DESTINASI EVENT INTERNATIONAL REVIEW RISET

Peluang Halal Tourism sebagai Mata Uang Baru bagi Ekonomi Islam

Rafi-uddin Shikoh, CEO dari  DinarStandard          ( kanan) menyimak ide-ide baru penulis

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mendengarkan presentasi Rafi-uddin Shikoh, CEO dari  DinarStandard dalam forum Islamic Economic Outlook 2026: Scenario & Strategic Options from Iran–US–Israel Regional Crisis di ballroom KPP/Bappenas, Rabu, membantu saya banyak mendapatkan insight.

Bukan kebetulan DinarStandar awal Juni ini juga melaporkan State of Global Islamic Economy 2025/ 2026 di Turkey sehingga
pembahasan penekanan pada kerapuhan gencatan senjata IRAN -AS saat ini membuat saya melihat pola atau tren tersembunyi yang dapat memecahkan masalah dan mengambil keputusan untuk memperbaiki ekonomi Islam terutama di Indonesia dan negara-negara OKI.

Penekanan pembahasan pada kerapuhan gencatan senjata saat ini dan perlunya respons strategis, bukan hanya reaktif serta luasnya implikasi krisis di luar kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang memengaruhi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Islam mengundang banyak ide di kepala.

Apalagi seruan Rafi-uddin Shikoh kepada negara-negara Organisasi Kerjasama Islam         ( OKI) untuk memanfaatkan krisis sebagai peluang kedaulatan ekonomi dan kemajuan sosial-politik seolah memacu adrenalin untuk mewujudkan kolaborasi diantara sesama anggota.

Pemahaman mendalam, wawasan dan sudut pandang baru yang saya peroleh dari hasil analisis data dan penjelasannya memompa saya untuk melihat potensi Halal Tourism sebagai mata uang baru bagi ekonomi Islam terutama di Indonesia dan negara-negara anggota OKI atau OIC.

Iya benar, halal tourism yang selama ini oleh DinarStandard disebut sebagai Muslim Friendly Tourism. Padahal keduanya memiliki definisi yang berbeda karena Halal Tourism kegiatan wisata yang fokus pada penyediaan semua aspek perjalanan yang sepenuhnya sesuai dengan hukum Islam.

Sedangkan Muslim Friendly Tourism memberikan fleksibilitas lebih besar dan fokus terutama pada kenyamanan wisatawan Muslim secara umum pada tingkat kepatuhan saja, belum tentu sesuai syariat Islam.

Insight yang saya maksud di awal tulisan adalah menjadikan Indonesia sebagai Global Halal Tourism Hub. Lebih spesifik lagi pengembangan halal tourism di desa-desa wisata. Lima tahun terakhir desa wisata di Indonesia telah menerima penghargaan Best Tourism Villages dari UN Tourism untuk 5 desa wisata berkelas dunia.

Kelima desa tersebut secara resmi diakui atas komitmennya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pelestarian budaya berbasis komunitas yaitu Desa Wisata Penglipuran (Bali), Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), Desa Wisata Pemuteran (Bali), Desa Wisata Jatiluwih (Bali), Desa Wisata Wukirsari (Yogyakarta) Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi, Jawa Timur, masuk dalam program pengembangan (Upgrade Programme).

Apalagi pertumbuhan wisata halal dunia rata-rata 27 persen per tahun, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan sektor wisata dunia konvensional yang hanya tumbuh 6,4 persen.

Laporan Mastercard CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) ini seharusnya di Indonesia sudah ditanggapi, dikembangkan dengan mempromosikan paket-paket wisata halal ke Indonesia ( inbound) atau di dunia dikenal dengan nama Halal Tourism. Namun kenyataannya para pelaku travel agent sibuk menjual halal tourism ke mancanegara                ( outbound), membawa lari devisa ke negara lain

Pemerintah maupun pebisnis perjalanannya belum paham dengan potensi wisata halal yang dimilikinya. Akibatnya penerbangan langsung Jakarta-Uzbekistan yang sempat dilayani melayani turis Indonesia dengan rute Jakarta-Tashkent, sejak Maret 2005 sudah tutup. Kini untuk wisata halal ke makam Imam Bukhari turis Indonesia harus lewat Malaysia yang kini  menjadi rute Uzbekistan Airlines.

Faktanya kini di sektor Halal Tourism sebagai bagian dari Halal Industry menjadi tumpuan banyak negara Muslim maupun Non Muslim untuk menguatkan perekonomian negaranya.

Muslim di dunia yang mencapai 2,2 miliar jiwa membuat negara-negara Non-Muslim berlomba memenuhi kebutuhan Muslim dunia dengan menciptakan paket-paket Muslim Friendly Tourism.

Oleh karena itu anjuran DinarStandard agar menghubungkan destinasi wisata negara OKI, mengembangkan produk wisata halal, meningkatkan pergerakan wisatawan intra-OKI, serta memperkuat UMKM menjadi tepat karena berdampak luas dan melahirkan program ekonomi baru.

Tren utama Muslim-friendly travel dunia adalah wellness tourism, eco-tourism, heritage tourism, healing journey dan Indonesia yang desa wisatanya sudah diakui dunia dapat menyebarluaskan konsep desa wisatanya ke negara-negara OKI. Apalagi potensi Indonesia dengan budaya Islam Nusantara, alam, kuliner halal, komunitas mualaf, ekonomi kreatif sangat kuat.

Pengaruh Indonesia yang semakin besar dalam ekonomi halal global seiring dengan diselengga-rakannya acara yang dirancang Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) ini menjadi diskusi kritis tentang peran Indonesia di tengah krisis geopolitik regional dan global yang tepat dengan kehadiran seminar.

Rafi-uddin Shikoh malah berterima kasih pada Sapta Nirwandar dan Bappenas karena sudah memfasilitasi dialog strategis ini dengan konteks krisis geopolitik yang berkelanjutan dan Implikasi Ekonomi OKI

DinarStandard telah menyediakan konsultasi kepada para pembuat kebijakan selama 15 tahun, dengan fokus pada ekonomi OKI dan krisis terkini, terutama konflik Gaza dan ketegangan Iran-AS-Israel. Tentunya analisis ini bertujuan untuk mengkontekstualisasikan dampak krisis terhadap Indonesia dan lanskap ekonomi OKI yang lebih luas.

“Semua tergantung pada kebijakan dan politik masing-masing negara baik yang terlibat maupun kena dampak perang untuk mengamankan energi, ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi masing-masing baik Negara OKI maupun GCC,” kata Rafi-uddin Shikoh.

Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) adalah persatuan pandangan politik dan ekonomi dari enam negara Arab yang berbatasan dengan Teluk Persia: Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Didirikan pada tahun 1981, blok ini bertujuan untuk mendorong integrasi ekonomi, keamanan regional, dan koordinasi budaya di antara anggotanya.

Keragaman politik dan ideologis di antara negara-negara anggota OKI memang menjadi tantangan. Namun Rafi-uddin mengungkapkan bahwa meski kepentingan nasional tetap utama tetapi perdagangan intra-OKI telah tumbuh lebih dari 25%, dengan kemitraan regional dan bilateral yang mendorong kemajuan.

Diapun tetap optinistis dan menekankan bahwa pariwisata halal yang diidentifikasi sebagai area pertumbuhan dan Indonesia didorong untuk menarik lebih banyak pengunjung dari OKI serta negara-negara Teluk ( GCC). Belajar dari keberhasilan Turki dan Arab Saudi. Nah bagaimana kalau wisata halal dijadikanpenguat ekonomi Islam terutama di negara OKI ?

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)