SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Selama beberapa dekade, industri perjalanan global telah memandang wisatawan Muslim perempuan melalui lensa operasional yang terbatas.
Destinasi dan merek perhotelan terutama memperlakukan demografi ini sebagai pasar konsumen pasif yang harus dilayani, dengan fokus pada fasilitas dasar seperti makanan Halal, fasilitas sholat, dan pilihan rekreasi yang sederhana seperti dilansir dari crescentrating.com
Namun, fokus yang sempit ini hanya membahas setengah dari narasi. Saat ini, perempuan Muslim semakin banyak berperan sebagai penasihat strategi, pengembang produk, eksekutif perusahaan, dan pengambil keputusan perjalanan yang secara aktif membentuk kembali ekonomi pengunjung global.
Pada Halal in Travel Global Summit (HITGS) 2026, panel eksekutif berjudul “Power & Purpose: The Rise of Muslim Women Leaders in Global Travel” menyoroti peran ganda ini.
Sesi tersebut mempertemukan Reem El Shafaki, Partner di DinarStandard dan Raudha Zaini, Direktur Operasi di CrescentRating dan HalalTrip, untuk meneliti baik jejak ekonomi yang berkembang dari wisatawan Muslim perempuan maupun mandat komersial yang mendesak untuk kepemimpinan eksekutif perempuan.
Skala Mesin Demografi: Dari 45% menjadi 48%
Panel dibuka dengan meneliti data kuantitatif terbaru yang merinci skala mobilitas perempuan. Berdasarkan wawasan dari jalur penelitian Muslim Women in Travel (MWIT) CrescentRating, Raudha Zaini menyoroti perluasan pesat demografi ini:
Skala Ekonomi: Pada tahun 2019, perempuan Muslim mewakili 45% dari seluruh kedatangan internasional Muslim global. Pada tahun 2025/2026, angka tersebut meningkat menjadi 48%, mewakili sekitar 90 juta wisatawan.
Kekuatan Pengambilan Keputusan yang Tidak Proporsional: Di luar jumlah mereka yang besar, wisatawan perempuan memiliki pengaruh signifikan terhadap perencanaan perjalanan, pemilihan akomodasi, dan pilihan destinasi, terutama dalam kelompok perjalanan keluarga dan kelompok.
Identitas yang Beragam: Wisatawan perempuan Muslim modern memiliki peran yang kompleks dan tumpang tindih—menavigasi lingkungan korporat, tanggung jawab keluarga, eksplorasi solo, dan perjalanan kelompok independen.
Memberikan layanan perhotelan yang luar biasa membutuhkan pengakuan terhadap identitas-identitas yang dinamis ini, alih-alih mengandalkan paket perjalanan yang statis.
Titik Buta Fundamental: Kesenjangan Kepemimpinan dan Realitas Operasional
Meskipun mengendalikan pengeluaran perjalanan yang substansial, perempuan Muslim tetap kurang terwakili dalam peran eksekutif senior dan forum pengambilan keputusan strategis di seluruh sektor pariwisata.
Reem El Shafaki mencatat bahwa sementara sektor-sektor seperti mode busana Islami dan media digital telah mengalami peningkatan kepemimpinan perempuan Muslim, sektor perjalanan dan pariwisata arus utama terus tertinggal.
Kurangnya representasi ini secara langsung berdampak pada pengalaman tamu. El Shafaki berbagi pengalaman pribadi dari sebuah konferensi perjalanan internasional di mana staf logistik acara kurang memiliki kesadaran budaya dasar mengenai hijab saat menyiapkan peralatan audio.
Dia menekankan bahwa bahkan ketika diundang sebagai ahli di bidangnya, para pemimpin perempuan sering kali menghadapi lingkungan operasional yang kurang memiliki literasi budaya dasar.
Namun, ketika para pemimpin perempuan mengendalikan desain destinasi, pengalaman tamu berubah secara signifikan, seperti yang dicatat oleh El Shafaki di bawah ini.
“Jika Anda memiliki perempuan Muslim sebagai pemimpin, memenuhi kebutuhan perempuan Muslim menjadi hal yang wajar… Peran resor bukan hanya menyediakan makanan Halal atau hiburan keluarga. Resor tersebut harus menjadi tempat di mana perempuan dan keluarga dapat bersantai tanpa terus-menerus khawatir akan mengkompromikan nilai-nilai mereka.”
Kerangka Kerja Privacy, Amenities, Identity, Networks, Safety ( PAINS): Atasi Kekhawa-tiran Wisatawan yang Tak Terucapkan
Untuk membantu destinasi dan pengelola hotel melihat lebih dari sekadar fasilitas dasar, CrescentRating memperkenalkan Kerangka Kerja PAINS. Alat diagnostik ini mengkategorikan lima titik sentuh penting yang menentukan pilihan destinasi dan kepercayaan tamu bagi perempuan Muslim:
P (Privasi): Zona rekreasi khusus yang sopan, fasilitas kesehatan khusus perempuan, dan privasi kamar yang tidak terganggu.
A (Fasilitas): Ruang sholat yang mudah diakses, instalasi kamar mandi ramah air, dan layanan yang disesuaikan untuk keluarga.
I (Identitas): Mengatasi bias interseksional (gender, agama, etnis) dan mendorong lingkungan yang inklusif dan non-diskriminatif.
N (Jaringan): Akses mudah ke komunitas lokal yang terpercaya, pengalaman warisan budaya yang otentik, dan rekomendasi dari sesama.
S (Keamanan): Keamanan fisik yang proaktif, kenyamanan psikologis, dan kebebasan dari pelecehan di jalan atau Islamofobia.
El Shafaki menekankan bahwa destinasi harus memberikan jaminan sebelum perjalanan di kelima area ini. Wisatawan modern seharusnya tidak perlu mengum-pulkan informasi yang terfragmentasi dari grup pesan informal atau ulasan online yang tidak terverifikasi untuk mengevaluasi apakah suatu destinasi aman dan ramah.
Representasi Otentik dan Kekuatan Kisah Nyata
Diskusi tersebut juga menyoroti peran penceritaan digital organik dalam membentuk kepercayaan diri dalam bepergian. Raudha Zaini mencatat bahwa para pelancong Muslim muda sangat bergantung pada platform media sosial visual seperti Instagram, YouTube, dan TikTok untuk menemukan destinasi.
“Saat ini, kreator konten media sosial memainkan peran besar. Kreator yang tidak takut bepergian dan berbagi perjalanan nyata menginspirasi perempuan Muslim muda. Kami ingin melihat lebih banyak perempuan Muslim di posisi kepemimpinan sehingga mereka dapat memengaruhi generasi berikutnya secara positif.”
Namun, para panelis menekankan bahwa pemasaran digital harus melampaui citra yang dangkal. Representasi yang sebenar-nya membutuhkan penonjolan beragam suara dari berbagai wilayah, etnis, dan latar belakang untuk mencerminkan keragaman sejati komunitas Muslim global.
Mandat Strategis: Merancang Perjalanan Bersama Sejak Hari Pertama
Untuk mengakhiri sesi, moderator meminta setiap panelis untuk mengidentifikasi satu perubahan mendasar yang akan memberikan dampak jangka panjang terbesar pada industri:
Melibatkan Perempuan dalam Fase Desain Awal
Reem El Shafaki mendesak kelompok perhotelan dan dewan pariwisata untuk melibatkan perempuan Muslim dalam pengembangan produk dan perencanaan dewan direksi sejak awal.
Membangun privasi, keamanan, dan pertimbangan budaya secara langsung ke dalam arsitektur properti dan rencana induk jauh lebih efektif daripada mencoba merenovasi ruang yang sudah ada di kemudian hari.
Menanamkan Inklusi Sistemik ke dalam Kebijakan
Raudha Zaini menyerukan pergeseran struktural yang menanamkan keamanan, martabat, dan pemahaman budaya ke dalam pedoman perusahaan inti dan protokol layanan di seluruh lini waktu perjalanan.
Memastikan bahwa persyaratan perjalanan yang sadar akan keyakinan diperlakukan sebagai prioritas operasional standar daripada tambahan reaktif.
Membentuk Masa Depan Mobilitas Global
Untuk sepenuhnya membuka potensi pasar perjalanan Muslim, perlu diakui bahwa perempuan bukan hanya konsumen yang berpengaruh, tetapi juga arsitek penting dari pengalaman perjalanan.
Dengan menunjuk perempuan Muslim ke posisi kepemimpinan, merancang ruang yang memperhatikan kebutuhan privasi dan keamanan, serta tanamkan kecerdasan budaya di operasional sehari-hari.
Destinasi global dapat membangun ekosistem perjalanan yang inklusif dan siap menghadapi masa depan bagi semua perempuan Muslim. Jadilah panutan dan belajarlah dari para pemimpin perempuan Muslim di industri perjalanan..










