BANGKOK, bisniswisata.co.id: CEO Pacific Asia Travel Association (PATA) Noor Ahmad Hamid menyampaikan pidato pembukaannya di IT&CMA 2025 di Bangkok, memaparkan visi berwawasan ke depan bagi industri pariwisata Asia Pasifik.
Dilansir dari www.traveldailynews.asia, dia mengajak pelaku bisnis perjalanan dan MICE untuk berinovasi dan secara aktif menciptakan permintaan di era pascapandemi, alih-alih menunggu pemulihan terjadi dengan sendirinya.
Proyeksi Utama untuk Asia Pasifik
Menurut proyeksi terbaru PATA, kedatangan wisatawan internasional ke Asia Pasifik diperkirakan mencapai 814 juta pada tahun 2027. Noor menekankan bahwa para pemangku kepentingan industri harus lebih berfokus pada nilai pariwisata daripada sekadar volume semata.
Hal ini mengingat kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja, pengembangan UKM, pelestarian budaya, dan manfaat bagi masyarakat lokal.
Bahkan dalam skenario terburuk, dia mencatat, jumlah kedatangan diperkirakan akan melampaui level tahun 2019, yang memperkuat keyakinannya bahwa perjalanan adalah “keharusan”.
Dia juga menyoroti daya saing global kawasan ini. Meskipun Timur Tengah, Afrika, dan Eropa saat ini menunjukkan pemulihan yang lebih kuat, Asia Pasifik memiliki peluang untuk merebut pangsa pasar, terutama karena kawasan lain menghadapi tantangan seperti biaya masuk baru, persyaratan visa, atau tekanan pariwisata massal.
Pariwisata sebagai penggerak ekonomi
Pariwisata tetap menjadi penyumbang PDB terbesar ketiga di dunia, dengan sektor MICE berada di peringkat ke-11. Mengutip kepala ekonom S&P, Rajiv Biswas, Noor menggarisbawahi bahwa PDB Asia Pasifik diperkirakan akan melampaui negara-negara lain di dunia pada tahun 2030, didukung oleh ekspansi ekonomi dan bobot demografis.
Kekuatan unik Asia Pasifik
Noor menyoroti fundamental jangka panjang kawasan ini:
• Demografi: Asia Pasifik merupakan rumah bagi 60% populasi global dan 70% kota-kota terbesarnya.
• Pusat inovasi: Diakui oleh Forum Ekonomi Dunia sebagai pusat inovasi, budaya, dan investasi. • Pengentasan kemiskinan: Sekitar 1 miliar orang telah terangkat dari kemiskinan sejak tahun 2000.
• Pendorong pertumbuhan: Urbanisasi, transformasi digital, dan meningkatnya kelas menengah menopang permintaan.
• Klaster strategis: Apa yang disebut “CIA” (Tiongkok, India, ASEAN) dan “FDC” (negara-negara dengan perkembangan tercepat seperti Jepang, Korea, Taiwan, Singapura, Australia, Selandia Baru, dan kepulauan Pasifik) diperkirakan akan mendorong ekspansi di masa mendatang.
Tantangan yang harus diatasi
Meskipun fundamentalnya kuat, Noor menyoroti kompleksitas Asia Pasifik, dengan mencatat kurangnya suara yang bersatu di kawasan tersebut.
Dia menyebutkan kerentanan terhadap guncangan eksternal, mulai dari kerusuhan politik di Nepal hingga bencana alam yang telah mengganggu acara-acara besar.
Namun, yang paling mendesak adalah kesenjangan evolusi digital. Pergeseran cepat menuju pemesanan seluler dan ketergantungan pada media sosial.
Ditambah lagi dengan dominasi Online Travel Agent ( OTA) seperti Booking.com, Trip.com, dan Agoda, memperlihatkan disparitas yang signifikan dalam kesiapan digital di seluruh destinasi dan rantai pasokan. Menjembatani kesenjangan ini, kata Noor, sangat penting bagi daya saing.
Jalan ke Depan
Noor menutup pidatonya dengan seruan kuat untuk kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, pelaku industri, dan masyarakat guna pastikan pertumbuhan berkelanjutan di kawasan ini.
Dia mendesak berbagai individu di seluruh sektor untuk merefleksikan peran mereka dalam membangun industri pariwisata yang tangguh, siap menghadapi masa depan, dan autentik yang melampaui angka untuk memberikan nilai nyata.
Inti pesannya adalah angka simbolis 814 juta pengunjung pada tahun 2027, yang mewakili peluang sekaligus tanggung jawab bagi ekonomi pariwisata Asia Pasifik.










