kuning bercorak dan bagian samping rumah yang berlantai kuning polos. Hampir seluruh tembok rumah utama masih asli, begitu pula pintu dan tiang-tiang jatinya. Ruang tamu berundakan merupakan sisa budaya masa silam.

Saat masih terdapat perbedaan strata sosial, diundakan ini biasanya abdi dalem duduk di lantai berkomunikasi dengan pemilik rumah. Samping rumah (tegel kuning polos), dulu biasa digunakan untuk menerima tamu dengan strata sosial lebih rendah.

Selain ruang tamu, di sisi kiri ada ruang bersama atau ruang makan seperti di film-film kerajaan. Sebuah meja makan panjang dengan kursi-kursi tinggi tepat berada di tengah ruangan.

Di dindingnya dihiasi lukisan, TV serta barang kuno termasuk senapan ala pasukan jaman Belanda. Memasuki ruang makan ini tamu asing bisa menikmati gamelan, gong besar dan gendang-gendang di dinding yang dilapisi dinding ukiran Gebyok Jawa serta gentong-gentong tanah liat di atasnya.

Saya melongok masuk kamar yang masih menunggu calon tamunya datang untuk turis dari China. Wow, serba antik namun kamar mandinya modern dengan shower air panas/ dingin. Sebelum masuk kamar mandi ada wastafel dan kaca besar antik pula.

Berjalan ke belakang melewati dapur ada rumah belakang ( paviliun ) untuk 4 orang tamu beserta ruang duduk yang terasa luas dan ada taman yang terpisah dari bangunan rumah utama.

Setelah berkeliling, saya baru masuk ke dalam kamar yang sudah ready untuk digunakan. Masya Allah kamar menghadap ruang tamu ini ditata dengan baik meskipun tidak terlalu besar. Dua lemari antik, meja di samping pintu masuk ke toilet tempat dua gulungan handuk putih serta shampoo, body wash di tata dengan apik.

Di bawah meja bisa tempatkan sepatu, tempat sampah dengan rapih. Penempatan airconditioner ( AC) di atas jendela yang bisa dibuka menghadap paviliun belakang dan langsung melihat hijaunya tanaman.

Konon restorasi sebelum untuk penginapan yang saya nilai sebagai kelas butik hotel hanya dilakukan 20 persen meliputi pembenahan bentuk fisik, genteng, cat pintu, serta renovasi interior dalam rumah.

Pemilik tetap mempertahankan bentuk asli bangunan, seperti tembok serta tulang bangunan yang terbuat dari kayu. Pemilik juga mempertahankan warna cat asli, diantaranya dengan mempergunakan warna–warna keraton seperti hijau dan kuning pada pintu, serta warna putih gading untuk tembok. Seluruh restorasi dilakukan dalam waktu enam bulan.

“Untuk mempertahankan bentuk asli bangunan, tembok tetap di buat dengan campuran batu kapur, layaknya rumah–rumah zaman dahulu. Begitu pula warna yang dipilih untuk funiture berwarna gelap mendukung nuansa ketenangan rumah,”

Pantesan saat menyiapkan perjalanan panjang mulai dari kota Gombong dan Kebumen Travel Mart 27-29 Agustus 2026, lanjut ke Yogyakarta ini, ulasan tamu di online travel agent ( OTA) mengenal Ndalem Gamelan mengungkapkan pengalaman yang positif.

Ada yang menginap tiga malam di Yogyakarta dan sangat menyukai hotel dalam gaya Jawa. Dekat dengan pusat sejarah Keraton dan dilengkapi dengan baik seperti AC, Wifi serta bintangnya adalah bu Ibnu sang pengelola yang ramah dan siap dengan bantuan dan beragam informasi.

“ Sebelum pandemi global harga kamar memang termasuk sarapan pagi. Tapi saat COVID dan setelahnya layanan makanan pagi memang tidak termasuk,” kata bu Ibnu.

Meski demikian tamu bisa pesan makanan pagi yang diharapkannya dan dia berupaya memenuhinya dengan memasak bersama sarapan pagi pesanannya.

Layaknya sebuah keluarga, hubungan bu Ibnu dan tamu-tamu dari mancanegara seperti interaksi ibu dengan anak sehingga memang tamu yang kembali juga tinggi, sementara kamar yang tersedia sangat terbatas.

Wisata pengalaman yang kini menjadi tren dunia disadari atau tidak telah menjadi keseharian di hotel butik ini yang membuat saya ingin terus memperpanjang staycation di Ndalem Gamelan.

Saat melanjutkan perjalanan ke kota Surakarta, jujur obrolan ramah di dapur bersama bu Ibnu seakan masih terngiang. tertinggal di rumah itu. Perjalanan ini  seakan telah mendapatkan jalan rumah eyang untuk pulang rutin ke Yogya. Tak salahkan kalau tiba-tiba aku bersenandung lagu Yogyakarta KLA Project karya Katon Bagaskara.

“Pulang ke kotamu Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi”

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)