EVENT HALAL INTERNATIONAL NEWS

Ranking Muslim FreindIy Tourism RI Turun, Perang Iran -AS Masih Berdampak Meluas

Febrian Alphyanto Ruddyard, S.I.P, M.A, Wamen KPP//Bappenas (tengah) bersama moderator dan nara sumber diskusi serta Ketua IHLC Sapta Nirwandar

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sesi diskusi Islamic Economic Outlook 2026 : Scenario & Strategic Options from Iran- US- Israel yang digelar Indonesia Halal Lifestyle Center bersama Bappenas menyoroti perspektif Indonesia menghadapi krisis ini termasuk ranking Muslim Friendly Turun.

Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Dr. Vivi Yu M.Sc. yang menjadi moderator pembicara dari kalangan pemerintahan dan akademi di sesi diskusi panel juga menyoroti posisi Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator turun ke peringkat 4 dunia, terutama akibat penurunan di sektor Muslim-Friendly Travel dan Farmasi Halal

Diskusi menampilkan Erik Amundito ST , MT, phD, dari KPP/Bappenas, Mochammad Firman Hidayat Anggota Dewan Ekonomi Nasional dan Irfan Syauqi Beik, S.P., M.Sc.Ec Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor dan ditutup lewat zoom oleh Dr. H. Ahmad Haikal Hassan, ST, MT, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk (BPJPH),

Febrian Alphyanto Ruddyard, S.I.P, M.A, Wamen KPP//Bappenas ketika membuka diskusi mengungkapkan sebagai salah satu ekonomi terbesar di dalam OKI dan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan strategis memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing melalui Integrasi Intra-OIC seperti
memperkuat kerja sama ekonomi antar negara anggota, Mengembangkan industri bernilai tambah tinggi dalam ekosistem ekonomi Islam, Koordinasi dan perencanaan lintas sektor mengintegrasikan ekonomi Islam ke dalam agenda nasional.

“ Kita harus cermat mengidentifikasi potensi dampak pada sektor-sektor utama, termasuk perdagangan, investasi, energi, serta ekosistem ekonomi Islam dan industri halal,”

Prospek ekonomi OKI dalam konteks perkembangan geopolitik global dan implikasinya terhadap perekonomian Indonesia dan negara-negara anggota OKI lainnya akan berpengaruh

Mendorong perumusan pilihan strategis yang relevan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam pembangunan ekonomi Islam global.

Hal yang menarik juga disampaikan oleh
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB , Irfan Syauqi Beik, S.P., M.Sc.Ec
yang membahas pentingnya optimalisasi ekonomi syariah sebagai pilar ketahanan ekonomi nasional, dengan menyoroti kinerja industri halal dan keuangan syariah di Indonesia.

Pada akhir 2025, aset perbankan syariah nasional mencapai rekor Rp1.067,73 triliun dengan profitabilitas ROA 1,98% dan rasio FDR sehat 84,37%.

“Sayangnya posisi Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator turun ke peringkat 4 dunia, terutama akibat penurunan di sektor Muslim-Friendly Travel dan Farmasi Halal,” ungkap Irfan.

Padahal upaya strategis seperti sertifikasi halal gratis untuk UMKM, akselerasi sinergi keuangan syariah, dan penguatan ekosistem halal value chain terus didorong.

Perang Iran-AS telah menyebarkan kerentanan sosial dan efek berantai meski akhirnya kesepakatan Iran damai dengan Amerika Serikat yang disebut-sebut akan mengakhiri konflik di Timur Tengah akan terjadi.

Energi dan sektor pangan, misalnya untuk menopang ketahanan ekonomi di tengah Ketidakpastian. Irfan mengaku optimistis Indonesia masih bisa mengantisipasi ketimpangan karena ketika kesadaran beragama, kecintaan pada bangsa tinggi solusinya antara lain adalah wakaf uang sehingga perekonomian akan membaik.

Irfan Syauqi Beik menekankan pentingnya optimalisasi seluruh potensi domestik, termasuk pertumbuhan ekonomi syariah, untuk menopang ketahanan ekonomi nasional.

Pembentukan WUNPROQ oleh enam universitas internasional menandai komitmen global dalam mengembangkan wakaf produktif sebagai instrumen kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan.

“ WUNPROQ didirikan pada 4 Juni 2026 oleh enam universitas dari Indonesia, Malaysia, Turki, dan Thailand untuk mengembangkan wakaf produktif secara global,“ungkapnya menjelaskan inisiatif dari kalangan akademisi untuk menghimpun wakaf.

Pengelolaan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf. Pengumpulan dan penyaluran ZIS nasional di Indonesia 2024-2025 menjadi fokus dalam memperkuat ekonomi sosial syariah. Tren wakaf produktif terus meningkat, didukung oleh kolaborasi lintas institusi.

Selain wakaf, Total aset perbankan syariah nasional mencapai Rp1.067,73 triliun pada akhir 2025, mencetak rekor sejarah. Akselerasi sinergi antara keuangan komersial dan sosial syariah untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional.

“Begitupula peningkatan literasi, edukasi, dan riset ekonomi syariah di berbagai sektor strategis serta wakaf produktif harus segera disosialisasikan,” kata Irfan

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)